
" Astagfirrah" jerit mereka.
Plak
Mommy Farah menampar pipi Dilla. " Beraninya kau membuat cucuku menangis. " Ha ha ha. cucumu itu sangat nakal, makanya aku pukul dia" kata Dilla, dengan santainya.
" Dasar wanita tidak waras sudah tertangkap masih saja tertawa" kata Ayu dengan jutek. Dilla tidak menanggapinya.
" Vino , kamu sudah menemukan siapa yang menumpahkan minyak ke lantai hingga istriku sampai terluka?" Edar.
" Sudah tuan ternyata dia menyamar agar dapat masuk ke dalam rumah dan berusaha mencelakakan nyonya muda" seru Vino.
" Tuan muda maafkan saya, seharusnya saya lebih waspada dalam penerimaan pelayan baru" kata pak Rudi, menyesal seharusnya dia lebih waspada lagi.
" Pak Rudi jangan menyalahkan diri sendiri wanita ini cukup pintar sehingga kita tercecoh olehnya" kata tuan Prabu, sambil menenangkan istrinya emosi.
Semua orang marah terhadap Dilla dengan yang dilakukannya pada dilla.
" Tante nenek sihir beraninya melukai mommy dan adIknya Al" kata Alfatih, menggigit tangan Dilla karena Dilla menatap arah Edar penuh kebencian, sehingga tidak menyadari kedatangan Alfatih.
__ADS_1
" Hei apa yang kau lakukan, ha!" Dilla mendorong Alfatih, hingga jatuh. " Mommy, hiks, hiks" Al menangis karena lengannya terluka.
Semua orang terjejut melihat Al menangis dan lengannya terluka.
Plak, Plak
" Beraninya kau melukai putraku" kata Luna, yang marah. Semua orang tidak percaya di lakukan oleh Luna.
Sandra terkejut mendapat tampalan dari Luna. " Kau" Dilla dengan garangnya.Luna menatap tajam ke arah Dilla.
" Sayang biar mas yang mengurusnya" kata Edar, takut melihat Luna luka nanti. Luna menatap Edar dengan tajam.
"Mas ingin membelanya" kata Luna. " Bukan begitu sayang , mas takut dia akan mencelakakanmu nanti" kata Edar.
" Ha, ha ha kau tidak akan berani melukaiku Luna" kata Dilla, mencoba memprovokasi Luna. " Kau kira aku mudah terhasut olehmu lagi, aku tidak akan kembali membuat kesalahan , dengarkan baik- baik. Mas masukan dia ke polisi" kata Luna.
Luna menuju ke kamarnya karena merindukan putrinya. " Gilang " panggil Edar. Gilang mengerti kekhawatiran Edar.
" Kak tenanglah saat ini Luna sedang marah, besik baru kita periksa ke dokter. Sekarang apa yang kak lakukan pada wanita ini" kata Gilang.
__ADS_1
" Bawa dia ke markas aku yakin pasti ada yang membantunya , dia takkan berani melakukan semua ini sendirian" kata Edar.
Vino dan Dion segera membawa Dilla ke markasnya, mereka menjaganya sangat ketat agar Dilla tidak lagi meloloskan dirinya.
" Edar temuilah istrimu kalian membutuhkan waktu untuk bicara, biar anak- anak bersama kami, dan Anindira bersama Cinta" kata Daddy Prabu.
Siang hari itu penuh dengan drama yang di perbuat oleh Dilla tinggal memberinya pembelajaran.Si kembar lebih memilih ke kamar Cinta untuk mengajak adiknya tidur di kamarnya.
Cinta memindahkan Anindira ke kamar si kembar dan kembali menemani putranya, Gilang dan Ayu kembali ke rumah sakit karena ada panggilan darurar.
Edar masuk ke kamar dan melihat Luna menatap luar, Edar memeluk Luna dari belakang memberikan kenyaman pada Luna.
" Mas maafin Luna, Luna pasti melukai hati mas" kata Luna, dengan lirihnya. Edar membalikan badan Luna menatapnya dengan kasih sayang.
" Sayang jangan menangis semuanya sudah selesai, mungkin ini juga kesalahan mas karena tidak memberikan bukti yang cepat sehingga membuat istri mas ini marah" kata Edar, memeluk Luna dan mencium keningnya.
Di luar kediaman Perkasa.
Ternyata ada sebuah mobil yang mematai dan melihat Dilla di bawa paksa oleh Dion dan Vino.
__ADS_1
" Tuan, dia berhasil di tangkap oleh tuan Edar" lapornya. " Kau kembalilah biar wanita itu tertangkap dia pantas menerimanya" kata Nandhu.
" Baik tuan" bawahan Nandhu pergi dari sana. " inilah saatnya kita bertemu, tuan Edar Perkasa" kata Nandhu, sambil menikmati minumannya.