
Selesai makan Luna lebih memilih duduk di taman yang di temani oleh anak- anaknya. Edar sekali melihat Luna yang berada di taman.
" Mommy, Luna kenapa Edar merasa Luna acuh padaku?" Edar. Mommy Farah yang tidak tega melihat putranya bingung akhirnya mengatakannya.
" Kamu terlalu prosesif padanya, nak hingga istrimu merasa pergerakannya tidak lepas" kata Mommy Farah.
" Tetapi itu juga demi kebaikannya mom, Edar hanya ingin Luna tidak kelelahan" kata Edar, tetap pada pendiriannya.
" Mommy tahu, dengan kamu berteriak tadi melarangnya berdiri terlalu lama di dapur itu membuatnya sesak nak" kata Mommy Farah, dengan lembutnya.
" Kak, Luna itu sudah sembuh dengan dia banyak bergerak otot kakinya semakin kuat" kata Gilang, mencium pipi putranya.
" Sudahlah bujuk istrimu, nanti kamu dilarang masuk kamar" kata Daddy Prabu, yang menjahili putranya.
Edar terkejut mendengar perkataan dari daddy Prabu, dia tak ingin tidur diluar. Edar berlari ke taman membuat yang lainnya tertawa.
" Daddy kok bicaranya begitu Luna itu hanya kesal pada sifat putra kita" kata Mommy Farah, memukul lengan suaminya.
" Tante, tapi lucu juga melihat tuan Edar takut " kata Cinta. " Benar juga yang dikatakan oleh Cinta, lucu melihatnya seorang Edar Perkasa terlihat kacau karena istrinya mengacuhkan dirinya " kata Gilang, menahan tertawanya.
__ADS_1
Mereka hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan pembicaraan tanpa mengkhawatirkan kedua suami istri itu.
Ditaman
Edar mengintip luna dari balik dinding yang tertawa melihat tingkah lucu putrinya
" nanana". putri mommy ini bicara apa pari menggoda mommy ya" kata Luna, mencium seluruh wajah putrinya dengan gemesnya.
Sikembar asyik dengan bukunya sekali dia menggoda adiknya menanggu mommynya.
" Sayang" kata Edar, mendekati Luna, tapi Luna hanya diam. " Al, mommy kalian sedang marah dengan daddy?" Edar, dengan memelas.
" Mommy sedang marah ya" kata Aidyen, menatap mata Luna, Luna berusaha menghindar dari tatapan putranya.
Alfatih memegang pipi luna dengan kedua tangan. " Mommy marah". Luna menggelengkan kepalanya." Mommy tidak marah sayang hanya kesal pada daddy kalian" kata Luna, tertunduk.
Sikembar kembali menatap Edar yang tersenyum. " Apa yang daddy lakukan pada mommy hingga kesal" kata Alfatih, memegang pinggangnya sambil menatap Edar.
Sedangkan Aidyen berada di belakang Alfatih yang juga menatap tajam pada daddynya, Edar yang melihat putranya marah karena terlihat lucu baginya.
__ADS_1
" Sepertinya putra daddy lebih membela mommynya" Edar, merajut. Sikembar menanggukan kepalanya. " Sayang lihat tidak ada yang membela daddy" Edar mengadu pada putrinya.
Anindira hanya memainkan kakinya sambil berceloteh lucu, Luna menahan tawanya.
" Sekarang daddy harus meminta maaf sama mommy" kata Aidyen, Al menanggukan kepalanya. Sambil memelas Edar mendekati Luna.
Edar berjongkok sambil memegang telinganya. " Sayang maafkan mas, mas janji takkan membuatmu kesal lagi. Tetapi kamu tetap tidak boleh bekerja berat dan Vino tetap menjadi bodygoardmu" kata Edar.
" Mas Edar, Daddy" teriak Luna dan si kembar. Kemudian mereka menggelitik Edar hingga tertawa bersama, Anindira juga ikut tertawa dalam pelukan Edar.
Ternyata yang lainnya mengintip di balik dinding hingga tertawa lepas.
" Kalian di balik dinding jika kalian tertawa akan terima akibatnya" teriak Edar. Mereka secara spontan menutup mulutnya.
" Ayo kita kembali sepertinya tuan Edar kembali dengan sikap dinginnya" bisik Gilang, pada orang di belakangnya.
" Kalian boleh pergi kecuali Dion" kata Edar. Gilang menepuk punggung Dion agar sabar, Dion hanya menghela nafasnya sambil melihat istrinya tertawa.
" Mas" kata Luna." Sayang, kalian masuklah ke dalam udara sudah mulai dingin. Mas ingin bicara dengan Dion sebentar" kata Edar, tidak lupa mencium kening Luna dan anaknya.
__ADS_1
Luna tersenyum melihat suaminya sudah masuk bersama Dion, Luna juga mengajak anaknya masuk ke dalam