Putra Kembarku

Putra Kembarku
Episode 157


__ADS_3

Edar berada di ruangan ICU dia tidak ingin meninggalkan Luna sendirian, karena kejadian itu membuatnya lebih prosesif terhadap keluarga kecilnya dia tidak ingin kejadian itu kembali terjadi.


" Kakak ajaklah Luna berbicara walaupun dia koma tapi dapat mendengar perkataan kita" kata Gilang, baru saja memeriksa keadaan Luna, dia menepuk punggung Edar krmudian meninggalkan berdua dengan Luna setelah Edar mensngggukan kepalanya.


Edar menghubungi Vino agar ada yang menjaga ruangan ICU tempat Luna.


" Vino hubungi mereka untuk berjaga ruangan ICu, aku tak ingin kecolongan lagi" kata Edar. " Baik tuan saya akan mengirim beberapa orang untuk berjaga di ruangan ICU" .Mereka memutuskan panggilan.


Edar kembali menatap Luna yang masihbelum sadarkan diri. dia mencium kening Luna cukup lama.


" Sayang, apa kau tidak merindukanku dan anak-anak" Edar, merintikan air matanya mencium tangan Luna yang tak terpasang infus.


Kediaman Perkasa.


Sepulang dari rumah sakit Ayu dan Cinta memutuskan meningap di keluarga Perkasa karena mengkhawatirkan Anibdira dan sikembar, Mereka berada di ruang makan suasana sedikit tegang tak ada yang berselera untuk makan.


" Ai Al makanlah makanannya sayang, atau kalisn ingin makan yang lain? " Cinta yang duduk sebelah Aidyen.

__ADS_1


Sikembar menggelengkan kepalanya. " kami tak berselera untuk makan aunty, kami ingin melihat mommy" kata Alfatih, dengan sedihnya. Membuat yang lainnya meletakan sendoknya di atas meja.


Mommy Farah mendekati cucunya hingga Cinta pindah di samping Ayu.


" Kalian cucu oma yang pintar, kalian harus makan jika kalian jatuh sakit siapa yang akan menjaga adik Anindira" kata Mommy Farah, mengelus rambut kedua cucunya.


Aidyen dan Alfatih memikirkan ucapan omanya akhirnya mereka setuju untuk makan. Yang lainnya merasa lega melihat sikembar makan walau tak ada selera.


Hwahwa


Terdengar Anindira menangis membuat sikembar menghentikan makanannya dan menuju ke kamar, yang lainnya mengikuti dari belakang.


" Adik tenang ya disini ada kak Aidyen dan kak Al" seru Aidyen, menenangkan adiknya dengan memainkan boneka di sampingnya.


Al juga membujuk adiknya dengan memainkan tangannya membuat Anindira menghentikan tangisannya.


" Dad lihat mereka itu masih kecil tapi sikapnya sudah dewasa, keadaan seperti ini kapan berakhir dad kasihan mereka terlalu kecil untuk menghadapinya" kata Mommy Farah, menangis dalam pelukan suaminya.

__ADS_1


" Kita seharusnya bersyukur meski mereka masih kecil tapi mereka kuat menghadapi cobaan ini, kita harus memperkuatan mereka pasti Luna tak ingin anaknya merasa sedih" kata Daddy Prabu.


Mereka menangggukan kepala kemudian menutup pintu secara pelan, Daddy Prabu memanggil salah satu pelayan untuk menjaga cucunya.


Gilang membawa makanan untuk Edar terlihat banyaknya penjagaan di ruang ICU dimana Luna berada.


tok, tok, tok.


" Masuk" Edar masih menatap Luna tanpa mengalihkan pandangannya.


" Kak sebaiknya makan dulu Gilang mau melakukan periksa pada Luna, jika jantungnya sudah stabil besok dapat di pindahkan ke ruang rawat" kata Gilang meletakan makanannya di atas meja.


Edar membiarkan Gilang melskukan pemeriksaan terhadap istrinya dan mengambil makanan yang dibawanya.


" Alhamdulillah detak jantung Luna sudah beraturan, kak biarlah malam ini Luna disini besok pagi baru di pindahkan ke ruang rawat" kata Gilang.


Sebelum Gilang pergi Edar memintanya menyiapkan ruang VVIP.

__ADS_1


" Gilang tolong persiapkan ruang VVIP untuk Luna besok pagi" kata Edar. Gilang menangghukan kepalanya dan keluar dari ruang ICU karena hsnya boleh satu orang menunggu.


Edar memutuskan tidur disofa karena dia tak mau menanggu istrinya.


__ADS_2