
Kediaman Perkasa
Suasana rumah sangat sepi sikembar sudah berangkat ke sekolah yang diantar oleh Cinta, Ayu dan Gilang harus ke rumah sakit karena melakukan operasi pagi hari.
Seakan suasana mendukung Ningsih memulai rencananya. " Bagus inilah saatnya kau akan habis Luna" kata Ningsih dengan senyuman liciknya.
Kebetulan pelayan ada yang berbelanja dan rumah hanya Pak Rudi, Ningsih, Luna dan anak- anak." Dengan ini Luna pasti celaka" kata Ningsih.
Ningsih menumpahkan minyak dari depan kamar Luna. " hahaha, Luna tunggu saja sebentar lagi kamu akan celaka" kata Ningsih, pergi tapi bersembunyi di balik dinding.
Kamar Luna.
Luna bangun melihat kesampingmya afa putrinya yang sudah rapi karena Ayu sudah memandikannya sebelum berangkat ke rumah sakit, Luna melihat ada surat di sampingnya.
" Sayang ada surat dari kakak Aidyen dan Alfatih" kata Luna, menggendong putrinya. Luna terharu membaca surat dari putra kembarnya yang berisikan.
" Mommy jangan bersedih lagi kami dan Anin juga sedih nanti daddy marah pada kami karena tidak menjaga mommy dengan baik. Kami tahu mommy tidak marah pada daddy tapi hanya kesal, sekarang mommy harus tersenyum karena dady pasti berhasil dengan pembuktiannya" Isi surat kembar.
__ADS_1
Luna menangis. " Sayang maafkan mommy pasti kalian juga sedih" kata Luna mencium putrinya.
" Sayang ayo kita keluar menunggu kakakAidyen dan kak Alfatih pulang" kata Luna, dengan hati- hati duduk di kursi rodanya.
Di luar ternyata Ningsih sudah mengintip dari balik dinding. " Ningsih apa yang kamu lihat" kata Pak Rudi, datang dari taman, tak sengaja melihat Ningsih mengintip kamar Luna.
Dengan gugup Ningsih mengatakan tidak kemudian pergi . " Sepertinya kecurigaan tuan muda Aidyen benar, dari tadi dia melihat kamar nyonya muda semoga tidak terjadi sesuatu" guman Pak Rudi.
Luna keluar dari kamar dengan Anindira dalam gendongannya, tiba saja rodanya tidak dapat terkendali karena minyak yang ditumpahkan oleh Ningsih.
Pelayan dan Pak Rudi terkejut melihat Luna terus berjalan ke arah kolam berenang, mereka mencoba menolong tapi licin.
" Ini minyak, cepat panggil tuan Gilang, aku akan mencoba menolong nyonya muda" kata Pak Rudi. pelayan segera menghubungi Gilang, pak Rudi terus mencoba untuk berjalan.
" Sayang, jangan menangis, hiks hiks mas Edar" kata Luna, membesarkan matanya karenavdi depannya ada kolam renang.
Pagi ini Edar dan lainnya berhasil mengumpulkan semua CCTV tidak ingin membuang waktu lagi mereka segera ke kediaman Perkasa, Edar tidak sabar menemui istrinya ketika baru sampai dia terkejut mendengar jeritan Luna da Gilang turun dari mobil dengan terburu.
__ADS_1
" Gilang" panggil Edar. Gilang membalikan badannya. " Kak cepat tolong Luna sekarang Gilang akan mengambil peralatan" seru Gilang.
Tidak ingin membuang waktu Edar melewati pintu samping karena jeritan Luna dari arah sana, Dion dan Vino mengikutinya dari belakang.
" Mas Edar tolong...... A...A...A" Luna memejamkan matanya. Luna merasakan sebuah pelukan dia mencoba untuk membuka matanya, Luna melihat Edar menangis dan dia hampir jatuh ke kolam renang.
" Sayang tenanglah Dion gendong putriku" kata Edar, menahan kursi roda agar tidak berjalan lagi. Dion menggendong Anindira tapi roda yang licin semakin tak terkendali.
" Vino" teriak Edar, karena Edar sudah masuk ke kolam renang. Gilang yang masuk terkejut melihat Edar sudah masuk ke kolam dan Vino menahan kursi roda dari belakang.
Luna terus menangis dan memanggil suaminya, dia tidak boleh lemah demi anak- anaknya dan orang yang dicintainya, ketika kursi roda akan turun Luna memperkuat dirinya sambil memejamkan matanya Luna berhasil berdiri dengan kakinya dan kursi roda jatuh ke samping.
" Luna" teriak Gilang, dan Ayu yang baru datang bersama Cinta dari menjemput si kembar.
" Mommy" teriak sikembar.
.
__ADS_1