
Di kediaman Perkasa sedang ramai tak hanya Ayu dan Gilang tapi juga Cinta yang menginap sejak semalam, karena Dion memintanya untuk menginap di keluarga Perkasa.
" Luna mengapa pak Rudi sibuk sekali terus banyak sekali orang yang berpenampilan pelayan?" Cinta. " Kemaren ada pelayan yang mengundurkan diri karena orang tuanya sakit, dan sepertinya itu calon pelayan yang baru" kata Luna.
Abimana dan Dilla sudah sampai di rumah kediaman Perkasa. " Kau harus ingat sekarang namamu Ningsih bukan lagi Dilla dan satu lagi kau harus bisa terpilih menjadi pelayan disini , jika kau ingin balas dendammu berhasil" kata Abimana.
Dilla atau Ningsih keluar dari mobil dan mengambil barangnya menuju ke kediaman Perkasa.
" Banyak juga yang ingin melamar pekerjaan disini dan sepertinya mereka sangat berpengalaman, aku harus melakukan sesuatu jika bisa masuk" guman Dilla.
Dengan hasutannya Dilla mengatakan bahwa Nyonya muda di rumah ini sedikit gila dan sering mengamuk, hihihi itu sangat menakutan" bisik Dilla.
Sehingga banyak pelamar yang meninggalkan kediaman Perkasa, dan hanya beberapa yang tinggal.
" Eh kok mereka pergi bukannya melamar pekerjaan disini" kata Ayu, dengan heran. " Mungkin mereka takut dengan pak Rudi, lihat saja dia sangat dingin mengawasi para pelamar" kata Gilang, candaannya.
Sedangkan sikembar hanya diam menyaksikan pembicaraan mereka. Luna berada di dalam kamar menemani putrinya yang sedang tidur.
__ADS_1
" Sayang tidurlah sudah saatnya putri mommy untuk tidur" kata Luna, tapi mata Anindira tak mau terpenjam dan terus menatap foto Edar yang terpanjang di dinding, Luna menyadarinya dan merasa sedih.
" Ini foto daddy sayang ayo sekarang tidur" kata Luna, meletakan foto Edar di samping putrinya., akhirnya Anindira tertidur dengan foto Edar di sampingnya.
" Akhirnya aku berhasil juga masuk ternyata mereka bodoh juga sampai tidak mengenalku, hahaha" Dilla tertawa.
tok, tok, tok
" Hei cepat keluar nyonya muda sedang menunggumu perkenalkan dirimu" kata pelayan.
Dilla membuka pintu dan menunjukan senyuman manisnya. " Maaf bi tadi saya membereskan kamar" Kata Dilla, dengan pura manis.
" Maaf nyonya ini pelayan baru yang berhasil menjalani beberapa tes" kata pelayan. " Nyonya, perkenalkan saya Ningsih" kata Ningsih, memberi hormat.
" Semoga anda betah bekerja disini " kata Luna. Ningsih menanggukan kepalanya, dia menatap Luna penuh dengan kebencian.
" Nyonya dokter sudah datang" kata pelayan. " Suruh dia masuk bi minta tunggu di taman" kata Ayu. " Baik nyonya" seru pelayan.
__ADS_1
" Kalian disini saja jaga mereka jika menangis ini susunya" kata Luna, pada Ningsih dan pelayan. " Baik nyonya" seru mereka.
Ayu dan Cinta menemani Luna dalam menjalani terapi, diam - diam Cinta merekam kegiatan terapi Luna dan dia kirim ke Dion untuk di sampaikan pada Edar.
Diam- diam Ningsih mengawasi Luna karena dapat terlihat melalui kaca.
" Apa yang kamu lihat" kata Pelayan, menepuk punggung Ningsih. " Itu bi " kata Ningsih.
" Oh itu nyonya muda sedang menjalani terapi agar dapat berjalan lagi" kata Pelayan, memberika susu pada Faiz yang menangis.
Ningsih senyum licik melihat Luna menjalani terapi. Sikembar menatap tajam pada Ningsih karena sangat mencurigakan.
Markas Edar.
Edar masih mengawasi rekaman CCTV yang di dapatinya.
" Tuan muda saya menemukan adanya rumah di dekat hutan" kata Vino, yang baru saja datang.
__ADS_1
" Ayo kita kesana sebelum mereka pergi lagi" kata Edar. " Tuan, maaf ini rekaman kegiatan nyonya menjalani terapi" kata Dion, menunjukan vidio kiriman Cinta.
Edar tersenyun melihat Luna yang sudah berjalan sedikit dengan alat bantu. Kemudian mereka ke lokasi yang dikatakan oleh Vino.