
Dion dan Vino memikirkan pembicaraan mereka dengan Gilang. " Dion apa kita harys memberitahu hal ini ke tuan?" Vino.
Dion memikirkannya dia merasa pusing dengan ini jika tuannya tahu pasti tak sabar menemui nona Luna pasti keributan lagi kalau tidak diberitahu dua pasti kena amukan tuannya.
" Ayo kita beritahu tuan agar kita dapat bersikap seperti apa, jika nanti tuan marah kita hadapi" kara Dion, dengan yakin. Dia juga mengkhawatirkan Cinta dan putranya.
Edar berada di kamarnya sedang memikirkan keadaan keluarga kecilnya.
tok...tok..tok.
" Tuan boleh kami masuk" kata Dion, tapi tak ada sahutan dari dalam. Dion dan Vino saling menatap.
" Sebaiknya kita masuk ini sangat penting dan tuan harus tahu" kata Vino. Dengan hati Dion membuka pintu dan melihat Edar melamun.
" Tuan ada yang kami bicarakan mengenai nona Luna" kata Dion, yang gugup. Seketika Efar membalikan badannya.
" Lanjutkan" kata Edar, ada perasaan takut dalam hatinya. Dion menceritakan apa yang di jelaskan oleh Gilang melalui sambungan telepon.
Edar sangat emosi sampai memukul kursi yang dia duduk. " Terus apa yang dikatakan Gilang selanjutnya" kata Edar.
__ADS_1
" Tuan Edar untuk sementara kita hanya bisa mengawasinya karena dia belum bertindak" kata Vino. Edarcmenanggukan kepalanya karena dia belum mengetahui tujuan pelayan baru di rumahnya Edar memerintahkan Vino untuk memenuhi permintaan Gilang.
Kediaman Perkasa
Dilla dan Ningsih merencanakan rencana yang akan dia lakukan, Diam-diam Ningsih mengirim foto Dilla dan Edar ketika metting di restoran ketika Dion izin keluar, saat itu Dilla mencoba merayu Edar dengan mengelus tangannya.
" Untung foto ini masih tersimpan Luna lihat saja ini baru awal" kata Ningsih, mengirim foto ke HP Luna.
Kamar Luna.
Luna berada dalam kamarnya sedang menidurkan Anindira. " Putri mommy sekarang tidur ya sayang besok bermain lagi" kata Luna, menidurkan putrinya.
Dengan kesabaran Anindira tertidur pulas di samping Luna, ketika Luna mengistirahatan tubuhnya terdengar suara HP berbunyi Luna membuka pesan yang baru masuk.
Alfatih menuju ke kamar Luna karena dia ingin tidur bersama mommynya. Alfatih mendengar suara tangisan dari dalam.
" Mommy menangis, sebaiknya Al panggil Aidyen" kata Alfatih, kembali kekamarnya. " Aidyen bangun" kata Alfatih menggoyangkan tubuh kembarannya.
Aidyen bangun melihat Alfatih gelisah. " Al mengapa belum tidur hari sudah malam" kata Aidyen, berusaha duduk.
__ADS_1
" Ai ayo ke kamar mommy, mommy menangis" kata Alfatih dengan sedihnya. mendengar hal itu Aidyen segera menarik Al ke kamar mommynya.
" Mommy buka pintunya" kata Aidyen, tak hanya luna menangis tapi juga Anindira menangis karena terganggu tangisannya.
" Al tunggu di sini Aidyen panggil om Gilang " kata Aidyen, segera memanggil Gilang du kamar tamu. Ternyata Ningsih melihatnya di balik dinding tersenyum karena rencanabya berhasil.
" Om Gilang" kata Aidyen, mengetuk pintu kamar Gilang. Gilang sedang memeriksa laporan menutup laporannya.
" Mas itu suara Aidyen ada apa ya mas" kata Ayu, menidurkan putranya Zaky. " Biar mas membukanya" kata Gilang.Gilang membuka pintu kamarnya terkejut melihat Aidyen menangis.
" Aidyen kenapa sayang" kata Ayu, turun dari kasurnya dan menghampiri Aidyen. " Om, tante tolong mommy menangis dan mommy tidak mau membuka pintunya. Anindira juga menangis tante" kata Aidyen, tertunduk sedih.
" Sayang bangunkan Cinta mas akan mencoba bicara ke Luna" kata Luna. Ayu dan Aidyen memanggil Cinta.
" Al" panggil Gilang. " Om mommy" kata Alfatih dengan bersenggukan. " Mas Gilang" kata Ayu. Ternyata tak hanya Cinta tapi juga pelayan terbangun karena suara Al fatih.
" Pak bantu Gulang sepertinya Luna tidak mendengar kita, dan kamar di kunci dari dalam" kata Gilang.
Pak Rudi dan Gilang mencoba mendobrak pintu kamar Luna.
__ADS_1
Brak
" Luna"