Putra Kembarku

Putra Kembarku
Episode 106


__ADS_3

Tok, tok, tok.


" Mommy, Daddy " kata Aidyen mengetuk pintu orangtuanya. " Ai apa mommy dan daddy masih tidur?" Alfatih, membawa adiknya dengan kereta bayi.


Luna merasa terganggu tidurnya mendengar pintu diketuk dari luar, dia membuka matanya melihat Edar tidur dengan memeluknya.


" Mommy buka pintu" kata Alfatih. " Astagfirrah, ini sudah pagi" kata Luna. Kemudian dia menaiki kursi rodanya dan membuka pintu terlihat anak-anaknya yang masih menggunakan pakaian tidur.


" Sayang kenapa kesini bukannya bersiap untuk ke sekolah, aduh putri mommy sudah cantik" kata Luna, menggendong Anindira dan mengajak anaknya masuk, Aidyen mendorong kursi roda Luna.


" Kalian berdua bangunkan daddy mommy mau membersihkan diri dulu, putri mommy di sini dulu ya sayang" kata Luna, meletakan putrinya di samping Edar, kemudian ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


" Anin coba bangunkan Daddy" kata Alfatih. Aidyen hanya melihat apa yang dilakukan oleh adiknya sedangkan dia asyk dengan membaca buku.


Dengan lincahnya Anin merangkak ke arah Edar dan menepuk pipi Edar, Aidyen tersenyum tipis melihat adiknya.

__ADS_1


Edar merasakan sentuhan di pipinya. " Sayang biar mas tidur lima menit lagi" kata Edar, dengan mata yang masih terpenjam, dia menurukan tangan putrinya itu membuat Anin menangis karena Edar menutunkan tangannya.


Oek, Oek, Oek.


Seketika Edar bangun dan melihat Anin sudah berada di perutnya. " Sayang putri daddy ini sudah jahil dengan daddy" kata Edar, mencium putrinya dengan gemesnya.


" A, A, A" Dengan lucunya Anin menepuk pipi Edar. Luna tersenyum melihat keluarganya bahagia, dia sempat mengkhawatirkan dengan putrinya yang tidak mendapatkan kasih sayang darinya enam bulan terakhir ini, tapi dia bersyukur karena suaminya telah bekerja keras merawat anaknya.


" Jangan bercanda lagi sekarang putra kembar mommy harus bersiap ke sekolah sedangkan daddy harus bersiap ke kantor, dan untuk putri kecil mommy mari kita membuat sarapan pagi" kata Luna, mengangkat Anindira dari tubuh Edar.


" Sayang hati- hati kamu belum sehat" kata Edar, membantu Luna dan meletakan Anin di gendongannya.


" Nona Luna apa ada yang bisa kami bantu" kata Pak Rudi. " Luna ingin memasak, pak" kata Luna tersenyum. Para pelayan merasa takut karena nonanya baru saja sadar dari komanya .


" Nona biar kami yang mengurusnya, nona baru saja sadar dan masih membutuhkan istirahat" kata Pelayan wanita.

__ADS_1


Luna memikirkannya benar dia masih belum sehat bahkan dia menggunakan kursi roda. Pak Rudi memerintahkan pelayan untuk membantu mendorong kursi roda Luna ke ruang tengah.


" Nona masih bisa saya bantu?" kata pelayan. " Bibi bisa buatan susu untuk Anin"kata Luna, mengelus pipi putrinya. " Baik nona akan saya buatan, saya permisi mau ke dapur" kata pelayan. Luna menanggukan kepalanya.


Kedua orangtua Edar keluar dari kamar melihat Luna di ruangan tengah sambil memberi sysu pada cucu mereka.


" Luna mengapa bangun sayang, kamu harus banyak istirahat" Daddy Prabu. " Itu benar sayang kondisimu baru saja pulih" kata Mommy farah.


" Luna bosan mom jika harus dalam kamar terus" kata Luna. " Tapi ingat kamu tidak boleh keluar sendirian" kata Daddy Prabu. Luna menanggukan kepalanya sambil tersenyum.


Sikembar sudah keluar dengan pakaian seragam sekolahnya di susul dengan Edar turun dengan penampilan rapi.


Luna sedih melihat putra kembarnya yang sudah sekolah dasar, dia menghaspus air matanya takut putra kembarnya lihat. Tapi itu terlihat oleh Edar ketika Luna menghapus air matanya.


" Sayang sudah" kata Edar, menghapus air matanya. " Mommy kenapa" kata Aidyen duduk di samping Luna.

__ADS_1


" Maafin mommy sayang karena tidak mendampingi kalian, bahkan kalian sudah SD" kata Luna. " Mommy jangan mengalahkan diri sendiri" kata Alfatih, memeluk Luna dari samping.


Seisi rumah menjadi sedih menyaksikan Luna menangis dalam pelukan putra kembarnya


__ADS_2