Putra Kembarku

Putra Kembarku
Episode 119


__ADS_3

" Jadi semua kegiatan Luna sejak masih kuliah ada yang mematainya, tapi mengapa kami tidak ada yang menyadarinya" kata Ayu, dengan khawatir.


" Kak terus apa hubungan kejadian perusahaan tuan Edar dengan semua ini" kata Cinta, dengan pucat.


" Kami kira sementara ini yang menolong wanita itu dari tangan kak Edar adalah pemilik yang diam mengambil foto Luna.


Tanpa mereka sadari Dilla/ Ningsih mencoba menguping pembicaraan mereka. Beruntung ruang kerja Edar kedap suara.


" Sial suaranya tidak terdengar " kata Dilla, dengan kesalnya meremas kain yang di pegangnya. " Ningsih apa yang kau lakukan di depan ruangan kerja tuan Edar" kata Pak Rudi.


" Saya hanya ingin membersihkan ruangan ini, pak" kata Ningsing. " Lanjutkan pekerjaanmu ingat satu lagi jangan pernah mendekati ruangan ini lagi, sudah ada orang yang membersihkannya" kata Pak Rudi. Dilla menanggukan kepalanya pergi dari sana dengan kesal


Kamar si kembar.


" Aidyen, Al tidak suka dengan pelayana baru itu dia seperti ada sesuatu , apa kita beritahu daddy" kata Alfatih. " Jangan daddy harus menemukan wanita itu dan bisa pulang ke rumah" kata Aidyen.


Aidyen keluar dan memanggil pak Rudi. " Tuan muda Aidyen ada yang bisa saya bantu" ucap Pak Rudi.

__ADS_1


" Pak sini duduk" kata Alfatih. Dengan patuhnya Pak Rudi duduk di samping si kembar. Aidyen menta pak Rudi dengan tajamnya. " Pak awasi pelayan baru itu kami tidak menyukainya dan satu lagi jangan biarkan dia dekat pada Mommy dan adik" kata Aidyen, dengan dinginnya.


Pak Rudi menanggukan kepalanya karena dia kuga merasa ada yang aneh dengan pelayan baru. Kemudian Pak Rudi keluar ketika akan menuju dapur tanpa sengaja bertemu Gilang dan lainnya.


" Pak Rudi kenapa keluar dari kamar si kembae, apa terjadi sesuatu" kata Ayu, dengan nada cemas. " Tidak nona tuan muda meminta sesuatu padaku" kata Pak Rudi.


Gilang merasakan ada yang aneh dari gerak Pak Rudi yang selalu menatap arah dapur.


" Pak ikut kami " kata Gilang. Pak Rudi hsnya mengikutinya sambil memikirkan apa dia harus memberitahunya pada Gilang.


Mereka kembali ke ruang kerja Edar tidak lupa dikunci, Gilang hanya menatap pak Rudi dengan tajamnya. Pak Rudi berfikir mungkin Gilang tahu dapat membantunya.


" Astagfirrah, apa perlu kita beritahu tuan Edar, kak" Cerca Cinta, dengan khawatit. " Benar mas apalagi Luna masih menjalani terapinya" kata Ayu.


" Mas kira tidak perlu sayang jika kita beritahu kak Edar dia akan lebih waspada, apalagi besok om dan tante pulang untuk sementara kita lihat saja dulu pak Rudi tetap mematuhi permintaan sikembar aku akan meminta orang untuk mengawasinya juga" kata Gilang.


Mereka kembali ke tempat masing-masing dan Gilang menghubungi Vino meminta bantuannya.

__ADS_1


Markas Edar.


Vino dan Dion sedang memeriksa tas yang mereka temukan di rumah kosong sedangkan Edar berada di kamarnya memeriksa pekerjaan yang tertunda.


tret...tret...tret...


" Dion tumben tuan Gilang menelepon apa terjadi sesuatu?" Vino. " Sebaiknya kau angkat dulu baru kita mengetahuinya" saran Dion.


Vino mengangkat telepon dari Gilang. " Delamat malam tuan Gilang, apa ada yang bisa saya bantu" kata Vino.


" Vino apa kak Edar ada disampingmu?" Gilang. " Tidak tuan, tuan Edar istirahat di kamarnya saya bersama Dion" kata Vino.


" Bagus, Vino tolong loupsker suaranya agar dion dapat mendengarnya" kata Gilang.


Gilang menceritakan semuanya dari awal sampai terakhir. " Tuan apa perlu saya kesana dan menangkap pelayan itu" kata Dion, dengan emosi


" Jika kau kesini yang bisanya pelayan itu curiga dan malah kabur, kita tidak dapat mengetahui tujuannya" kata Gilang.

__ADS_1


" Terus apa yang harus kita lakukan sekarang" keluh Gilang, meminjit keningnya. " Vino, kamu ada sesorang yang dapat di percaya untuk menyamar menjadi pelayan, soalnya kita tidak dapat meminta bantuan pak Rudi sepenuhnya dia pasti sibuk" kata Gilang.


" Baik tuan akan saya carikan, selamat malam tuan" kata Vino. Mereka menutup sambungan teleponnya.


__ADS_2