Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 99. KUMPUL KELUARGA


__ADS_3

Revan segera pulang saat mertuanya meneleponnya. Mereka mengatakan bahwa Bulik Laras dan anak cucunya sudah berkumpul di rumah Laras. Meskipun sudah diperluas, nyatanya saat keluarga berkumpul, rumah itu jadi terasa sempit juga. Mungkin karena itu di samoing dan belakang rumah diberi tratakan untuk tempat memasak dan beraktifitas tetangga yang membantu acara besok. Sedangkan di depan sampai jalan dipasang deklit untuk para tamu yang akan hadir besok.


Sebenarnya acaranya hanya sederhana. Selain syukuran, mereka juga mengadakan pengajian dan membagikan sembako. Acara yang langka memang, untuk ukuran penduduk desa. Namun mereka sangat menghargai dan merasa berterima kasih pada suami Laras dan menantunya. Karena ternyata mereka orang-orang yang baik dan kaya.


"Kenalin Bang, ini simbah putri, buliknya bunda. Yang deket ayah itu Paklik Nasri dan disampingnya itu istrinya namanya Bulik Rumi."


Saat ini mereka sedang lesehan di ruang tamu. Sofa audah dipindah sementara ke ruang tengah, biar ruang tamu jadi lega.


Karena Revan duduk di dekat pintu masuk dan jarak mereka agak jauh, Revan hanya menangkupkan kedua tangannya di depan dada sembari tersenyum.


"Saya Revan Mbah, Bulik, Paklik... Salam kenal," ucap Revan sopan.


"Pie kabare Le, do sehat to? Bagus tenan bojomu Nduk, dirumat sing tenan ben ura mlayu," ucap simbah dalam bahasa jawa.


Revan hanya menggaruk lehernya yang tidak gatal sembari tersenyum canggung. Yang dia tahu hanya saat menanyakan kabar, yang lain belum mengerti. Meskipun lama tinggal di Jogja, namun di lingkungan kampus, rumah dan kantor dia terbiasa menggunakan bahasa Indonesia.


Sejenak dia menatap istrinya meminta penjelasan. Zaskia tersenyum sambil berucap, "Simbah tanya kabar abang. Simbah juga bilang kalau abang itu ganteng, harus dijaga biar ga lari diambil orang, katanya."


"Oh hehe... Revan sehat Mbah, Kia selalu jadi dokternya Revan. Revan juga tidak akan lari kok Mbah, soalnya sudah diikat kuat sama cucu simbah yang cantik ini."


Simbah putri yang bisa menangkap omongan Revan pun tertawa diikuti anak cucunya.


"Selamat menempuh hidup baru yo Kia, bulik juga cuma bisa mendoakan. Tidak bisa memberi apa-apa." Kali ini bulik Rumi yang berbicara.


"Itu saja sudah cukup Bulik... Maaf kalau selama ini Zaskia merepotkan Bulik dan Paklik."


Ah, Zaskia jadi ingat masih punya hutang 100 ribu pada Buliknya ini tanpa sepengetahuan Bundanya. Karena saat itu, Bunda sedang sakit, sementara mereka tidak pegang uang sama sekali. Biarlah nanti akan dia berikan lebih uangnya.


Paklik Nasri dan Bulik Rumi memang yang bisa diandalkan saat Zaskia benar-benar tedesak. Berbeda dengan adek sepupu bunda yang satunya, yaitu bulik Marni. Dia terlihat lebih angkuh. Menurut bulik Rumi, dia sudah jadi orang kaya karena menikah dengan juragan tembakau di Wonosobo, makanya dia suka sekali membandingkan dirinya dengan saudaranya dan selalu pamer harta. Sebelas dua belas dengan Ratna, hanya saja masih lebih manusiawi Bulik Marni.

__ADS_1


"Bulikmu Wonosobo akan datang besok pagi-pagi sekali Ki. Ini baru saja kirim pesan. Katanya sekarang nginep di Losmen Jogja. Katanya tidak betah kalau tidur di rumahmu, kasurnya atos (ketas) katanya." Kali ini Paklik Nasri yang berbicara.


Dilihat dari mimiknya, sepertinya dia juga kurang suka dengan tabiat iparnya itu.


"Ya sudah, biarkan saja to Dek. Gak usah diladeni, nanti bikin sakit hati. Mau datang saja itu suatu keajaiban." Bunda Laras sekarang ikut mengomentari.


"Belum tahu saja, kalau rumah kamu nantinya bakalan lebih bagus dari rumahnya." Bulik Rumi ikut sewot.


Abimana hanya tersenyum kecut, dia tahu bagaimana perasaan istrinya saat saudaranya tidak mempedulikannya. Abimana jadi berpikiran jahat, dia ingin semua orang tahu kalu istrinya bukan orang sembarangan. Namun sayangnya Laras bukan tipe orang seperti itu.


"Jangan begitu Dek... Ini juga bukan Laras sendiri yang bangun," ucap Laras jujur. Soal harta, memang suaminya yang punya. Tapi Laras tak pernah koar-koar tentang berapa banyak harta yang mereka miliki.


"Yo wes ben yo Nduk, Le... Adimu kae lagi salah dalan. Di dongake wae, mugo iso bali menyang dalan sing bener, ben ora kesuwen sing keblinger," ucap Simbah bijak.


(Didoakan saja adikmu supaya bisa kembali ke jalan yang benar, biar tidak lama salah jalan.)


"O iya Bang, yang di deket Ayah itu anaknya Bulik Rumi. Namanya Faisal. Sebentar lagi skrisi kan ya?" tanya Zaskia meyakinkan diri.


"Salam kenal juga. Kamu kuliah di mana?" Revan mulai mengakrabkan diri.


"UGM mas, ambil management Bisnis," jawab Faisal.


"Wih keren loh! Kemarin magangnya di mana? Aku kayak pernah lihat kamu. Kayak ga asing gitu tadi pas lihat kamu."


Bukannya sok akrab, tapi tahun lalu, pas ada sedikit kendala masalah perizinan tahun lalu, Reyhan mengajaknya ke Jogja. Sebenarnya masalahnya apa sampai hotelnya bisa bermasalah terkait perizinan. Dan ternyata memang ada yang menyabotase dan berusaha menjatuhkannya.


"Saya magang di 3R Hotel Mas, di managementnya. Hebat lho di sana. Administrasinya benar-benar tertata rapi. Kalau ada yang mau curang pasti bisa langsung ketahuan."


Revan senang dengan komentar Faisal. Bukan karwna itu adalah hasil kerja kerasnya dulu, namun Faisal yang sudah bisa menyimpulkan bagaimana baik buruknya management itu yang membuatnya senang. Bwrati Faisal memang otaknya cerdas. Terlepas dari punya prestasi atau tidak di kampusnya. Nilai hanya di atas kertas. Nyatanya orang bekerja juga dilihat dari skill dan Keterampilannya.

__ADS_1


Zaskia tersenyum mendengarkan jawaban Faisal. Dia juga baru tahu, kalau lingkar pergaulan Faisal bahkan sudah masuk ke keluarga Abidin.


Abimana menepuk pundak Faisal yang ada di sampingnya.


"Nah, yang mengatur management di hotel iti adalah dia. Revan adalah dedengkotnya 3R Hotel dulu." Abimana mengatakannya demgan bangga. Sutomo memang pernah mengatakan padanya kemarin.


"Ayah berlebihan. Gak gitu juga Yah, semua kerja team," sanggah Revan.


Faisal belum memberikan tanggapan, otaknya masih mencerna informasi itu.


"Mas Revan pernah bekerja di sana?"


Dari pada kepikiran, akhirnya Faisal menanyakan secara langsung.


"Bukan cuma bekerja Sal... Masmu itu anaknya pemilik hotel."


Jawaban Abimana membuat semua orang di situ terperangah. Tidak menyangka kalau suami keponakannya anak orang kaya.


Biasanya yang punya prestasi magang di sana, nanti akan mendapat kesempatan menjadi pegawai tetap di sana. Itulah tadi saya tanya kamu magang di mana? Karena saya pernah melihat data karyawan magang yang bisa diberikan kesempatan jadi karyawan tetap, kayaknya di sana ada nama kamu."


"Beneran Mas? Mas ga bohong kan?"


"Bentar ya masih ada kok datanya di email aku."


Revan merohoh ponsel pintarnya lalu membuka email yang dimaksudkan.


"Nih... Ada beneran. Sini deh, kayaknya nanti bisa ngobrol-ngobrol," ucap Revan yang sudah semakin akrab.


Setelah ngobrol-ngobrol agak lama, mereka pun makan malam dengan masakan yang dibuat oleh tetangga yang membantu. Kalau di kota mungkin akan menggunakan jasa catering, tapi kalau di desa, tetangga yang gotong royong membantu.

__ADS_1


Tentunya Abimana akan memikirkan hal ini. Meskipun hal itu sudah menjadi tradisi, setidaknya sedikit memberi amplop pada mereka, itu tidak akan memgurangi pahala mereka dan mengurangi rejekinya.


__ADS_2