
"Kamu ngapain sih Ar dari tadi ngintilin mulu? Awas jatuh cinta baru tau rasa." ucap Ara yang melihat Arya membuntutinya sampai gr*m*d**.
Tadi dari kampus Ara langsung meluncur ke mall untuk ngadem sekaligus mencari buku yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas kuliahnya.
"Pede banget sih, siapa yang ngintilin? Oh, aku tahu. Kamu janjian sama cowok yang kemarin sore itu kan? Kamu takut ketahuan sama aku? Takut aku kasih tahu sama dosen playboy yang deket sama kamu itu kan?" ucap Arya mencecar Ara dengan berbagai tuduhan.
"Ah... Kamu tuh nyebelin banget sih. Aku ga deket ya sama dosen gendeng itu. Dianya aja yang sok deket. Eh... Kamu ga lagi cemburu kan, kemarin aku jalan sama cowok?" tuduh Ara.
"Eh... Eng... Enggaklah ngapain cemburu? Gantengan juga aku!" jawabnya jumawa.
Ara hanya tersenyum tipis, ada kilat cemburu di mata Arya meski tidak mau mengakui.
"Ya udah sana. Aku dah dapet bukunya. Bentar lagi mau kencan. Daaa...!!!" tanpa menunggu reaksi dari Arya, Ara melegggang menuju kasir.
Arya panik dan mengejar Ara.
Astaga, kenapa sih cuma harus jujur kalau gue cemburu aja susah banget. Aahhh.... Bego! Gue harus mencegah dia ketemu sama cowok itu. Batin Arya.
Karena lapar Ara pun menuju food court, namun langkahnya terhenti ketika melihat orang yang tidak asing baginya sedang adu debat dengan seorang wanita.
"Itu kan Kia. Kenapa dia?" ucapnya lirih.
Di belakang Ara nampak Arya yang juga tertegun melihat dua orang yang sedang beradu argumen.
Dia mengambil ponselnya dan membuka galerinya.
"Kok mirip tante Laras." dia mengamati gadis yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri dan membandingkan dengan foto di ponselnya.
"Apa mungkin...." belum sempat dia berpikir lebih keras, wanita yang adu argumen tadi dengan cepat mengambil vas dan melemparkan dengan sekuat tenaga ke arah...
"Tante Laras...!!" Seru Arya. Sekuat tenaga dia menarik tangan Kia dan mendekapnya...
Setelah semua orang histeris akhirnya mereka bernafas lega tidak ada korban.
Kia mencoba melepaskan diri dari dekapan orang yang melindunginya dari lemparan vas bunga tadi.
" Kakak siapa? Terima kasih telah menolong saya," ucap Kia tulus.
"Kamu ga papa kan dek?" tanya Arya masih mode cemas.
Kia hanya menggeleng. Ada rasa nyaman saat pria tadi mendekapnya, rasa nyaman yang berbeda.
Mbak Rita yang tadi ikut panik langsung memeluk Kia.
"Kamu ga papa kan Ki?" tanya mbak Rita kemudian.
"Kia ga papa kok." jawab Kia singkat. Entahlah, masih ada rasa yang mengganjal. Apalagi saat mengingat pria tadi menyebutnya tante Laras.
Kia mengedarkan pandangannya, sepertinya Vera sudah melarikan diri. Tumben petugas keamanan tidak terlihat? Tapi Kia memang tidak ingin memperpanjang masalah ini.
Kenapa Arya jadi sok akrab gini sama Kia. Batin Ara yang masih terpaku karna adegan Arya yang menjadi super heronya Kia.
"Kia... kamu ga papa kan? Itu tadi siapa kok ngamuk-ngamuk kayak orang kesurupan gitu?" tanya Ara saat kesadarannya sudah terkumpul.
"Kamu di sini juga? Sama siapa?" bukan menjawab, Kia malah bertanya balik.
Ara melirik sinis pada Arya.
"Sendiri, udah mau pulang belum? Bareng yuk!" tanpa aba-aba Kia menarik Kia.
"Ehh... Tadi aku sama Mbak Rita ke sininya, kenalin ini Mbak Rita. Mbak kenalin ini Ara, sepupunya Abang!" ucap Kia memperkenalkan.
Mereka pun berjabat tangan saling berkenalan, tiba-tiba Arya juga nyerobot.
"Kalau aku Arya." ucap Arya sambil menyodorkan tangannya.
Sebelum Kia menyambutnya, Ara lebih sulu menepisnya.
"Ga usah sok deket, dia sudah ada yang punya, dia calon kakak ipar aku. Ga usah tebar pesona ya!" ucap Ara.
"Ara kenal sama dia?" tanya Kia.
__ADS_1
Ara menghela nafas, lalu berkata, "Dia teman kuliah aku."
"Oh... Saya Kia kak, terima kasih tadi sudah menolong saya." ucap Kia kemudian.
"It's ok! Apakah bisa minta waktunya sebentar?" tanya Arya kemudian.
"Ga bisa, Kia mau pulang. Ga usah macam-macah deh Ar! Aku ga akan ngebiarin kamu ngrayu calon kakak ipar aku. Ayo Ki!" tanpa mendengar jawaban Kia, Ara menarik Kia pergi dari sana.
"Eh, ini blanjaan Kia gimana?" mbak Rita yang dari tadi menyaksikan perdebatan itu, jadi bingung.
"Sini mbak, biar saya yang bawa." tawar Arya.
Mereka akhirnya mengikuti Ara dengan langkah cepat.
"Sebentar Ara! Belanjaan aku ketinggalan. Nanti aku ga jadi masakin Abang." ucap Kia, Ara pun melepaskan tangan Kia lalu menengok ke belakang.
Terlihat Arya yang setengah berlari sambil membawa kantong blanjaan di tangan kanan dan kirinya.
Hos hos hos...
Dengan nafas terengah - engah Arya langsung berhenti di depan 2 gadis cantik itu.
"Kamu tuh kenapa sih Ra? Nih belanjaan Kia!" Arya dengan perlahan meletakkannya.
Tak lama taksi pesanan Ara datang.
"Ayo Ki!"ucap Ara membukakan pintu lalu masuk.
Arya dengan sigap memasukkan belanjaan Kia. Setelah Kia masuk dia juga masuk di kursi depan dekat sopir.
" Eh, ngapain kamu ikut? Keluar sana! " ucap Ara masih dengan nada sengit.
"Ga, aku ikut. Aku harus memastikan kalian sampai tempat kalian dengan selamat." hanya alasan itu yang muncul di benak Arya.
"Ck, sok peduli!" Ara menggerutu.
Kia hanya mengelus lengan Ara.
Setelah taksi sampai di apartemen dan menurunkan Ara dan Kia, Arya masih mengikuti 2 gadis remaja yang sedang dalam masa transisi menginjak dewasa.
"Kia masuk dulu ya Ra. Nanti kamu ke sini kan? Nanti masak sama-sama." ucap kia yang hanya dijawab dengan acungan jempol oleh Ara.
Arya masih membuntuti Ada sampai di unitnya. Setidaknya dia sudah tau tempat tinggal gadis yang mirip Laras itu.
"Kamu ga mau pulang?" tanya Ara sambil berkacak pinggang ketika mau masuk ke dalam apartemennya.
"Udah, cepet buka pintunya. Aku haus lari - larian dari tadi!"
Ara hanya mendengus namun tetap membukakan pintu.
Dan Arya sudah seperti tuan rumah Langsung mencari letak dapur dan membuka kulkas, lalu menenggak air minum langsung dari botol.
Ara masih memperhatikan setiap gerakan Arya. Jakunnya yang bergerak naik turun saat minum itu terlihat seksi di mata Ara.
Kamu kapan peka sama perasaan aku sih Ar, nyebelin! Tapi aku cinta, gimana dong? Batin Ara.
"Kenapa lihatin gitu? Naksir Bu?" jiwa tengilnya pun telah kembali.
"Ck, udah pulang sana! Aku mau mandi gerah. Jangan lupa pintu ditutup lagi!" ucap Ara ke masuk ke kamarnya.
Setelah mandi dan ganti baju Ara berniat ke Unit Revan, namun ternyata dilihatnya Arya tertidur di sofa dengan tv yang menyala.
Ara duduk di lantai dekat sofa yang digunakan Arya untuk tidur, lalu memandangi wajah yang sejak awal masa kuliah sudah mencuri hatinya. Tanpa dikomando tangannya naik ke wajah Arya, mengusap pipinya dengan ibu jarinya.
Arya yang sejak tadi hanya memejamkan mata tapi tidak tidur itu membiarkan saja apa yang dilakukan Ara. Darahnya berdesir, detak jantungnya tak menentu. Meskipun berada di kelas yang sama namun selama ini Arya memang terkesan cuek, bukah hanya dengan Ara tapi juga kepada teman-temannya. Hanya saja Arya sering memperhatikan gadis berisik itu, lama-kelamaan ternyata ada rasa yang terpendam untuk Ara.
Dengan cepat Arya menangkap tangan Ara yang bergerilya di wajahnya.
"Eh, Ka... Kamu udah bangun? Maaf, aku ganggu?" kali ini tidak ada nada jutek di setiap kata yang terlontar dari Ara.
"Hmmm..." Arya hanya bergumam lalu mengecup tangan Ara.
__ADS_1
Arya mulai membuka matanya dan menegakkan badannya. Sedangkan Ara masih tersipu dengan kelakuan Arya.
Perlahan Arya menarik Kia untuk duduk di sampingnya.
"Sori...!" ucap Arya sambil menggenggam kedua tangan Ara.
Jangan tanyakan perasaan Ara yang saat ini sudah melayang tinggi. Bahkan tidak ada pegangan jika nanti Arya menghempaskannya. Ara tidak mengerti maksud Arya meminta maaf.
"Sori karna selama ini aku ga peka dengan perasaan kamu." ucap Arya.
Astaga, jadi selama ini dia sudah tau. Terus ini dia baik-baikin aku apa cuma mau bilang kalau dia tidak suka terus suruh aku berhenti mendekati dia. Batin Ara perlahan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Enggak Ar, kamu ga punya hak untuk nyuruh aku berhenti menyukai kamu!" ucap Ara tapi kemudian dia membekap mulutnya.
Astaga, kenapa jadi kalimat itu yang keluar sih! Batin Ara merutuki kebodohannya.
Arya tergelak lalu merengkuh Ara ke dalam pelukannya.
"Siapa yang bilang kalau kamu ga boleh menyukaiku. Aku malah senang. Dan mulai saat ini aku hanya ingin perasaan kamu yang seperti itu hanya untukku. Jangan berikan itu pada yang lain. Ok!" ucap Arya lagi lalu mengecup kening Ara.
Itu tadi apa? Dia cium kening aku kan terus maksud kata-katanya tadi apa. Batin Ara.
" Ini maksudnya apa Ar?" tanya Ara setelah melepaskan diri dari pelukan Arya.
" Apa lagi, kita jadian lah!" jawab Arya santai.
"Eh, tapi kan aku ga bilang mau pacaran lho. Aku ga boleh pacaran sama Mami." ucap Ara lirih.
Anak ini ternyata patuh juga sama orang tua. Batin Arya.
"Terus kamu maunya kita gimana? Langsung nikah? Aku rasa orang tuaku ga keberatan lho." ucap Arya sambil membelai rambut Kia yang saat ini kepalanya menyandar manja di pundaknya.
"Enggak juga. Aku juga ga tau. Aku bingung." ucap Ara lirih.
"Ya sudah, jika kamu tidak ingin ada ikatan, yang penting kita sudah tahu perasaan masing-masing. Mari kita menjaganya, kamu mau kan berkomintmen sama aku?" tanya Arya lembut.
Ara mendongak, posisi Arya yang menunduk membuat hidung mereka hampir bersentuhan. Jantung mereka berdetak lebih cepat saling bersahutan.
" Aku mau." ucap Ara tersipu lalu menyembunyikan wajahnya ke leher Arya. Arya membalas dengan mengeratkan pelukannya.
"By the way, kamu sudah lama kenal dengan Kia?" tanya Arya.
Ara menegakkan tubuhnya lalu memandang Arya.
"Kamu ga lagi baik-baikin aku hanya untuk mendekati Ara kan?" tuduhnya pada Arya.
"Kamu itu seneng banget sih curigaan sama orang. Kamu tahu ga, dia itu mirip banget sama tante aku! Jadi ada kemungkinan dia anaknya tante aku." jawab Arya menjelaskan, kemudian dia memperlihatkan seorang wanita bersama seorang anak kecil dalam pangkunannya.
" Eh, iya. Mirip banget lho." ucap Ara menanggapi.
"Jika benar, itu artinya dia adek sepupu aku. Tapi aku harus melindunginya, karena dia dalam bahanya."
"Apa? Yang benar? Kenapa memang?" Ara mendadak panik.
"Untuk saat ini belum ada yg tahu sepertinya. Masih aman. Apa kamu bisa mengenalkanku dengan calon suaminya, yang kamu bilang kakak sepupumu itu? Hanya dia yg biaa membantu melindungi Kia." ucap Arya lagi sambil memandangi wajah gadis cantik di depannya ini.
"Kamu udah kenal kok. Cowok yang kemarin sama aku itu. Dia Bang Revan kakak aku." jawab Ara sambil menunduk.
"Oh... Jadi kemarin itu kamu memang sengaja kan manas-manasi aku? Nakal!" ucap Arya sambil menarik hidung Ara. Ara hanya nyengir.
" Ah iya, aku mau nemenin Kia, mau masak sama bikin kue katanya. Bang Revan pulang agak telat."
" Ayo! "
"Eh, kamu ga mau pulang?"
"Ga, aku mau memastikan kebenarannya! Ayok ah!"
Arya menarik tangan Ara pelan keluar pintu menuju unit Revan.
TBC...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komentar, lalu tekan👍dan❤️
Makasih❤️❤️