Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 41. ARA DAN ARYA


__ADS_3

"Pa, besok Om Abimana mengajak Revan ketemuan. Tapi kayaknya dia ga tau deh kalau Revan anaknya Papa." ucap Revan memberitahu Papanya saat sedang melakukan panggilan telepon.


"Sudah deal waktu dan tempatnya?" tanya Papa.


"Nanti akan dikabari Pa. Menurut Papa, apa sebaiknya kita undang saja mereka ke rumah? Karna akan sangat riskan sekali ketemu di luar. Nanti Papa pulang kan?" ucap Revan memberi saran.


Besok pasti Kia menolak untuk bolos lagi. Revan berencana mengundang Abimana saat makan siang, dengan begitu Abimana tidak akan langsung bertemu dengan Kia.


"Begitu juga lebih baik. Kita jangan langsung pertemukan Kia dulu. Kita pastikan dulu kebenarannya, apakah Abimana benar-benar ingin memperbaiki kesalahannya atau tidak." tutur Papa Tomo yang sejalan dengan pemikiran Revan.


"Iya Pa, Revan juga mikirnya begitu. Satu lagi Pa, Roy Arkatama yang sedang berusaha mendapatkan legalitas perizinan usaha ternyata adalah asisten pribadi Om Abi. Apa mungkin saat ini dia sedang mempunyai rencana yang tidak baik pada perusahaan Om Abi ya Pa." ucap Revan mencoba menganalisa.


"Ya, mungkin memang Roy mengubah rencananya, dari yang ingin menguasai perusahaan Abi sekarang menjadi ingin menjatuhkannya, agar perusahaan yang akan dia bangun bisa langsung tumbuh melejit." sahut Papa Tomo.


"Kalau bagitu, Papa hati-hati ya baliknya. Salam buat Mami dan Papi. Bilangin juga, anak perempuannya juga udah kebelet kawin, hahaha..." ucap Revan sambil mencandai anak Maminya.


"Sudah-sudah, jaga yang bener adik kamu. Papa tutup ya. Assalamu alaikun." ucap Papa Tomo.


"Iya Pa, Wa alaikum salam." jawab Revan mengakhiri panggilan telepon.


Revan menggelengkan kepala sambil tersenyum, dia sendiri tidak menyangka kalau hati Kiara akan tersangkut pada sepupunya Zaskia. Dunia benar-benar sempit.


Kemarin Kiara sempat meneleponnya dan berbicara dengan nada serius.


"Abang, dari tadi Ara tungguin lho. Abang ga pulang ke apartemen?" ucap Kiara dengan nada jengkel.


"Abang pulang ke rumah. Ada apa?" jawab Revan santai.


"Emmm.... Menurut Abang, kalau Ara nikah muda gimana?" tanya Kiara to the point.


"Hah, mau nikah sama siapa? Arya?" tanya Revan sedikit terkejut. Pasalnya kemarin dia bilang hanya ingin memastikan perasaannya saja tapi sekarang kenapa jadinya mau nikah.


"Ya, siapa lagi Bang? Ara ga mau kehilangan dia. Di kampus banyak banget yang ngejar dia." ucap Kiara dengan nada frustasi


"Dengar Ara sayang, kalau Arya itu bener-bener cinta sama kamu. Dia tidak akan tergoda dengan siapapun. Meskipun banyak godaan, dia akan tetap menjaga hatinya untukmu. Lagian dia itu masih kuliah, biarkan dia membuktikan diri bahwa dia sayang sama kamu. Dengan cara mempersiapkan diri agar pantas bersanding denganmu. Meski harta tidak bisa menjadi tolak ukur kebahagiaan seseorang, namun dia harus bekerja keras, sebagai wujud tanggung jawab seorang suami terhadap istrinya kelak. Begitupun dengan Arya."


"Begitu ya Bang? Tapi Ara dan Arya udah kaya ga bisa nahan kangen Bang. Lagian Arya itu sekarang nempel terus kaya prangko. Ara takut khilaf Bang." ucap Ara jujur.


Ara tahu jika Arya adalah pewaris seorang Kon kaya tapi sebenarnya biasa saja, mana yang biasa aja tapi sebenarnya kaya, atau yang memang apa adanya.


Revan mendesah pelan, dia tahu bagaimana rasanya sedang di mabuk asmara, karna saat ini dia pun mengalaminya. Mungkin dia harus bicara dengan Arya. Apakah dia memang serius dengan adiknya atau hanya main-main.


"Besok kalau Abang ada waktu, biar Abang yang bicara dangan Arya, kamu jaga diri baik-baik. Jangan sampai kebablasan. Oke." ucap Revan memberi nasehat.


"Iya Bang... Besok pulang ke apartemen tidak?" tanya Kiara.


"Sampai hari Minggu kayaknya ga ke apartemen. Kenapa emang? Main aja ke rumah besar. Kia juga Abang ajak nginep sini soalnya."


" Iya deh Bang, besok Ara ke sana saja. Mama kapan pulang?" tanya Ara lagi.

__ADS_1


"Jumat sore paling." jawab Revan singkat.


"Ya udah deh besok habis kuliah Ara langsung ke rumah besar, kangen juga sama si kembar. Ya udah, Ara tutup ya Bang. Assalamualaikum." ucap Kiara mengakhiri panggilan.


"Wa alaikum salam."


Revan menyadari adik kecilnya itu sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang beranjak dewasa. Yang dia butuhkan bukan cuma nasehat, tapi juga sosok figur yang bisa dia jadikan contoh. Setidaknya, dia masih punya pegangan dalam menjalani hubungan asmara di masa remajanya, agar jangan sampai kebablasan.


Setelah menghubungi Papa Tomo, Revan menghubungi asisten calon mertuanya, mumpung masih ada waktu istirahat selepas sholat Jumat.


"Assalamu alaikum, selamat siang Mas Revan." sapa Zian diujung telepon.


"Wa alaikum salam, siang juga Pak Zi. Langsung saja ya Pak. Emmm, begini... mengenai pertemuan besok, saya pikir akan sangat riskan bila kita bertemu di luar. Untuk itu saya mengundang Pak Abi makan siang ke rumah saya saja. Apakah kira-kira Pak Abi berkenan?" tanya Revan sopan.


"Baik Mas Revan, akan saya sampaikan pada Pak Abi. Saya yakin beliau tidak keberatan. Tapi untuk pastinya nanti saya kabari lagi." jawab Zian.


"Baiklah Pak Zian, terima kasih. Maaf mengganggu waktunya." ucap Revan.


"Santai saja Mas Revan. Sekarang ini, apapun yang berbau Nona Zaskia akan menjadi prioritas kami. Terima kasih sudah menjaga Nona kami Mas Revan." ucap Zian tulus.


"Zaskia juga tanggung jawab saya Pak Zi. Kalau begitu saya tutup dulu, terima kasih. Assalamu alaikum."


Revan tersenyum setelah menutup teleponnya. Semoga harapannya segera terkabul. Zaskia berhak bahagia, dia akan mendapatkan kembali kasih sayang orang tua yang lengkap. Meskipun seharusnya dukungan lengkap orang tua itu sangat baik untuk masa pertumbuhannya dulu, namun belum terlambat, karna saat ini mentalnya juga harus terbentuk. Dan dukungan dari orang-orang terdekatnya sangat berpengaruh.


*******


"Beneran sakit apa cuma akal-akalan Abang sih ini? Pasti karna Abang mau memonopoli Kia." ucap Kiara menggerutu.


"Jangan berburuk sangka terus ah, kamu udah telpon Kia emang?" tanya Arya.


"Udah tapi ga diangkat..." jawab Kiara sambil mengaduk-aduk jus mangganya.


"By the way, kemarin aku bilang sama Abang tentang hubungan kita..." ucap Kiara sengaja ia jeda karna ingin melihat reaksi Arya. Ternyata Arya berubah serius.


"Abang kamu bilang apa? Kamu udah bilang, kalau kita pengen nikah muda?" tanya Arya antusias. Kiara mengangguk.


"Terus terus... Bang Revan ngomong apa?" tanyanya penuh harap Revan akan setuju.


"Abang bilang kamu masih muda, masih kuliah, belum kerja. Abang takut kamu belum bisa bertanggung jawab sama aku. Lagian kita harus meyakinkan perasaan kita dulu. Abang takut kalo kamu cuma main-main sama aku." ucap Kiara, sengaja ingin mengetahui perasaan Arya, apakah dia memang serius apa hanya ingin bermain-main saja.


Arya memghela napas panjang.


"Sebenernya udah dari lama aku pengen bantuin Papa ngurus perusahaan yang ada di sini. Dulu sebenarnya perusahaan keluarga Rahardian berpusat di Jakarta, tapi karna Mama sakit dan harus menjalani perawatan intensif di Singapore, jadilah Papa memutuskan untuk menjalankan perusahaan dari sana dan kami menetap di sana. Sampai akhirnya waktu kuliah aku memutuskan untuk kuliah di jakarta. Niat hati sih pengen bantu-bantu papa sekaligus belajar, tapi belum di bolehin, katanya suruh fokus belajar dulu. Tapi kalau dengan bekerja aku bisa nikahin kamu secepatnya, it's ok, aku bisa bilang ke papa." ucap Arya menjelaskan.


" Tapi kalau masalah penghasilan, aku ini udah jadi kreator video sejak zaman masih sekolah. Kamu ga tau kan kalo aku ini youtuber?" ucap Arya.


"Serius? Kok aku ga tau?" sahut Kiara antusias.


"Aku emang ga terkenal, karna fokus aku kan bukan nyari fans tapi lebih ke penghasilan. Seneng aja gitu, masih muda tapi punya duit hasil sendiri. Nih lihat, ada beberapa video kamu juga yang sempet aku ambil diam-diam. Lumayan kan subscriber aku juga 5jutaan lebih lho." jelas Arya.

__ADS_1


"Eh iya, apa tadi chanelnya? Nanti aku pengen lihat juga. Emmm... Kamu serius kan Ar sama aku?" tanya Kiara lirih. Apa yang dikatakan Revan ada benarnya. Mereka baru beberapa hari mengungkapkan perasaan. Bisa saja itu hanya perasaan sesaat dan bisa saja saat nanti ada yang lebih baik darinya Arya akan berpaling.


Arya memegang kedua tangan Kiara, lalu berkata, "Jadi kamu belum percaya sama aku? Kamu tahu, sejak awal kita bertemu, hanya kamu yang mampu mencuri perhatian aku. Kamu yang suka berisik, kamu yang selalu ceria, Kamu yang selalu kasih support ke temen-temen kamu.... Dan kamu, kamu yang seperti ini yang aku suka... Meski kamu itu bisa tampil wah, tapi kamu selalu tampil sederhana. Aku mencintai kamu Kiara Azalea Abidin... Dengan segenap hatiku." tutur Arya mengungkapkan perasaannya.


Kiara meneteskan air matanya. Dia terharu dengan ungkapan perasaan Arya.


"Kenapa selama ini kamu cuek sama aku. Jangan-jangan kamu udah tahu kalau selama ini aku..." Kiara menutup mulutnya, sambil menggelengkan kepalanya.


Arya tersenyum lalu mengecup tangan Kiara.


"Aku tahu, selama ini kamu selalu jutek sama aku, kamu selalu cari gara-gara sama aku... Itu karna kamu sedang mencari perhatianku kan? Berpura-pura deket dengan cowok-cowok biar tahu perasaanku kan? Tapi aku tidak terpengaruh, kamu tahu kenapa? Karna diam-diam aku juga memperhatikan kamu, aku bisa tahu dari gestur tubuh kamu, dari kamu bersikap ke mereka di belakang aku. Dan akhirnya aku harus menyerah saat aku tahu kamu benar-benar dekat dengan seorang laki-laki yang pernah kamu peluk bahkan kamu cium pipinya. Dan sialnya aku telah masuk dalam jebakan." Arya menjelaskan perasaan terpendamnya selama ini.


"Ahh... Aku jadi malu." ucap Kiara sambil menutup muka dengan tangannya yang sudah terbebas.


Arya hanya terkekeh lalu menarik Kiara ke dalam pelukannya dan mengusap rambut Kiara dengan sayang. Dia tak peduli jika akan menjadi perhatian pengunjung kafe yang masih ramai datang silih berganti.


"Kamu tahu ga? Aku tidak pernah berpikir secepat ini akan jatuh cinta lagi. Dan sekarang aku merasa bodoh karna dulu sudah menangisi seaorang yang tidak pantas untuk ku tangisi. Kalau kamu tanya kenapa selama ini aku cuek ke kamu. Sebenarnya aku hanya takut, kalau perasaanku ke kamu itu semu. Dari pada aku melukai kamu, kan lebih baik aku ga kasih kamu harapan." ucap Arya.


"Kamu pernah pacaran? Kenapa putus?" tanya Kiara penasaran.


"Pernah waktu sekolah menengah. Ya biasalah kalau ga karna orang ketiga ya pasti karna harta. Dan sialnya aku kena dua-duanya. Hahaha... Kamu tahu ga, aku sempet ga makan 3 hari lho. Untungnya kondisi mama yang sudah sehat tak pernah berhenti kasih support ke aku." jawab Arya sembari menjelaskan.


"Pacar kamu cantik banget ya emang, sampai kamu secinta itu?" tanya Kiara sendu, meski sudah putus tapi entah mengapa ada terselip rasa cemburu di hatinya.


"Itulah yang Mama selalu bilang, Apa sih Ar yang kamu lihat? Cantik enggak, kaya enggak, pinternya cuma belanja doang, terus yang kamu tangisin apa? Kata-kata Mama itu yang bikin aku berpikir ulang, makanya sekarang aku merasa bodoh kalau inget kejadian itu? Hahaha... " tawa Arya masih bersambung menertawakan dirinya sendiri.


"Beneran sekarang kamu udah move on? Kalau dia datang terus ngajak balik sama kamu lagi gimana?" tanya Kiara.


"No way, aku udah dapet berlian, masa mau mungut batu kali? Ya ga mungkin lah... Udah ya masa lalunya kita lanjutin lain kali. Sekarang kita bahas masa depan dulu. Jadi nanti ke rumah Abang kamu?" tanya Arya.


"Iya, habis ini mau langsung ke sana." jawab Kiara.


"Aku anter ya. Yuk!" ucap Arya sembari menyambar tangan Kiara dan berjalan keluar kafe setelah membayar pesanan mereka.


TBC...


Terima kasih untuk dukungan nya


Jangan lupa komennya


Tekan juga


VOTE


LIKE


FAVORIT


Makasih❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2