
Suasana kafe tampak meriah. Halaman belakang kafe disulap menjadi tempat yang sangat cantik. Di sana sudah tersusun rapi meja prasmanan, yang beberapa makanan dan minuman yang belum selesai ditata oleh pihak catering. Di sana disediakan juga peralatan dan bahan untuk bakaran.
Rupanya tadi siang, di tepi jalan dekat pos keamanan, Revan juga menyuruh karyawannya untuk menyediakan nasi box gratis, siapa pun boleh mengambil.
Rita yang hari ini masuk pagi langsung heboh saat melihat Zaskia digandeng mesra oleh Revan memasuki kafe dari halaman belakang.
"Sore menjelang malam Pak, selamat menempuh hidup baru ya Pak, Ki... Semoga langgeng, bahagia, sejahtera, samara... Aamiinn...." ucap Rita mewakili teman-temannya.
"Aamiin... Makasih semua. Terima kasih untuk doanya, terima kasih juga atas kerja keras dan kerja samanya selama ini. Yang ingin sholat maghrib boleh bergantian ya. Setelah itu kita akan mempersiapkan acaranya, sambil menunggu yang lain juga." ucap Revan menanggapi antusias karyawan yang menyambutnya.
Menyadari bahwa istrinya butuh ruang untuk teman-temannya, Revan pamit duluan ke ruangannya.
"Abang duluan ya, nanti maghrib berjamaah, abang tunggu. Cup!" ucap Revan lalu mengecup kening istrinya sebelum meninggalkan Zaskia ke ruangannya.
Muka Zaskia memerah menahan malu. Dia menutupi mukanya dengan tangan. Rita yang gemas langsung memeluk sahabat kecilnya itu.
"Cie cie... Pengantin baru, mesra amat Bu... Jadi pengen nikah gue, hahaha..." ucap mbak Siska mencandai Zaskia.
"Aaahhh... Mbak Siska, Kia jadi malu." sahut Zaskia masih sambil menyembunyikan mukanya.
"Kamu bahagia... Aku yang patah hati Ki..." ucap Alex yang baru saja bergabung karena baru kembali dari mengantarkan pesanan.
"Hhuuuuu...." seru semua yang ada di situ. Sebenarnya Alex memang pernah ada rasa dengan Zaskia tapi dia juga sadar diri tidak mungkin bersaing dengan bosnya.
"Oke... Semua yang mau sholat, bisa gantian ya." seru mbak Siska. Dia menarik tangan Zaskia pelan yang diikuti oleh mbak Rita di balekangnya. "Dan... Jangan lupa, Bu Bos punya utang cerita sama kita, oke!" bisik Mbak Siska yang hanya di dengar mereka bertiga.
"Iya bener, ceritain pengalaman malam pertamanya dengan bos tampan. Uuhhhh... Jadi gemes deh. Hayo ngaku, udah diapain aja?" sambung Rita menimpali Siska.
"Kia punya hutang? Eh, bentar deh... Harusnya Kia udah gajian kan? Duh, Pak Roni ga beres ini, masa Kia ga di kasih gaji. Kan lumayan bisa buat traktir kalian, hahaha...." seloroh Zaskia.
"Kok jadi gaji sama traktiran sih, ga nyambung deh." ucap mbak Rita protes.
"Emang enggak. Kan biar Kia bisa kabur. Daaa...." jawab Kia sambil ngacir berlari ke ruangan suaminya.
"Kiaa....!" teriak Siska dan Rita bersamaan karena ditinggal kabur oleh Zaskia.
Kafe nampak sudah terlihat ramai pengunjung. Zaskia menyapa semua waiter dan waitress yang dia jumpai di depan dengan ramah. Inilah yang disukai karyawan di sana. Bukan hanya supel, tapi Zaskia juga ramah, meski sudah menjadi bu bos di kafe ini, tapi sikapnya tetap rendah hati dan menganggap semua seperti temannya.
Namun sepertinya ada beberapa waitress yang nampak belum tau situasi. Mungkin karena mereka karyawan baru, jadi belum mengenal Zaskia. Mereka juga baru tahu Revan adalah pemilik cafe karena melihat Roni dan Dody tadi langsung menyambutnya. Bahkan acara malam ini pun dia tidak tahu, yang dia tahu hanyalah bos kafenya ingin mengadakan syukuran, itu saja.
"Mau apa Dek? Ruangan itu tidak bisa dimasuki orang luar." ucap salah seorang karyawan baru, di name tagnya tertulis Nora.
Zalfa tersenyum, kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan kafe. Tak dia lihat karyawan lama, kemudian dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kalau dia bilang Zaskia adalah istri pemilik kafe, percaya ga ya, tanya Zaskia dalam hati.
__ADS_1
"Emmm... Saya mau ketemu Pak Revan. Saya datengnya bersamaan kok tadi." ucap Zaskia masih dengan nada sopan.
"Kamu adeknya?" tanya Nora lagi.
Zaskia menggeleng.
"Terus? Jangan bohong ya Dek. Saya tahu lho kalau pak Bos itu ga gampang didekati perempuan. Kamu penggemarnya yang nekat ingin bertemu dan sengaja membuntutinya kan?" tuduh Nora pada Zaskia.
Zaskia malah melongo memdapat tuduhan seperti itu. Apa penampilannya seperti seorang penggoda, batinnya.
"Adek kalau mau pesan, silakan duduk di meja pengunjung saja. Kalau tidak, mending adek keluar saja dari sini. Dari pada nanti diseret satpam keluar." ucap Nora lagi. Dia kemarin sempat mendengar ada wanita yang diseret satpam keluar gara-gara ingin mendekati bosnya dengan cara menjadi penguntit.
"Saya ini istrinya Pak Revan mbak, masa saya diseret sih." ucap Zalfa mencoba mengatakan identitasnya.
Nora malah tertawa terbahak-bahak.
"Saya tahu Pak Revan itu gantengnya paripurna Dek, tapi mending adek sekolah dulu yang bener. Jangan terlalu halu. Sabagai perempuan pasti semua juga langsung jatuh hati pada Pak Revan saat melihatnya. Saya juga begitu. Tapi untuk mengaku istrinya, itu sangat lucu sekali. Dan mustahil juga!" sahut Nora menertawakan Zaskia.
Zaskia menarik nafas panjang, "Jadi menurutmu saya kurang cantik atau kurang gimana? Mengapa mustahil jadi istrinya Pak Revan?" tanya Zaskia sambil bersedekap dada.
Nora sedikit menciut, pasalnya gadis belia di hadapannya ini memang cantik dan modis meski pakaiannya tertutup.
Belum sempat menjawab pertanyaan Zaskia, pintu terbuka dari dalam.
"Kenapa sayang?" tanya Revan kemudian.
"Ga papa By, dia cuma ga percaya kalau Kia istrinya Pak Revan." ucap Zaskia sambil meraih lengan Revan lalu bergelayut manja.
Nora terkejut, dia tidak menyangka kalau ternyata gadis muda itu benar-benar istrinya Revan. Dia jadi salah tingkah. Karena dia tak mau dipecat, maka dia pun segera meminta maaf.
"Ja... jadi benar Pak Revan sudah menikah dan adek ini istrinya. Eh... Maksudnya... Ibu ini... Eh... Maafkan saya karna tidak tahu Pak!" ucap Nora terbata karena salah tingkah.
Zaskia tidak marah, dia malah tertawa dengan tingkah karyawan itu. Sedangkan Revan menatapnya tanpa ekspresi.
"Sudah mbak, ga papa. Yang penting sekarang sudah tahu. Panggil Kia aja ga papa kok. Saya juga belum setua itu untuk dipanggil Bu. Saya juga pernah kerja di sini. Santai aja mb. Selamat bekerja kembali. Saya masuk dulu ya." ucap Zaskia sambil menggandeng lengan Revan dan masuk ke dalam ruangan.
"Sekali lagi maafkan saya Pak, Kia..." ucap Nora lagi yang sepertinya sudah kehilangan muka.
Setelah Zaskia dan Revan masuk, Nora segera berjalan setengah berlari ke belakang. Di belakang dia tak berhenti merutuki kebodohannya. Dia berjalan mondar mandir sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Kamu ngapain sih mondar-mandir? Ngalangin jalan tau! Itu kepala kenapa dipukuli?" tanya Rita yang heran melihat tingkah Nora.
"Aku tuh malu Ta... Tadi tuh ya, aku ga percaya kalau gadis remaja berhijab tadi ternyata istri bos Revan. Padahal tadi sempet adu mulut tau ga aku tuh." kata Nora sambul menutup mukanya dengan tangan.
__ADS_1
Bukan hanya Rita, semua yang mendengar celotehan Nora ikut tertawa.
"Hua... Kok diketawain sih. Kasih saran dong, aku harus gimana biar ga dipecat. Malu banget aku tuh." ucap Nora heboh. Semua masih menertawakan kebodohan Nora.
"Udah santai aja.... Besok-besok tanya dulu sama yang lain. Eh tapi bagus juga sih, sikap kamu itu nglindungin nyonya bos dari wanita-wanita penggoda." ucap Siska berseloroh.
"Kia tuh baik, bukan pendendam. Kamu ga bakalan dipecat kalau pekerjaan kamu baik. Nanti kamu juga lama-lama akan mengenalnya. Dulu Pak Revan ga pernah ngurusin karyawan, tapi kalau Zaskia disinggung, gue pastiin, orang itu bakalan tidak tenang hidupnya. Kenapa? Karena Pak Revan itu sudah bucin parah sama Zaskia." terang Rita.
"Syukurlah... Iya, aku bakalan lebih baik bekerjanya." ucap Nora yang diacungi jempol oleh semuanya.
Itulah yang membuat semua karyawan betah kerja di Rembulan Cafe. Selain gajinya besar, karyawan di sana saling support dan saling menghargai. Untuk yang ini Roni memang perlu diacungi jempol, karena dialah yang sudah membina karyawan di sana.
Sementara itu di ruang kerja Revan, mereka ngobrol santai setelah Roni dan Dody memberikan laporan terkait perluasan kafe yang mereka kerjakan.
"Bro, kenalin ini istri gue, bidadari gue. Namanya Zaskia... Jadi ga usah berpikir lagi kalau gue belum move on dari masa lalu. Hoax itu." ucap Revan mengenalkan Zaskia diselingi dengan candaan.
Zaskia hanya tersenyum sambil menangkupkan tangannya, kemudian duduk di samping Revan.
"Dody, sahabatnya Revan juga. Insya Allah nanti kita akan kerja bareng juga. Ya kan Ron?" ucap Dody, minta persetujuan Roni. Roni hanya mengacungkan dua jempolnya.
"Iya Kak, mohon bimbingannya. Kia baru belajar, hehe." sahut Zaskia.
"Kamu kan udah jadi Nyonya Bos, Ki... Ga usah kerja terlalu keras, nanti kalau cape gue yang diamuk dia." ucap Roni menunjuk Revan.
"Iyalah... Tar gue yang ga dapet jatah. Ya kan Yang?" ucap Revan sambil memeluk Zaskia dari samping.
Malu. Itulah yang dirasakan Zaskia. Digoda suaminya seperti itu, pipinya jadi blushing. Refleks dia melayangkan cubitan di pinggang Revan.
"Aw, geli sayang!" protes Revan terdengar manja.
Dody hanya melongo, masih tak menyangka, Revan bisa bersikap seperti itu dengan perempuan. Bahkan dulu dengan Fely, yang Dody tahu, mereka tidak sedekat itu apalagi bisa mesra seperti itu. Tapi Dody bisa mengerti kalau Revan bisa sebucin ini dengan istrinya. Soal paras, tentu saja siapa pun akan bilang kalau Zaskia itu cantik, manis dan menarik. Meski pakaiannya tertutup, tapi Dody yakin Zaskia memiliki body goals yang diimpikan wanita. Sikapnya ramah, baik, dan ceria, sopan namun tetap bisa menempatkan diri.
Dia bersyukur karena bukan Fely yang akhirnya menjadi istri Revan. Karena jika sampai sekarang Revan belum bisa melupakan Fely, maka akan sia-sia pengorbanannya selama ini. Pikir Dody.
"Maghrib dulu By, keburu waktunya habis." ucap Zaskia mengingatkan mereka yamg hampir lupa waktu.
Mereka pun akhirnya sholat berjamah di ruangan itu. Setelah selesai mereka menuju ke halaman belakang, tempat diadakannya acara. Kafe rencana tutup lebih awal sekitar jam 20.00 WIB.
TBC....
Tetap dukung karyaku ya...
Jangan lupa tinggalkan komentar, like dan vote
__ADS_1
Makasih❤️❤️