
Sesuai rencana pagi ini Laras terbang ke jakarta bersama Melina dan suaminya. Hatinya berdebar tak menentu mengingat kisah pilunya dulu. Kota ini mengingatkan banyak luka yang pernah dia rasakan. Namun kenangan bersama Abimana juga membuatnya selalu ingin mengingatnya.
"Akhirnya kalian nyampe juga di sini. Ayo masuk. Ayo Laras, mbak anter ke kamarmu untuk menaruh tas kamu." ucap Mam Rena.
"Iya mbak, maaf jadi merepotkan." jawab Laras.
"Jangan sungkan, sebentar lagi kita akan jadi satu keluarga. Anggap saja rumah sendiri." ucap Mama Rena lagi. "Rey, bundanya Zaskia udah datang ini. Revan sama Zaskia belum ke sini?" tanya Mama pada anaknya.
"Belum Ma, belum di kasih tahu juga kalau Bundanya jadi mau datang. Selamat datang tante... Saya Reyhan kakaknya Revan. Salam kenal." ucap Reyhan sambil menyalami Laras.
"Ya udah nanti biar Mama yang telpon sendiri deh." ucap Mama Rena lagi.
Semoga kamu bagahia sayang. Mereka sangat baik, bunda yakin, mereka akan menyayangimu dengan tulus. Batin laras yang tak henti bersyukur karena anaknya bertemu dengan keluarga yang naik.
Setelah mengantarkan Laras ke kamarnya, mama menelpon Revan yang semalam pulang ke rumah sayap kanan bersama Ara dan Kia .
"Ya Ma, assalamubalaikum." sapa Revan di ujung telepon.
"Wa alaikum salam. Bundanya Sazkia sudah datang, kamu cepetan ke sini!" ujar Mama.
"Iya Ma, siap. Ya udah, Revan ke sana sekarang. Revan tutup ya. Assalamu alaikum." Revan segera menutup teleponnya setelah salamnya dijawab oleh Mama.
"Ra... Mau ikut ga? Kia mana?" tanya Revan yang melihat Kiara sedang mengambil minum di kulkas.
"Kia tadi ke kamar, abang belum ketemu?" tanya Kiara balik.
"Ya udah aku cari dulu." Revan segera naik mencari keberadaan calon istrinya.
Ceklek...
Revan langsung membuka pintu kamar. Dia tak melihat calon istrinya berada di sana. Revan lalu mendekati kamar mandi. Tak ada tanda-tanda juga Kia ada di di kamar mandi karna pintunya sedikit terbuka.
Kemudian dia berjalan ke arah walk in kloset. Dengan hati-hati dan tanpa suara Revan membukanya. Saat pintu terbuka, dia melihat Zaskia sedang berganti baju. Tadi pagi Zaskia memang sudah menggunakan sragam mau berangkat kerja namun Revan melarangnya, meski sudah merayu dan memohon, Revan tetap bersikeras melarang Kia untuk bekerja, dengan alasan keselamatan Kia.
Dengan gerakan pelan Sazkia melepas atasan sragamnya. Kemudian duduk di lantai. Dia membuka paperbag hasil berbelanja semalam. Revan memaksa Zaskia berbelanja banyak dan yang memilihkan adalah Kiara, karna Zaskia hanya Membolak-balikkan baju yang dia pegang dan melihat tag harganya saja. Jadilah Kiara gregetan dan membeli semua yang sudah dipegang Zaskia.
Semalam mereka pulang dari mall memang sudah larut, jadi Zaskia belum sempat membereskannya dan hanya menaruhnya di dekat lemari kaca.
Revan masih berdiri mematung di depan pintu, setiap gerakan Zaskia seperti sedang menggodanya. Terlihat Zaskia sudah menemukan baju yang akan dia gunakan. Belum sempat Zaskia mengancingkan kemejanya, Revan sudah mendekapnya dari belakang.
"Aaa... Abang kok masuknya ga kedengeran. Sana bentar, Kia lagi pake baju." ucap Zaskia sambil berusaha melepaskan tangan Revan yang melingkar di perutnya yang terbuka.
"Kamu seksi banget yang, bikin abang pengin." ucap Revan dengan suara parau.
"Jangan kek gini bang... Lepasin, ini tinggal ngancingin kemeja aja." ucap Zaskia lirih. Dia juga merinding dengan posisi seperti ini.
"Sini abang bantu." ucap Revan sambil menuntun zaskia untuk berdiri.
Zaskia memang ikut berdiri namun dia segera menepis tangan Revan. Pikirannya ikut kacau, jantungnya dari tadi berdebar - debar tak menentu.
"Nggak usah, Kia bisa sendiri." ucap Kia sambil berlari menghadap ke tembok dan mengancingkan bajunya dengan terburu - buru. "Ih, kenapa jadi susah banget sih, ini pasti kancingnya yang kebesaran." gerutunya lirih namun masih terdengar oleh Revan yamg saat ini sudah berdiri di belakngnya.
Revan tersenyum, efek grogi dan salah tingkah membuat Zaskia tidak fokus. Bahkan hanya mengancingknan kemeja saja melenceng. Tanpa aba-aba, Revan membalikkan badan Zaskia. Dengan lembut dia mulai menyerang bibir Kia. Malu tapi mau, udah tahu belum mukhrim tapi masih nempel-nempel akhirnya setan terus membujuknya. Zaskia bahkan ikut terlena dan membalas ciuman Revan. Gerakan mereka semakin tak sabaran, Zaskia mengalungkan tangannya di leher Revan. Saat mereka hampir kehabisan nafas barulah mereka berhenti.
Revan menatap mata Kia yang masih terpejam. Sesaat kemudian pandangannya turun. Terlihat kemeja Zaskia yang baru terpasang kancingnya satu yang paling atas. Revan mulai mengancingkan satu persatu.
__ADS_1
"Bang, Kia ga mau lagi sekamar sama abang." ucap Kia yang membuat Revan terkejut.
"Kamu marah sama abang? Enggak dek, jangan tinggalin abang. Abang minta maaf." ucap Revan memelas sambil memohon maaf. Dia tidak mau gadis pujaan hatinya meninggalkannya.
"Sembarangan. Siapa yang mau ninggalin Abang sih? Enak aja, abang yang sudah ambil ciuman pertama Kia masa mau ditinggalin gitu aja. Abang tetap harus nikahin Kia lah." jawab Kia sewot.
Revan malah tersenyum menanggapinya.
"Terus masalahnya apa?" Revan pura-pura tidak mengerti.
"Abang ih, nyebelin. Abang tuh suka banget godain Kia?" ucap zaskia sambil mengerucutkan bibirnya, membuatnya terlihat mengemaskan di mata Revan.
"Kok abang sih, itu bibir dimonyong-monyongin gitu kan berarti adek yang godain abang dong." sahut Revan tak mau kalah.
"Masa Kia lagi ngambek dibilang godain sih. Kia serius ih, abang bercanda mulu!" ucap Kia lagi sambil mencubit lengan Revan.
"Aww... Sakit yang. Tar kalo gantengnya ilang gimana? Adek mau nyari di mana lagi yang gantengnya kayak abang, hmmm? Udah jangan mgambek, kita ke kamar saja. Masa ngobrol sambil berdiri kek gini, tar lama-lama kram lho." ucap Revan sambil menuntun Zaskia keluar dari walk in closet.
" Tau ah, abang nyebelin. Abang pasti ada maunya kan ga ngebolehin Kia kerja?" tuduh Zaskia pada Revan.
"Ck... Jangan berprasangka buruk terus, jadi ini masalahnya apa nih sebenarnya? Adek marah sama abang karena ga dibolehin kerja? Atau adek marah karna abang suka godain adek?" tanya Revan lembut sambil membelai rambut Zaskia.
Zaskia yang sedang jengkel namun dia sendiri juga tidak tahu jengkel karna apa pun akhirnya mendongak, menatap wajah Revan.
"Karena semuanya. Emang bener aku ini lagi dalam bahaya? Bukan akal-akalan abang aja kan? Abang juga jangan godain Kia terus. Kalau kita kebablasan gimana? Adek takut kalau nanti benar-benar kilaf bang." ucap Kia sambil menggerakkanv jari tangannya di dada Revan seperti melukis abstrak. Kia tak tahu karna ulahnya itu, saat ini Revan sedang berperang melawan hasratnya.
"Stop dek!" ucap Revan sambil menangkap tangan Kia. "Kalau kayak gini siapa yang menggoda siapa hmmm? Mau nyiksa Abang? Tuh kan celana abang jadi sesak!" ucap Revan yang menunjuk sesuatu yang menonjol di sana.
Kia hanya menelan ludah kasar saat matanya tertuju pada arah tangan Revan.
"Mesum juga cuma sama adek kok. Adek ga mau digodain abang?" ucap Revan kemudian dia mengangkat Kia hingga duduk di pangkuannya dan mengalungkan tangan Kia ke lehernya.
Sejak tadi Kia sudah merasa gelisah. Jujur saja dia selalu merasa terbang saat Revan memesrainya, namun dia juga takut kalau tidak bisa mengontrol diri.
"Cepat halalin adek bang!" ucap Zaskia. Mengapa jadi itu yang keluar dari mulut Kia. Dan praktis kata-katanya membuat revan tersenyum lebar.
Sedangkan Zaskia merutuki omongannya yang begitu jujur. Revan tak perlu lagi menanyakan apa-apa, sebab dia sudah mengerti dengan kode yang diberikan zaskia.
Revan memeluk Kia begitu erat dan menciumi pucuk kepala.
"Iya sayang, abang mengerti. Sekarang kita temui Papa dan Bunda. Minta mereka untuk segera mempertemukan Bunda dan Ayah. Agar kita bisa segera bersama. Kamu mau kan sayang kalau kita cepet nikah?" tanya Revan yang masih memeluk erat gadisnya. Sementara Kia hanya mengangguk dalam pelukan Revan.
Zaskia menegakkan tubuhnya saat menyadari kata-kata Revan. "Abang tadi bilang mau ngajakin Kia ketemu bunda. Emang bunda mau kesini?"
"Tadi abang nyariin adek mau ngajakin ketemu bunda. Eh malah tergoda yang iya-iya, jadi lupa deh." ucap Revan sambil mencubit hidung Kia.
Kia langsung berdiri dan menarik tangan Revan. "Ya udah ayo."
"Janji dulu jangan ngambek lagi. Ok! Sini peluk." Revan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. "Jadi tadi intinya apa? Ah, abang tau. Pengen... Tapi takut dosa, ya kan?"
"Ih... Abang, ga usah diperjelas juga." ucap Zaskia sambil mencubit perut Revan.
Revan hanya terkekeh melihat calon istrinya yang selalu malu-malu membahas kedekatan mereka.
Tiba di rumah besar ternyata Kiara sudah lebih dulu bekumpul dengan mami papinya. Setelah mendengar kabar orang tuanya sudah berada di rumah besar, Kiara menelpon orang rumah untuk menjemputnya, pasalnya dia tidak sabar kalau harus menunggu dua sejoli yang sedang dimabuk cinta.
__ADS_1
Baru sampai di depan pintu, Zaskia sudah bisa melihat bundanya berada di antara orang-orang yang duduk bercengkerama di ruang tamu. Sebenarnya Kia ingin sekali langsung memeluk bundanya. Namun demi menjaga kesopanan, dia menyalami satu persatu orang yang ada di situ sambil berkenalan dengan papi dan maminya Kiara. Sampai akhirnya dia sampai pada bundanya.
"Kia kangen bunda..." Ujar Kia sambil memeluk Laras dengan erat. Entah mengapa air matanya jadi keluar.
"Bunda juga kangen sama Kia. Kia sehat?" tanya Laras lembut sambil memblas pelukan putrinya.
Setelah beberapa saat zaskia menegakkan tubuhnya dan mengusap air matanya. "Kia sehat bun... Bunda juga sehat kan?"
Laras mengangguk dan tersenyum. "Udah, jangan nangis, gak malu sama calon mertua, hm?" tanya Laras sambil ikut mengusap air mata Zaskia yang tidak juga mau reda.
"Katanya kangen, udah ketemu kok malah ditangisin sih. Udah dong yang!" ucap Revan ikut menenangkan Zaskia. "Abang juga mau salim sama bunda yang..."
Akhirnya setelah beberapa saat zaskia bergeser ke samping Mama Rena dan memeluknya saat mama merentangkan tangannya.
"Apa kabar Bunda?" ucap Revan sambil menyalami tangan Laras dan menciumnya.
"Bunda baik, nak Revan juga sehat?" tanya Laras.
"Alhamdulillah Bun.. Seperti yg bunda lihat." Revan tersenyum lega, tadinya dia khawatir tidak akan bisa berdekatan dengan Laras, nyatanya tak ada gejolak apapun. Rasanya sama seperti berada di dekat mama dan maminya.
"Ngapain aja sih Van, ditunggui dari tadi lho. Udah sejaman lebih ga dateng-dateng." Protea Reyhan pada Revan.
Revan hanya nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Masa iya harus bilang sedang terjebak godaan syetan dulu.
"Gara-gara abang tuh tadi, nyariin Kia tapi ga langsung kasih tahu kalau bunda datang." jawab Kia mengadu. Semua orang menoleh pada Revan.
Ah, Kia kenapa dijawab sih bakalan kena jebakan betmen nanti. Batin Revan.
"Emang kamu diapain sama Revan sayang?" tanya mami.
"Eh, nggak diapa-apain kok tan. Cuma tadi abang jahat sama Kia Ma. Masa Kia ga boleh kerja." adu Zaskia pada Mama Rena.
Seketika Revan menjadi lega. "Eh, itu Ma kemarin ada yang nyari masalah sama Kia di cafe. Kebetulan dia itu anaknya Diana. Tapi kayaknya dia belum tahu kalau dia Zaskia anak om Abi soalnya pas ketemu Kia selalu pake masker." jelas Revan pada semua yang ada di sana.
"Di... Diana? Terus kami harus gimana, bunda ga mau sampai Zaskia kenapa-napa karna wanita ular itu." ucap Laras panik.
Revan yang masih disamping Laras menepuk-nepuk punggung tangan untuk menenangkan Laras.
"Bunda tenang saja, insya allah Kia aman dalam pengawasan kami. Pa, bagaimana rencana selanjutnya. Apa papa sudah menghubungi om Abi?" Revan beralih pada papanya.
"Kayaknya di sini yang udah ga sabar ini Revan deh, ya kan? Pengen buru-buru sah itu tan." celetuk Reyhan yang membuat mereka tertawa. Revan yang disindir hanya mendengus. Laras hanya menepuk-nepuk punggung calon menantunya yang sejak tadi masih di sampingnya.
"Ya kan takut khilaf tan... Katanya niat yang baik itu harus disegerakan, kalau ga percaya tanya aja sama Papa da Papi." ucap Revan mencari pembelaan.
"Beneran dek, Revan pernah ngajak khilaf?" kali ini semua mata tertuju pada Zaskia. Zaskia yang ditatap semua orang malah gelagapan dan salah tingkah.
Melihat Zaskia yang salah tingkah mama memeluknya dari samping. "Abangmu cuma bercanda, jangan diambil hati ya?" ucap mama kemudian.
Reyhan hanya terkikik melihat kedua orang itu salah tingkah. Setelah itu mereka mulai membahas rencana pertemuannya dengan Abimana agar orang-orang Roy dan Diana tidak mengetahuinya.
TBC....
Terima kasih sudah mendukung karya perdanaku...
Jangan lupa tinggalkan komen, like fav
__ADS_1
Makasih❤️❤️