Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 79. AKHIR YAYAN


__ADS_3

Laras bersandar di meja makan. Dia memegang kepalanya seolah terlihat pusing. Sebenarnya Laras juga belum tahu obat apa yang sudah dimasukkan Yayan ke dalam minumannya. Hanya saja reaksi umum ketika orang keracunan atau kena bius mungkin akan sama, pikir Laras.


Yayan segera mendekati Laras sambil tersenyum mengejek.


"Ngapain kamu? Ah iya, ada penawaran menarik. Kamu sepertinya memang haus sentuhan laki-laki. Ikutlah denganku, kamu akan puas bermain-main dengan banyak laki-laki. Tenang saja, mulai hari ini aku ingin menjadi temanmu. Kita akan bersenang-senang bersama. Ayolah akan ada banyak laki-laki yang akan memuaskanmu." ucap Yayan mencoba memancing Laras.


Karena tak ada jawaban dari Laras, Yayan memapah Laras yang masih memegangi kepalanya ke kamarnya. Pak Endra menarik nafas lega saat body guard yang ditugaskan mengambil ponsel dari tas Yayan sudah keluar sebelum Yayan masuk. Di dalam tas ternyata bukan hanya ponsel, dompet dan alat makeup saja. Namun Yayan juga menyimpan senjata tajam dan pistol di dalamnya. Yayan hanya menyambar tas saja kemudian memapah Laras ke luar mansion.


"Mbak Dela mau dibawa kemana?" tanya Pak Endra yang mengejutkan Yayan.


"Eh, anu Pak. Mbak Dela sakit. Saya mau bawa ke dokter. Maaf Pak, saya pergi dulu. Kasihan dia kalau kelamaan. Permisi." ucap Yayan. Pal Endra yang mendapat kode dari laras pun hanya diam dan membiarkan Yayan pergi.


Laras sendiri ternyata telah mempersiapkan semuanya. Di sakunya sudah seperti kantong ajaib dora emon. Selain itu, tak lupa dia memasang camera tersembunyi yang berada di kancing bajunya, dia juga memakai smart watch yang gpsnya telah diaktifkan. Semua itu telah terhubung dengan Zian. Namun sebenarnya dia tidak menyangka jika kejadiannya akan secepat ini, sampai dia lupa memberitahukan rencananya pada suaminya.


Pak Endra segera memberitahukan kejadian ini pada Abimana, sedangkan beberapa body guard diam-diam mengikuti Laras dan Yayan.


"Maaf Tuan, Yayan membawa Nyonya. Maaf kalau saya tidak tahu tentang rencana ini." ucap Pak Endra setelah dipersilakan masuk ke kamar Abimana. Dia juga menyerahkan ponsel Yayan yang sudah berhasil diambil dari dalam tasnya. Beruntung sekali, saat diambil, ponsel dalam keadaan belum dikunci jadi dia memutuskan untuk mengubah passwordnya.


Abimana terkejut mendengar laporan Pak Endra, dia mulai panik. Abimana mencoba menghubungi Zian.


"Apa yang terjadi Zi? Istriku pergi dibawa Yayan, aku khawatir dengan keselamatannya" ucap Abimana masih dengan nada panik.


"Saya masih memantaunya Tuan. Sepertinya ini rencana dadakan Nyonya. Saya sudah terhubung dengan Nyonya, posisinya sudah berada di luar kompleks." sahut Zian sambil memantau Nyonyanya. "Ada kemungkinan lokasi pertemuan mereka berubah-ubah setiap minggunya. Saya masih menunggu lokasi pertemuan mereka." tambahnya.


"Aku tidak mau hanya menunggu di rumah Zi, aku akan menyusul. Kirim lokasimu!" ucap Abimana.


"Jangan gegabah Tuan. Sebaiknya Tuan minta bantuan Tuan Aditama untuk meminta bantuan koneksinya dari dunia bawah untuk membantu penggerebekan yang akan kita lakukan bersama pihak kepolisian. Bukankah Tuan Adi beteman baik dengan kelompok Harimau Putih? Mereka satu-satunya kelompok yang mau bekerja sama dengan pihak berwajib." ucap Zian memberi saran.


"Kamu benar Zi, aku sampai melupakannya. Baiklah, jaga istriku. Aku akan tetap menyusul." sahut Abimana.


Tak lama Zian melalui alat penyadap menerima lokasi yang akan dijadikan tempat pertemuan mereka.


"Tidak kusangka mereka berani berada di tempat umum. Pak, sebaiknya kita segera menangkap Yayan. Lokasi pertemuan sindikat itu telah saya dapatkan. Tolong segera dkondisikan." ucap Zian pada pemimpin operasi penggerebekan ini.


Polisi itu segera melapor ke kantor pusat agar dikirim pasukan tambahan. Mengingat ini adalah operasi besar dan mereka berjumlah banyak, maka diperlukan anggota yamg banyak juga untuk membeluk komplotan manusia-manusia keji itu.


Sementara mobil yang menjemput Yayan hanya melaju pelan. Sedangkan Laras pura-pura tidak sadarkan diri sambil mendengarkan informasi dari percakapan sopir itu dan Yayan.


"Kita kemana Bu hari ini? Sepertinya teman Ibu, tidak sadarkan diri." tanya sopir itu.


"Iya Pak, dia itu sedang sakau, tadi ngamuk-ngamuk. Makanya saya beri penenang. Saya ingin mengirimnya ke pusat rehabilitasi nanti setelah acara saya selesai. Sebentar ya Pak, saya masih menunggu info lokasi yang akan kita tuju." jawab Yayan asal.


Sakau? Enak saja dibilang sakau. Jangan-jangan dia juga pengguna? Astaga, bagaimana kalau di kamarnya juga menyimpan benda haram itu? Batin Laras.


"Ibu ini hebat ya, setiap minggu mengadakan acara amal. Apakah ada lowongan pekerjaan untuk anak gadis saya bu? Tapi dia baru lulus sekolah?" tanya sopir itu.


Acara amal? Amal dari hongkong? Astaga... Bapak ini seperti sudah dibohongi selama ini. Ucap Laras lagi dalam hati.


"Oh, ada Pak, minggu depan ajak aja bareng. Saya akan memberinya pekerjaan." sahut Yayan cepat sambil tersenyum puas.


Yayan sepertinya mulai panik saat menggeledah tasnya namun tidak menemukan benda-benda yang ada di tasnya.


"Sepertinya ponsel saya tertinggal deh pak. Menepi dulu Pak sebentar." ucap Yayan.


Laras sedikit memgintip ke depan, rupanya pasukan sudah siaga. Tak lama pintu juga diketuk, rupanya mereka yang dari arah belakang sudah bergerak.


Tok tok tok tok...

__ADS_1


Kaca pintu depan diketuk. Yayan mulai panik dan memakai maskernya. Sopir dengan tenang membuka kaca mobilnya.


"Selamat siang Pak, maaf mengganggu perjalanan anda. Kami sedang melakukan operasi. Bisa tunjukkan surat-suratnya." ucap polisi yang itu.


Sopir taksi online segera merogoh dompetnya. Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Laras. Dia pura-pura menggeliat kepanasan.


"Emmmgggg.... Di mana aku? Mengapa panas sekali. Aahhh.... Panas. Tolong... Tolong, panas!" teriak Laras.


Hal itu membuat petugas tadi mengalihkan perhatian pada Laras. Sementara petugas lain segera membuka pintu tengah. Yayan bertambah panik saat petugas menodongkan pistol padanya. Dari tadi dia sendiri sudah sibuk mencari pistolnya di tas namun tak ditemukan.


"Jangan bergerak!" polisi langsung membekuk Yayan.


"Kenapa saya ditangkap Pak, saya salah apa? Saya tidak berbuat apa-apa. Lepaskan saya!" teriak Yayan saat tangannya diborgol dan digelandang menuju mobil polisi.


"Maaf Bu, semua sudah aman. Mari saya antar ke mobil Pak Zian." ucap salah satu petugas yang diangguki oleh Laras. "Dan Bapak kami minta untuk menjadi saksi. Silakan ikut kami." ucapnya lagi kali ini pada sopir taksi itu.


"Maaf Pak, sebenarnya ada apa ini. Mengapa ibu yang tadi ditangkap? Bukankah yang memakai narkoba adalah ibu ini?" tanya sopir itu bingung.


Laras hanya menepuk pundak sopir itu sambil tersenyum lalu melangkah menuju mobil Zian.


"Kami akan jalaskan di kantor nanti. Mari! Mobil Bapak akan dibawa salah satu petugas. Jangan khawatir!" ucap polisi itu lagi.


"Nyonya, Tuan Abimana ingin bicara. Dari tadi beliau sangat khawatir, Nyonya." ucap Zian saat melihat Laras sudah memasuki mobil.


Laras tersenyum mendengar laporan Zian, dia segera menyambar ponsel yang disodorkan Zian. Bukan hanya panggilan biasa, Abimana ternyata melakukan panggilan video.


"Sayang, kamu ga papa. Mengapa tidak bilang-bilang tentang rencana ini. Kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana?" tanya Abimana penuh kekhawatiran.


"Aku ga ngapa-ngapain Mas. Aku baik-baik saja. Aku hanya mengirimkan sinyal untuk Zian. Maaf karena tadi lupa ngasih tahu. Sekarang Mas di mana?" tanya Laras mengalihkan kekhawatiran suaminya.


"Iya Mas." jawab Laras singkat lalu menyerahkan ponsel itu kembali pada Zian.


Mereka pun pergi ke tempat dimana Diana sudah diamankan sambil diikuti oleh mobil polisi.


Begitu melihat mobil Zian datang, Abimana segera menyambutnya. Bahkan dia sudah melupakan kursi rodanya ada di mana. Begitu Laras keluar, Abimana langsung memeluknya.


"Mas sangat khawatir sayang. Mas ga mau kehilangan kamu lagi. Mas takut." ucap Abimana sambil memeluk erat istrinya


"Laras ga papa Mas. Lihat, ga ada sedikitpun yang luka. Laras baik-baik saja. Laras tidak akan meninggalkan Mas lagi." ucap Laras menenangkan suaminya.


"Jangan lakukan ini lagi, apa pun yang terjadi, bicarakan dulu semua sama Mas, oke!" ucap Abimana lagi sambil mengeratakan pelukannya. Laras hanya mengangguk dalam pelukan Abimana.


"Dimana Diana? Aku sudah tidak sabar untuk memberinya hadiah. Apakah semua barang yang dia bawa sudah diamankan?" tanya Laras.


"Aman Nyonya." Jawab seorang bodyguard yang ada di sana.


Mereka segera menuju ke ruangan di mana Diana berada.


"Yakin mau masuk sendiri sayang?" tanya Abimana.


"Iya Mas, aku ingin bicara berdua dengannya." jawab Laras meyakinkan suaminya.


"Baiklah, hati-hati! Kami akan mengawasinya dari luar." ucap Abimana yang sebenarnya khawatir Diana akan berbuat macam-macam.


Di dalam ruangan, Diana diawasi oleh dua orang bodyguard. Laras tersenyum saat menatap Diana. Sorot matanya masih terlihat ambisius seperti dulu.


"Aku ingin bicara berdua dengannya. Lepaskan ikatannya." ucap laras sambil tersenyum. Senyum yang menyiratkan luka. Tak bisa dipungkiri, Laras masih menyimpan rasa sakit atas perlakuan Diana, apa lagi dialah yang sengaja menjebaknya dan terpisah dengan suaminya.

__ADS_1


"Baik, Nyonya." jawab mereka patuh.


"Siapa kamu? Aku tidak ada urusan denganmu. Lepaskan aku brengsek!" teriak Diana.


Bodyguard itu keluar setelah melepasknan ikatan tangan.


"Kita bertemu lagi Diana." ucap Laras santai sambil duduk di salah satu kursi yang ada di dalam ruangan.


"Siapa kamu? Berani sekali kamu membawaku ke sini. Kamu belum tahu siapa aku rupanya." ucap Diana berusaha mengintimidasi.


Laras masih santai dengan menyandarkan tubuhnya di kursi sambil bersedekap.


"Haahhhh... Diana Diana...! Kamu tidak berubah, masih saja sombong. Bahkan kamu sudah tak ingat lagi dosa-dosa yang sudah kamu buat. Membuat seorang anak dan dan istri diusir oleh suaminya sendiri. Dan kamu masih bisa bersikap seperti tidak terjadi apa-apa? Hebat, sangat hebat, sayangnya... Semua ini akan berakhir hari ini." ucap laras tenang, namun hal itu cukup membuat Diana terkejut.


Wajah Diana telihat memucat, dia masih belum mengerti apa sebenarnya yang sedang terjadi.


"Siapa kamu sebenarnya? Apa maumu?" tanya Diana mulai panik.


Laras melepas kacamata, wig, dan juga tompel yang ada di wajahnya. Seketika Diana membelalakkan matanya. Dia masih berusaha agar tidak terlihat ketakutan.


"Jadi kau masih hidup? Seharusnya saat itu kamu kulenyapkan saja. Paling tidak kamu lumpuh seperti suamimu yang tidak berguna itu?" ucap Diana sedikit demi sedikit menjadi tak terkendali.


"Oh, bukankah kamu bilang suamiku sangat mencintai kamu, dan kalian akan menikah? Oh.. Jadi saat itu kamu hanya berhalusinasi? Astaga... Rupanya suamiku cinta mati padaku sampai dia tidak mau melirikmu. Atau... Mungkin suamiku tahu kamu bekasan orang banyak, makanya dia jijik sama kamu." ucap Laras memprovokasi.


"Tutup mulut kamu. Kamu tidak tahu apa-apa. Sekarang ambil kalau kamu mau, suamimu yang tidak berguna itu. Oh... Pasti kamu juga ga bakalan mau kan sama dia. Kalau kamu mau pasti kamu hanya mau mengambil hartanya saja kan? Jangan mimpi! Harta Abimana itu sudah aku kuasai. Dan kamu ga akan dapat apa-apa, hahaha... " ucap Diana mencoba untuk membalikkan keadaan.


Namun diluar dugaan, bukannya terprovokasi, Laras malah tertawa. "Mimpimu terlalu tinggi Di... Kamu pikir aku tidak tahu selama ini kamu hidup dengan uang siapa? Kamu juga ingin menjatuhkan perusahaan suamiku kan? Kamu juga bersekongkol dengan orang kepercayaan suamiku kan? Aku tahu semua Di... Tapi sayang... Semua hanya akan jadi mimpi kamu. Karna sebentar lagi apa yang kamu ambil diam-diam akan kuambil kembali. Termasuk perusahaan, suami berserta istananya. Semua adalah milikku, aku tak akan membiarkan orang-orang sepertimu dengan mudah merampasnya." ucap Laras dengan nada dingin penuh intimidasi.


Baru kali ini Diana merasa terintimidasi, perasaannya sudah enak. Dalam pikirannya hanya mencari celah untuk melenyapkan Laras. Dia melirik di sudut ruangan ada potongan kayu dan besi. Dengan cepat dia berlari meraihnya, namun saat hampir sampai kaki Laras sudah terlebih dulu menendang kakinya.


"Aahhh... Braakkk..." Diana tersungkur ke lantai dan beberapa balok menimpa tubuhnya.


"Ups, sory Di! Aku hanya ingin melindungi diri. Aku sarankan agar tidak banyak bertingkah. Karena setelah ini tidak akan ada yang bisa menolongmu lagi. Sebaiknya kamu menuliskan pesan untuk anakmu sebelum hidupmu berakhir di penjara. Atau bisa juga, kamu akan berakhir dengan hukuman mati." ucap Laras lagi.


Diana mencoba untuk bangun sambil menahan sakit karna luka di pelipisnya. Dia masih heran, dari mana Laras tahu semua ini. Bukankah selama ini dia tidak diketahui jejaknya?


"Aku tidak akan membiarkanmu bahagia, tidak akan. Kamu harus mati hari ini." ucap Diana sambil mengayunkan kayu ke arah kepala Laras.


Laras mencoba menghindar. Karena tidak berhasil, Diana melemparkan potongan-potongan kayu itu dengan membabi buta sampai akhirnya mengenai Laras juga.


Laras terjatuh di sudut ruangan. Diana dengan cepat mengambil potongan besi dan mengayunkannya pada Laras.


"Rasakan ini, mati kau!"


"Aaaa...."


Doorrr!


Doooorrrr!


TBC....


Mohon bantuannya untuk dukung karyaku yang berjudul SWEET AFFAIR ya bestie... Boom like yang banyaak... Karna novel ini ikut serta dalam event YOU ARE A WRITTER SEASON 7


Makasih semua, semoga kalian selalu bahagia, lancar rejekinya🙏🙏❤️❤️


__ADS_1


__ADS_2