Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 28. OTAK MESUM


__ADS_3

"Sial, mengapa Reno sekarang jadi pelit sih, emang bener yang dia bilang kalau perusahannya sedang bermasalah dan terancam bangkrut? Apa hanya alasan saja?" Clara mencak-mencak ketika tidak dapat membeli barang incarannya.


Sejak pindah ke Surabaya, dia tak bisa bebas belanja lagi. Reno memberi alasan bahwa kartu kreditnya dibekukan karena dia sudah banyak menggunakan uang perusahaan untuk keperluan pribadi. Sementara Clara sendiri termasuk seorang yang hyper ***. Tak puas dengan Reno yang selalu tak bisa menyelesaikan aktifitas ranjangnya, dia sering mencari hiburan diluar, bahkan sering membayar laki-laki hanya untuk mendapatkan kepuasan. Apa lagi hampir 2 tahun ini Reno tak pernah menyentuhnya, meski masih dalam kendalinya.


"Mama bantuin dong, apa jimat dari dukun itu sudah tidak mempan? Jika gini terus kita ga akan bisa hidup enak terus." ucap Clara frustasi.


"Mhah Mijo itu dukun terbaik di sini, jangan sembarangan kamu! Meski dia tidak di sini tapi omonganmu dia bisa denger." jawab Mama Clara


"Terus kita harus bagaimana Ma, bantuin mikir dong! Uang dari Reno yang kita kumpulin itu tinggal sedikit, sekarang bahkan Clara cuma dijatah 10 juta saja. Dapet apa uang segitu?" ucap Clara mengeluh


"Kenapa bisa sedikit sekali? Kamu kurang servis kali, jadinya dia pelit." ucap Mama Clara ikut protes.


"Nanti Mama akan menemui Mbah Mijo, mungkin dia punya nya solusi." ucap Mama Clara lagi.


Reno harus tetap menurut padaku, meski dia tidak bisa memuaskanku tapi aku tak rela melepaskannya. Batin Clara.


******


Saat Revan mengantarkan Kia ke kafe, suasana menjadi heboh. Pasalnya bos besar mereka yang selama ini tak pernah menampakkan diri, dengan santainya menggandeng karyawan baru yang belum lama bekerja di kafe ini.


Banyak pertanyaan di kepala mereka, apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan Mbak Rita pun baru mendapatkan cerita garis besarnya saja.


Kia hanya terdiam sambil menunduk ketika bosnya itu mengarahkannya ke ruang belakang, tempat karyawan menyiapkan semua yang diperlukan pelanggan, briefing dadakan katanya.


"Sore all... Ok sebelumnya saya akan memperkenalkan diri secara resmi dan terbuka di depan kalian. Benar kan kalian ingin berkenalan dengan pemilik kafe ini?" ucap Revan smbil berkelakar. Jangan lupa posisinya saat ini di samping Kia, sambil merengkuh pinggangnya. Revan beralasan dengan seperti itu dia, bisa melawan rasa yang tidak biasa di tubuhnya. Kia pun hanya menurut.


" Mungkin kalian bingung mengapa saya tiba-tiba ada di sini dengan teman baru kalian?" ucap Revan sambil melirik Kia, lalu tersenyum.


"Baiklah, karna saya tidak mau ada kesalahpahaman dengan hubungan kami kedepannya, maka hari ini saya beritahukan bahwa Zaskia Maharani atau yang akrab kalian panggil Kia ini adalah calon istri saya." Revan diam sejenak mencoba menangkap reaksi karyawannya.


Mereka memang terkejut, terlihat dari raut muka mereka yang terbengong dan memindai sosok Zaskia.


Beruntung banget sih kamu Kia...


Kok bisa, masa cuma gara-gara kopi bisa jadi istri?


Masa iya sih, anak sepolos Kia menggoda Pak Bos, bukankah dia orang yang tidak mudah didekati apalagi digoda?


Pupus sudah harapan gue untuk mendekati Kia...


Dan masih banyak lagi pertanyaan di kepala mereka.


Kia mencengkeram Ujung jaket yang dipakai Revan, dan Revan tahu Kia masih mode gelisah.


"Ah... Iya mungkin ada yang bertanya kenapa kami bisa kenal dan tiba-tiba terlihat dekat. Jadi, beberapa waktu lalu saya mendapatkan musibah dan Kia lah yang menolong saya, tapi sayangnya saya kehilangan jejaknya. Tapi ternyata Tuhan telah mengatur pertemuan kami di kafe ini." Revan menjelaskan panjang lebar.


"Kedepannya, saya harap tidak ada lagi kesalahpahaman tentang ini. Tolong kalian tetap berteman dengannya seperti biasanya. Bro, segera cari pengganti Kia, biarkan dia belajar di kantor atau sebagai kasir. Aku ga mau dia kelelahan," ucapnya lagi, pandangannya lalu beralih ke Roni.


" Siap Boss! " jawab Roni dengan sikap hormat.


"Abang... Kia bisa kok kerja kayak biasanya, adek pengen bareng temen - temen di belakang. Kia tuh udah biasa kerja, ga terasa berat kok. Ya Bang... Pliss." ucap Kia merajuk manja sambil menggoyang-goyangkan lengan Revan, dan diakhiri dengan menangkupkan tangan.


Sumpah, ini bos gantengnya berlapis-lapis. Beruntungnya Kia bisa pegang - pegang.


Kira-kira Kia punya jimat keberuntungan ga ya, mujur bener nasibnya, udah ganteng tajir lagi.


"No! Ga ada penolakan kalau masih mau kerja. Adek kan nanti juga bisa sering main ke belakang. Ga ada yang nglarang kok. Nurut sama Abang, ok!" tegas Revan namun tetap dengan nada rendah.


"Ck, Abang nyebelin ah, ga asyik!" sahut Kia sambil cemberut.


Interaksi mereka tentu saja menjasi pusat perhatian seluruh karyawan yang ada disana.


"Jangan ngambek dong yang.... Ikut Abang dulu." Revan menarik tangan Kia pelan.


"Ok gaes, kalian bisa lanjutkan pekerjaan kalian! Makasih waktunya. Bulan ini semua dapet bonus khusus dari saya."


Revan segera keluar menuju ruangannya.


"Astaga... Itu tadi beneran bos kita? Sumpah ganteng banget. Aahh... Jadi pengen diromantisin kaya Kia." Kata salah satu karyawan.


"Bangun woi! Masih sore udah mimpi! Halunya ketinggian, hati-hati tar kepleset nyungsep ke got. Hahaha..." sahut yang lain.

__ADS_1


"Udah udah! Kerja, tar bonusnya batal lho!" kali ini Roni yang bersuara.


"Ah... Bos Roni ga asyik ih. Jarang-jarang lho kita lihat cowok yang gantengnya paripurna gitu."


"Emang saya kurang ganteng ya?"


"Percuma ganteng kalo udah ada yang teken!"


"Hahaha... Ya sudah lanjut kerja, tadi dah dapet vitamin mata kan? Nah, vitamin lainnya nunggu bonus cair, ok! Semangat dong!" ucap Roni terkekeh sambil berjalan keluar.


******


"Udah jangan cemberut gitu!" ucap revan setelah mendudukkan Kia di meja kerjanya. "Abang bukan ingin membatasi kegiatanmu atau membuatmu mangkir dari kerjaaan," ucapnya lembut sambil menangkup wajah Kia yang masih cemberut. "Hei, lihat Abang, Abang justru ingin kamu bekerja keras dengan banyak belajar tentang sistem kerja kafe kita. Ada kemungkinan Abang buka cabang lain, jadi kalau Kia pengen berkarir, Adek bisa mengembangkan apa yang kita rintis." Revan mencoba menjelaskan agar gadisnya itu mengerti.


"Terus nanti kalau mau kuliah sambil kerja, waktunya juga bisa kamu atur, istirahat kalau cape. Abang cuma pengen Adek aman dan nyaman." lanjutnya.


Bukannya tenang, Kia malah menangis sesenggukan.


"Yang, kok malah nangis? Maaf ya kalau Abang salah. Udah ya, jangan kek gini!" Revan dibuat kalang kabut, Kia masih menangis dipelukan Revan. "Oke kalau memang kamu masih ingin kerja kayak biasanya, Abang ga akan maksa lagi, tapi jangan nangis, ya...!" ucap Revan lagi sambil memberi kecupan-kecupan kecil di kelapanya.


Kia semakin mengeratkan pelukannya.


Astaga dek, sepertinya kamu sengaja menguji imanku ya. Batin Revan.


Bagaimana tidak, posisi tubuh Revan berdiri saat ini berada di antara kedua kaki Kia yang duduk di atas meja. Ada yang terasa mengganjal di perutnya yang rata, saat Kia merapatkan tubuhnya karena sedang memeluknya.


Payah banget sih pertahanan gue kalo sama kamu Dek... baru gitu aja 'dia' sudah bangun. Kenapa sekarang celananya jadi sesak sih. Hufffttt... Sabar Revan! Batin Revan berusaha menenangkan gejolak jiwanya.


"Abang kenapa sih baik banget sama Kia?" Kia mendongak, perlahan melepaskan pelukannya. Kia masih sedikit terisak.


Revan tersenyum sambil mengusap air mata Kia.


"Kamu adalah cinta Abang, tujuan hidup Abang, tentu saja Abang harus peduli. Jangan nangis lagi, maaf kalau tadi Abang terkesan mengatur Adek."


"Abang enggak salah. Kia bakalan nurut apa kata Abang. Kia cinta sama Abang, maafin Kia ya!" Kia kembali mengeratkan pelukannya.


Revan tak kalah erat membalasnya.


"Kenapa?"


"Punya adek ngeganjel banget diperut Abang. Dari tadi abang udah gemes lho nahan tangan Abang."


Sesaat hening, Kia mencoba mencerna kata-kata Revan. Dengan cepat sia mendongak setelah menyadarinya.


"Abang ih... Pasti lagi mikir mesum nih!" Ucap Kia berusaha melepas pelukannya, namun Revan menahannya.


"Habis Adek mancing-mancing sih, punya Abang jadi bangun kan?"


"Maksudnya?" tanya Kia bingung.


Ah, Revan sepertinya harus benar-benar pergi jika tidak ingin tersiksa lebih lama lagi. Revan pun mengurai pelukannya dan mengambil tangan Kia lalu dia arahkan memuju bawah perut Revan.


"Abaaang... Mesum banget sih! Awas minggir, Kia mau kerja!"


"Yah dek... Masa langsung ditinggal sih, gimana ini? Tanggung jawab dong!"


"Bodo ah, awas sana!" Kia segera melompat dan lari menuju pintu, namun baru saja mau membuka pintu, dia berbalik lagi.


"Kenapa, berubah pikiran? Adek mau tanggung jawab?"


"Ck, dasar otak mesum! Kia cuma mau bilang. Nanti hati-hati kalau jadi pergi sama Ara. Terus... Nanti malem Kia jadinya nginep tempat mbak Rita ya! Kan besok Kia libur!


"No, besok pagi saja Abang anter ke sana, sekalian berangkat kerja. Kamu bisa di sana seharian, tp pulang kerja Abang mampir jemput ya."


Kia berjingkrak kesenangan lalu dengan cepat memberi kecupan di pipi kanan Revan.


Cup


"Makasih Abang sayang...!"


Revan tersenyum, "Yang satu belum dek, nanti dia iri lho."

__ADS_1


"Tapi Adek boleh ya ngasih Bu Rus dari uang yang tadi?"


Revan hanya mengangguk sambil menunjuk pipi kirinya.


Dengan malu-malu Kia memberikan kecupan lagi di pipi Revan sebelah kiri.


"Abang langsung berangkat aja ya. Kamu hati - hati."


Cup


Kali ini Revan yang memberi kecupan agak lama di keninng Kia.


Tak lama Kia segera pergi meninggalkan ruangan Revan.


Drrrtt drrrttt drrrttt


Ponsel Revan berbunyi, nampak tulisan id penelpon adalah Bang Reyhan.


"Iya Bang, Assalamua alaikum."


"Wa alaikum salam... Van, kirim alamat lengkap Kia ya. Rencananya Papa besok malam mau terbang ke Jogja, mau nglamar Kia katanya."


"Beneran Bang? Kok Revan ga dikasih tau?"


"Ini dikasih tau, rencananya juga dadakan. Tapi Kia jangan dikasih tahu dulu biar jadi kejutan. Habis dari Jogja tencana mau terbang ke Surabaya. Mama tadi kepikiran sama Bang Reno katanya."


"Ya udah deh nanti aku kirim alamatnya lewat wa aja ya Bang. Sama nitip ponsel buat bundanya Kia, ada diatas nakas kamar Revan, biar tidak susah kalau mau teleponan."


"Ok sip, Assalamu alaikum."


"Wa alaikum salam."


Revan melebarkan senyum setelah menutup telepon.


"Papa memang the best!" ujarnya kemudian.


Revan mencari kontak Denis. Ya, tadi pagi Kia memperkenalkan pada sahabatnya itu, dan mereka juga tukeran nomor. Rencananya Revan membeli ponsel akan dikirim kepada Denis agar di sampaikan pada bunda Kia.


"Assamu alaikum," ucap Denis ketika menerima panggilan video dari Revan.


"Wa alaikum salam. Den... Abang minta tolong bisa?"


"Kenapa Bang? Ada sesuatu dengan Kia?"


"Bukan Kia, kamu ga usah khawatir tentang dia. Aku cuma ?mau minta alamat lengkap rumah Kia aja, rencana orang tuaku mau ke sana tanpa sepengetahuan Kia untuk berkenalan sekaligus melamar Kia."


"Apa? Abang yakin? Ga akan mempermainkan Kia kaya mantan tunangannya kan?"


"Kalo cuma buat mainin Kia, ngapain orang tua Abang terlibat dan mau repot-repot ke sana? Sembarangan kamu."


Denis hanya nyengir.


"Ya maaf Bang, habisnya aku kasihan sama nasib Kia."


"Kasihan apa kasihan? Emang Abang ga tau kalau kamu juga ada hati sama Kia. Kamu bisa bohongin orang lain tapi tidak dengan Abang."


"Abang kayak dukun aja! Iya, Denis jujur, emang Denis suka sama Kia sebagai perempuan. Hanya saja Kia tak pernah ada perasaan sama Denis. Tenang saja Bang, Denis cuma mau jagain Kia kok, ga ada maksud untuk memilikinya. Denis sekarang yakin, Kia berada pada orang yang tepat."


" Bagus kalau begitu. Thanks ya. Ya udah kalau gitu. Abang tutup ya. Assalamu alaikum. "


" Wa 'alaikum salam. "


Revan tersenyum simpul...


TBC...


Habis ini mau lanjut cerita siapa dulu gaes?


Request di kolom komentar ya...


Jangan lupa tekan 👍dan❤️

__ADS_1


Makasih❤️❤️


__ADS_2