
Saat Revan yang sedang bersiap-siap menjemput Zaskia, terdengar suara ponsel berdering di atas nakas. Ia mengalihkan perhatiannya untuk melihat id penelepon.
"Mas Andre? Ah, Kia salah bawa ponsel. Ketuker pasti. Untung nomer yang aku kasih Om Abi no yang biasa buat kerjaan." ucap Revan masih melihat ponsel yang masih menyala.
Beberapa saat nada panggilan terputus. Tak lama ada pesan masuk. Nampaknya pesan dari Andre benar-benar tak pernah dibuka oleh Kia. Sejenak Revan melihat pintasan isi pesan dari Revan.
"Zas, plis! Mas pengen ketemu, Mas pengen minta maaf. Mas berjanji tidak akan mengganggu kamu lagi. Mas senang jika akhirnya kamu mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Mas. Mas akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu" isi pesan Andre.
Revan menghela nafas kasar. Dia ingin menjalani hubungannya dengan Zaskia dengan tenang. Mungkin mereka memang harus bertemu. Tapi bagaimana kalau Andre ingin kembali pada Kia, apakah dia akan kehilangan Kia? Itulah yang saat ini dipikirkan Revan. Sepertinya Revan perlu membicarakan ini pada Zaskia.
Revan segera mengambil kunci mobil sportnya, sesekali dia juga ingin kencan pikirnya. Rencananya setelah dari kafe, dia akan jalan-jalan dan nonton. Namun baru menjalankan mobilnya keluar dari garasi sudah ada Ara yang menghadangnya.
"Nebeng ya Bang. Mau ke kafe kan?" tebak Ara. Tanpa menunggu jawaban Revan, Kiara membuka pintu depan dan duduk di sebelah Revan.
"Mau ngapain sih ikut ke kafe segala, awas aja kalo cuma ngrecokin." ucap Revan yang merasa was-was Kiara bakalan ngrecokin acaranya dengan Zaskia.
"Elah Bang, pelit banget sih. Aku tuh juga mau kencan. Emang Abang aja yang bisa kencan." sahut Kiara tak mau kalah.
Mereka masih berdebat manja selama perjalanan. Kadang bertengkar kadang manja, itulah Kiara jika sudah bersama kakak sepupunya ini. Untungnya jalanan tidak macet, meskipun padat. Revan sengaja memarkirkan mobilnya di halaman belakang, namun Kiara lebih dulu turun dan kembali ke depan. Dia janjian dengan Arya jam 3 sore
"Eh, Pak Revan kok lewat belakang? Lewat lorong yang menuju ruangan Pak Roni saja Pak, biar nyaman. Kalau pas rame gini agak semrawut di bagian penyiapan." ucap Alex yang saat itu baru keluar dari kamar mandi dan melihat Revan. Alex tahu jika Revan merasa tidak nyaman berada di keramaian.
"Saya nyantai di situ dulu aja. Tolong panggilkan Zaskia ya Al." ucap Revan sambil menujuk bangku di dekat taman kecil.
"Oh, siap Pak. Pak Revan mau minum apa? Kopi seperti biasa?" tanya Alex.
"Nanti saja deh, belum haus." jawab Revan kemudian.
Setelah Alex berlalu, Revan mengamati tanah kosong yang ada di sebelah pagar besi di depannya. Rencananya dia mau memperluas kafenya sampai ke belakang dengan tajuk Rembulan cafe dan Resto.
Sedangkan Alex segera ke depan mencari keberadaan Zaskia. Meskipun dia sudah janji pada Revan untuk tidak terlalu capek, nyatanya dia malah bekerja keras. Mungkin itu adalah obat yang mujarab untuk lukanya. Karena sekarang dia merasa sudah benar-benar sehat. Dia tak hanya duduk diam di kasir, sesekali dia juga turun melayani pengunjung.
Dari tadi dia memperhatikan mobil yang terparkir di halaman kafe. Pemiliknya hanya turun sebentar lalu melihat jam seperti sedang menunggu orang dengan gelisah, kemudian masuk ke dalam mobil lagi. Sudah hampir 1 jam wanita itu melakukan hal yang sama. Sampai akhirnya Zaskia melihat wanita itu masuk ke dalam kafe bertepatan dia sedang membawakan pesanan pengunjung.
Orang itu adalah Lucia. Dari tadi dia berharap bisa bertemu dengan Revan di kafe ini, namun setelah satu jam lebih ia tak kunjung terlihat. Karna merasa jengkel dia memutuskan untuk mencari cewek yang kemarim terlihat bersama Revan. Kebetulan sekali pas masuk dia melihat Zaskia membawa nampan berisi minuman dan makanan pesanan pengunjung. Langsung terbersit dalam otaknya ide jahat.
Dengan cepat ia berjalan menuju arah Zaskia, kaki kanannya sedikit menjegal kaki Zaskia. Meski Zaskia tidak jatuh, namun tubuhnya oleng tak dapat mempertahankan keseimbangan tubuhnya dan akhirnya nampan di tangannya jatuh. Isinya berhamburan kemana-mana. Piring dan gelas juga pecah.
"Kamu itu bisa kerja tidak sih, lihat! Baju aku basah dan kotor kan gara-gara kamu!" teriak Lucia memaki Zaskia.
Ini orang mau bikin gara-gara kayaknya. Siapa sih dia, perasaan aku ga pernah kenal deh! Batin Zaskia.
"Maaf mbak, bukannya tadi mbak yang sengaja menjegal kaki saya ya. Terus kenapa jadi saya yang salah?" sanggah Kia dengan berani. Seperti yang Revan katakan, dia tidak boleh tunduk dengan orang yang akan menindas kita. Kita harus punya kekuatan untuk melawan. Dan Zaskia saat ini yakin, dia sedang memiliki kekuatan yang akan terus melindunginya.
" Saya ini tamu, kamu mau menyalahkan saya? Kamu tahu kan kalau tamu adalah raja. Baru jadi pelayan aja blagu!"
"Jadi mbak ini mau bertamu. Saya perhatikan lho sejak 1 jaman yang lalu mbaknya cuma nongkrong di depan kafe. Dan sekarang masuk kafe malah mau bikin rusuh. Mbak punya tujuan apa ke sini?" tanya Zaskia tanpa tedeng aling-aling.
Lucia geram, bukan hanya karena Zaskia membentaknya namun karena tujuannya ke sini yang bukan benar-benar sebagai pengunjung sudah bisa ditebak oleh Zaskia.
Plak!
__ADS_1
Pipi memar Zaskia yang tertutup masker, yang belum begitu sembuh menjadi sasaran tamparan Lucia. Seketika maskernya terlepas. Arya dan dan Ara yang baru saja masuk kafe terkejut, Arya tentu mengenali siapa wanita yang menampar adiknya itu. Arya dengan sigap menarik tangan Zaskia dan memeluknya
Untung tadi wajahnya masih tertutup rambut saat maskernya lepas.
"Tahan Dek, jangan bergerak. Wanita ini salah satu musuh kita." bisik Arya pada Zaskia.
Kiara yang tadi sempat shock pun akhirnya maju menghampiri Lucia.
Plak... Plak...
Jiwa bar-barnya yang kemarin dia pendam pun akhirnya keluar juga. Lumayan dapat pelampiasan, batinnya.
"Satu untuk kamu yang sudah membuat onar, satu lagi untuk balasan kamu yang sudah menampar calon ipar aku." ucap Kiara.
Alex yang sudah menemukan keberadaan Zaskia pun tak kalah terkejut. Apa lagi saat ada laki-laki yang dengan terang-terangan memeluknya. Apa nanti tidak akan terjadi masalah.
"Panggil keamanan Mas!" teriak Arya pada Alex dan seketika menyadarkan Alex dari keterkejutannya.
Tanpa menjawab, Alex segera ke depan memanggil keamanan. Tak lama Lucia dipaksa keluar dari dalam kafe.
Nampak Revan dan Roni keluar dari ruangan Roni dengan berlarian.
"Yang... Ada apa? Mana yang sakit?" tanya Revan sambil menangkupkan tangannya ke wajah Zaskia. Lagi-lagi dia gagal menjaga Zaskia, batinnya. Tadi saat dia menunggu Zaskia, ada pegawai kafe yang memberitahu bahwa Zaskia sedang ada masalah diluar. Dia segera masuk lewat lorong yang langsung terhubung ke ruangan Roni.
Zaskia mendongak, mungkin Zaskia sudah kebal sehingga rasanya tak begitu sakit.
"Kia ga papa Bang, ga usah cemas." jawab Zaskia sambil tersenyum.
"Bawa ke dalam saja Bang. Ada yang ingin aku sampaikan juga." kata Arya.
"Untuk semuanya... Mohon maaf atas ketidaknyamanan kalian. Silakan dilanjutkan menikmati menunya. Dan semua yang hadir saat ini kami memberikan diskon 10% sebagai permintaan maaf kami. Terima kasih." ucap Roni kemudian.
Setelah berada di ruang kerjanya, Revan mendudukkan Zaskia di sofa. Dia masih meneliti wajah Zaskia barang kali tadi dia tidak melihat ada luka yang parah. Namun syukurnya memang tak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Bang, aku tahu wanita tadi." ucap Arya sambil melihat Revan.
Revan mengernyitkan dahinya "Siapa?"
"Abang harus lebih waspada mulai saat ini. Dia adalah anak Diana. Orang yang sudah mengadu domba Om Abi dan tante Laras. Apa Abang pernah mengenalnya?" tanya Revan.
Saat Revan datang tadi, lucia sudah dibawa petugas keamanan keluar jadi Revan tidak sempat melihat wajahnya.
Arya yang tahu kebingungan Revan segera membuka galeri di ponselnya dan memberikan pada Revan.
"Ini kan... Yang, lihat deh! Ini adalah cewek yang Abang ceriatin kemarin sore, yang Abang bilang dia nyari tumpangan ke klinik itu." ucap Revan saat teringat kejadian kemarin sore.
"Yang Abang bilang ikut turun di kafe itu?" tanya Zaskia.
"Jadi Abang kenal?" tanya Kiara.
"Ga kenal sih. Kemarin itu pas aku keluar dari kantor, wanita ini menghadang mobil Abang, mau numpang ke klinik katanya. Kakinya pincang. Aku pas kebetulan sama sopir kantor." ucap Revan menjelaskan.
__ADS_1
"Sepertinya Bang Revan memang target dia deh Bang. Jangan-jangan dia suka sama Abang. Tapi kenapa Zaskia yang diserang?" ucap Arya bingung.
"Sebenernya Kia itu udah lihat dia di luar dari meja kasir sejaman yang lalu. Dia kayak lagi nunggu orang gitu." ucap Zaskia.
"Ok sebentar, kita analisa." Revan menjeda ucapannya dan menarik nafas dalam. "Kemarin ada pihak Roy yang menawarkan kerja sama agar perizinan perusahaan baru yang akan didirikan Roy segera turun. Namun kami menolaknya. Apa mungkin ada hubungannya, apa mungkin dia memang bagian dari rencana Roy dan Diana?" lanjutnya.
"Ok, jadi apa mungkin dia mau mendekati Abang untuk rencana lainnya. Mungkin karna dia pernah melihat Bang Revan dan Kia dekat, Zaskialah yang jadi sasaran untuk menekan Abang. Begitukan? Ini cafe ada cctvnya kan?" tanya Arya lagi.
"Ah, iya benar cctv. Sebentar!" Revan melangkah ke meja kerjanya dan menyalakan laptop lalu membuka rekaman cctv kemarin sore.
Benar, Lucia nampak masuk kafe sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe seperti mencari seseorang. Saat tidak menemukan orang yang dia cari, Lucia duduk di salah satu kursi dan memesam minum. Terlihat pelayan mengantarkan pesanan Lucia, namun belum sampai Lucia minumnya, terlihat Revan dan Zaskia lewat di depannya. Terlihat dari ekspresinya, dia sepertinya tidak suka dengan kedekatan Revan dan Zaskia.
Arya yang berdiri di belakang Revan masih berpikir keras menyimpulkan.
"Kalau dari ekspresinya, kayaknya ini murni karena dia mengincar Abang nih. Tuh dia ga suka banget Bang Revan jalan sama Kia. Dan Arya yakin, melihat kemarin Abang nyamperin Kia ke sini, Lucia jadi berpikir dia akan bertemu Abang di sini. Namun karna kelamaan nunggu Abang ga dateng-dateng, jadi dia buat masalah sama Kia untuk pelampiasan." ucap Arya mengungkapkan pendapatnya.
"Bisa juga sih, keadaan itu dimanfaatkan oleh Roy Dan Diana. Tapi kayaknya Lucia belum tahu kalau Zaskia ini adalah target Diana. Mungkin karna ga kelihatan wajahnya karna pake masker. Bisa juga karena Lucia ga tahu tentang Bunda Laras." tambah Kiara.
"Oke yang terpenting kita tetap harus waspada. Kamu berhenti kerja dulu ya yang, plis! Abang ga tenang." ucap Revan memohon pada Zaskia.
Zaskia hanya tersenyum kemudian mengangguk.
"Abang sebenernya pengen ngajak adek jalan, tapi kayaknya kondisi adek lagi ga baik. Kita ke apartemen aja ya." ucap Revan lagi.
"Gayanya mau nonton segala, tar nyampe sana muntah pusing baru tahu rasa." ucap Kiara mencibir.
"Ya gak lah, kan aku perginya sama dokternya, asal ga disuruh uyel-uyelan sih kayaknya oke." ucap Revan bangga.
Ah, bahkan selama bersama Zaskia, sekarang dia bisa berbaur dengan ART di rumahnya dan juga berbaur dengan pegawai kafe.
"Ck, dasar bucin! Jadinya mau gimana ini, Ara kan pengennya double date." kata Kiara sambil cemberut.
"Gue ke apartemen dulu, tar aja jalan sekalian malam mingguan. Ya kan yang?" tanya Revan pada Zaskia.
"Terserah Abang aja sih. Tp memang sebaiknya pulang dulu deh. Mandi, istirahat." ucap Zaskia, dia sudah membayangkan rebahan di kasur empuknya.
"Sambil pacaran juga kan Yang? Ayok lah!" ucap Revan dengan semangat.
Mau tak mau sepasang anak muda yang tidak mau dibilang pacaran itupun mengikuti langkah Revan keluar.
"Lah, Abang tadi mana? Ah iya, tadi parkir di belakang ding. Kita duluan aja yuk Ar." ucap Kiara.
"Kita juga bisa sekalian pacaran kan Beb? Atau mau gangguin orang pacaran aja? Tapi aku tuh harus bujuk Abang kamu biar ngrestuin kita nikah muda. Ya gak?" tanya Arya dengan gaya tengilnya.
"Maunya."
"Emang kamu gak mau Beb?"
"Mau sih, hehe..."
TBC...
__ADS_1
Baca juga karyaku yang lain. Terima kasih dukungannya