Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 73. DUDA RASA PERJAKA


__ADS_3

Tak berbeda dengan pasangan Revan dan Zaskia, di kamar Reno dan Zahra pun sepertinya terjadi aktifitas yang sama.


Kali ini sepertinya Reno tak akan melepaskan Zahra. Zahra sendiri begitu masuk kamar, langsung menuju kamar mandi. Sejujurnya Zahra sendiri merasa tegang saat membayangkan akan menyerahkan tubuhnya pada suaminya. Bukan belum siap, tapi Zahra hanya merasa malu.


"Bukankan ini yang semua wajar terjadi pada suami istri. Tidak, aku tidak boleh mengecewakan abang. Aku mencintai abang, dia adalah impianku. Dan sekarang aku ingin memberikan apa yang aku miliki sebagai bukti cintaku." ucup Zahra bermonolog saat masih berada di kamar mandi.


Akhirnya Zahra melepaskan seluruh pakaiannya dan hanya menggunakan bathrobe saja danpa dalaman. Dia segera mangambil air wudlu.


Reno tersenyum melihat istrinya yang hanya memakai bathrobe saja kemudian dia mendekat.


"Jangan pegang Rara dulu bang, Rara udah wudlu. Abang buruan wudlu juga, terus kita ashar bareng." ucap Zahra kemudian.


"Yah, padahal pengen peluk yang." ucap Reno sambil menurunkan tangannya yang memang tadi posisinya ingin memeluk istrinya.


"Ntar aja bang, sekarang sholat dulu." ucap Zahra sambil mendorong suaminya ke kamar mandi. Reno pun hanya pasrah menuriti permintaan istrinya.


Mereka pun segera menunaikan kewajiban mereka pada Sang Pencipta. Usai sholat, Reno segera berbalik dan menyodorkan tangannya, Zahra segera menyambut dan mencium punggung tangan suaminya. Reno mengecup kening Zahra, selanjutnya Reno segera membuka mukena istrinya dengan tak sabaran.


Sejenak Reno menelan salivanya kasar ketika melihat kain yang melekat ditubuhnya sudah dalam keadaan berantakan, sehingga menampilkan paha putihnya yang mulus tanpa cacat.


"Ra, ka... Kamu sudah siap kan?" ucap Reno dengan dada berdetak tak menentu.


Dengan malu-malu Zahra mengangguk lalu menunduk. Sementara Reno tersenyum lebar. Tanpa aba-aba dia membopong tubuh istrinya menuju ranjang. Sebenarnya tadi saat istirahat, sebelum acara tunangan Kuara dan Arya, mereka hampir kehilangan kendali. Namun karna menghargai acara penting adiknya, mereka menundanya.


"Abang ga adil, masa Rara sudah ga pake apa-apa gini, Abang masih pake baju lengkap." ucap Zahra sambil menutupi bagian-bagian pentingnya.


Reno tersenyum sambil menarik tangan zahra yang berusaha menutupi dada dan bagian bawah tubuhnya. Dengan cepat dia melepaskan bajunya dan membuka sarungnya.


Alih-alih melihat ke arah lain, Zahra malah terpaku pada benda yang pernah dia pegang, namun sepertinya ukurannya seperti berbeda, jauh lebih... Besar.


Reno tersenyum melihat arah pandang istrinya. Tak ingin menunggu lebih lama lagi, dia segera menindih Zahra dan menyerang bibir manisnya.

__ADS_1


"Pelan-pelan bang, Rara ga bisa nafas. Hah... Hah.... Hah...." ucap zahra dengan nafas terputus-putus saat terl3bas dari ciuman buas suaminya.


"Maaf, abang udah ga sabar sayang. Abang mau ini... Sama ini...." ucap Reno sambil mer*mas spot-spot yang sudah dinantikan sejak dia sah menjadi suami Zahranya.


Zahra tak menolak ketika suaminya mulai seperti bayi yang kehausan dan menemukan mata air yang bisa memuaskan dahaganya. Bahkan karna menahan sensasi geli-geli enak, dia malah membusungkan dadanya.


"Eemmmmggghhhh..... Abang....!" Zahra tak kuasa menahan d*s *hannya.


Mp. Entah siapa keberanian dari mana, tangan Zahra bahkan sudah memegang erat senjata Reno.


Reno yang merasakan miliknya direm*as jadi semakin menggila. Bibirnya kembali melahab bibir Zahra. Tangannya kembali naik ke bukit kembar istrinya.


"Mau itu sayang? Abang masuk ya? Tahan sebentar, mungkin akan sedikit sakit. Tapi nanti akan berubah nikmat. Kalau ga tahan, Rara boleh gigit abang, ok!" ucap Reno kemudian.


Zahra tak menyahut. Dia yang juga sudah terbakar ga*r*h hanya busa pasrah. Reno pun sudah memposisikan diri. Dengan hati-hati dia mencoba menembus lapisan yang menghalanginya.


Jika sebelumnya Reno sempat takut dia tidak bisa menyelesaikan dengan baik, tapi kali ini di bahkan yakin akan bisa memuaskan istrinya itu.


"Eemmmmgggghhh.... Perih bang. Aaahhhh....." desis zahra saat Reno sudah dapat memasukinya dengan sempurna.


Meski tadinya sakit, namun lama kalamaan rasa sakit itu berganti menjadi rasa nikmat. Ruangan itu sudah dipenuhi dengan suara-suara aneh. Zahra sudah tak peduli lagi. Dia membuang jauh rasa malunya. Dia hanya ingin selalu merasakan sentuhan pria yang selalu menawan hatinya itu.


Mereka bukan hanya bertukar saliva tapi sudah bertukar peluh, hingga erangan panjang di akhir aktifitas mereka. Saat Reno menyemburkan calo benihnya ke lahan subur Zahra.


"Makasih sayang, kamu membuat abang benar-benar menjadi laki-laki sejati. Abang mencintaimu Zahraku, cup cup cup..." ucap Reno diserti dengan kecupan bertubi-tubi, kemudian dia berguling ke samping dan memeluk istrinya yang masih dalam keadaan polos.


"Abang kuat banget sih. Zahra sampe kualahan." Ucap Zahra sambil meletakkan kepalanya di dada suaminya. Tangannya mulai berani meraba-raba dada dan wajah suaminya. Dia hanya ingin menikmati apa yang sekarang sudah menjadi miliknya.


Reno terkekeh, dia sendiri tidak membayangkan kalau percintaannya akan sedahsyat itu.


"Kamu yang bikin abang kayak gini sayang. Makasih ya sayang." sahut Reno sambil mengelus rambut Zahra dengan sayang. "Sakit banget?" tanya Zahra sambil meraba lebah bersemak milik istrinya.

__ADS_1


"Sedikit... Sakit banget pas awal aja tadi." jawab Zahra. "Ceritain.... Katanya dulu abang ga pernah tuntas sama mb Clara. Kok bisa? Padahal tadi abang ga kelihatan gitu kok?" tanya Zahra yang penasaran. Jangan-jangan Reno memang sering melakukannya, ya meskipun wajar karna Clara adalah istrinya.


Reno menarik nafas panjang. Sesungguhnya dia malas sekali membahas drama ranjang bersama mantan istrinya.


"Yang pasti dia sudah tidak perawan saat pertama abang akan melakukannya. Waktu pertama memang abang berusaha mati-matian agar punya abang bisa berdiri dan memuaskannya. Namun saat abang masuk tanpa ada rintangan. Punya abang langsung lemes. Ya, jadi ga jadi melakukan itu. Kan abang udah bilang otak abang itu seperti sudah distel harus membahagiakan dia. Jadi meski sudah jelas-jelas dia curang, abang tetap masih bisa menerimanya. Dan sejak itu meski abang sudah berusaha memberikan nafkah batin, abang tetap tidak bisa melakukannya." jelas Reno panjang lebar.


"Jadi mulai sekarang, Reno hanya milik Zahra. Zahra tidak mau ada yang mengambil punya Zahra bahkan hanya sekedar menyentuhnya. Abang itu meskipun duda tapi rasa perjaka." ucap Zahra sambil memeluk erat Reno, dia geli sendiri demgan ucapannya.


"Iya sayang, miliki abang sepenuhnya. Abang rela menjadi budak cinta Zahra. Apapun asal Zahra bahagia. Mau abang puaskan lagi, biar tambah bahagia?" ucap Reno menggoda Zahra.


"Sebenernya mau, tapi nanti malem lagi aja. Takut nanti diketawain bang Revan sama Kia, kalau sampai Rara ga bisa jalan. Nanti kita jalan-jalan ya bang. Kalau dulu Rara diajak muter-muter jakarta sebagai adik abang, kalau sekarang sebagai pacar abang." jawab Zahra


Reno terkekeh mendengar jawaban jujur istrinya. Meskipun Reno tidak yakin apakah rencana double datenya akan berhasil. Revan pasti juga tidak akan melepaskan istrinya, pikir Reno. Tapi setidaknya, dia ingin mengabulkan keinginan istriya untuk bisa jalan berdua sebagai pasangan.


"Ya udah deh, abang mau ini aja. Habis nyusu kalau abang ketiduran, bangunin ya." ucap Reno yang tanpa mendengar jawaban Zahra langsung menyerangnya. Zahra hanya mengelus kepala Reno, layaknya bayi yang sedang ingin tidur sambil menyusu. Meski itu membuat Zahra ingin mendapat sentuhan lebih, tapi dia menahan diri untuk tidak terpancing dengan ulah suaminya itu.


Zahra terus memandangi wajah tampan suaminya, sampai akhirnya mereka terlelap dan Zahra terbangun beberapa saat sebelum maghrib.


"Astaghfirullah, udah mau magrib belum mandi lagi." gumam zahra. "Abang... Bangun, kita belum mandi lho. Ini sudah mau maghrib. Ayo bang bangun." ucap zahra membangunkan suaminya. Karnabtak ada respon dari Reno maka Zahra memutuskan untuk mandi terlebih dulu.


Dia tirun dari ranjang dan mencari bathrobe yang dari tadi hanya teronggok di lantai.


" Ah, syukurlah tidak begitu sakit seperti yang di novel-novel itu bilang." gumam Zahra.


Dia bergegas membersihkan diri. Setelah selesai dia membangunkan suaminya.


TBC...


Mohon dukungannya terus ya pemirsah...


Maaf kemarin naskahnya tidak sengaja terpotong. Sekarang udah di revisi ya...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkkan komentar dan like nya


Selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir batin 🙏


__ADS_2