Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 78. LARAS VS YAYAN


__ADS_3

Tepat hari pernikahan putri tuannya, Zian tidak ikut mendampingi Abimana. Dia ditugaskan menyelidiki tentang kasus Yayan, yang diungkapkan oleh Laras. Ternyata setelah diselidiki, dia memang salah satu DPO (Daftar Pancarian Orang). Setelah dipertimbangkan, Zian melapor ke pihak yang berwenang. Bahkan dia mengajukan kerja sama untuk mengungkap kerja sama Yayan dengan Diana.


"Jadi, bagaimana selanjutnya Zi?" tanya Abimana selah selesai dengan acara pernikahan putrinya. Dia langsung memanggil Zian karena sudah tidak sabar lagi mendengar kelanjutan kasus salah satu pelayannya.


"Kami sudah menceritakan semua yang menimpa Tuan dan pihak berwajib akan membantu menyelidiki masalah kita dengan diam-diam. Yayan akan mereka tangkap saat posisi berada di luar mansion. Agar dia dan komplotannya tidak curiga bahwa kita yamg melaporkan. Kita juga harus main aman, karena ke depannya kita masih harus menghadapi banyak hal yang lebih besar dari ini." jelas Zian.


Abimana hanya manggut-manggut, puas dengan hasil kerja asitennya ini.


"Lalu kapan kira-kira dia keluar dari mansion?" tanya Abimana penasaran.


"Kata Pak Endra, setiap hari minggu pagi, dia rutin keluar mansion dan sekitar jam sebelasan dia baru kembali. Pelayan yang lain tidak ada yang curiga, karena mereka pikir Yayan pergi ke gereja. Namun ternyata setelah berhasil menyadap ponsel Yayan, dia memang ada hubungannya dengan Diana, bahkan Diana juga termasuk salah satu anggota dari sindikat tersebut. Setiap minggu pagi mereka melakukan pertemuan khusus secara diam-diam." jawab Zian.


"Bagus, meski sebenarnya aku tidak rela jika Diana hanya akan mendapat hukuman penjara. Kamu tahu Zi, dulu aku pernah berpikir untuk menyiksanya sampai dia sendiri yang meminta kematiannya, jika sampai aku sembuh namun belum menemukan istri dan anakku. Namun sekarang, istriku yang berhati malaikat itu tidak ingin aku menyiksanya. Hanya saja dia ingin bertemu wanita itu, sebelum wanita itu tertangkap." ucap Abimana mengungkapkan keinginan istrinya.


"Kami akan melakukannya dengan aman Tuan. Dan sesuai permintaan Nyonya, kami akan membawanya ke hadapan Nyonya." jawab Zian.


"Bagus, lakukan serapi mungkin. Aku sudah tidak sabar lagi. Apakah bisa sebelum pergi kita mengambil semua alat komunikasi yang dipakai pelayan tidak tahu diri itu. Jangan biarkan dia mendapat peluang sekecil apapun untuk kabur." ucap Abimana lagi.


"Baik Tuan, akan kami usahakan." jawab Zian singkat.


"Mas, aku telponin Kia dari tadi kok ga diangkat ya." tanya Laras yang tiba-tiba masuk dari pintu balkon kamar.


Zian yang tahu kalau tuan dan nyonyanya sedang ingin membahas urusan keluarga pun pamit undur diri.


Abimana menepuk sofa di sampingnya, kode bahwa ingin istrinya duduk di sampingnya.


"Kamu nggak lupa kan kalau mereka pengantin baru? Biarkan mereka bersenang-senang, sebaiknya kita bersenang-senang juga seperti mereka. Masa kalah sama yang muda." goda Abimana sambil mengedipkan matanya.


"Mas Abi apaan sih, Laras mau telpon Pak RT yang di kampung buat bantuin bikin acara syukuran kita dan pernikahan Zaskia Mas." protes Laras saat Abimana menuntunnya ke ranjang.


"Nanti saja sayang, yang ini ga bisa ditunda. Habis ini mandi bareng, ok!" ucap Abimana yang sudah berhasil menindih istrinya.


"Tapi Laras kan udah mandi Mas. Eemmmmgggghhh....!" ucap Laras yang masih berusaha bernegosiasi.


"Ga papa sayang, kan mandi bersamanya belum. Aku ingin menebus waktu kita yang terbuang. Aku ingin membutmu jatuh cinta lagi pada Mas." ucap Abimana lagi yang dengan tidak sabaran melepas dress rumahan yang dipakai istrinya. Setelah itu, dia juga melakukan hal yang sama dengan atribut yang dia pakai.


Apakah ini yang dimaksud masa puber kedua? Mengapa rasanya seperti dulu pas masih pengantin baru. Aku merasa jadi wanita murahan, yang menginginkan sentuhan Mas Abi. Lagi dan lagi. Meskipun mulutku masih belum berani mengatakannya. Ya, sesungguhnya aku malu dengan umurku. Nanti kalau hamil bagaimana? Ah, aku ga peduli. Memang apa salahnya kalau aku punya anak lagi. Bukankan Mas Abi sebenarnya dulu juga menginginkan anak lagi? Ucap Laras dalam hati.


"Mas... Aku selalu mencintaimu. Dari dulu sampai sekarang dan selamanya Laras akan selalu mencintai Mas. Lakukanlah Mas!" ucap Laras sambil memejamkan matanya, menahan debaran jantung yang semakin menggila.


Mendengar setiap kata yang keluar dari mulut istrinya, Abimana merasa semakin terbakar. Ada perasaan bahagia, Laras membuatnya merasa menjadi laki-laki yang paling dicintai meski dirinya pernah merasa menjadi orang paling jahat. Namun Abimana merasa saat ini sudah bukan saatnya terus hanyut dalam rasa bersalah yang membuatnya terpuruk dengan masa lalu, yang harus dilakukannya saat ini adalah menebus semua kesalahannya di masa lalu dengan memberikan kebahagiaan pada istrinya.


"Maaf, kalau Mas lepas kontrol. Mas rasanya berkali-kali lipat lebih muda. Bilang kalau ga nyaman ya." ucap Abimana saat memulai sesi percintaannya. Laras tidak menanggapi ucapan suaminya karena sudah larut dalam api g*ir*h yang ikut membakarnya. Beberapa saat kemudian kamar itu sudah dipenuhi suara-suara laknat yang keluar dari sepasang suami istri yang belum lama bertemu itu.


"Apakah sakit?" sesekali Abimana bertanya, takut istrinya merasa tidak nyaman atau kesakitan.


Laras hanya menggeleng, Laras malah semakin ikut bergerak mengimbangi suaminya. Bagi Abimana itu adalah isyarat agar dia bergerak lebih cepat. Abimana tersenyum lalu menciumi apa semua bagian tubuh istrinya yang membuatnya gemas.


"Begini sayang? Kamu suka? Aahh... Laras sayang!" ucap Abimana.


"Eemmmmgggghhh.... Mas...." Laras akhirnya menjerit mengeluarkan suara erotisnya.


Abimana semakin terpompa semangatnya setelah mendengar jeritan manja istrinya. Laras bahkan sudah tidak terkontrol lagi suaranya.


"Sialan, jadi benar perawat jelek itu benar-benar sudah merayu Abimana. Wanita jelek itu saja dia mau, aku yakin dia juga tidak akan menolakku. Baiklah, puas-puaskan perempuan jelek, ini kesempatan terakhirmu. Karna setelah ini, aku tak akan memberikan kesempatan lagi." gumam seseorang yang menempelkan telinganya di balik lobang kunci pintu, yang tak lain adalah Yayan.


Sejak melihat Zian keluar dari kamar Abimana, diam-diam dia berusaha menguping pembicaraan Laras dan Abimana. Sebenarnya, tidak benar-benar mendengar apa yang dibicarakan dua orang itu di dalam. Karna sebenarnya kamar itu kedap suara, namun saat aktifitas ranjang Laras mulai meracau dengan suara tinggi, Yayan samar-samar mendengarnya. Dan dia bisa memastikan bahwa Abimana sedang bercinta dengan wanita yang dikenalnya sebagai perawat pribadi Abimana. Entah bagaimana mereka melakukannya, karna Abimana masih lumpuh, pikirnya.

__ADS_1


"Abimana itu lumpuh, bisa dipastikan kalau perempuan itu yang menggoda Abimana. Jebat juga dia." ucapnya masih bergumam.


Sementara itu di dalam kamar, Abimana dan Laras sudah sama-sama sampai di puncak. Abimana menciumi wajah istrinya, yang di matanya saat ini kembali muda.


"Makasih sayang, Mas benar-benar kecanduan. Sama ini, ini, ini, ini, dan ini. Mas gemes banget!" ucap Abimana sambil menunjukkan tempat-tempat yang membuatnya melayang.


Laras masih terengah-engah. "Laras malu Mas, tadi kelepasan suaranya. Kedengeran ga ya?"


"Ga akan. Kecuali ada yang sengaja menguping. Jadi, kamu lebih suka Mas gerak cepat ya, mau lagi? Mas masih kuat sayang." ucap Abimana, berharap ditanggapi serius oleh Laras.


"Mau." jawab Laras malu-malu membuat Abimana tersenyum lebar. "Tapi ga sekarang. Tanggung mas, bentar lagi masuk waktu magrib, kita belum mandi lho. Nanti malam aja ya."


"Yah.. Kirain! Padahal mas udah seneng." sahut Abimana dengan suara dibuat-buat seperti sedih. "Ya udah, mandi sekarang yuk, Sayang. Mas gendong ya." lanjutnya, sambil turun dari ranjang.


"Ga mau Mas, kaki Mas belum 100% sembuh. Jangan aneh-aneh deh! Laras bisa sendiri." sahut Laras sambil menepis pelan, tangan Abimana.


"Yang... Plis, biasa dulu juga suka digendong Mas kan? Masa sekarang ga mau sih." ucap Abimana mengiba.


Laras hanya tertawa melihat tingkah konyol suaminya. "Udah ah, jangan cemberut. Ayo mandi sayang, jadi mandi bareng ga? Kalau ga, Laras duluan nih." ucap Laras sambil berjalan menuju kamar mandi tanpa memakai apa-apa.


Abimana segera menyusul istrinya masuk ke kamar mandi dan menguncinya.


"Mass.... Jangan mulai deh. Tangannya jangan kemana-mana. Mandi yang bener. Sini, Laras gosokin punggungnya." ucap Laras saat tangan Abimana mulai memainkan bukit kembarnya.


"Sedikit sayang." jawab Abimana sambil membalikkan .


Akhirnya setelah perdebatan itu, sesi mandi berjalan dengan normal. Namun perdebatan masih berlanjut di walk in closet.


"Ga usah pake ini sayang, susah nanti nglepasinnya." ucap Abimana saat Laras ingin memakai br*.


Laras meletakkan benda yang dipegangnya itu lalu menatap suaminya gemas.


Abimana sendiri bahkan belum memakai pakaiannya. Mereka sama-sama masih menggunakan handuk untuk membungkus tubuh mereka.


"Bundanya Zaskia.... Jadi kapan kita bisa mengulang lagi saat seperti dulu?" tanya Abimana masih merajuk.


Laras tersenyum sambil menangkup rahang kokoh suaminya. "Pasti akan segera tiba waktunya Mas Abi sayang... Sabar ya, nanti deh kalau mau tidur laras pake. Udah jangan merajuk! Jelek ah. Cup!" ucap Laras membujuk suaminya yang diakhiri dengan kecupan singkat di bibir suaminya. Hal itu membuat Abimana tersenyum lebar.


"Nanti malam boleh lagi kan? Aku ingin mendengar jeritan manjamu yang seperti tadi sayang, mau ya?" bujuk Abimana.


Laras hanya mengangguk malu, kemudian merangkul leher suaminya. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga suaminya sambil berbisik, "Nanti Laras mau di atas ya Mas." bisiknya manja.


Abimana tak dapat menutupi rasa senangnya, seketika dia melompat-lompat kecil sambil mengepalkan tangannya ke udara, sampai tak terasa handuk yang melingkar di pinggangnya terlepas.


"Mas Abi.... Cepetan pake bajunya, tutupin itunya!" teriak Laras sambil memalingkan wajahnya saat melihat tubuh polos suaminya.


Abimana hanya nyengir, namun segera menuruti perintah istrinya.


"Mas, kalau Laras hamil gimana?" tanya Laras saat mereka sudah duduk di sofa kamar. Mereka beru saja melaksanakan sholat maghrib.


"Ya ga gimana-gimana. Bagus kan, kita punya anak lagi." jawab Abimana sambil mengusap lembut kepala Laras yang menyadar di dadanya.


Laras menegakkan tubuhnya. Dia berjalan ke depan cermin dan mulai merias diri menjadi parawat Abimana.


"Mau kemana sayang? Kenapa pake itu? Kenapa ga minta Pak Endra saja yang menyiapkan makan malam?" tanya Abimana.


"Aku masih harus mengamati gerak-gerik perempuan itu Mas. Aku tidak mau memberi peluang sedikit pun untuk dia merencanakan mendekati suamiku. Sekalian Laras mau pamer ini." ucap Laras sambil menunjukkan tanda merah di lehernya. Dia ingin menunjukkan kepemilikan atas Abimana pada perempuan yang tidak tahu diri itu.

__ADS_1


Abimana hanya terkekeh, dalam hati dia senang istrinya itu sekarang menjadi posesif padanya. Dia merasa benar-benar diinginkna dan dicintai oleh Laras, istri yang pernah dia buang. Saat mengingat itu tetap saja hatinya jadi pilu.


Laras segera keluar dari kamar Abimana. Namun baru bebera langkah, dia keluar dari kamar suaminya, tiba-tiba tangannya diseret dan dipepetk ke tembok.


"Apa yang sudah kamu lakukan pada Tuan Abi? Kamu merayunya kan? Tidak tahu diri. Kamu tidak pernah berkaca?" ucap Yayan sambil menarik krah baju yang dipakai Laras.


Sementara Laras hanya tersenyum santai menanggapi Yayan yang seperti kebakaran jenggot.


"Kamu kenapa sih, itu urusanku dengan Tuan Abi. Apa masalahnya denganmu? Buktinya dia mau kok aku rayu." jawab Laras santai sambil melepaskan dan mendorong pelan tubuh Yayan. "Kamu baru melihat ini di sini, di dalam sini masih banyak loh. Mau lihat?" ucap Laras lagi sambil menunjuk lehernya kemudian beralih ke dadanya. Melihat reaksi Yayan yang semakin emosi Laras tersenyum puas.


"Jangan bangga dulu kamu, sebentar lagi dia pasti akan jatuh ke pelukanku. Lihat dirimu, kemana-mana juga cantikkan aku." sahut Yayan dengan percaya diri.


"Oh ya? Tapi dia bilang, hanya aku yang rasanya seperti istrinya... Kamu tahu kenapa? Tentu saja karena aku tidak membiarkan banyak laki-laki menjamahku. Sudahlah, ngomong sama kamu juga pasti ga akan faham. Aku mau mengambilkan makan malam dulu untuk Tuan Abi tercinta. Daaa... " ucap Laras lalu meninggalkan Yayan tanpa mendengarkan tanggapannya.


Yayan mengepalkan tangannya. Diam-diam dia berusaha menyelinap masuk kamar Abimana. Dia membuka pelan pintu kamar itu, sedikit melongokkan kepalanya sedikit. Dilihatnya Abimana sedang fokus pada layar ponselnya. Yayan memutuskan untuk masuk perlahan.


Abimana mendongak saat menyadari ada yang diam-diam masuk ke kamarnya.


"Lancang sekali kamu masuk ke kamarku tanpa izin. Apa yang kamku lakukan di sini?" tanya Abimana dengan nada dingin.


Entah mengapa, ada rasa takut saat pertama mendapat bentakan dari Abimana. Selama bekerja di rumah ini, Yayan memang sama sekali belum pernah berinteraksi secara langsung dengan Abimana.


"Sa... Saya hanya ingin ikut membantu Tuan agar bisa cepat sembuh. Saya berjanji, tidak akan meminta tambahan gaji Tuan." jawab Yayan dengan hati-hati.


Abimana tersenyum sinis, "Memangnya apa yang bisa kamu lakukan?" tanya Abimana dengan nada merendahkan. Dia mengakkan tubuhnya lalu bersandar di sandaran sofa.


Bukannya merasa tidak dibutuhkan, namun Yayan malah merasa mendapat jalan unyuk menggoda Abimana.


"Dengan cara menyenangkan Tuan mungkin, bukankah dalam proses penyembuhan suasana hati juga harus senang dan tidak terbebani." jawab Yayan sambil tersenyum menggoda, dia sengaja menarik ke bawah baju yang sejak akan masuk tadi sudah dilepas dua kancing baju atasnya, agar menampilkan belahan dadanya yang terlihat sudah kendur itu.


"Hahahaha.... Kamu mau menggodaku? Kau pikir aku berminat padamu? Kau pikir seistimewa apa dirimu sampai aku harus tertarik padamu?" ucap Abimana lagi dengan lantang.


"Sa... Saya... Berjanji akan melayani Tuan dengan baik. Saya jamin, Tuan pasti puas?" Ucap Yayan pelan.


"Jadi memurutmu aku ini seperti laki-laki hidung belang yang haus belaian wanita, begitu? Meskipun aku ini lama tidak menyentuh wanita, kamu pikir kamu bisa sembarangan naik ranjangku?" Sepertinya Abimana semakin tersulut amarah dengan Yayan yang sudah berani mendekatinya. Biar bagaimana pun, Abimana masih harus pura-pura lumpuh di depan pelayan ini.


Ceklek...


Pintu dibuka dari luar. Nampak Laras sedikit terkejut melihat Yayan di dalam kamar Abimana dengan kancing baku hampir terlepas semua sedang mendekati suaminya. Namun beberapa saat kemudian dia melangkah mendekati suaminya sambil melirik sinis Yayan.


"Jadi kamu nekad merayu Tuan Abi? Bukan begitu caranya Yan... Tuan Abi tidak akan tertarik padamu." ucap Laras sambil meletakkan nampan di atas meja. Dia sendiri duduk di samping Abimana sambil menyodorkan jus jeruk kesukaan suaminya.


Yayan dibuat melongo atas tindakan yang tidak wajar antara majikan dan pelayan. Mereka nampak tak ada rasa canggung, bahkan seperti tak ada sekat antara bawahan dan atasan.


"Seger, seperti biasa." tanggapan Abimana sambil menyerahkan gelas kosong pada Laras.


"Ga dikasih hadiah?" tanya Laras menggoda Abimana, Yayan bertambah shock atas keberanian perawat yang dikenalnya bernama Dela itu. Fix, ternyata lawannya lumayan berat.


Tanpa aba-aba Abimana segera meraup bibir istrinya, pertama dengan kecupan, kedua dengan ******* yang lumayan lama dan diakhiri dengan kecupan dikeningnya.


"Astaga, aku sampai lupa masih ada orang di sini." ucap Laras pura-pura lupa ada Yayan yang menyaksikan adegan tadi secara live. "Begitu caraku merayu Tuan Abi. Eits tapi kamu jangan mencoba mempraktikkan karena itu tidak akan berhasil. Benar kan Tuan?" tanya Laras manja sambil mengelus dada Abimana. Dia tidak tahu, kalau perbuatannya itu telah membangkitkan pusaka Abimana yang tadi sudah sempat tidur.


"Iya sayang, hanya kamu yang boleh merayuku." jawab Abimana sambil menatap Laras dengan tatapan sayu.


Yayan nampak semakin meradang. Dia merasa dipermalukan. Dalam hatinya, dia berencana secepatnya akan melenyaplan pelayan jelek itu dari mansion Abimana


Karena tidak mendapat respon yang diinginkan, akhirnya Yayan oun meminta maaf dan pamit undur diri.

__ADS_1


Sedangkan Laras dan Abimana tertawa menyaksikan kebodohan Yayan tadi.


TBC....


__ADS_2