
"Mama sama Papa jadi pulang hari ini?" tanya Siera saat membantu suaminya menyiapkan baju ganti.
"Udah di bandara, lagi dijemput sama Pak Nano." jawab Reyhan sambil mengambil kaos dan memakainya.
"Mas, tadi itu Zaskia pingsan lho. Pelipisnya sobek karna terbentur sudut ayunan." lapor Siera pada suaminya.
"Oya, Revan tahu?" tanya Reyhan menanggapi.
"Kia cuma bilang sama Revan kalau jatuh, tapi ga bilang kalau sempet pingsan. Ga ada yang boleh bilang, katanya ga mau Revan cemas." jawab Siera apa adanya.
"Sekarang gimana keadaannya? Udah dipanggilin dokter?" tanya Reyhan ikut khawatir.
"Udah baikan, udah kemana-mana juga. Udah main sama anak-anak juga tadi. Orangnya itu ga mau diem, mungkin tadi bosen ga dibolehin Revan kerja. Aku seneng deh akhirnya punya ipar yang bisa jadi temen dan sodara." ucap Siera sambil tersenyum membayangkan Zaskia yang kadang menggemaskan, kadang mengharukan juga.
" Iya yang... Doakan saja, supaya semua lancar. Besok ayah Kia mau diundang makan siang ke rumah. Untuk memastikan, apakah Ayahnya memang masih menginginkan Zaskia atau tidak. Kasihan juga sih dia, dari kecil tanpa ayah yang seharusnya melindunginya, tapi justru mereka hidup terlunta-lunta dan berjuang hidup dengan ibunya saja." tutur Reyhan yang miris melihat kisah hidup Zaskia.
"Semoga ayah Kia benar-benar masih menyayangi anaknya."
"Sekarang di mana anaknya?" tanya Reyhan.
"Zaskia? Ck... Kalau Revan di rumah jangan ditanyain Kia di mana, udah pasti adik kamu itu nempel mulu kaya dilem." jawab Siera sambil terkekeh.
"Sama yang... Aku juga pengennya nempel mulu, bedanya mereka belum sah jadi ga boleh kayak gini..." ucap Reyhan yang langsung menyerang bibir istrinya.
Mendapat serangan dadakan, Siera pun hampir terjengkang. Namun dengan cepat Reyhan menahan pinggang istrinya.
Siera pun langsung merangkul leher Reyhan, tanpa terburu-buru akhirnya Siera membalas ciuman suaminya.
Semakin lama ciuman mereka semakin menuntut. Decakan saliva yang saling bertukar, saling mengecap rasa dan membelitkan lidah. Tangan kanan Reyhan bahkan sudah bergerak dengan lincah di dada Siera.
"Eemmmhhh...." Siera melenguh saat tangan Reyhan m*r*m*s squisynya.
Hasrat Reyhan makin terbakar. Kancing baju Siera sudah terlepas, pengait pembungkus squisynya juga sudah terbebas. Bibir Reyhan bergerak turun sampai puncak gunung himalaya.
Tak tinggal diam, tangan Siera menjambak rambut Reyhan pelan dan menekannya saat mulut Reyhan mulai berperan menjadi bayi besar yang kehausan dan butuh nutrisi.
Tangan Reyhan makin ke bawah menelusup ke dalam kain segi tiga marun senada dengan kain pembungkus yang di atas.
"Allahu akbar... Allahu akbar..."
Dan aktifitas mereka harus terhenti karena adzan maghrib berkumandang.
Mereka berhenti dan saling menatap sampai akhirnya tawa mereka pecah bersamaan.
"Kalau udah begini memang ga tahu waktu ya yang?" ucap Reyhan sambil terkekeh.
"Kamu sih yang mulai." jawab Siera sambil memukul pelan dada Reyhan.
"Tapi kamu suka kan? Habis enak sih, hahaha..." ucap Reyhan sambil membantu mengancingkan lagi kemeja istrinya.
Sementara Seira hanya nyengir kuda. Keningnya mengernyit seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Mas, tadi itu aku mergoki Kia sedang membisikkan sesuatu sama salah satu art bagian loundy, si Lina kalau ga salah namanya. Orangnya pas waktu tadi lagi ngintipin Revan saat pulang kerja. Dia kaget saat ketahuan lagi memvideo Revan. Terus pas Kia nyambut Revan, kayaknya si Lina itu kayak ga suka gitu. Mas tahu sesuatu ga? Mungkin aja pernah lihat gerak gerik dia yang mencurigakan gitu?" lapor Siera pada suaminya.
"Ga tau sih yang, aku kan jarang ke belakang kalau ga pas di ajak Revan main basket. Kalo lari pagi lebih seringnya kan di depan memutari taman aja udah lumayan menguras keringat." jawab Reyhan.
"Iya ya... Jangan-jangan udah lama dia menguntit, bibit pelakor jangan - jangan nih. Tapi kok Kia kaya terlihat tidak kaget gitu ya tadi, ada yang diam-diam memata-matai Revan. Sepertinya kita tetap harus selidiki Mas, hal sekecil ini juga bisa jadi masalah besar lho." ucap Siera memberi saran.
"Coba nanti biar aku lihat cctv, kayaknya Revan juga harus tahu. Setidaknya jika itu hanya kebetulan saja, kita bisa merasa tenang. Tapi kalau dia ada niat jahat setidaknya kita bisa mengetahui lebih awal." ucap Reyhan menanggapi.
"Itu maksud aku. Ya udah, maghrib dulu yuk. Bentar lagi Mama sama Papa pasti datang. Tar kita makan bersama."
Sementara Zaskia dan Kiara sudah ada di dapur ikut bantuin Mbok Mi. Kalau Kiara mungkin lebih tepat dibilang ngrecokin.
"Jadi Mama sama Papa jadi pulang sekarang?" tanya Zaskia pada Kia yang sedang asyik menata lauk di piring.
"Sudah otewe dari bandara. Bentar lagi juga pasti nyampe." jawab Kiara sambil meletakkan hasil kreasinya di atas meja makan.
Mbok Mi sejak tadi hanya mendengarkan keasyikan dua gadis ini bercerita. Sesekali dia ikut tersenyum saat Kiara yang cerewet ini mengerjai Zaskia yang polos.
"Mbok, yang di bagian loundry itu namanya siapa? Masih muda ya dia?" tanya Zaskia mengalihkan pembicaraan.
"Masih muda, tapi anaknya udah SD Mbak. Namanya Lina." Siska sudah menyahut sebelum Mbok Mi menjawab.
__ADS_1
Mbok Mi hanya geleng-geleng kepala saat mendengar nada sewot Siska. Mbok Mi tahu, sejak awal mereka bertemu memang tidak pernah akur.
"Masa? Aku pikir belum menikah lho." ucap Zaskia bingung, bukankah tadi siang dia bilang kalau yang bisa menggantikan Fely itu hanya dia?
"Memang belum menikah, orang bapak dari anaknya juga ga jelas. Makanya kalau di tempatku orang-orang bilang, ayah dari anaknya namanya Bram." jawab Siska lagi.
"Mbak siska satu kampung? Katanya ayahnya ga jelas, tapi ayahnya Bram, maksudnya gimana sih?" Kiara ikut kepo.
"Dulu kan dia sempet jual tempe, ya jadi ga jelas, bibit siapa yang jadi." ucap Siska ceplas-ceplos.
"Ih.. Mbak siska ga jelas deh. Mana ada orang jual tempe menghasilkan bibit. Yang bener ah kalau cerita." ucap Zaskia protes yang diangguki oleh Kiara.
Ternyata mereka masih sama-sama polos, Mbok Mi hanya bisa membatin.
"Siska, jangan aneh-aneh. Mereka belum mengerti." ucap Mbok Mi.
"Hehehe... Gini ya embak-embak yang katanya masih polos tapi sudah kebelet nikah. Bram itu maksudnya berame-rame. Jadi ayahnya banyak. Kalo jualan tempe maksudnya..." ucapan Siska terjeda karna teriakan Kiara.
"Oke oke... Stop Mbak Siska, Ara udah paham." ucap Kiara yang menyuruh Siska tidak melanjutkan ucapannya.
"Ih Ara, Kia kan ga ngerti. Emang apa coba?" protes Kia pada Ara.
"Tanya sama Bang Revan Ok!" sahut Kiara menanggapi
protes dari Zaskia.
Sementara Zaskia hanya cemberut memajukan bibirnya.
Masa iya sih si tante Lina itu sudah punya anak. Ga masalah juga sih kalau sekarang dia jadi baik, tapi mana ada orang baik suka ngancam-ngancam gitu. Terus buat apa dia muji-muji Fely kalau dia sendiri mengincar Abang. Ck, tau ah. Yang pasti sekarang ini aku hanya harus percaya sama Abang. Titik. Ucap Zaskia dalam hati.
"Udah selesai kan ini Mbok?" tanya Kia saat semua sudah tertata rapi di meja makan.
"Sudah mbak, tinggal saja! Ini tinggal nyiapin air putih di teko." jawab Mbok Mi.
Kiara dan Zaskia ke kamar masing-masing.
Revan terlihat bersandar di sofa dengan mata terpejam, sedangkan laptop di meja masih dalam keadaan menyala.
Kia mendekat dan perlahan duduk didekat Revan.
Sepertinya Revan kelelahan sampai Zaskia membangunkan Revan berkali-kali pun tak ada respon.
Tangan Kia berpindah menepuk-nepuk pipi Revan.
"Bang... Abang sayang, bangun sholat dulu. Keburu habis waktu sholatnya." ucap Zaskia lagi. Kini perhatiannya malah tertuju pada bibir Revan yang tadi mengecup bibirnya.
Jempolnya perlahan menyusuri bibir Revan yang bersih dan terlihat warnanya masih alami karna memang Revan bukanlah seorang perokok.
Zaskia kaget saat tiba-tiba Revan memegang tangannya.
"Beraninya kalo Abang tidur. Coba sekarang kalo Abang melek!" ucap Revan sambil mencium tangan Zaskia.
"Abang udah bangun dari tadi? Maghrib dulu, keburu habis waktunya." ucap Kia tak menanggapi permintaan Revan.
"Dikasih apa nanti?" tanya Revan lagi.
"Minta sama Allah aja biar dikasih banyak. Ayo berdiri!" ucap Kia menarik tangan Revan agar segera berdiri dan mendorong tubuh Revan ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu.
Kia memperhatikan Revan yang sedang khusyuk sholat, dalam hati Kia juga berdoa semoga laki-laki ini adalah jodohnya. Semoga dia adalah cinta sejatinya, semoga tidak ada ujian yang sulit untuk ke depannya.
"Tahu ga Bang, Abang itu gantengnya berkali-klali lipat kalau pake koko dan sarung kek gini. Apalagi pas sholat dengan khusyuk. Astaga... Mungkin dulu pas umur 17an Abang tuh mirip banget sama Gus Azmi. Dia itu dambaan banget lho, udah muda pinter ngaji, hormat sama orang tua, dan suaranya itu... bikin hati bergetar." ucap Zaskia dengan semangat berapi-api saat Revan sudah selesai melaksanakan sholatnya.
"Astaga, selera kamu tinggi banget ternyata Dek. Semoga nanti kalau kita nikah terus punya anak, nanti dia bisa kecipratan berkahnya dan meniru akhlaknya. Aamiin..." doa Revan yang juga diamini oleh Zaskia.
Saat Zaskia dan Revan ke ruang makan, ternyata udah ada Mama dan Papa di sana. Zaskia nampaknya sudah tidak merasa canggung lagi. Dia langsung berhambur memeluk Mama Rena.
"Mama... Kia kangen. Udah lama tadi? Perasaan Kia ga lama di kamar." ucap Kia masih memeluk Mama Rena, semantara Kiara masih menguasai Papa Tomo.
"Mama juga kangen sayang, kamu kenapa kepalanya? Kenapa diperban segala? Kamu jatuh?" tanya Mama khawatir.
"Sedikit Ma, tadi adu kuat sama besi. Eh, ternyata Kia kalah, hehe... Ini udah ga papa Ma. Udah ga terasa sakit kok." jelas Kia tak ingin calon mertuanya itu khawatir.
Revan juga menghampiri Mamanya dan mencium pipinya.
__ADS_1
"Ara gantian, Kia juga mau peluk Papa." ucap Kia merengek.
Sejak kebersamaan Kia dan Papa waktu itu. Kia memang seperti merasakan punya Papa yang memanjakannya.
Kiara akhirnya bergeser dan duduk di kursi di sebelah Papa berdiri saat ini.
"Anak Papa beneran gapapa kan? Atau ada yang udah jahat sama kamu? Kalau iya, ngomong sama Papa, ok!" ucap Papa sambil mengusap puncak kepala Zaskia yang saat ini memeluknya.
"Nggak kok Pa, mana ada yang berani jahatin Kia. Kalau ada itu namanya cari penyakit, hehe..." ucap Zaskia sambil melepaskan pelukannya.
"Jadi sekarang Bunda tinggal di rumah tante Meli? Berarti kalau Kia kangen Kia telponnya ke sana ya?" tanya Kia yang belum tahu bahwa Revan telah menitipkan ponsel pada Bundanya.
Mama Rena yang diberi pertanyaan hanya memandang putra bungsunya itu untuk menjelaskan.
"Abang mau pake apa? Nasinya segini cukup?" tanya Kia sambil menunggu jawaban Mama.
"Iya, segitu dulu. Adek tadi bikin apa?" tanya Revan.
"Lebay, biasanya juga makan apa saja." ucap Reyhan mencibir.
"Kia tadi cuma bikin cah kangkung sama sambelnya." jawab Kia sambil tersenyum mendengar protes dari Calon kakak iparnya itu.
"Abang kayak ga pernah kasmaran aja. Pake itu aja deh Dek... Adek masak apa pun, Abang pasti makan kok. Lauknya apa saja, bebas." ucap Revan.
Mereka lalu makan dengan tenang. Kia melirik ke arah pintu dapur yang agak terbuka, sepertinya memang pekerjaan tante Lina itu memang masih kurang, sampe nyari-nyari pekerjaan tambahan. Kia tak peduli dengan sosok bayangan di balik dinding dapur itu. Kia malah sengaja sesekali menyuapi Revan, seperti yang dilakukan Reyhan dan Siera.
Biarin panas panas sekalian kalo perlu tar nyalain kompor biar terbakar. Batin Zaskia.
"Van... Habis isya gue tunggu di ruang kerja ya. Kalau Papa sudah hilang capeknya, nanti kalau bisa bergabung juga. Tapi kalau cape istirahat aja Pa, bukan hal yang serius kok." ucap Reyhan.
"Sholat berjamaah sekalian ajalah di mushola samping, udah mau bulan puasa juga kan. Biar semakin semarak. Ajak Bimo sekalian. Lama Papa ga ketemu dia." ucap Papa.
"Iya Pa... Nanti biar dipanggil sama Mbok Sri."
Selesai makan mereka menuju mushola tepatnya berada di samping rumah. Sementara Kia membantu Mbok Mi membereskan piring dan sisa makan lainnya.
"Udah, mbak Kia istirahat saja. Tinggal sedikit ini." ucap Mbok Mi yang dalam hati senang karena Revan, anak yang sejak kecil berada dalam asuhannya mendapat jodoh yang tepat. Mau berbaur dengan siapa saja dan terbiasa bekerja di dapur.
"Ya udah, Kia ke belakang dulu aja nyari angin ya Mbok. Barang kali Abang atau siapa nyariin, Kia di belakang ya Mbok." pamit Kia pada Mbok Mi.
Zaskia berjalan menuju gazebo dekat kolam renang. Dari tadi pagi sebenarnya Zaskia sudah membayangkan duduk santai di sini. Tempatnya sepertinya enak buat belajar santai.
"Jangan besar kepala kamu. Tidak lama lagi kamu bakalan nangis darah karna Mas Revan akan meninggalkanmu." ucap Lina, kedatangannya yamg tiba-tiba mengejutkan Kia.
"Astaghfirullah, tante... Kalau mau nyapa tuh ucap salam dulu. Jangan kek setan gitu tiba-tiba nongol." sahut Zaskia yang kaget karna kemunculan zaskia yang tiba-tiba.
"Sekali kamu panggil tante, mulut lo gue robek." ancam Lina.
"Terus kalau ga mau di panggil tante maunya dipanggil apa? Miss Lina gitu? Gak pantes, panggilan itu pantesnya buat orang yang intelek, kayak guru, sekretaris, dosen... Atau apalah yang berilmu gitu lho." ucap Kia sengaja membuat Lina geram. Orang seperti dia tak perlu diberi hati, pikirmya.
"Kamu... Kamu jangan memancing emosi saya. Saya juga bisa nekat. Umur gue ini belum tua masih sepantaran sama mbak Siera dan juga Mas Revan. Jadi gue ini masih muda." ucap Luna yang nampaknya mulai terbakar emosi.
"Ya kan aku sukanya panggi tante Lina. Ngomong-ngomong tante Lina udah lama jadi penguntit? Tante sering nyolong barang-barangnya Abang juga kan? Tante Lina jangan-jangan suka berfantasi mesum ya sama Abang. Hayo ngaku!" cecar Zaskia pada Lina yang nampak sedikit terkejut karna ketahuan.
"Ga usah nuduh tanpa bukti ya. Kamu itu jangan menganggap dirimu penting di sini, kalau kamu macam-macam sama aku, tidak ada yang akan membela kamu. Ingat itu!" ucap Lina sambil mencekik leher Zaskia.
"Oya? Tante yakin?" tanya Zaskia sambil mencoba melepaskan diri.
Plak... Plak...
"Aahhh...!" pekik Zaskia saat pipinya tiba-tiba ditampar. Darah sedikit keluar dari audut bibirnya.
"Itu akibat kamu tidak mendengarkanku." ucap Lina sambil menunjuk-nunjuk Zaskia.
"Kia... Kamu ga papa?"
TBC...
Siapa kira-kira yang datang?
Nantikan kelanjutannya
Jangan lupa tinggalkan komentar biar othornya semangat melanjutkan ceritanya.
__ADS_1
Tekan 👍 dan ❤️ juga ya
Makasih ❤️❤️