
Keadaan Abimana semakin membaik, bahkan bisa dikatakan hampir 100 persen pulih. Abimana bahkan sampai dihubungi dokter Arif karna melupakan dua kali jadwal terapinya. Abimana memang ingin memberitahukan kondisinya pada dokter Arif secara langsung, tapi nanti setelah pernikahan putrinya berlangsung.
Saat ini Abimana hanya Fokus pada persiapan pernikahan Zaskia dan juga mengembangkan penyelidikan tentang penyusup yang sedang menguasai rumahnya. Ternyata semua orang yang bekerja di sana sedang berada di bawah tekanan seseorang. Fakta itu langsung terungkap saat Laras pertama kali menginjakkan kaki di rumah Abimana.
Beberapa hari yang lalu Zian untuk pertama kali membawa Laras dan langsung memperkenalkannya pada semua pekerja di mansion Abimana sebagai perawat sang Tuan besar.
"Perhatian semua! Hari ini ada seseorang yang khusus untuk merawat Tuan Abimana. Namanya Dela. Saya mohon kerja samanya, dan perlakukan mbak Dela dengan baik." ucap Zian memperkenalkan Laras pada pekerja di mansion Abimana.
"Selamat datang Dela. Jangan sungkan, katakan jika butuh bantuan. Saya Endra, kepala pelayan di sini." ucap Pak Endra menanggapi.
"Terima kasih semuanya, senang bisa bergabung dengan kalian. Mohon kerja samanya. Terima kasih." sahut Laras kemudian sambil mengamati satu per satu wajah mereka. Masih banyak ternyata yang setia dengan Abimana. Setia atau malah menjadi mata-mata? Pikirnya. Ini akan menjadi PR untuknya.
Sampailah pandangannya terkunci pada seseorang yang pernah dia kenal. Namun dia segera mengalihkan pandangannya agar mereka tidak curiga.
"Baiklah, cukup sekian perkenalannya. Lain kali kalian bisa berkenalan langsung satu per satu. Dela, mari saya antar menemui Tuan Abi." ajak Zian pada Laras yang hanya diangguki oleh Laras. Zian kemudian melangkah pergi diikuti Laras.
"Si buruk rupa... Berapa lama dia akan bertahan. Sebentar lagi dia juga akan pergi. Mana tahan dia dengan sikap temperamen Abimana?" ucap seorang pelayan lirih, namun masih di dengar oleh pelayan lain di sebelahnya. Mereka hanya melirik orang itu dengan malas.
Sementara Zian dan laras sudah sampai di sebuah kamar yang tidak asing bagi Laras. Kamar yang dulu pernah dia tempati, kamar yang penuh kenangan, tempatnya bermanja dan berbagi peluh dengan sang suami. Tempatnya mencurahkan isi hatinya.
Sejenak dia berhenti di depan pintu. Laras menarik nafas panjang lalu menghembuskan dengan pelan. Dia sudah memaafkan Abimana, dan dia sudah bertekad untuk kembali merajut mimpi yang tertunda bersama suaminya.
Zian mengetuk Pintu, lalu memutar handle pintu dengan pelan.
"Silakan masuk Nyonya. Sepertimya Tuan Abi sedang di kamar mandi. Saya akan melihatnya dulu." ucap Zian kemudian melangkah masuk.
"Tidak usah Zi, biar aku saja. Tolong tinggalkan kami saja. Nanti kita bicara lagi, sepertinya aku mencurigai seseorang." ucap Laras mencegah Zian.
"Baik Nyonya, jika perlu sesuatu panggil saya saja dengan jam yang Anda pakai." ucap Zian yang kemudian melangkah keluar setelah diperailakan Laras. Laras segera mengunci pintu dan mendekati kamar mandi, siapa tahu suaminya bituh bantuan.
Belum sampai Laras mendekati kamar mandi, pintu kamar mandi sudah terbuka. Abimana terkejut melihat keberadaan orang asing di kamarnya.
"Siapa kau, lancang sekali kamu masuk kamarku tanpa izin. Siapa yang menyuruhmu, katakan!" bentak Abimana pada wanita yang baru pertama dia lihat.
Laras tidak menyahut, dia malah meraih kursi roda dan mendorongnya menuju ranjang.
"Mas kok sekarang suka marah-marah sih, tambah tua lho nanti." ucap Laras sambil duduk di tepi ranjang.
Abimana yang sudah hafal dengan suara Laras pun tersenyum.
__ADS_1
"Sayang... Maaf, Mas ga ngenalin kamu." ucap Abimana sambil mencoba berdiri. Laras pun mencoba membantunya.
"Pelan-pelan mas, nanti jatuh." ucap Laras saat Abimana memeluknya dengan tak sabaran.
"Mas kangen sayang." ucap Abimanyu masih memeluk istrinya dengan posesif.
"Mas tadi ngapain sampe bajunya basah gini? Mas jatuh?" tanya Laras khawatir.
Abimana hanya nyengir saat ingat kebodohannya yang seperti remaja sedang merindukan kekasihnya.
"Mas ga bisa tidur semalam, kepikiran kamu terus. Tadi saat di kamar mandi tiba-tiba mas ngantuk banget. Eh... tau-tau kejengkang." tutur Abimana terus terang.
"Ck, kok bisa sih. Bahaya lho. Ada yang sakit tidak?" ucap Laras sambil menelisik tubuh Abimana. "Sini, buka bajunya dulu, terus ganti. Nanti masuk angin." Laras mendudukkan abimana di tepi ranjang dan membuka kancing baju suaminya.
Sejujurnya saat ini jantungnya sudah berdetak lebih cepat. Bagaimanapun mereka belum lama berjumpa kembali setelah sekian lama berpisah. Namun Laras mencoba membuang rasa canggung itu, dia sudah berjanji untuk membantu suaminya pulih.
Laras sudah berhasil membuka baju Abimana. Dia segera berbalik agar Abimana tidak menyadari wajahnya yang sudah merah karna melihat suaminya tel*nj*ng dada. Namun dengan sigap Abimana menarik tangan Laras hingga istrinya jatuh ke pangkuannya.
Laras hanya bisa memejamkan matanya sembari menikmati degub jantungnya yang semakin menggila. Melihat istrinya terdiam dan memejamkan mata, Abimana merasa mendapatkan lampu hijau. Tangannya membelai setiap inci wajah yang saat ini memang terlihat lebih buruk, tapi bagi Abimana Laras tetaplah Laras. Jika bukan Laras, mungkin tak akan memaafkan kesalahan Abimana yang memang sangat fatal. Karena itulah cinta Abimana tumbuh berkali-kali lipat pada istrinya.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Abimana segera meraup bibir Laras, awalnya lembut namun beberapa saat setelahnya, dia sangat buas sekali seakan tak sabaran untuk menghilangkan dahaganya. Laras yang tadinya hanya diam pasrah menikmati pun ikut terpancing ga*r*h. Seakan keduanya ingin melebur menjadi satu. Saling ******* dan membelitkan lidah.
Abimana mengangkat Laras dan merebahkan di atas ranjangnya. Tangannya mulai bergerak turun melepaskan kacing kemeja Laras, tangan Laras sendiri sudah mengalung sempurna di leher Abimana. Dia membiarkan Abimana melakukan apapun padanya, karna sesungguhnya Laras pun merindukan sentuhan suaminya ini.
"Mass... Aahhh... Jangan bikin merah-merah di situ." ucap Laras di sela d*s*h*nnya.
Abimana tak menjawab, bibirnya turun ke bawah menuju dua bukit indah yang sudah dikuasai tangannya sejak tadi. Sesaat dia mengangkat wajahnya dan memandang takjub benda yang dulu menjadi sumber nutrisi putrinya. Diumur Laras sekarang bukankah harusnya benda itu sudah mulai mengendur?
Laras menurunkan tangannya berusaha menutup dadanya, namun tangan Abimana mencegahnya.
"Jangan ditutup sayang, mas mau lihat.... Rasanya masih seperti yang dulu, lihatlah... Dia sepertinya menantang mas. Gimana bisa, ini masih secantik ini sayang..." ucap Abimana sambil mer*m*snya. Kemudian mulutnya segera melahap hidangan didepannya itu dengan rakus bergantian kanan dan kiri.
"Eemmmgghhh...." suara itu berkali-kali keluar dari mulut Laras meski sedikit tertahan. Laras semakin bergerak frustasi saat tangan Abimana berhasil menyusup ke dalam roknya, dan bermain-main di bawah sana meski masih terhalang kain penutup intinya.
Perlahan Abimana menarik rok yang masih dipakai istrinya hingga tubuhnya nyaris b*g*l karna hanya tersisa kain segi tiga saja yang menempel di tubuhnya. Sekali lagi Abimana terpesona pada istrinya. Bagaimana tidak, tubuh Laras di mata Abimana masih masih sangat seksi bahkan lebih seksi dari saat terakhir dia menyentuhnya.
"Laras jelek ya Mas?" tanya laras sambil mengatupkan pah*nya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Bagaimana bisa kamu sekarang malah tambah seksi seperti ini sayang!" ucap Abimana yang masih menatap tubuh Laras dengan penuh g**rah. Perlahan dia menciumi perut Laras yang masih rata seperti belum mempunyai anak. Kemudian tangannya membuka kedua kaki Laras dan melepaskan kain terakhir yang menghalanginya. Setelah puas bemain-main, Abimana segera melepaskan semua atribut yang dia pakai.
__ADS_1
Syukurlah pusakaku masih berfungsi, jangan permalukan aku plis. Ayo kita bekerja sama. Batin Abimana seraya mengarahkan pusakanya ke sarangnya.
"Ah... Sakit Mas... Pelan-pelan!" teriak Laras saat benda tumpuk itu masuk dengan tak sabaran.
Abimana pikir, Laras sudah tidak perawan dan sudah memiliki anak, maka akan mudah memasukinya.
"Maaf sayang, mas kasar ya? Ini sempit sekali yang. Kenapa kamu jadi seperti perawan sayang... Ahh..." sahut Abimana. Dan selanjutnya terjadilah pagi menjelang siang itu menjadi moment yang penuh luapan ga*r*h bagi sepasang pengantin lama rasa baru itu.
"Mas ga jijik sama Laras." tanya Laras setelah bisa peperangan yang mempora-porandakan ranjang Abimana. "Harusnya kan tadi dilepas dulu ini." Laras yang baru menyadari penampilannya menjadi insecure.
"Enggak sayang, asalkan itu kamu. Mas akan selalu menginginkanmu lagi dan lagi. Sekali lagi ya?" tawar Abimana.
"Enggak untuk sekarang mas. Nanti mereka curiga kalau Laras kelamaan di sini. Lagian, ada yang harus kita bahas dengan Zian." ucap Laras manja sambil mengelus dada tel*nj*ng suaminya.
"Ada yang kamu curiagai saat kamu bertemu dengan para pelayan?" Abimana mencoba menebak apa yamg akan disampaikan Laras.
"Ada seorang pelayan yang Laras kenal, bukan pelayan lama maksudnya. Entahlah apa memang dunia ini sempit sampai harus bertemu dia di sini." ucao Laras sambil menegakkan tubuhnya.
"Ya sudah kita mandi ya... Kamu tahu ga, tadi mas ga nyangka lho, bakalan dapet kekuatan luar biasa. Rasanya kaya udah bisa lari keliling kompleks ini. Hahaha..." ucap Abimana sambil memposisikan akan mengangkat Laras.
"Mas mau ngapain? Jangan macam-macam deh... Tadi aja Laras sempet was-was, kalau salah gerak takut sakit lagi kakinya." ucap laras sambil menepis tangan Abimana.
"Mas pengen mengulang waktu dulu sayang. Masak takut salah gerak, ya nggak lah. Orang gerakannya teratur maju mundur kok." sahut Abimana yang Langsung mendapatkan cubitan di lengannya. "Aw... Sakit sayang, cubit yang ini aja nih, mumpung belum bobo." ucap Abimanyu sambil menunjuk pusakanya.
"Mas ih... Ternyata ga ilang-ilang ya mesumnya. Yakin Mas ga pernah tergoda dengan Diana? Dia kan seksi mas." ucap Laras terdengar sendu di akhir kalimatnya.
Abimana menarik Laras agar mendekat, "Mas ga pernah ada pikiran untuk mendekati wanita lain setelah kamu pergi sayang... Waktu itu hati mas benar-benar sudah hancur, karna mas mengira kamu mengkhianati mas. Rasanya mas sudah tidak ingin lagi mengenal cinta apalagi bercinta dengan wanita lain." ucap Abimana meyakinkan Laras.
Laras terharu, dia yakin apabyang dikatakan suaminya bukanlah kebohongan. Mereka saling berpelukan salimh menguatkan.
Tak lama setelah obrolan itu mereka mandi, meskipun tidak mengulang aksi panas mereka tadi, namun Abimana selalu memesrai istrinya dengan sentuhan tangan dan bibirnya.
Beberapa hari ini Abimana selalu menempel pada Laras yang dikenal sebagai Dela di mansionnya. Hal itu membuat Dela dianggap orang penting karena dekat dengan Abimana. Seorang palayan nampak tak senang dengan kedekatan mereka. Laras tersenyum miring saat melihat ekspresi pelayan tersebut, karna di setiap kesempatan Laras diam-diam mengamati gerak-geriknya.
Hal tersebut sudah disampaikan pada Abimana dan Zian. Zian segera mengatur strategi untuk mencari tahu apa sebenarnya tujuan pelayan tersebut, apakah dia bagian dari Roy atau karena punya tujuan tersendiri.
TBC....
Mohon dukungannya, jangan lupa tinggalkkan komentar
__ADS_1
Tekan 👍 dan ❤️
Makasih❤️❤️