Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 90. SAKSI KUNCI


__ADS_3

"Om Roy beneran ga tahu dimana Mama? Dari minggu pagi ga pulang ke apartemen soalnya." tanya Lucia yang mencari mamanya karena melihat berita yang viral hari ini tentang pria yang diincarnya.


Lucia merasa jengkel karena tidak tahu tentang pria yang disukainya ternyata telah menikah diam-diam. Yang lebih membuatnya jengkel lagi, ternyata Revan adalah anak milyarder, pengusaha besar keluarga Abidin.


"Om, juga dari kemarin menghubunginya berkali-kali tapi tidak diangkat. Dia hanya mengirim pesan saja." jawab Roy saat Lucia bertanya melalui sambungan telepon.


"Ah iya, mengapa Luci ga wa saja ya. Luci tuh lagi sebel Om, makanya sampe ga kepikiran buat chat Mama." ucap Lucia lagi.


"Kenapa memang? Kehabisan uang jajan?" tanya Roy kemudian.


"Ck, lebih dari itu Om. Om, mana ngerti. Aahh.... Lucia udah kehilangan tambang emas." sahut Lucia sembari mengumpat.


"Ya sudah lah kamu cari hiburan apa dulu gih. Om lagi banyak kerjaan. Kalau mamamu sudah bisa dihubungi, suruh telepon Om. Tut..." Roy menutup panggilannya sepihak.


Roy memang sedang buntu, apa pun yang menjadi targetnya seolah malah semakin menjauh. Apalagi kemarin dia mendapat surat panggilan pemeriksaan dugaan suap.


"Brengsek! Anak ingusan itu rupanya ingin bermain-main denganku. Brengsek.... Prang...." umpat Roy dengan penuh kemarahan sambil melempar gelas yang ada di mejanya. Dia yakin Revan lah dalang


Mendengar ada benda pecah sekretarisnya datang melihat apa yang sedang terjadi. Riyana dulu ada di pihak Roy, karena mereka adalah pasangan kekasih waktu masih awal-awal bekerja di sana. Bahkan Riyana mau melakukan apapun yang diminta Roy.


Namun seiring bejalannya waktu, Riyana tahu kalau Roy ternyata bermain api di belakangnya dengan banyak wanita, termasuk Diana. Riyana mulai sadar kalau selama ini dia hanya dimanfaatkan oleh Roy. Sejak saat itu hubungan mereka mulai renggang dan akhirnya berakhir. Riyana memilih menikah dengan pria yang dijodohkan oleh ayahnya.


Setelah Abimana mengalami kecelakaan Riyana masih berpura-pura menuruti apapun perintah Roy dalam hal pekerjaan. Dia masih ingin bekwrja walaupun sudah menikah. Namun diam-diam, dia mengumpulkan semua bukti kecurangan Roy. Riyana bersumpah dalam hati, jika suatu saat Abimana kembali memimpin maka dia orang pertama yang akan membantu Abimana menyingkirkan Roy.


"Pak Roy baik-baik saja?" tanya Riyana saat melihat pecahan beling berceceran di lantai.


"Aku sedang tidak ingin diganggu, keluarlah!" ucap Roy dengan kasar.


Dasar tidak tahu diri. Kau pikir, selamanya kau akan di atas angin? Dasar rakus, kau pikir kau akan selamanya berkuasa. Batin Riyana mengumpat pada Roy.


"Astaghfirullah ... Maaf Pak, saya tidak melihat Pak Zian." ucap Riyana yang tidak sengaja menabrak Zian karena berjalan mundur sambil mengumpat pada Roy.

__ADS_1


Entah mengapa, meski usia Zian jauh di bawahnya, namun Riyana sangat segan padanya. Terlebih saat beberapa kali mengunjungi Kantor bersama bersama Abimana, mereka terlihat sangat dekat.


"Ikut ke ruanganku." ucap Zian dengan nada datar sambil berlalu menuju ruangan Abimana.


Tanpa diperintah dua kali, Riyana mengikuti Zian dari belakang.


"Saya tahu Ibu Riyana sudah lama sekali bekerja di sini. Dan saya tahu, Anda salah satu orang yang tahu sepak terjang Roy Arkatama. Ada yang ingin disampaikan? Jika Anda mau membantu kami, maka saya sendiri yang akan meminta Tuan Abi untuk mempertahankan kamu. Tapi jika Anda berbohong, saya anggap kamu bersekongkol dengan Roy." ucap Zian santai sambil bersedekap dada.


Riyana tercekat, sebentar-sebentar matanya menengok ke arah pintu. Dadanya bergemuruh, ada rasa takut tapi juga ada keinginan untuk mengakhiri semua rahasia ini.


" Sa... Saya." bahkan rasanya sulit sekali untuk berucap.


"Saya bisa menjamin keselamatan Anda jika mau bekerja sama." ucap Zian sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya.


"Se... Sebenarnya saya... Saya sudah lama tidak tahan dengan kesemena-menaan Roy, tapi saya harus tetap bertahan karena saya memang butuh pekerjaan. Tapi saya selalu menyimpan bukti, setiap kali Roy melakukan kecurangan. Juga... I... Itu... Emmm." ucap Riyana ragu.


"Katakan saja. Anda percaya pada saya kan? Ah, sebaiknya Anda melihat ini agar lebih yakin lagi." ucap Zian sambil memutar laptopnya jadi menghadap ke arahnya.


Riyana menutup mulutnya saat menyadari sesuatu. Zian membuka rekaman di loby kantor, di sana banyak orang berseragam hitam. Dan sekarang beralih ke depan ruangan Roy. Biasanya ruangan itu adalah ruangan sekretariat, namun Riyana tidak tahu kalau ruangan itu sudah alih fungsi menjadi ruang kontrol. Dipindahkan kemana ruang sekretariat? Tanyanya dalam hati.


"Jadi?" tanya Zian kemudian.


"Itu Pak... Kecelakaan Tuan Abi memang sudah direncanakan. Saya ada rekaman mereka saat membahas itu Pak." ucap Riyana. Dia memang pernah mendengar saat mereka merencanakan melenyapkan Abimana di sebuah klub malam. Riyana saat itu sengaja mengikuti mereka, dan beruntungnya mereka bisa seceroboh itu membuat rencana terbuka dengan anak buahnya.


"Jadi benar? Sudah kuduga. Dasar biadab!" ucap Zian lirih, namun masih didengar oleh Riyana. Akhirnya Zian berhasil mendapatkan saksi kuncibyang ternyata adalah sekretaris Abimana sendiri. Mudah - mudahan dia bisa dipercaya.


"Ada lagi?" tanya Zian lagi.


"Roy membuat surat izin palsu pembangunan resort di Bali Pak, tujuannya sengaja ingin menghancurkan citra perusahaan dan juga agar investor menjadi kehilangan kepercayaan pada perusahaan." jawab Riyana mantap. Dia kini benar-benar percaya 100 persen pada Zian.


"Apakah sudah berjalan?" tanya Zian kemudian.

__ADS_1


"Baru tahap awal Pak. Saya mohon Pak, cari cara untuk menghentikannya. Saya takut perusahaan akan benar-benar hancur lama kelamaan." ucap Riyana penuh harap. Bukan hanya dia yang perlu pekerjaan ini. Bahkan sebagian besar karyawan di Bilrz Corp.


"Pasti, tenang saja. Sebelum pihaknya yang melapor, orang-orang kita yang akan membuat pernyataan terlebih dahulu pada aparat. Dengan demikian, kita akan terbebas dari tuduhan. Kamu buatkan surat pernyataan beserta barang buktinya. Bisakah kita merncanakan membuat pertemuan tertutup juga pada para investor. Kitq oeelu bergerak cepat sepertinya." ucap Zian diakhiri dengan pertanyaan.


"Maaf Pak, apakah bapak yakin, semua investor bukan salah satu dari pendukung Roy. Maaf Pak, saya sedikit mencurigai seseorang yang berkesok investor. Dia adalah Pak Darto. Dia dan Roy seringkali melakukan pertemuan tertutup, dan untuk yang satu itu saya belum berhasil menemukan bukti adanya konspirasi di antara mereka Pak." jelas Riyana.


"Jadi menurutmu apa yang harus saya lakukan. Apa sebaiknya mendatangi investor secara diam-diam Satuboer satu untuk agar bisa merangkul mereka untuk mendepak Roy?" tanya Zian meminta pendapat.


"Begitu juga lebih baik, kita lakukan tanpa sepengetahuan Roy. Saya siap membantu. Tapi bagaimana dengan Darto Pak?" tanya Riyana cemas.


"Jangan khawatir, informan saya yang akan bergerak. Baiklah kalau begitu, Anda bisa keluar. Jika Roy melihat kamu keluar dari sini dan bertanya untuk apa, jawab saja Pak Abi sedang melakukan perjalanan ke Kalimantan untuk bertemu istrinya dan kamu diminta untuk membuatkan syukuran di kantor saat mereka kembali nanti." ucap Zian memberikan solusi pada Riyana.


"Jadi Nyonya sudah ditemukan? Alhamdulillah... Saya merasa bersalah sekali pada Nyonya. Jika dulu saya memberitahukan rencana Roy saat itu, pasti mereka tak akan terpisah." ucap Riyana penuh sesal.


"Sudahlah, menyesal seperti apapun, kita tidak bisa mengubah takdir. Sekarang, lakukan saja yang terbaik untuk menebus kesalahan kamu."


"Iya Pak, kalau begitu saya keluar dulu. Permisi." ucap Riyana sopan yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Zian.


Zian segera menghubungi anak buahnya untuk bergerak. Zian mendesah sambil memejamkan matanya.


"Semoga akan segera berakhir dan BILARZ Corp akan makin kuat." ucap Zian penuh harap.


Sebenarnya jika hanya sekedar menangkap Roy, bukan perkara yang sulit. Tapi Zian ingin agar semua kekayaan yang dirampas Zian secara diam-diam juga bisa kembali kepada Tuannya. Dan mengurangi resiko penyerangan balik dengan mengetahui kekuatan yang dimiliki Roy baik di dalam atau di luar. Sedikit demi sedikit Zian sudah mulai memahami situasi dan dimana Roy memusatkan kekuatannya.


TBC...


Terus dukung karyaku ya bestie


Jangan lupa tinggalkkan komentar, like dan vote.


Makasih, ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2