Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 108. YOUTUBER?


__ADS_3

Revan duduk di samping Zaskia sambil sandaran di sofa.


"Oya Ki, tadi waktu komplen, ke nomor yang mana?" tanya Ardi kemudian.


"Tadi tuh ada kayak semacam brosur dan kartu nama gitu Kak, terselip di antara barang dagangan," jawab Zaskia jujur sambil menyodorkan kertas yang dimaksud.


Revan ikut melongokkan kepalanya, melihat nomor yang tercetak di sana.


"Itu bukan nomor layanan pengaduan kita kan Ar?" tanya Revan meyakinkan. Sebagai salah satu yang juga membantu mengurus perusahaan, tentunya Revan juga tahu kode-kode nomor untuk layanan customer, layanan pengaduan, dan sebagainya.


Karyawan masih ikut menyimak pembicaraan bos-bosnya itu sambil packing barang yang akan dikirim.


"Iya Ki... Semua nomor yang berkaitan dengan customor hanya 4 digit, bukan nomor ponsel atau nomor rumah. Ah, ini... Aku bawa contohnya. Kalau ada apa-apa komplennya ke sini. Atau langsung sama Kakak aja ya." Ardi turut membenarkan ucapan Revan.


"Terus ini gimana? Astaga, kayaknya niat banget mereka mau menghancurkan usaha Papa," ucap Zaskia sambil menutup mukanya menggunakan kedua tangannya.


"Sudah sayang, ini ga separah yang kamu pikirin kok. Masih sangat bisa kita atasi. Papa pasti berterima kasih sekali, juga beruntung karena kita tahi ini sedini mungkin. Jangan over thinking, ok!" Revan mencoba menenangkan istrinya, dia merengkuh Zaskia ke dalam pelukannya.


Belum selesai dari keterkejutan mereka memanggil yang punya pabrik dengan sebutan Papa, mereka malah dibuat baper dengan interkasi suami istri itu.


"So sweet banget ya mereka. Duh, kok aku yang deg-degan ya."


"Mana ganteng banget lagi cowoknya Mbak Kia. Pengen...!"


"Sebenernya siapa sih mereka? Kok kayak bukan orang sembarangan?"


"Kayaknya sih gitu. Mbak Kia juga kan lingkaran pergaulannya sama orang-orang penting. Ga heran lah kalau pacarnya juga orang penting."


"Ssstttt... Jangan berisik, dengerin dulu!" seru Sheila.


Hanya mereka saja yang mendengar pembicaraan mereka, karena ketiga orang penting ini juga tidak memperhatikan mereka dan masih fokus membahas masalah yang sedang terjadi.


"Terus ini barang-barang yang ga sesuai pesanan, kita kemanain ya baiknya? Atau kita simpan dulu." Zaskia meminta pendapat pada mereka.


"Sebaiknya disimpan dulu untuk bukti nanti kalau diperlukan. Mungkin saja kejadian ini akan dinaikkan dan dikasuskan. Nanti kita akan lihat perkembangannya," jawab Ardi.

__ADS_1


"Biar operasional bisnis kamu tetap berjalan dengan baik, besok akan dikirim lagi barang yang belum ada. Kamu catat saja. Besok Kakak akan langsung kesana dengan Bang Rey. Mungkin terlalu lama kami tidak mengadakan sidak, sampai ada yang berani bermain-main dengan kita." Ardi sepertinya juga menjadi geram.


"Ya sudah... Semoga cepet ketemu jalan keluarnya. Masih ada ga yang mau di urus? Jadi kan nginep tempat ayah?"


Revan melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, masih jam 16.15.


"Udah sih. Stok dagangan masih aman kan beb, untuk 2 hari ke depan?" Sheila yang merasa ditanya langsung mengacungkan kedua jempolnya.


Dalam sekali restok barang, Zaskia mengeluarkan hampir 1,5M. Sedangkan dalam sebulan bisa restok 4 sampai 6 kali. Secepat itu perputaran modal Zaskia. Maka saat barang yang mereka pesan jumlahnya tidak memadai, itu akan membuatnya kalang kabut. Bukan persoalan nominalnya, tapi masalah bentuk kepuasan pelanggan. Jika pembeli kecewa mereka akan mereview jelek toko kita.


"Ya udah, kalau gitu gue duluan deh. Dari pada nunggu diusir." Ardi beranjak dari tempat duduknya. Memberikan tanda hormat sebagai salam perpisahan, barulah dia keluar ruko.


Revan dan Zaskia hanya terkekeh, Ardi ternyata sudah menduga yang akn dilakukan Revan.


"Balik yuk! Abang tunggu di depan ya," ucap Revan dambil beranjak, mengusap kepala istrinya sekilas lalu berjalan keluar.


Karyawan hanya membatin, mengapa Revan terkesan sombong. Hanya Sheila saja yang sudah paham dengan kekasih bosnya itu, yang memang bersikap dingin dengan lawan jenis. Namun dia tak mempermasalahkan, toh Revan sebenarnya orang yang baik. Buktinya kalau Zaskia sedang di ruko dia sering mengirimi makanan. Kadang pizza, kadang kue, kadang nasi box. Dan jumlahnya pasti dilebihkan dari jumlah penghuni ruko.


"Aku duluan ya beb. Semangat ya team!" seru Zaskia saat mendekati mereka yang masih bekerja.


"Semoga cepet kelar masalahnya dan ga berlarut-larut. Tiati ya!"


"Wa alaikum salam."


Zaskia menyusul suaminya yang menunggu di mobil. Seperti biasa, Revan membukakan pintu untuk istrinya, setelah itu baru dia masuk dan duduk di kursi kemudi.


"Kamu kenal sama pacarnya Mbak Kia?" tanya salah seorang karyawan pada Sheila yang sedang menandai orderan yang sudah dipacking.


"Kenal banget sih enggak. Tapi tahulah, kan setiap malam minggu, dia memenin Kia live. Biasanya dia duduk di sono sambil mengotak-atik laptop, entah main game atau apa. Sesekali saat mereka ga sengaja berpandangan, Mas Revan pasti kasih tanda love gini pake tangan. Astaga... Kalian pasti baper kalau lihat." Sheila berbicara sambil membayangkan perlakuan Revan pada Zaskia.


"Bukan main game dodol! Dia itu lagi jual beli saham. Aku juga ga ngerti sih kayak gituan. Tapi aku pernah lihat film luar yang ada tampilan kaya di laptopnya Mas Revan itu." kali ini Dion yang menyahut.


"Oh, pemain saham dia? Gila, pantesan mobilnya ganti." Yang lain ikut menimpali.


"Bukan ganti, itu salah satu mobilnya. Setahuku sih, ada 3 mobil yang pernah di bawa kemari, ya kan?" Roni minta dukungan Sheila.

__ADS_1


"Wah, tajir banget dong ya. Aku kira cuman PNS biasa lho."


"Kayaknya sayang banget sama Mbak Kia. Semoga Jason juga akan sesayang itu padaku Ya Allah... Aamiin." Sheila berdoa sambil tersenyum.


Baru pertama ini dia punya pacar. Mereka dari desa yang sama, bertemu di jakarta karena ternyata mereka berada di kampus yang sama. Hanya saja saat ini, Jason sudah mahasiswa tingkat akhir.


"Cie... Cie..." Mereka kompak menggoda Sheila.


"Ngomong-ngomong, kok cowok kamu ga pernah lagi jemput?"


Pertanyaan yang biasa tapi menohok buat Sheila. 2 minggu belakangan ini mereka memang jarang sekali bertemu. Entahlah, Jason sangat sibuk belakangan ini atau malah sengaja menghindarinya. Sheila masih tak mau berprasangka buruk, takutnya akan menjadi doa. Bukankah Prasangka adalah doa?


"Lagi sibuk mau skripsi mungkin. Nyiapin bahannya kan juga butuh banyak waktu gaes. Dan kadang ga selalu bisa di dapet semuanya di satu tempat," jawab Sheila bijak, menutupi kegundahannya.


"By the way, aku sering lihat storynya Mbak Kia lagi pemotretan. Emang Mbak Kia juga seorang model?"


Salah satu karyawan baru yang memang belum tahu tentang Zaskia pun bertanya karena penasaran. Sebenarnya yang lain pun belum tahu pasti. Mereka hanya menduga-duga saja. Mau menanyakan pun takut dikira kepo.


"Oh, dia model salah satu butik ternama di ibu kota. Coba cek deh Renata Boutique, ada kok yang mereview di youtube."


Dengan cepat mereka mencari di kolom pencarian dengan mengetikkan Renata Boutique.


Set....


Banyak sekali profil itu muncul, bahkan pernah direview juga oleh banyak artis.


"Eh Busyet, ini banyak istri menteri juga gaes yang berlangganan. Artis ternama juga gaes... , mujur banget sih nasibmya Mbak Kia."


"Eh ini ada update terbaru, kalau ini kayaknya koleksi terbaru beserta review harga deh. Astaga... Foto Mbak Kia semua ini. Eh, bentar bentar... Chanelnya Zaskia Official. Jangan-jangan punyanya Mbak Kia. Coba aku lihat.... Eh, bener gaes... Mbak Kia youtuber juga? Sudah satu juta lebih lho gengs followersnya. Kita juga harus support gaes, jangan lupa follow!" Roni seperti supporter sepak bola yang tidak berhenti berbicara saat memandu acara.


Mereka bukannya fokus ke ponsel masing-masing, malah ikutan melihat ponsel Roni. Rata-rata mereka berumur lebih tua dari Zaskia. Panggilan Mbak mereka sematkan pada Zaskia untuk menghormatinya sebagai owner tempat mereka mencari cuan.


TBC...


Makasih untuk yang baru gabung, semoga suka ceritanya

__ADS_1


Jangan bosen ngasih jejak ya...


Makasih❤️


__ADS_2