Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BABA 64. ARA DAN ARYA 2


__ADS_3

Zaenal Abidin dan istrinya memutuskan untuk menginap di apartemen Kiara setelah sehari berada di kediaman Sutomo. Momen ini dimanfaatkan Kiara untuk kangen-kangenan sama mami dan papinya.


"Mi, Ara beneran ga boleh pacaran ya?" tanya Kiara di sela-sela curhatnya tentang masalah kuliahnya, tentang dosennya yang genit. Tentang teman-temannya yang sering support dia, tentang beberapa temannya yang dari orang kaya tapi selalu merendahkannya karna dianggap tidak selevel. Sedang maminya hanya tersenyum-senyum melihat ekspresi putrinya berubah-ubah.


"Memangnya kenapa? Ara pengen pacaran? Ada yang suka sama Ara?" tanya Mami Meli yang memang belum mengetahui kedekatannya dengan sepupu Zaskia itu.


"Kiara lagi deket sama seseorang Mi, tapi kami ga pacaran kok. Tapi kalau diizinkan dia mau nikahin Ara, Mi." ucap Kiara lirih, takut maminya akan marah.


"Deket seperti apa nih, kalau deket tapi ga pacaran? Siapa orang yang sudah bikin anak mami ini galau, hmmm?" tanya mami dengan nada lembut.


"Sebenarnya Kiara yang suka sama dia Mi pada awalnya, namun beberapa minggu ini kami memang lebih deket. Dan ternyata dia juga suka sama Ara." ucap Kiara menceritakan kedekatannya dengan Arya.


Melina terharu, anak gadisnya ini memang sangat dekat dengannya. Dia senang dengan kejujuran putrinya. Sejak awal Melina memang memperingati putrinya agar selalu menjaga batas pertemanan dengan lawan jenis, jangan pacaran dulu lah, belajar dulu yang bener, ucap Melina saat melepas Kiara tinggal di Jakarta.


"Abang kamu tahu? Apakah abangmu juga sudah kenal dengannya?" tanya Melina lembut takut salah bicara dan mematahkan hati putrinya. Selama ini memang Revanlah yang banyak memberikan informasi tentang perkembangan kuliah Kiara dan juga tentang pergaulannya.


"Iya, abang udah kenal. Dia itu sepupunya Zaskia. Namanya Arya. Dia pengen ketemu Mami dan Papi, kalau diizinkan dia mau nglamar Ara." ucap Kiara dengan takut-takut.


Zaenal Abidin tersenyum mendengar kejujuran putrinya, setidaknya dia memilih jujur daripada melakukan hubungan sembunyi - sembunyi yang akhirnya akan berimbas tidak baik untuk hidupnya. Meski belum pernah bertemu dengan laki-laki yang bernama Arya ini, papi Zaenal sudah bisa menilai kalau pria ini adalah pria yang bertanggung jawab. Tidak ada seorang laki-laki yang rela mengorbankan masa mudanya untuk sebuah janji apalagi sampai menemui orang tuanya, jika bukan karna memang dia serius ingin berkomitmen.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Biarkan dia menemui Papi. Papi pengen lihat keseriusannya. Memangnya Ara sudah siap kalau menikah di usia muda? Menikah itu bukan perkara mudah sayang, seorang wanita yang memutuskan untuk menikah, artinya dia siap untuk berjuang bersama suaminya kelak, dia siap mengikuti perintah suaminya selama itu dalam kebaikan, kamu harus sudah siap menghadapi segala permasalahan rumah tangga yang mungkin saja menghampiri kalian. Kalian harus membangun hubungan yang kuat agar tidak pernah membiarkan ada celah yang membuat kalian bisa berpisah. Dan masih banyak lagi yang harus kamu persiapkan sayang. Apa kamu siap?" kali ini Papi ikut memberikan wejangan.


Kiara tersenyum dan mengangguk mantap. "Kiara siap Pi, Kiara akan belajar sama papi dan mami. Ajari Ara agar menjadi istri yang baik dan tangguh."


Mereka berpelukan meluapkan rasa haru dan bahagia. Sebenarnya Zaenal Abidin masih belum rela jika harus melepas putrinya untuk menikah. Namun sebagai orang tua yang bijak, dia pun hanya bisa berusaha membahagiakan putrinya, jika memang Tuhan memberikan jodoh untuk putrinya hari ini, itu tidak masalah dari pada putrinya berpacaran tidak jelas, gandeng sana gandeng sini dan akhirnya dia sendiri yang akan sakit hati saat ditinggalkan.


"Besok keluarga kita akan makan malam bersama di rumah Papa Tomo, kamu tahu kan? Katakan pada Arya untuk bertemu dengan Papi besok malam, jika memang dia serius." ucap Papi sambil mengelus kepala Kiara dengan sayang.


Kiara merasa kegirangan saat mendengar keputusan Papinya. Semoga Arya akan menepati janjinya.


*****


"Beb, nanti ketemu Papa mamaku ya." ucap Arya saat bertemu dengan Kiara di taman kampusnya. Mereka sengaja berangkat lebih awal karna ada yang memang harus mereka bahas berdua.


"Kamu udah cerita tentang kita emang?" tanya Kiara menanyakan keseriusan Arya.


"Udah dong beb, insya allah mereka sangat senang karna tahu siapa yang bakal jadi besan mereka." jawab Arya jujur.


"Nanti habis kuliah atau gimana? Bukannya nanti malam kita bakal makan malam bareng keluarga besar kita? Ah iya, aku juga udah cerita sama papi. Kalau kamu serius ya kamu langsung ketemu papi aja tar malem." ucap Kiara.


"Nanti cuma ada satu mata kuliah kan? Habis kelas kita langsung berangkat ya, ke apartemen aku dulu. Aku mau kasih lihat ruang kerja aku, studio miniku di sana. Habis itu ke mansion Papa sekalian makan siang di sana. Ga papa kan?" tanya Arya sambil menyelipkan rambut Kiara ke belakang telinganya.


Kiara yang selalu cerewet dan brisik itu selalu berhasil tersipu dibuatnya karna perlakuan manisnya. Tentu saja Kiara merasa bangga dan bahagia. Seorang Arya yang selalu terlihat cuek dengan wanita manapun, namun di depannya dia selalu bersikap manis. Ah, jadi pengen peluk, pikirnya.


Sedangkan beberapa cewek yang melihat kedekatan mereka terlihat geram. "Sok kecakapan banget sih. Arya itu cuma milik gue. Perlu dikasih pelajaran tuh cewek."


"Iya Sas, habisin aja tuh cewek. Dia ga ada apa-apanya dibanding kamu. Beda kelas lah, kamu kan anak pengusaha. Kalu dia palingan bokapnya kuli bangunan, mana bida kalian bersaing. Pasti kalah lah bersaing sama lo." timpal temannya.


" Ya udah yuk ke kelas, gue mau duduk dekat Arya. Gue hari ini mau bikin Arya terpesona sama gue. Gue yakin Arya akan klepek-klepek lihat body gue yang seksi." ucapnya dwngan percaya diri.


Saat sampai di kelas, terlihat Kiara yang masih menyender manja di bahu Arya sambil membaca buku. Sedangkan Arya sendiri tak terganggu dengan itu, malah sesekali tangan arya juga mengusap kepala Kiara dengan sayang.

__ADS_1


Jangan-jangan mereka jadian. Ga. Ini ga boleh dibiarkan. Arya milik gue dan hanya gue yang boleh miliki Arya. Batin cewek yang tadi membuntuti Arya..


"Ar, ada yang pengem gue omongin sama lo. Plis, ikut gue bentar. Masih ada 10 menit sebelum kelas." ucapnya.


Arya melirik Kiara yang ada di sampingnya. Dia sendiri enggan untuk berdiri. "Ya udah ngomong aja di sini. Gue lagi males ke mana-mana." jawab Arya datar.


"Jangan di sini Ar, gue serius. Ini masalah pribadi." ucap nya lagi sambil berusaha meraih tangan Arya namun Arya menepisnya.


"Bicara di sini atau tidak usah sama sekali." tegas Arya. Kiara mulai terusik, dia mengakkan badannya. Dan memandangi wajah cewek yang sejak dulu selalu selalu memusuhinya.


"Gue suka sama lo, dan gue mau lo jadi cowok gue. Dan gue gak suka lo deket-deket sama Arya." ucap wanita itu sambil menunjuk Kiara.


Arya belum menjawab, Kiara malah tersenyum mendengar mendengar ucapan Sasi sambil berteriak.


"Kenapa gue ga boleh deket - deket sama Arya. Dia aja ga nglarang-nglarang gue kok. Iya kan sayang?" tanya Kiara manja sambil menatap Arya.


Arya tersenyum sambil mengacak rambut Kiara. Sasi terlihat geram melihat interaksi mereka.


"Kamu udah dengar kan? Jadi itu artinya gue ga bisa nerima elo jadi cewek gue. Karna hati gue udah ada yang memiliki." jawab Arya tegas.


Ternyata kelas sudah mulai penuh, bahkan pembicaraan mereka terdengar jelas di telinga mereka.


"Huuuuuuuu....!" seru mereka yang berada di kelas.


Brak


Sasi menggebrak meja. Dia tidak terima dengan penolakan Arya. "Apa sih hebatnya dia? Dia itu sama sekali ga berkelas. Elo itu cocoknya sama gue."


"Cukup! Cuma gue yang berhak memutuskan bakalan sama siapa. Ga usah ajarin gue buat nyari cewek berkelas. Karna di mata gue, dia adalah cewek paling berkelas." ucap Arya lagi.


Tepuk tangan menggema di ruangan itu. Sedangkan Sasi dibuat mereka seperti pecundang.


"Beneran kalian jadian? Ah... Seneng banget gue." ucap salah satu teman Kiara.


"Pajak jadian woy jangan lupa!" seru yang lain.


"Ok, besok kita habis kelas siang, gue traktir di rembulan cafe. Gue yang traktir. Kalian boleh makan apa saja." ucap Arya sambil menggenggam tangan Kiara.


Sorak sorai terdengar memenuhi seluruh sudut ruangan. Dan itu membuat Sasi makin panas.


"Ga nyangka ya, kalian yang terlihat kayak musuh bebuyutan bisa sweet gini. Ah... Bikin gue baper deh!"


"Kalau gue sih udah bisa nebak. Mereka aja yang pada gengsi, hahaha.


Kiara menutup mukanya dengan tangan karna merasa malu. Tapi Arya malah sengaja memeluknya untuk menegaskan kepemilikannya.


*****


Setelah dari kampus, sesuai rencana mereka langsung menuju apartemen Arya. Kiara menelisik setiap sudut apartemen Arya. Sedikit lebih luas dari apartemen Kiara.


"Minum apa beb?" tanya Arya sambil membuka kulkas. Kiara yang ditanya tidak segera menjawab, tapi langsung menyusul Arya ke dapur.

__ADS_1


"Apa aja yang penting dingin." jawab Kiara yang sudah berdiri di belakang Arya.


"Jus mangga mau?" tawar Arya, Kiara hanya mengangguk.


"Biar aku sendiri aja yang nuang. Satu gelas berdua aja ya." ucap Kiara.


"Mimum dari sini aja aku mau kok." ucap Arya sambil menunjuk bibir Kiara.


"Ck... Mana bisa? Gelasnya mana?" tanya Kiara. Arya menunjuk pada rak di dekat kitchen set. Kiara pun segera mengambil gelas dan menuang jus mangga hingga penuh. Dia menyodorkan terlebih dahulu ke mulut Arya, baru dia meminum sisanya.


"Katanya minum dari gelas yang sama itu udah kayak ciuman. Tapi kok gak kerasa ya?" celetuk Kiara yang memancing reaksi Arya.


Arya langsung melihat ke arah bibir Kiara yang masih melanjutkan minum. Setelah habis Arya mengambil gelas kosong itu dan meletakkannya di atas meja. Arya menarik Kiara dan mendudukannya di atas pangkuannya.


"Mau ngapain?" tanya Kiara.


"Katanya tadi ga berasa? Sekarang kita lakukan yang bener-bener berasa gimana?" ucap Arya jantung mereka sepertinya sudah tidak bisa dikendalikan.


Arya mengusap bibir Kiara dengan ibu jarinya. Kiara hanya memejamkan matanya.


Arya tak tahan lagi, dia segera meraup bibir merah alami itu dan mereguk manisnya. Kiara tak tinggal diam. Bagaimanapun dia sering menonton drama korea yang adegan kissingnya tanpa sensor, jadi dia bisa langsung berusaha mengimbangi gerakan Arya. Setelah lama saling menyecap rasa, ciuman mereka pun terlepas dengan nafas yang masih memburu. Sejenak saling pandang, sampai akhirnya mereka saling melempar senyum. Kiara mengalungkan tangannya di leher Arya kemudian memeluknya.


"Kamu pernah seperti ini sama mantan kamu?" tanya Kiara yang wajahnya masih menempel di ceruk leher Arya. Arya yang merasakan hembusan nafas di lehernya, membuatnya jadi meremang.


"Kamu yang pertama dan akan menjadi satu-satunya. Kamu janji ya, jangan berikan ini pada yang lain. Kamu cuma milik aku beb." ucap Arya sambil mengeratkan pelukannya. Kiara tersenyum mendengar Arya yang mulai posesif.


"Aku cuma milik kamu dan kamu cuma milik aku. Makanya, buruan halalin Ara." ucap Kiara.


"Kenapa? Udah pengen ngarasin yang lain ya?" tanya Arya menggoda Kiara.


"Eh, enggak maksud aku ga gitu, kalau..." ucap Kiara sambil menegakkan badannya, belum sempat menyelesaikan kalimatnya Arya sudah memotongnya.


"Kenapa malu mengakui. Aku bahkan sekarang rasanya udah mau meledak beb, coba kalau udah halal. Udah sejak tadi kamu kumakan. Cup cup cup." Arya mengecup bibir Kiara berkali-kali.


"Emang kamu suka mesum gitu ya otaknya?" tanya Kiara penasaran.


"Tergantung... jalan sama kamu belum ada 2 minggu aja bawaannya kangen mulu. Pengen nemplok mulu kalo udah ketemu. Dan kalau udah sedekat ini, bohong kalau aku ga pengen yang iya-iya. Tapi itu cuma sama kamu. Aku tuh kayak ngrasa udah nemuin jodoh aku adalah kamu. Aku sudah siap memberikan apapun untuk membahagiakan kamu. Dan cowok itu punya pikiran mesum sama pasangannya itu kan naluriah beb, kalau sama setiap cewek dia mesum berarti ada kelainan dia." jawab Arya panjang lebar.


Kiara tersenyum sambil mencubit pipi Arya gemes. Pasalnya pria ini dulu dia kenal cowok cool yang jarang ngomong, dan sekarang di depannya ternyata dia bisa ngomong sepanjang itu.


"Gemes deh.... Janji ya, sikap kamu bakalan kayak gini terus cuma sama aku. Kamu hanya boleh jadi tempat aku bermanja-manja. Ya?" ucap Kiara kemudian.


"Kamu juga ya, jaga hati kamu. Love you beb..." jawab Arya.


Semenjak mereka saling mengungkapkan rasa dan membangun komitmen, Arya lebih sering mengungkapkan cintanya, Arya lebih protek meskipun tidak mengekang Kiara, karena Arya ingin tetap semua berada di tempatnya. Mereka masih muda dan masih perlu banyak berinteraksi dengan orang lain. Hanya saja mereka sendiri yang membentengi hati agar setia dengan pasangan masing-masing dan tidak memberi celah pada siapa pun yang mencoba mencari celah dalam hubungan mereka.


Kiara selalu suka mendengar ungkapan cinta pujaan hatinya ini. Tidak sia-sia semua usahanya untuk meluluhkan hati Arya. Padahal Kiara hampir menyerah karena Aryqbtidak pernah meliriknya. Namun siapa sangka pria itu justru menyimpan cinta yang besar untuknya. Untung Kiara bukan tipe wanita penggoda, kalau dulu dia mendekati Arya dengan cara murahan pasti sekarang Arya malah akan illfeel padanya.


TBC...


Mohon dukungannya ya semua...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkkan komentar, vote, like


Makasih❤️❤️


__ADS_2