Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 21. Gara-gara Kaos


__ADS_3

Tok tok tok...


"Tuan... Tuan Aditama sudah datang, saya buka pintunya ya..." tanpa menunggu jawaban pak Endra langsung membuka pintu kamar Abimana dan mempersilakan kakak dari tuannya itu untuk masuk.


"Ikutlah ke dalam dan kunci pintunya." perintah Tuan Aditama.


Teihat dari tadi Abimana berada di dekat jendela memandang ke arah luar dengan tatapan kosong, bahkan kedatangan dua orang ini tak membuatnya bergeming.


"Apa kau akan seperti itu terus sepanjang waktu?" tanya Aditama dengan nada sinis. Sepertinya Abimana tak akan mempan lagi diberikan motivasi dengan cara lembut.


"Pak Endra... Pergunakan mata dan telingamu lebih baik lagi. Perkiraanku, di rumah ini ada mata-mata." ucap Aditama lagi, kali ini dia berbicara bengan pak Endra, namun tak memutus pandangannya dari Abimana. Terlihat ada sedikit reaksi, matanya mengerjab. Aditama tersenyum tipis, tampak nya pancingannya sedikit berhasil.


" Baik Tuan... Saya akan menyelidiki. Maaf, saya kurang peka." ucapnya sedilit menyesali kecerobohannya.


"Kalau perlu tambah beberapa microchip atau cctv mini atau apalah untuk memantau gerak gerik mereka secara detail. "


"Baik Tuan."


"Satu lagi, awasi makanan yang akan di sajikan untuk tuanmu. Apakah selama di sini pernah melakukan check up keseluruhan?" yang di tanya pak Endra tapi yang dilirik Abimana.


"Maaf Tuan, Tuan Abimana menolak untuk diperiksa, beliau tidak berkenan untuk keluar kamar."


"Kalau begitu hubungi dokte Arif, bilang kita akan ke sana. Minta untuk mempersiapkan semuanya. Usahakan kepergian kita nanti tidak ada yang tau."


"Baik Tuan. Ada lagi?"


"Sudah kamu boleh pergi, segera persiapkan semua. Jika sudah, suruh pengawal untuk menjemput kami."


Aditama sudah tau kinerja orang-orang di mansion ini, pengawal sengaja dia yang pilihkan untuk menjamin keselamatan adik satu-satunya.


"Baik Tuan, permisi."


Aditama segera mengunci kembali pintu setelah pak Endra keluar.


"Apa kamu ingin jadi pengecut seumur hidupmu dan lari dari tanggung jawab sebagai seorang suami dan ayah?"


Aditama mulai memprovokasi.


"Bisa saja di luar sana mereka hidup menderita sementara kamu... Sibuk meratapi nasib! Apakah kamu sudah menyerah Abimana?" suara Aditama meninggi.


Deg... Sepertinya saat ini darah Abimana kembali mengalir setelah sebelumnya membeku. Air matanya lolos...


Ya... Bagaimana keadaan mereka... Ya Allah ampuni hambamu yang terlalu banyak mengeluh dan menyalahkan takdir, batin Abimana.


Abimana masih belum mengeluarkan suaranya.


"Sudah cukup kamu menghukum diri sendiri, carilah anak istrimu dengan benar. Berhentilan mengandalkan orang-orang bodohmu itu. Setelah bertemu, biarkan mereka sendiri yang menentukan hukuman yang pantas untukmu."


Abimana menoleh dan perlahan menggerakkan kursi rodanya menuju Aditama.


" Bawa aku ke dokter mas, aku ingin sembuh. " ucap Abimana lirih sambil terisak.


Aditama menyambut adiknya dengan pelukan dan ikut meneteskan air mata.


" Ya... Kau haru segera sembuh. Selama ini kamu sibuk memikirkan nasibmu sampai kau tidak tau bahwa kamu sudah di bodohi. "


" Apa maksud Mas Adi?"


Aditama hanya menghela nafas panjang


"Nanti kita bahas lagi, sekarang kita bersiap dulu."


******

__ADS_1


"Abang... Aku ga pede..." Kia menilik penampilannya sendiri di depan cermin.


"Kenapa hemm?" Revan mendekati Kia.


"Ga papa emang, Kia pake gini aja? Maksudnya pake celana panjang sama kaos panjang. Ga harus pake dress kan?"


Kia dari habis subuh memang sudah heboh sendiri, mematut dirinya di cermin, tadi sudah menggunakan dress yang dibelikan Revan lemarin tapi merasa risih karena lengan pendek dan belahandadanya agak terlihat.


"Ya ga papa, udah cantik gini kok. Abang suka adek yang apa adanya. Jadilah diri kamu sendiri."


"Maaf, Kia cuma takut bikin malu abang." ucap Kia lirih.


"Enggak sweet heart... Yang penting kamu percaya diri, jadikan gayamu itu adalah identitasmu, ciri khasmu jangan biarkan orang berlaku sesukanya, berjalanlah dengan percaya diri. Genggam tangan abang jika jalan sama abang. Kamu tau, hanya dengan begitu saja abang itu ngrasa dimiliki, ngrasa adek itu membutuhkan abang. Dan abang bahagia diperlakukan seperti itu. " Revan mencoba mengungkapkan keinginannya." Hanya saja... abang kok jadi ngrasa tua deh dek pake hem kek gini, tar dulu deh abang ganti kaos biar sama kek adek. "


Kia terkekeh geli mendengar Revan yang tidak percaya diri.


Gimana bisa sih orang yang gantengnya paripurna gini bisa ga percaya diri, ucapnya dalam hati


Kia mengekori Revan ke kamarnya...


Revan membuka lemarinya, disana banyak deretan kaos, kemeja, celana, ada 3 jas tergantung di sana. Selebihnya celana trining dan kolor serta dalaman.


"Adek deh yang pilih, biar samaan warnanya." Revan memberi ide.


"Oke, berasa jadi istri beneran deh."


"Kan latihan sayang..."


Pipi Kia selalu bersemu setiap kali mendengar panggilan sayang dari Revan dan jantungnya... Jangan tanyakan lagi bagai mana rasanya seperti mau rontok.


Padahal dulu Andre juga sering memanggilnya sayang, tapi rasanya berbeda.


"Abaaanngg... Lama-lama Kia bisa dikerubutin semut lho." ucap kia manja sambil menyerahkan kaos pilihannya sambil berdiri di depan Revan yang menunggunya sambil duduk di ranjang. Revan pun segera melepas hemnya, reflek Kia pun berbalik.


"Hey, kenapa berbalik? Mana kaosnya mau abang pake." revan berdiri dengan masih bertel*nj*ng dada dan bukannya meraih kaosnya malah tangan Revan meraih pinggang gadisnya dan membalikkan tubuhnya. Kia reflek memejamkan matanya.


"Abang cepetan pake kaosnya, Kia malu. Kia keluar aja deh." Kia ingin melangkah keluar tapi Revan menariknya hingga jatuh ke pelukan Revan. Saat ini pipi Kia bahkan menyentuh langsung dada bidang Revan, dia hanya memejamkan mata menghirup wangi abang gantengnya ini.


" Jangan kek gini Bang... "


" Kenapa, kamu ga suka?" suara Revan terdengar serak


"Kaki Kia lemes rasanya."


Perlahan Revan menuntun pelan dengan langkah mundur lalu duduk di sisi ranjang dan menarik Kia untuk duduk di p*h*nya.


"Kalo kek gini? Masih lemes?"


Astaga, pertanyaan macam apa itu.


Kia tidak menjawab tapi malah menenggelamkan kepalanya di ceruk leher revan. Lalu menggelang kecil. Dia tak mau Revan melihat wajahnya yang memanas saat ini.


"Ternyata bener ya, bahaya berduaan di dalam kamar. Kamu ga takut abang kilaf dek?"


Kia menegakkan badannya, mematap Revan sejenak lalu berdiri dan mengambil kaos.


"Adek percaya, abang pasti jagain Kia." Jawab Kia sambil memakaikan Revan kaos. Setelah terpakai sempurna, Kia menyisir rambut Revan dengan tangan.


Gara-gara kaos ini mah, ini jantung udah tercecer dimana-mana deh kayaknya.


Sejenak mereka saling bertatapan.


"Jangan tinggalin abang ya dek..."

__ADS_1


"Harusnya adek yang ngomong gitu sama abang."


"Kita akan selalu sama-sama. Ya udah keluar yuk, teh nya keburu dingin belum diminum."


Kia hanya mengangguk lalu meraih jari Revan dan melangkah keluar.


Ah, gadis ku memang patuh... Tetaplah seperti ini sayang... Batin Revan dengan senyum mengembang.


Kia meraih tasnya lalu merogoh ponselnya.


" Sampai lupa, hape aku matiin dari sore pas masuk kerja."


"Sini... Abang nyalain." modus Revan yang sebenarnya ingin tahu kira-kira Kia berhubungan dengan siapa saja.


Merasa tidak ada yang perlu disembunyikan, Kia menyerahkannya pada Revan.


"Abang pengen pake ponsel kembaran sama adek, ini ponselnya juga udah jadul banget. Nanti pulangnya mampir cari ya. Kebetulan abang juga belum beli handphone yang baru. Sebenarnya yang ini khusus untuk keperluan selama bekerja, kalau yang dijambret kemarin itu nomor pribadi. " Revan menjelaskan panjang agar Kia langsung mengerti maksudnya.


" Ini hape perjuangan lho bang... Gara gara ada daring terpakasa beli hape. Kalo ga boro-boro. Bisa sekolah aja adek seneng. " Kia jadi terkenang perjuangannya untuk membeli hape yang dibilang jadul itu.


"Sekarang ada abang, kamu bisa minta abang beliin apa saja. Uang abang juga uang kamu."


"Jangan gitu bang, kita belum nikah lho. Kia tuh kesannya jadi matre kalo kek gitu."


Baru mau menjawab, terdengar banyak notifilasi dari ponsel Kia yang baru saja dihidupkan. Revan segera membuka aplikasi hijau, paling banyak notifikasi dari andre ratusan pesan yang sepertinya tidak pernah dibuka, juga puluhan panggilan tak terjawab. Beberapa dari bu Mala. Ada juga dari grup kelas, Rita dan... Denis.


"Boleh abang buka dek?" Revan tidak mau Kia merasa privasinya terganggu


"Buka aja bang, ga ada rahasia kok. Ada pesan dari grup kelas atau Denis ga bang?"


"Denis siapa dek?" tanya Revan yang sebenarnya saat ini sedang mensecrol pesan dari denis, sedikit tidak rela dia memanggil gadisnya ini dengan sebutan Beb...


"Temen sekolah bang, dia itu ketua kelas, dia juga yang sering aku repotin buat nyampein ke ibu kalo kia di sini baik-baik saja. Kalo disekolah sering belain kalo Kia dibuly." sengaja Kia menjelaskan agar revan tak merasa curiga.


"Terus kenapa panggil dengan beb?"


"Itu dulu sebenernya dia isengin Kia doang, tapi malah keterusan. Jangan marah bang, dia itu udah dijodohin sedari kecil. Lagian Kia juga ga ada rasa sama dia. Kalau Kia sama dia ada rasa ngapain Kia nerima lamaran mas Andre waktu itu."


"Kalo sama si Andre itu berarti kamu ada rasa."


"Eemmm gimana ya jelasinnya, kalau dibilang cinta sih kayaknya belum. Tapi namanya juga calon istri ya Kia kan sedapat mungkin menumbuhkan rasa untuk menerima pasangan kita. Ya... mungkin kalo sayang udah mungkin."


Revan berusaha mungkin untuk tidak bersikap posesif dan mengekang kebebasan Kia, dia menyadari usia Kia yang baru beranjak dewasa masih memerlukan waktu intuk berinteraksi dengan orang banyak, agar lebih mengenal dunia.


Revan bukannya marah malah terkekeh, " kok mungkin sih, ga ada jawaban pasti gitu? "


" Habisnya Kia cepet banget move on. Dan sekarang sama sekali ga ada beban, apalagi Kia sudah menemukan seseorang yang aku panggil abang." sejenak Kia menerawang sambil tersenyum membuat Revan jadi gemas melihatnya.


" Ga mau ngenalin sama bunda nih? " tadi sempat baca chatnya dengan denis yang menyebut ibunya dengan sebutan bunda.


" Bunda ga da hape. Mau nelpon tetangga biar terhubung sama ibu ga enak, soalnya masalah mas andre nikah diam-diam dengan vera itu belum sampai disana kabarnya. "


" Ok, kalau gitu kenalin abang sama sahabat kamu aja, nih baca dulu pesannya ada pengumuman dari sekolah kayaknya." Revan menyodorkan ponsel Kia yang telah memperlihatkan pesan denis yang sudah terbuka.


" Dia pasti heboh nih, kalo tau Kia udah nemuin orang yang Kia panggil Abang."


Revan mengernyitkan dahinya belum tau maksud Kia.


TBC


Makasih yang sudah dukung novel ini


Semoga sehat selalu

__ADS_1


Yang baru gabung mohon dukungannya dengan klik👍dan❤️


Makasih❤️❤️


__ADS_2