
Seperti biasanya, setiap sabtu minggu kafe ramai pengunjung, bahkan ruangan VIP saja sudah full booked dari hari kamis. Baru 4 hari bekerja, tapi Kia sudah menguasai pekerjaannya. Bagian yang paling dia sukai saat mebantu koki, mengambilkan ini itu. Dari situ dia mulai tau cara membuat makanan yang saat ini lagi hits. Tapi yang paling dia kurang percaya diri adalah saat membantu melayani pengunjung.
Dia selalu menilai orang-orang, bagaimana penampilan mereka lalu membandingkan dengan penampilannya sendiri. Bagai langit dan bumi, itulah yang membuatnya tidak percaya diri. Padahal daripada saat dia pertama datang ke kota, saat ini dia jauh lebih terlihat bersinar. Padahal belum ada seminggu, tinggal disentuh dengan make up, dia bisa saja terlihat seperti bidadari.
"Gaes... Malam ini sepertinya mata kita akan dimanjakan lagi oleh cowok-cowok ganteng." Ucap salah satu di antara pegawai.
"Noh di depan Sekarang udah datang pak bos keceh kita. Biasanya kalau ada mereka pasti akan akan ada perkumpulan antar sahabat." sambung yang lain.
Zaskia yang memang orang baru hanya menyimak tanpa berkomentar.
Nampaknya pengunjung semakin malam akan semakin ramai. Apalagi malam minggu.
Semangat Zaskia selalu membara apalagi setelah mendapat panggilan video dari babaang gantengnya. Keinginan dalam dirinya untuk mengubah takdir hidupnya sangatlah kuat, sehingga pekerjaan yang berat pun tak dia rasakan. Semua dijalaninya dengan senang hati.
Kasak-kusuk tentang bos dan teman-temannya makin melebar. Dia cukup merasa terhibur melihat teman-temannya yang begitu antusias dan masih penasaran dengan wajah bos mereka yang satu.
"Aku tuh masih penasaran deh sama yang namanya Bos Revan, kalau ke sini pasti pakai topi dan masker."
Deg, ah... Nama revan kok ada di mana-mana sih, batin Kia.
"Meskipun ga kelihatan mukanya, tapi aku yakin dia itu gantengnya na'udzubillah... Yakin!" ucap yang lain menanggapi.
Saat ini posisi mereka ada di belakang sambil bekerja. Ada yang membuat minum, menyiapkan aneka makanan, membereskan piring, menyiapkan alat-alat makan.
"tenang saja gaes... Nanti kalau cogan-cogan itu sudah datang tak kasih tau biar bisa ngintip satu satu, hahah..." kali ini mbak Rita baru dari luar membawa buku pesanan.
"Ini pesenan meja no 23, tolong disiapkan trs ada yang bisa gantiin nganter ga, aku kebelet banget. Sakit perut aku dari tadi nahan. Plis ya plis..." tanpa ada yang menjawab mbak Rita ngacir ke belakang.
"Kamu aja Kia, pede aja. Kamu malam ini cantik lho. Kamu harus percaya diri beb." ucap salah satu menyemangati Kia.
"Iya deh mbak. Kasih tau kalau udah siap." jawab Kia yang dijawab dengan acungan jempol.
"Eh, itu bos Roni kayaknya mau ke sini deh. Tumben-tumbenan?"
"Jangan-jangan ada complain dari pelanggan, mampus!"
"Siap-siap kena omel kita."
"Emang si bos suka ngomel ya?" tanya Kia kepo.
"Ga sih... Dia itu suami idaman, udah ganteng ramah pinter baik..." bel selesai ngomong tapi sudah dipotong yang lain.
"Tapi sayang udah punya bini... Hahahaha." semua ikut tertawa.
"Kalau bos Revan blm pernah ada yang tau, bahkan Alex yang sering membawakan minum dan mekanan ke ruangannya pun tak pernah melihat wajahmya. "
"Halo semua... Masih semangat kan?" kata Pak Roni menyapa. Kalau dilihat dari auranya sepertinya tidak ada aura kemarahan.
"Kia..."
Deg
"Ya pak, ada yang bisa saya bantu?"
"Kamu kenapa tegang gitu?"
"Ah... Eh... I.. Itu. Emmm saya ga akan dipecat kan Pak?"
Hah... Roni seketika melongo
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"
"Bapak tiba-tiba panggil saya, saya pikir saya bikin kesalahan."
Roni hanya terkekeh, tak menyangka Kia jadi selucu ini karna gugup. Mudah - mudahan Revan tidak berulah, pikirnya.
"Aku mau minta kamu bikinkan kopi dengan gelas khusus Pak Revan dan nanti kalau sudah jadi kamu antarkan ke ruangannya yang ada di pojok sana, ok!"
Hening, Kia hanya memgiyakan. Semua tampak memandang Kia heran.
"Tapi tadi saya mau mengantar pesanan pak."
"Biarkan yang lain saja. Ok, kalau gitu saya permisi. Semangat ya gaes!"
Pak Roni segera pergi meninggalkan dapur.
"Al... Tolong antarkan pesanan meja 23. Sambil menunggu pesananmu jadi." ucap salah satu pegawai yang sedang menyiapkan makanan.
__ADS_1
"Ok, siap." jawab Alex
"Kia... Kamu beruntung banget sih."
Kia hanya nyegir, padahal dalam hati dia ketar-ketir. Mungkin saat ini dia sedang diuji, pikirnya.
"Alat - alat pak bos ada di mana?"
"Loker pojok atas, itu khusus peralatan makan pak bos Revan."
Setelah menemukan yang dia cari Kia dengan cekatan meracik kopi hitam, pesanan bos besar mereka.
"Ini pake makanan ga sih biasanya."
"Ga usah, di ruangannya ada kulkas mini untuk menyimpan makanan. Di dalamnya sudah komplit. Kecuali pak bos yang pesen."
"Oh... Ok. Kalau gitu doakan Kia ya temen-temen... Biar lulus bikin kopinya dan tidak mengecewakan."
"Ok, semangat pokoknya." sahut teman-temannya.
Dengan mengumpulkan keberanian dan kepercayaan diri, Kia berjalan melewati ruangan pengunjung yang ternyata ramai sekali, namun Kia mencoba untuk tetap fokus menuju ruangan yang di maksud.
"Sepertinya yang itu, ruangan pojok dinding kaca gelap." gumamnya
Tok tok tok..
"Permisi Pak, saya membawa pesanan Bapak." lama tidak di jawab. "Saya masuk ya Pak." dengan langkah pelan dan juga sedikit gemetar Kia masuk dan meletakkan Kopi tersebut di atas meja. Namun baru saja dia akan berbalik tiba-tiba ada yang menutup matanya.
"Aaaaa... Kamu siapa jangan macam-macam ya...!"
"Ssstttt... Ini Abang."
Deg deg deg...
"Ya Allah, kenapa suara abang ada di sini sih?" gumam Kia lirih tapi masih bisa di dengar oleh penghuni lain di ruangan itu dengan mata masih terpejam, padahal tangan yang tadi menutup matanya sudah terlepas.
"Dek..."
"Tuh kan ada lagi" kali ini Kia memukul-mukul kepalanya sendiri mencoba mengembalikan kesadaran, barang kali saat ini dia sedang bermimpi.
Revan membalikkan badan Kia.
Perlahan Kia membuka matanya. Dia melotot sambil membekap mulut dengan tangannya.
"Aku sampai berhalusinasi gini ya Allah... Apa aku sudah gila karna kangen sama abang, sampai aku melihat ada abang di sini?" ucap Kia lirih sambil mengerjapkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sungguh ekspresi yang lucu menurut melihat bulu matanya yang lentik ikut bergerak-gerak seirama dengan matanya yang merem melek.
" Kamu ga kangen abang? "
Kia masih mematung, perlahan dia menaikkan tangannya dan menyentuh wajah Revan. Menyusuri kedua alisnya dengan ibu jarinya, perlahan turun ke kedua pipinya, lalu hidungnya yang mancung, terakhir bibir seksi Revan.
Revan yang mendapat sentuhan seperti itu hanya memejamkan mata sambil menikmatinya. Sesaat kemudian dia menarik pinggang Kia lelu memeluknya. Perlahan dia membimbingnya menuju sofa.
Bahkan Zaskia saat ini masih larut dalam dunianya.
"Ya Allah, seandainya ini hanya mimpi, maka jangan bangunkan aku dulu Ya Allaah...."
"Jadi kamu masih berpikir ini mimpi atau halusinasi hmmm?" ucap Revan tak kalah lirih. Jarak yang sangat dekat membuat Kia bisa mencium nafas Revan dan menghirup wangi tubuh Revan. Bahkan posisinya saat ini sudah duduk di pangkuan Revan.
Kia mencoba mengumpulkan kewarasannya.
"Emang ini beneren abang? Kia ga mimpi?"
Revan hanya mengangguk.
"Abang... Kia kangen." ucap Kia stengah berteriak lalu memeluk Revan dengan erat.
Revan membalas pelukan gadis itu sambil melayangkan kecupan hangat di pucuk kepalanya.
"Abang pikir hanya abang yang kangen, soalnya kamu ga pernah mau kasih alamat kamu kerja."
Kia mengangkat wajahnya dan mendongak, mencoba melepaskan pelukannya namun ditahan oleh Revan.
"Biarkan seperti ini dulu, abang masih kangen."
"Kia malu bang, makanya Kia belum kasih alamat kerja Kia."
__ADS_1
"Malu kenapa?"
"Ya karna semuanya, malu karna aku ditinggalin nikah, malu sama nasib aku. Apa aku terlihat jelek banget ya bang?"
Revan mengurai pelukannya, kedua tangannya beralih ke dagu Kia, memandangnya lekat-lekat.
"Siapa bilang kamu jelek? Bahkan sampai abang jadi kacau berhari-hari karna kangen sama wajah cantik kamu."
"Masa sih bang, terus dari mana abang tau kalo Kia kerja di sini, ah... Pasti pak Roni yang memberikan laporan."
"No, bukan dia tapi kamu."
"Ha kapan?" Kia masih belum menyadari posisi duduknya
"Tadi pas kita vodeo call."
"Masa sih, Kia ga ngomong apa-apa perasaan."
"Iya, kamu ga ngomong, tapi abang hafal seragam yang ku pakai."
Kia melirik seragam yang dia pakai.
"Ah, iya bener. Jadi benar abang ini bos besar yang teman-teman Kia bilang tidak pernah memperlihatkan wajahnya?"
"Ck, lebay sih itu." sesaat dia memandang wajah kia. "Nih sekarang aku berhadapan dengan karyawanku."
"Iiihhh... Serius abang... Jadi kenapa abang ga mau menyapa pagawai di sini. Nanti dikira sombong lho."
"Jangan gerak-gerak dek... Bahaya. Kalau abang kilaf gimana."
Kia belum mengerti arah ucapan Revan. Kemudian dia mengamati dirinya sendiri.
"Astaga... Maaf bang, aku beneran ga sadar. Maaf ya bang."
Muka Kia sudah merah padam menahan malu, bahkan sekarang dia juga menyadari kalau tadi dia sudah lancang meraba wajahnya. Seketika Kia berusaha menegakkan tubuhnya hemdak berdiri. Namun revan masih menahannya.
" Di sini dulu, kan abang bilang masih kangen."
"Tapi jangan kayak gini, ga enak nanti kalau ada yang lihat. Nanti dikiranya adek ngrayu bosnya."
"Gak ada yang akan berani. Ya udah duduk sini, jangan jauh-jauh."
Revan mengarahkan Kia untuk duduk di sampingnya, merangkul pundaknya kemudian menekan kepala Kia agar bersandar di dadanya. Kia hanya bisa pasrah.
"Petanyaan Kia tadi belum dijawab lho mgomong-ngomong."
Revan tertawa, dekat dengan gadis ini sepertinya sangat mudah untuk membuatnya tertawa.
"Ga ada niat sih untuk sombong atau sok apalah... Hanya sebenernya abang menghindari berinteraksi dengan perempuan?"
"Memangnya kenapa dengan perempuan? Adek juga perempuan lho kalau abang lupa!"
"Iya, maka dari itu abang juga heran waktu pertama berinterkasi sama kamu waktu di rumah sakit, abang ga ngerasain mual-mual kayak yang biasa abang rasain malah pas ada suster itu aku mulai mual tapi setelah peluk adek mualnya ilang kan? Sepertinya memang bener kata adek, Tuhan itu mengirim adek untuk jadi obat abang. " kata Revan panjang diakhiri dengan mengeratkan dekapannya.
" Ah, Kia jadi pengen dengerin cerita abang kenapa sampai bisa kaya gitu... Tapi... Kayaknya Kia udah kelamaan lho bang di sini. Lagi repot banget di belakang, tuh liat... Makin ramai kan? "
" Yah... Padahal masih kangen lho abang."
"Kan abang masih bisa ke sini lagi sewaktu-waktu. Eh, btw meja itu biasanya jadi meja favorit tapi kok masih kosong ya."
"Tadi abang habis ngecek cctv ternyata itu meja sering dipake mesum."
"Hah, mesum gimana sih? Gimana bisa orang mesum di tempat ramai. Abang nih ada-ada aja."
"Ya udah sana kalau mau balik ke belakang."
"Nanti pulangnya sama abang, ga ada penolakan. Pamit sekalian sama temen kamu itu. Ok!"
Kia hanya menghela nafas berat, hanya mengangguk meski belum tahu maksud kata-katanya. Namun dia percaya kalau Revan orang baik.
Belum sempat dia bediri, pintu terbuka. Muncullah sosok Roni yang menatap sahabatnya itu penuh keheranan. Pasalnya saat ini posisi duduk mereka menempel tanpa jarak. Tangan Revan mengelus pucuk kepala Kia. Kia yang terkejut jadi gelagapan, dia hanya pasrah sambil menunduk sembari meremas ujung kaos yang dipakai Revan.
"Kamu apain Kia, Van?"
TBC...
Jeng jeng... Gimana pertemuan mereka? Semoga berkesan
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya pemirsah biar othornya juga semangat nulisnya.
Makasih❤️❤️