Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 109. NGIDAM


__ADS_3

"Rasanya hamil gimana sih Bu?" saat ini Zaskia sedang berbaring di sofa bed di mansion Abimana. Tangannya tak berhenti mengelus perut bundanya yang sebentar lagi akan memasuki usia kehamilan 4 bulan. Rencananya minggu depan akan diadakan acara pengajian saat 4 bulanan.


"Suamimu belum izinin kamu hamil?" bukannya menjawab, Laras malah balik bertanya.


"Iya, katanya kasihan Kia. Padahal kan Kia udah dewasa. Memang kenapa dikasihani sih?" Zaskia seperti mengadu pada bundanya. Padahal Revan juga berada di situ, hanya saja dia sedang asyik melihat bola bersama ayah mertuanya.


Revan yang mendengar celotehan istrinya malah jadi gemas. Tiba-tiba Revan menggigit jempol kaki Zaskia.


"By... Jangan ikut campur ya, ini masalah wanita. Lihat tivi aja sono sama ayah." Zaskia yang cemberut malah membuat Revan semakin gemas.


"Anaknya cantik amat Bun? Boleh diculik, masukin kamar ga?" canda Revan sambil terkekeh.


"Goooolllll." teriak Abimana.


"Yah... Ga lihat proses golnya kan tadi?" Revan pura-pura kecewa.


Zaskia dan laras cekikikan melihat kelakuan Revan. Setelah sebulan menikah Zaskia mendapatkan tamu bulannya, Revan memang memutuskan untuk menunda dulu kehamilan istrinya. Alasannya karena Revan ingin memberikan waktu untuk istrinya agar puas berkarya, bersosialisasi, bersenang-senang dengan teman-temannya.


Sebenarnya Zaskia tidak mau menundanya, namun Revan berusaha membujuknya. Paling tidak Zaskia umur 20 tahun baru program. Karena Zaskia tidak mau melakukan kb, akhirnya mereka memutuskan untuk kb kalender. Kalau sudah berusaha tapi gagal, ya itu namanya rezeki.


"Yang, keluar yuk. Nasi goreng di depan kompleks itu katanya enak lho." Selama menjadi menantu Abimana, Revan cenderung mengakrabkan diri dengan pegawai di sana, termasuk satpam dan sopir. Dari situlah Revan dan Zaskia disukai oleh semua orang di sana. Sedangkan dengan pegawai perempuan, Revan memang jarang berinteraksi. Tentunya mereka juga memaklumi. Bukan karena mereka tahu kalau Revan mempunyai kelainan, tapi kesibukan Revan yang membuat pasangan itu tidak bisa berlama-lama di kediaman Abimana.


"Abang tahu dari mana? Kia aja ga tahu lho By. Hayo pernah jajan sama siapa?" tanya Zaskia pura-pura cemburu.


"Pak Toni satpam yang ada di depan, dia yang langganan. Enak katanya. Cobain yuk!" Revan yang tahu istrinya mencandainya pun, tak dia tanggapi, namun tetap menjawab pertanyaan istrinya.


"Bunda mau? Atau pengen sesuatu? Nanti Kia beliin buat Bunda dan dede." Zaskia sangat antusias kalau mengenai adiknya.


"Martabak campur aja Ki, kayaknya enak." Bunda sampai menyeruput liurnya sendiri saat membayangkan makan martabak itu.


"Lho kok ga bilang sama ayah, Bun? Ayah nunggu-nunggu ngidamnya Bunda lho padahal." Abimana merasa bersalah karena tidak tahu kalau istrinya menginginkan sesuatu.


"Bunda kepenginnya juga karena ditawari Yah. Tiba-tiba aja pengin itu."


"Ya udah lah Yah, masak sama anak cemburu. Udah tua juga." ledek Revan pada Abimana.


"Siapa yang sudah tua? Enak aja. Ayah masih tokcer ya, tuh buktinya." ucao Abimana menunjuk perut Laras demgan dagunya. Kedua pria beda generasi itu memang sudah hilang wibawanya kalau sudah bercengkerama berdua.

__ADS_1


"Ck, Jangan lupa Ayah udah mau dipanggil Kakek, kalau ayah lupa." Revan tak menyerah membuat kesal mertuanya.


"Van...!" seru Abimana sambil melempar bantal sofa.


"Lah, bener kan Yah? Memang maunya dipanggil apa coba? Bagi duit yah, Revan belum gajian." Revan menodongkan tangannya di hadapan Abimana.


"Ck, miskin!" ujar Abimana. Mengeluarkan dompetnya. Ternyata di dalam dompetnya hanya ada 1 lembar 100ribuan dan 1 lembar 50ribuan.


Sontak mereka menertawakan Abimana. Sepertinya kebiasaan mereka sama, jarang mengecek isi dompet. Apalagi sejak Laras tinggal bersama Abimana lagi semua kartu dan buku tabungan dia serahkan semua pada istrinya. Meskipun awalnya Laras menolak, namun karena Abimana menjelaskan bahwa ini demi keamanan aset mereka, lebih baik Laras yang pegang, karena setah Roy tertangkap, ada yang sedang mengincar harta dan perusahannya.


"Hahaha... Ngatain orang miskin, sendirinya yang miskin. Bun... Harta Ayah udah Bunda pegang kan? Kalau macam-macam tinggalin aja Bun." ledek Revan.


"Bunda ambilin sebentar ya. Kia pasti lupa lagi ya ga bawa cash?" Bunda benar-benar akan beranjak, Zaskia pun mencegahnya.


"Eh, enggak kok Bun. Abang tuh yang usil. Nih kalau ga percaya!" Zaskia membuka tas selempang mininya dan memgeluarkan dompet lalu ditunjukkannya pada Bundanya. Terlihat beberapa lembar uang merah berada di sana.


Revan masih saja terkekeh melihat mertuanya bengong.


"Usil banget sih By. Ayo ah berangkat keburu malem nanti."


Sepeninggal anak dan menantunya, Abimana mendekati istrinya dan merebahkan diri di pangkuan sang istri, berbaring miring dan mengusap lembut perut istrinya.


"Dede pengen martabak ya? Sabar ya, lagi dibeliin sama kakak kamu." Abimana menciumi perut Laras bertualang kali. "Dia ga rewel kan yang?"


"Enggak Yah, Laras mabok juga cuma bentar kan. Habis tahu kalau Laras hamil, baru kerasa mual-mualnya."


Laras mengusap surai hitam milik suaminya dengan sayang. Semenjak hamil Laras memang tidak mengalami gejala yang berarti, yang membuatnya kuwalahan. Hanya saja dia jadi ingin selalu dekat suaminya, dimanja, dan disayang-sayang. Dia tidak mengatakan pada suaminya, karena suaminya itu sejak berkumpul lagi dengan laras, dia memang sangat memanjakan Laras. Bahkan hanya karena Pak Endra memberitahukannya kalau Laras tersayat pisau saat mengupas bawang saja, Abimana sampai rela membatalkan meetingnya waktu itu.


"Kalau ada yamg mengganjal atau Bunda pengin sesuatu jangan ragu untuk mengatakan ya." Abimana menegakkan badannya dan duduk di sebelah Laras.


"Laras... Sebenarnya Laras pengen i... itu Yah. Laras pengen..."


"Katakan sayang, Mas ingin segera mencarikannya." Abimana sangat antusias karena Laras menginginkan sesuatu.


"I... Itu ga bisa dibeli."


Abimana mengerutkan keningnya. Apa yang tidak bisa dia beli? Sebenarnya istrinya menginginkan apa?

__ADS_1


Perlahan Laras memandang Abimana dengan tatapan yang entah apa maksudnya. Tak lama dia berdiri.


"Ayo, Laras kasih tahu di kamar." Abimana tanpa protes menurut saja Laras menggandengnya menuju kamar.


Ceklek


Laras mengunci kamarnya dan tiba-tiba memeluk suaminya, dengan tangan kanan yang langsung menyelusup ke dalam celana suaminya.


"Se... Sebenarnya sejak tadi Laras pengin ini Mas."


"Eemmmm yang.... Aahhhhh. Kenapa ga bilang dari tadi hemmm?"


"Ga enak, ada anak-anak. Ayah juga lagi asyik liat tivi. Ayo Yah." Dengan tak sabaran Laras memelorotkan celana training yang dipake suaminya.


"Dede kangen sama Ayah ya.... Nanti ayah jenguknya lama ya. Biar terobati kangennya."


Dengan gemas Abimana membopong tubuh istrinya dan membaringkan dibatas ranjang dengan pelan. Tanpa babibu, Abimana segera mencumbui istrinya dan memuntaskan tugasnya sebagia seorang ayah dan suami yang baik.


Sementara itu Revan dan Zaskia sedang menunggu pasanan mereka dengan duduk di lesehan. Sengaja memilih tempat di pojokan agar lebih leluasa berpacaran, kata Revan.


Ternyata dari saat Revan dan Zaskia masuk, ada sepasang manusia sedang memperhatikan mereka.


"Zaskia...." ucap mereka bersamaan dengan suara lirih.


Sesaat mereka saling berpandangan.


"Kamu kenal juga?" tanya mereka bersamaan juga.


TBC


Haloha.... Maaf ya gaes baru bisa mengudara lagi....


Semoga kalian masih sabar menanti. Soalnya memang agak slow, karena di luar kehidupan author ada something yang musti dikerjakan. Jadi author nulisnya ga bisa kejar tayang


Terima kasih atas dukungannya


Love You all ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2