
Saat ini mama Rena mengajak Zaskia ke kamarnya. Sambil berjalan Kia mengamati semua sudut ruangan. Kamar yang sangat luas, ada sofa, meja rias, tv yang berukuran cukup besar menempel di dinding, ranjang yang berukuran king size, cat ruangan yang berwarna soft blue, dan sepertinya ada ruangan lain di kamar itu. Mama menuntun calon menantunya itu lebih dalam dan membuka ruangan yang ada di dalam kamar tersebut. Ternyata ruangan walk-in closet, mereka lalu duduk di sofa panjang yang ada di pojok Ruangan.
Kia masih menunduk, meskipun dalam hati dia mengagumi isi dari ruangan itu, namun dia tak berani menelisik lebih lama.
"Sayang, mama benar-benar berharap kamu akan segera menjadi mantu mama." ucap Mama Rena sambil menggenggam tangan Kia.
"Apakah Revan sudah menyampaikan keinginannya untuk memperistrimu? Mungkin menurutmu ini terlalu cepat, tapi menurut mama, jika memang kalian sudah sama - sama mempunyai rasa, bukankah memang lebih baik disegerakan?" lanjut mama Rena.
"Memangnya Mama setuju kalau Abang menikah dengan saya? Mama harus tau, kalau Kia ini hanya anak orang miskin, bahkan sampai sekarang Kia belum pernah bertemu dengan ayah." Kia menunduk sedih.
"Mama tidak mempermasalahkan status kamu, latar belakang kamu. Kaya dan miskin sama saja, asal kamu menerima anak Mama dengan tulus dan bisa menjaga kesetiaan, itu sudah cukup buat Mama." ucap mama lembut sambil membelai pipi Kia.
Kia terharu dan meneteskan air matanya.
" Kia terserah Bunda saja, kalau Bunda ngizininkan, Kia setuju saja Ma. " ucap Kia tak kalah lembut.
" Kamu pengen ketemu sama Ayah kamu? "
" Iya Ma, tapi takut Ayah tidak menyukai Kia."
"Kenapa berpikir seperti itu sayang?"
"Selama ini Ayah tidak pernah mengunjungi kami, bukankah itu artinya dia tidak menginginkan kami? Tapi mama selalu bilang kalau sebenarnya Ayah itu orang baik, jadi Kia harus selalu mendoakan yang baik jika Kia ingin bertemu dengan Ayah." ucap Kia sambil menunduk
Beruntung sekali orang tua yang memiliki anak gadis sebaik ini. Pasti ibunya mendidiknya dengan sangat baik. Batin mama.
" Kamu tahu nama Ayahmu? "
" Kalau di Akte kelahiran Kia, namanya Abimana Rahardian Ma. "
Mama Rena mengernyitkan dahinya saat mendengarnya, dia merasa tidak asing dengar nama itu.
Ah, mungkin Papa bisa bantu. Pikir Mama.
"Ya sudah, jangan berkecil hati. Tetap berdoa yang terbaik ya!"
Kia hanya tersenyum dan mengangguk. Mama Rena berdiri dan berjalan menuju sebuah kotak besi yang Kia yakini itu adalah brangkas. Setelah memasukkan beberapa rangkaian nomor, pintunya terbuka. Mama mengambil sesuatu dan membawanya pada Kia.
" Sayang, ini semua adalah milik Revan. Selama ini dia tak punya tujuan hidup. Uang dari hasil saham yang dia miliki semua ada di sini dan tak pernah dia gunakan sama sekali untuk kepentingan pribadinya. Hanya setiap bulan dia menjadi donor di panti asuhan dan panti sosial, dan itu otomatis akan terpotong setiap bulannya dari sini." ucap Mama Rena sambil memperlihatkan 2 buku rekening dan 2 kartu yang satu berwarna gold dan satu berwarna hitam dan masih ada lagi kartu lain yang Kia tak tau namanya.
Kia masih berusaha menerka-nerka maksud Mama menunjukkan dan menceritakan itu padanya.
"Sekarang Mama yakin kamulah tujuan hidup Revan, jadi sudah seharusnya mama serahkan ini ke kamu."
Mama menarik tangan Kia dan meletakkan benda-benda tersebut di atas tangannya. Kia mendongak, tak lama dia menggeleng.
"Maaf ma, terima kasih mama sudah percaya pada Kia. Tapi untuk sekarang Kia belum berani pegang Ma. Kia rasanya tidak pantas. Itu hasil kerja keras Abang, bukankah memang sudah sepantasnya jika orang tualah yang berhak menyimpannya."
Mama Kia tersenyum, dia semakin yakin dengan pilihan putranya itu.
" Tapi sebentar lagi kamu akan menjadi istrinya, kamu yang akan mengurus Revan dan keperluannya, jadi kamu yang harus menyimpannya. Mama percaya kamu akan menggunakannya dengan bijak."
"Begini saja Ma, Kia mau memegangnya, tapi tidak sekarang. Kia belum sanggup Ma. Takut nanti malah ilang." ucapnya sambil nyengir.
"Ya sudah, nanti kalau kamu sudah sah jadi istri Revan, mama akan serahkan dan tidak ada lagi penolakan, oke!"
Kia mengangguk pasrah, "Mama... Kia boleh peluk?"
"Ah, sayang... Sini?" Mama segera memeluk Kia penuh sayang.
__ADS_1
"Papa ga diajak nih." Papa yang dari tadi mendengarkan pembicaraan dua perempuan beda Generasi ini dari balik pintu itu, akhirnya mendekat.
"Kamu akan jadi anak papa juga, jadi mulai sekarang anggap Papa sebagai pengganti ayahmu. Sini peluk Papa."
Sejenak Kia menatap Mama seolah meminta izin, kemudian mama mengangguk.
Dengan cepat Kia berhambur memeluk Papa Tomo.
"Ah, dulu kita tidak diberikan amanah untuk mempunyai anak cewek ya ma. Jadi kayak gini ya rasanya." ucap papa sambil terkekeh, tangannya membelai pucuk kepala Kia.
"Ma... Kok lama sih, katanya tadi cuma bentar." Revan sepertinya baru masuk kamar Mama. Karna di kamar kosong dan pintu walk in closet terbuka, dia yakin mereka ada di dalam, "Kok, pada peluk-pelukan sih. Adek kenapa nangis? Papa sama Mama apain Kia sih sampai nangis kayak gini." ucap Revan panik. Dia segera menarik Kia dari pelukan Papa, lalu mendekapnya posesif. "Udah dek, bilang sama abang, kamu diapain?" Revan menegakkan tubuh kia lalu menatap matanya.
"Ck, memangnya kamu pikir kami melakukan apa Van sama anak gadis kami?"
Tanpa menunggu Revan menyahut, Papa menyambar bahu Kia kemudian merangkulnya.
"Yuk sayang, jalan-jalan sama Papa, beli es krim sama boneka besar." ucap papa sambil berlalu, tak lupa dia masih menertawakan anaknya yang masih cengo.
Dulu Papa membayangkan jika punya anak cewek pasti sangat menyenangkan, bisa jalan-jalan tiap weekend, membeli es krim dan boneka yang lucu-lucu. Kata teman-temanya, anak cewek itu cenderung dekat dengan ayahnya karna cinta pertama bagi seorang anak perempuan adalah ayahnya.
"Ayo Ma cepetan! Revan ga usah diajak." ucap papa yang sudah keluar kamar dan Revan yang tadi terbengong jadi sadar.
Mama yang audah merapikan kembali brangkas segera menyusul suaminya.
"Kamu beneran ga mau ikut Van?"
"Eh, ini beneran mau pergi ngajakin Kia. Kok gitu sih, Revan kan masih kangen Ma!"
"Ya ayok makanya ikut. Cepetan, ga pake lama."
"Ya tungguin Revan ganti baju dulu. Tau mau pergi Revan ga ganti tadi."
Mama hanya menggelengkan kepala melihat ulah putranya.
"Nanti nyusul aja Ma, bayi besarnya lagi merajuk!" Jawab Sierra.
*****
Pagi hari setelah Andre berangkat kerja, Vera segera beraiap-siap pergi. Vera sengaja memundurkan jam temunya dengan Mario. Setelah jam 10an, Vera bergegas meninggalkan rumah. Saat sudah di tepi jalan, dia segera mengirimkan lokasinya untuk dijemput.
" Mau kemana dulu nih? " tanya Mario ketika sudah bertemu dengan Vera dan memboncengkannya.
"Jalan dulu yuk, bosen aku tuh si kostan terus."
"Makanya, harusnya kita sering-sering kencan. Kamu juga belum pernah kan muter-muter pake motor saat malam?"
"Kamu mau ngajakin aku jalan - jalan?"
"Kalau kamu mau."
"Tentu saja mau."
Setelah 20 menit mereka sampai di sebuah mall. Mereka berkeliling sambil melihat barang - barang yang sekiranya menarik dan pas di kantong.
"Bagus banget ini sepatu, boleh di coba ga mb?" tanya Vera pada spg di counter sepatu.
"Boleh kak, ukuran masih lengkap." jawab spg itu ramah.
"Berpa mb harganya?"
__ADS_1
"Ini limited edition koleksi terbaru, harganya 8 jutaan kak."
Vera langsung melotot, "Eh, maaf mb, ga jadi deh. Lain kali saja." Vera tidak jadi mencoba dan langsung mengembalikan
ke tempatnya.
Gila aja, gaji aku ditambah uang lembur aja gak ada segitu. Batin Vera.
"Kenapa?" bisik Mario
"Harganya gila, mahal banget." bisik Vera sambil bergelayut di lengan Mario
"Ini kan memang sepatu branded, aku kira kamu tahu. Ya udah kita ke sana aja, yang harganya di bawah 1 jutaan, biar aku yang bayar, barangnya juga ga kalah oke kok." bisik Mario lagi. Baru saja mereka keluar dari outlet tersebut, dia melihat seseorang yang seperti tidak asing baginya.
Itu kok kayak Zaskia ya, tapi ga mungkin deh kayaknya. Dia terlihat lebih cantik, mukanya juga lebih bersih. Ya... Pasti aku salah lihat. Batin Vera.
*****
Setelah sebelumnya sempat berebut tempat duduk dengan mama, akhirnya Revan mengalah dan membiarkan Kia duduk di belakang, sementara dia menyetir ditemani papa yang duduk di depan. Kali ini Revan menggunakan koleksi mobil sportnya yang sudah lama nganggur di garasi, yang hanya dipanasi oleh sopir beberapa hari sekali.
Setelah sampai di mall Revan tak mau mengalah lagi, dia sama sekali tak melepaskan tangan Kia dari genggamannya. Kia sama sekali tak menolak, malah kadang dia juga bergelayut manja, kadang merangkul pinggang revan saat berjalan sambil bercanda. Ini seperti double date, meski sudah tak muda lagi Papa dan Mama masih romantis.
"Mah ke counter hp dulu ya? Revan mau beli ponsel dulu."
Tanpa nunggu jawaban dari mereka, Revan mengayunkan langkah ke sebuah counter hp.
"Mas, lihat ponsel keluaran terbaru, minta 2 yang warnanya sama."
Abang beli hp kayak beli krupuk aja sih, aku jadi kelihatan matre ga sih! Batin Kia.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan mereka pun berkeliling lagi. Meski sudah berumur, Mama tak mudah lelah. Kali ini Mama menggandeng Kia memasuki banyak outlet. Banyak barang yang mama pilihkan untuk Kia dan tidak boleh ditolak, ada tas, sepatu, baju dan skin care seperti yang direkomendasikan Siera.
"Bang, adek udah mirip cewek yang morotin calon mertua belum?" bisik Kia terkekeh. Kali ini mereka sedang berjalan ke arah salah satu resto di mall itu.
"Tadinya malah abang mau carikan buat keperluan kuliah sekalian, tapi abang pikir lain kali lagi. Biar abang ada alasan buat ngajak jalan." ucap Revan tak kalah renyah. Kali ini posisi tangan Revan merangkul dari samping sambil berjalan.
"Mama malah ga beli-beli kan? Dari tadi Kia terus yang dibelanjain." ungkap Kia setelah mereka duduk dan memesan makanan. Tadi memang Kia melihat mama hanya membeli 2 daster.
"Lemari mama sudah penuh sebenarnya, tapi kalo ke mall yang mama beli pasti daster. Lagian mama kan juga punya koleksi sendiri di butik. Ah iya, kapan-kapan mama ajak Kia ke sana ya sayang."
Tadi Mama memang mendengarkan Kia punya keinginan untuk berhijab, makanya mama memilihkan beberapa tunik, celana panjang dan juga hijab.
" Sayang, ikut papa yuk! "
" Kemana Pa? Kita mau makam lho." Revan hendak protes
" Bentar doang, tuh ke toko boneka. Yang ngajak jalan papa tapi sedari tadi kalian yang memonopoli Kia. Ayok sayang!" Papa benar-benar memperlakukan Kia seperti anak gadis yang belum tumbuh dewasa. Sebelum sampai ke tujuan, Kia menangkap seluet seseorang yang ia kenal.
Itu kan Vera, tapi bukan sama sama mas Andre deh kayaknya. Tapi kok mesra banget. Batin Kia, namun dia memilih mengabaikannya dan pura-pura tidak melihat.
" Kenapa sayang?"
"Eh enggak kok Pa."
Jadi benar tadi itu Zaskia....
TBC...
Doakan ya pemirsa agar novel ini lolos kontrak, agar othornya masih bisa menulis kelanjutannya.
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya dengan tekan 👍 dan ❤️
Makasih❤️❤️