
"Sudah puas kangen-kangenannya? Ah iya, harusnya kita ketemuannya di 3R hot3l aja ya, jadi bisa lamgsung pesan kamar, hahaha..." celoteh Papa Tomo yang di iringi gelak tawa yang lain.
Revan langsung menyalami calon ayah mertuanya. "Maaf om, tadi ada pertemuan mendampingi atasan jadi baru nyusul kemari." ucap Revan.
"Santai saja. Om sangat senang, berkat kamu Om jadi bertemu dengan anak dan istri Om. Terima kasih ya Van, udah jagain Zaskia selama di jakarta." ucap Abimana tulus.
Revan menengok ke arah Zaskia dan tersenyum, dia memberikan kode padanya agar mendekatkan diri. Saskia segera mendekat dan mereka duduk di sofa dekat ayah dan bunda. Yang lain juga mengambil tempat duduk masing-masing.
"Berhubung semua sudah berkumpul, meski istri saya tidak di sini. Ga papa kan kalau sekalian kita bahas hubungan anak-anak kita?" Tanya Papa Tomo.
"Iya Mas, itu juga yang ingin kami bicarakan. Tadi kami sudah menyonggung masalah itu, dan kami sepakat membicarakan semua dengan Mas Tomo. Menurut kami lebih cepat lebih baik." ucap Abimana.
"Bagaimana Van? Sudah siap?" tanya Papa Tomo.
"Siap sekali Pa, bahkan kalau sekarang disuruh ijab qobul juga siap." jawab Revan penuh semangat yang mendapatkan hadiah cubit di pinggangnya dari Zaskia.
"Bener kan yang, emang adek ga mau cepet nikah sama abang?" ucap Revan lagi. Zaskia hanya mengangguk sambil tersipu lalu menyembunyikan wajahnya dibelakang bahu Revan.
Mereka tersenyum bahagia melihat kedekatan Revan dan Zaskia. Terutama Papa Tomo, bahkan dia tidak menyangka bahwa secepat ini Revan akan menemukan wanita yang bisa dekat dengannya. Bahkan Papa sudah pasrah meski masih selalu terselip doa, jika memang putra bungsunya itu ditakdirkan untuk tidak bisa dekat dengan wanita.
"Bagaimana kalau sebelum puasa saja yang penting sah agama dan negara dulu. Untuk resepsinya mungkin bisa dilaksanakan setelah lebaran. Lagian untuk sekarang akan sangat riskan jika sampai pernikahan ini terdengar oleh Roy dan komplotannya." ucap Papa Tomo memberi pendapat.
"Tidak masalah Mas, lebih cepat lebih baik. Resepsinya nanti kita bicarakan lebih lanjut." ucap Abimana.
"Jangan lama-lama Pa, Om!" ucap Revan menyela yang membuat mereka geleng-geleng kepala karna ketidaksabaran Revan.
"Astaga, puasa juga paling 10 hari lagi Van. Lama dari mananya coba?" Reyhan ikut mengomentari.
"Sabar Van, nikah juga harus cari hari baik. Jadi kita cari dulu, semoga dalam waktu dekat ini bisa. Kamu urus saja berkas-berkasnya." sahut Papa Tomo menenangkan putranya.
"Menurut Mas Tomo, apakah aman jika saya membawa Laras? Tapi mungkin bukan sebagai Laras?" tanya Abimana ragu.
"Yang tahu situasi di mansionmu hanya dirimu dan Zian. Apa ada yang kamu curigai? Bagaimana denganmu Laras, apa kau sanggup untuk berjuang bersama dengan Abimana menyingkirkan penghianat dari kehidupan kalian?" tanya Papa Tomo.
"Saya rasa tidak masalah Tuan. Bagaimana kalau Nyonya datang ke mansion dengan menyamar sebagai perawat pribadi Tuan Abi? Dari situ juga kita bisa memancing siapa penghianat di mansion Tuan Abi." Zian mengemukakan pendapatnya. "Bagaimana menurut anda, Nyonya?" sambungnya lagi.
"Laras setuju saja. Seperti kata mas Abi tadi. Laras harus menjadi tangguh kan? Jadi mulai sekarang Laras akan menemani Mas Abi menghadapai mereka." ucap laras tegas.
Sejak Laras mengetahui cerita yang sesungguhnya tentang pengkhianatan Roy yang ternyata otak dari semua kejadian yang menimpa keluarganya, sesungguhnya Laras pun menyimpan rasa benci dan keinginan untuk membalas semua kesakitannya, terutama putrinya yang seharusnya mendapatkan kasih sayang dari ayahnya sejak kecil.
Dan sejak itu Laras telah menyiapkan mentalnya, jika suatu hari diberikan kesempatan untuk menyingkirkan Roy dan Diana, maka diapun akan rela menjadi tameng.
"Sebentar, tadi Nyonya yang membantu Tuan Abi pindah ke sofa?" pertanyaan Zia mengalihkan atensi semua orang.
Mereka juga baru menyadari jika Abimana sudah tidak di kurai roda.
__ADS_1
Abimana tersenyum mendapat pertanyaan seperti itu, tangannya menggenggam tangan laras.
"Sepertinya aku sudah tidak perlu lagi terapi Zi, dokterku sudah di sini. Lihatlah! Bismillaah..."
Abimana berdiri perlahan dibantu Laras meski sedikit gemetar di awal, namun akhirnya Abimana bisa berdiri sempurna. Setelah bebrapa saat dia pun mengangkat laki dan melangkah perlahan.
Semua yang ada di ruangan itu terlihat takjub. Ternyata cinta bisa memberikan kekuatan dan keberanian tersersendiri.
Zaskia Berdiri dan memeluk ayahnya.
"Kalau ayah sudah sembuh total, kapan-kapan Kia pengen jalan-jalan sama ayah. Ayah mau kan ngajakin Kia jalan-jalan?" tanya Kia pada Abimana.
"Tentu saja sayang... Kapan pun, kemana pun ayah pasti mau." ucap Abimana sambil membalas pelukan putrinya.
Mereka mengurai pelukannya. Zaskia membantu Abimana untuk duduk kembali.
"Syukurlah jika seperti itu Tuan, saya ikut senang. Tapi sebaiknya jangan ada yang tahu dulu kalau Tuan. Biarkan saya menghubungi Tuan Aditama terlebih dahulu. Mungkin beliau bisa membantu kita untuk merencanakan langkah selanjutnya." ucao Zian.
"Ah, iya aku sampai melupakan kakakmu itu. Apa kabar dia? Sepertinya kita akan menjadi keluarga besar." ucap Papa Tomo tersenyum, teringat saat revan bercerita tentang anak Aditama yang menginginkan keponakannya menjadi istrinya.
"Mas Adi baik Mas. Dia sedang ke Singapore menjemput istrinya dan akan tinggal di Indonesia lagi. Saya belum mengerti maksud Mas Tomo kita akan jadi keluarga besar." ucap Abimana dwngan nada bingung.
"Jadi kak Arya belum cerita kalau dia juga pengen nikah muda? Ayah tau ga kalau kak Arya itu lagi deket sama sepupu Abang, ponakannya Papa. Iya kan Pa?" ucap Zaskia yqng diangguki oleh Papa Tomo.
"Jadi bagaimana kalau lusa kita pertemuan keluarga. Kita makan malam bersama, kita bahas juga tentang tanggal pernikahan Revan dan Zaskia. Jika Laras memang sudah memutuskan untuk ikut dengan Abi saya tidak bisa melarang. Namun jika bisa jangan hari ini, apalagi bareng dengan kalaian. Mungkin sebaiknya besok saja ada yang menjemput dan mungkin istrinya reyhan bisa merombak kira-kira mau berpenampilan seperti apa agar tak ada yang mengenalnya. Bagaimana?" Abimana memberikan usul sambil memandang Abimana dan Laras bergantian.
"Saya ikut, bagaimana baiknya saja Mas." ucap Laras yang mulai lagi ikut dalam pembahasan hal yang lebih serius.
"Saya ikut apapun yang terbaik untuk kami Mas. Tidak masalah, biarkan Zian sendiri yang menjemput Laras besok." ucap Abimana. "Kamu siap kan sayang? Kita akan hadapi semua bersama. Ingat! Jangan pernah tunduk pada mereka." lanjutnya lagi meyakinkan istrinya sambil menggenggam tangannya.
"Iya Mas, Laras sudah siap lahir batin. Jangan pikirkan Laras Mas. Mas juga harus fokus agar Mas Abi sehat sempurna seperti dulu kala meski secara diam-diam. Kita beri mereka kejutan yang menarik." ucao Laras meyakinkan.
Zian takjub dengan keberanian Laras. Ternyata dibalik kelembutan sikapnya, dia memiliki sisi yang lain.
"Terus Kia bantu apa? Masa Kia ga ngapa-ngaoain? Kan Kia juga pengen itu mencakar-cakar wajahnya atau menjambak rambutnya biar kapok itu nenek lampir." ucap Zaskia berapi-api.
"Nona nanti pasti dapat peran. Tugas Nona muda sekarang adalah tetap dalam kondisi aman, agar konsentrasi Tuan Abi tidak terpecah." ucap Zian lembut.
"Jangan panggil aku nona muda Om Zian... Geli Kia dengernya. Panggil nama saja, oke!" ucap Zaskia memohon pada Zian. Bagaimana tidak. Meski dia sangat ingin bertemu dan berkumpul dengan ayahnya, namun dia juga tidak bermimpi menjadi nona muda. Semuanya yang terjadi secara tiba-tiba ini membuatnya menjadi asing.
"Tapi Nona, saya..." ucapan Zian terpotong oleh Abimana.
"Turuti apa mau putriku Zi..!" ucap Abimana.
"Ah, baiklah mbak Kia. Tolong jangan suruh saya memanggil nama saja. Saya belum terbiasa." ucap Zian lagi.
__ADS_1
"Ok, om Zi... Karna Om Zian sudah baik pada ayahku, maka Kia nanti akan memberi hadiah buat om. Om belum punya istri kan? Kayaknya aku punya calon buat om yang sesuai, hehehe." ucap Zaskia terlihat mencandai asiaten ayahnya. Tapi sepertinya, melihat Zian yang agak kaku, dia qkan sangat cocok sekali dengan mbak Rita yang ceplas-ceplos dan tanpa filter.
"Sayang, jangan aneh-aneh ya!" ucap Revan yang sadar jika calon istrinya mempunyai niat terselubung.
"Gak aneh Bang, lihat saja besok. Pasti mereka cocok, hehehe...." jawaban Kia membuat semua orang hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Ddrrrttt... Ddrrrttt...
"Ponsel Abang bunyi itu." ucap Kia.
Revan merogoh ponselnya, ternyata panggilan dari Roni.
"Ya Bro, gimana?"
"Ada yang ingin ketemu sama kamu. Kapan ada waktu? Kita ngumpul di kafe."
"Emm, tar gue mampir aja deh. Ini gue lagi di depan. Biasa kantor bokap."
"Ok kalau gitu. Gue tutup ya. Assaalamu alaikum."
"Wa alaikum salam."
Panggilan berakhir.
"Kenapa bang? Ada yang serius. Kok tadi ngomongnya Abang ada di depan?" tanya Zaskia penasaran.
"Jadi beneran kamu belum tahu? Coba kamu berdiri dekat jendela situ. Terus lihat ke depan, sebrang jalan." ucap Revan menjawab kebingungan gadisnya. Zaskia oun menurut, ia berjalan pelan dan berdiri di dekat jendela. Pandangannya mengarah pada sebrang jalan. Di sana terlihat tempat yang tidak asing, yang sering dia kunjungi.
"Rembulan cafe? Jadi bangunan besar tinggi di depan Kafe abang itu kantornya Papa? Astaga, Kia kok baru sadar ya?" ucap Kia sambil mentertawakan dirinya sendiri yang tidak menyadari saat dulu Revan bercerita tentang 3R GROUP.
Zian, Abimana, dan Laras juga baru tahu kalau Revan kuga mengelola kafe. Mereka tahu kafe itu karna memang keberadaannya sekarang sedang menjadi temoat favorit, bukan hanya kalangan anak muda, namun juga bagi mereka yang bekerja dan melakukan pertemuan bisnis.
"Jadi, rupanya pemilik kafe yang lagi naik daun itu calon mantu saya sendiri? Wah, tidak memyangka ya? Itu tu terkenal banget lho, sampai masuk 5 tempat rekomendasi tempat nongkromg enak di Jakarta. Pernah saya baca beberapa hari yang lalu." ucap Abimana bangga.
"Ah, biasa aja Om, tapi sepertinya tempat itu membawa hoki. Buktinya Revan menemukan kembali anak Om ya di kafe itu. Tidak menyangka setelah mencari kemana-mana tidak ketemu, eh malah orangnya kerja di kafe Revan sendiri Om, hehehe..." ucap Revan sambil terkekeh. Setidaknya mungkin kafe itu diberkahi sebagai jalan jodoh dan rejekinya.
Obrolan pun terus berlanjut sampe jam kantor usai. Laras pulang bersama Papa Tomo sedangkan Zaskia ikut Revan mamoir ke kantor.
TBC...
Selamat menjalankan ibadah puasa, aemoga semua diberilan kesehatan. Udah sampai setengah jalan... Semoga lancar sampai akhir... Aamiin
Jangan lupa komentarnya, vote, lime dan favorit
Makasih❤️❤️
__ADS_1