
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Aditama setelah serangkaian ceck up yang dilakukan Abimana, dan sekarang mereka di ruangan dokter Arif untuk mengetahui hasilnya
"Secara keseluruhan kondisinya baik Pak, tidak ada yang serius. Hanya saja tensinya tadi lumayan rendah lho untuk seumuran Pak Abimana. Bapak tidak merasakan pusing? Itu bisa dari pola makan atau istirahat yang tidak cukup." tutur dokter Arif.
"Untuk terapinya gimana dok? Apakah bisa dilakukan segera?" tanya Tuan Aditama lagi
"Terapi itu yang penting semangat dan yakin Pak. Secara umum, kondisi kakinya sudah banyak perubahan. Dan untuk terapinya akan segera saya jadwalkan, Pak."
Setelah urusan rumah sakit selesai, mereka tak langsung pulang. Ada banyak hal yang harus dibahasnya dengan Abimana, sehingga dia memutuskan untuk ke Apartemen putranya yang saat ini masih kuliah di jakarta.
" Pa, kapan sampai? " tanya seorang pemuda 20an tahun menyambut Tuan Aditama dengan girang. Dia adalah Arya, sebentar lagi akan memasuki tahun ke 3 sebagai mahasiswa di universitas xx.
"Tadi pagi, tapi langsung ke mansion Om kamu. Kamu sehat kan."
"Sehat dong Pa. Om Abi apa kabar? Maaf jarang jenguk Om." tutur Arya sopan.
"Om, baik Ar... Seringlah main, biar Om Abi ada temen." jawab Abimana pada keponakannya itu.
Setelah berbasa basi mereka menuju ruang tengah, Arya yang semula akan meninggalkan obrolan kakak beradik itupun akhirnya ditahan.
"Kamu di sini dulu Ar!" Perintah Aditama
"Eh, ada yang serius Pa?"
Aditama hanya mengangguk sebagai jawaban, kemudian dia menghubungi seseorang.
"Antar ke sini"
Tak lama bel apartemen berbunyi, Arya dengan sigap membuka pintu.
Terlihat beberapa bodyguard berjaga di depan pintu, dan ada dua orang yang masuk ke dalam.
Orang itu adalah utusan Aditama, dia menyerahkan map yang berisi beberapa dokumen.
"Bacakan!" perintah Aditama singkat.
"Baik Tuan." sedikit terjeda karna membuka map tadi, "Roy Arkatama telah mengkondisikan agar Diana datang dan menemui Tuan Abimana 17th yang lalu. Diana akan menyusup ke mansion Tuan Abimana untuk memisahkannya dengan istrinya, dengan memainkan peran sebagai sebagai orang ke tiga dan akan mengadu domba Tuan dan istrinya."
Pak Adi memberi aba-aba utuk berhenti, dia melihat raut muka Abimana yang sudah merah padam sambil mengepalkan tangan. Lalu dia mengelus bahu adiknya itu.
"Atur emosimu, disini aku tak bertujuan memancing emosimu, jadi kau harus bisa mengendalikan dirimu." ucapnya kebudian sambil menepuk pelan bahu Abimana.
Setetes air keluar dari matanya. 'Bodoh', kata itu yang nampaknya dia sematkan untuk dirinya sendiri.
" Lanjutkan! " parintah Aditama lagi.
" Setelah mereka berpisah rencananya Diana akan lebih mendekati Tuan Abimana dan memintanya untuk menceraikan Nyonya Laras secara resmi dan menikah dengannya. Jika berhasil dia akan mengambil alih kepemilikan kekayaan yang dimiliki Tuan Abimana. Namun sebelum itu terjadi ternyata Tuan Abimana sudah mengetahui tentang Diana yang sudah mengadu domba mereka, tepatnya 1 tahun setelah Nyonya pergi." sejenak menarik nafas.
" Roy Arkatama mendapatkan tugas untuk mengurus Diana agar mendapatkan hukuman yang berat. Namun bukannya menjeratnya dengan hukuman, namun Roy justru membebaskannya."lanjutnya.
" Apa? Jadi selama ini, Diana tidak dipenjarakan? " emosi Abimana mulai tersulut lagi.
" Tahan dirimu, itu belum seberapa." ucap Aditama.
Kemudian Aditama memberikan isyarat untuk kembali membacakan laporan.
" Setelah keluar dari kantor polisi, Diana menemukan Nyonya Laras, dia menyuruh Nyonya untuk pergi jauh dan mengatakan jika Tuan Abimana sedang mencari Nyona untuk membunuh Nona muda karna belum terima dengan pengkhianatan yang dilakukan oleh Nyonya Laras."
" Apa? Dasar wanita gila? " umpat Abimana, mukanya semakin gusar.
Aditama menghela nafas panjang karena setelah ini penyesalan Abimana pasti akan bertambah. Kemudian Aditama memberi isyarat, meminta melanjutkan lagi.
"Nyonya Laras tidak mengindahkan ancaman Diana sampai saat Nona Zaskia menjadi korban tabrak lari, barulah Nyonya meninggalkan Jakarta. Menurut informasi, Nyonya bekerja menjadi pembantu di Surabaya. Tapi kami telah melakukan penelusuran, ternyata Nyonya hanya 2 tahun bekerja di sana. Selanjutnya tidak ada yang tahu tentang tujuan Nyonya."
Terlihat Abimana meraup wajahnya dengan kasar.
"Tentang Tuan Abimana yang menyuruh Roy untuk terus mencari Nyonya, Roy tidak pernah benar-benar mencarinya. Dana yang keluar setiap bulan dan selalu ada dalam laporan perusahaan, telah disalahkan gunakan. Uang itu masuk ke rekening pribadi Roy Arkatama."
__ADS_1
" Cukup! " ucap Aditama.
Aditama iba melihat wajah penuh penyesalan adiknya. Namun dia harus membuatnya bangkit dan menebus semua kesalahannya.
" Sudahlah, penyesalanmu tak kan mengembalikan masa lalu. Mulai sekarang berusahalah bangkit, tata kembali masa depanmu, cari anak istrimu dengan benar. Kamu masih muda, jika seperti ini terus, mereka akan dengan senang hati menginjak-injakmu." tutur Tuan Aditama bijak.
" Aku butuh waktu untuk menjernihkan pikiranku Mas. Bantu aku, aku harus apa sekarang?" ucap Abimana sambil terisak.
" Ya, ambil waktumu. Tapi jangan lama-lama. Aku yakin saat ini putrimu sudah tumbuh jadi wanita yang cantik. Apa kau tidak ingin memeluknya sebelum nantinya dia diambil oleh suaminya? Ya... Jodoh siapa tahu secepat itu."
Abimana menunduk, putrinya itu sudah berumur 18, jika dia taidak salah hitung harusnya saat ini dia baru lulus SMA. Dengan cepat dia menoleh pada Arya.
Arya belum paham akan tatapan pamannya, "Om, biasa aja natapnya. Serem ini."
Abimana mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto seorang wanita bersama anak kecil yang dikuncir atas.
"Ini adek aku Om? Lucunya... Kok aku belum ingat ya om."
"Poinnya tahu ga Ar?"
Arya hanya nyengir kuda, "aku pikir tadi cuma mau ngenalin terus mau nostalgia gitu om." ucap Aya sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Wajah mereka mirip, mungkin versi remaja adik kamu tidak jauh dari wajah tante kamu. Jadi, pasang matamu dengan baik. Mungkin saja kamu akan melihat atau bwrtemu dengan seseorang yang mirip tantemu ini."
"Oke oke. Arya paham. Kirim foto ke wa aku ya om, kalau ada foto yang lain juga boleh."
*******
" Ada apa Ver? Kamu kenal orang itu? "
" Ssstttt... Kayaknya iya. Bentar, kamu di sini dulu." Vera meninggalkan Mario yang masih tidak mengerti akan sikap Vera.
Vera merogoh ponselnya saat pria paruh baya itu berkali-kali merangkul pundak Kia, saat memunjuk aneka bentuk dan ukuran boneka yang lucu.
Cekrek Cekrek cekrek...
"Jadi setelah gagal dengan Mas Andre, sekarang jadi simpanan om-om, nekat juga tuh bocah. Sok suci! Andre pasti akan membencinya dan jijik lihat ini." ucap Vera bermonolog.
Kia yang dari tadi tahu ada yang mengawasinya, sepertinya malah sengaja bermanja-manja pada Papa Tomo.
Penasaran kan, biarinlah sekalian aja biar heboh. Batin kia terkikik geli.
" Pa, mau yang itu aja. Tapi foto dulu sebelumnya. Ayok Pa sini!" Kia meletakkan boneka ukuran 1,5m itu di depan mereka deng pose Kia memeluk lengan Papa.
Cekrek... Cekrek...
Setelah membayar di kasir mereka kembali ke dalam resto.
"Pas banget ini, pas datang pas makanannya siap." ucap Papa sumringah.
"Dapet yang?" tanya Revan setelah papa menenteng plastik berukuran besar.
"Heem, kalo bobo bisa dipeluk-peluk." jawab Kia sambil tersenyum.
"Enakan juga peluk Abang Dek!" kata Revan yang sukses mendapatkan tabokan dilengannya dari mama.
"Aw, apa sih Ma, kok ditabok sih!"
"Makanya jangan mesum terus pikirannya, kalo mau dikeloni jangan mau sayang, suruh aja dia peluk tiang." ucap mama Kia sambil bersungut.
Kia hanya terkekeh geli, sepertinya sangat mudah menyesuaikan diri dengan keluarga ini.
"Abang ga mau ikan bakarnya?"
"Susah pisahin durinya dek!"
"Kamu harus punya stok sabar yang banyak ngadepin sifat manjanya dia Sayang!" ucap Mama yang pandangannya mengarah ke Revan. Kia tersenyum geli.
__ADS_1
"Adek suapin ya, nih udah Kia pisahin, Aaa...!"
Revan dengan senang hati membuka mulutnya
"Enak kan?" Kia beralih menyuapkan nasi ke mulutnya sendiri. Revan hanya mengacungkan jempolnya.
Akhirnya, jadilah mereka makan sepiring berdua.
"Abang aja yang bawa belanjaannya, tapi tangan kamu harus gandeng lengan abang, awas aja kalo dilepas!"
"Iya abang... gini kan. Pa, fotoin Kia dong!"
Cekrek cekrek...
"Udah mirip kek kurir belum Pa?" Kia mulai berani iseng. Dan Revan hanya mencebik lalu disusul tawa daru Papa dan Mama.
"Duduk di depan aja yang, temenin abang." ucap Revan manja, Mama Rena hanya geleng-geleng kepala seperti tidak lagi mengenali anaknya. Namun begitu, terlihat binar kebahagiaan yang terpancar dari mata putranya itu. Bagi Mama Rena itu sudah cukup.
"Iya Bang!"ucap Kia sambil membantu Revan memasukkan belanjaan ke bagasi.
" Tadi mbak Siera ga jadi nyusul kenapa Ma? " Kia tadi pagi seperti mendengar kalau mami si kembar akan menyusul namun sampai waktu pulang tidak juga datang.
" Bang Rey kalau minggu mah gitu, maunya dikamar mulu pacaran. Makanya Abang milih ngungsi ke rumah sayap kanan. Abang suka pamer sih." bukan Mama, tapi Revan yang menyahut.
" Abang punya rumah yang lain?"
"Eh iya, nanti abang tunjukin. Kita lewat sana juga kok tadi."
Sesampainya di rumah, mereka segera sholat dzuhur lalu membereskan barang-barang belanjaan. Untuk pertama kalinya Kia memasuki kamar Revan, luasnya hampir sama dengan kamar Mama, hanya susunan letak perabotannya saja yang berbeda.
"Ada yang mau dibawa ke apartemen ga? Sisihkan sekalian kalau ada. Sisanya kita susun di dalem." kata Revan sambil menunjuk walk in closet.
"Sepatu sama tas aja kali bang, buat kerja. Baju-baju kan kemarin habis dibeliin Abang."
"Tasnya ganti sekalian aja, barang-barang kamu pindahin sekalian. Kalo itu tas perjuangan juga, nanti dipajang aja buat kenang-kenangan."
"Ih... Abang suka bener deh kalo ngomong. Ini tuh punya bunda, suka dipake buat kondangan. Trus aku bajak waktu mau ke sini." tawa Revan pecah mengetahui fakta tersebut, bukan bermaksud menertawakan tapi karna merasa lucu karena kepolosan gadisnya ini.
Revan mengajak Kia memasuki walk in closet. Masih banyak tempat kosong di sana. Meski tak bekerja di kantor tapi ternyata koleksi baju kantor Revan cukup banyak.
Kia menelisik semua yang ada di ruangan Revan itu, seperti punya Mama, tempat itu pun terdapat brangkas.
"Sudah selesai, hemmm?" tanya Revan sambil memeluk Kia dari belakang. "Sini abang tunjukin sesuatu." tangan Revan beralih ke pundak Kia dan membimbingnya menuju brangkas.
"Ini no pinnya tanggal lahir abang, tapi sekarang ganti aja tanggal kita ketemu ya." Revan memasukkan beberapa nomor lalu meresetnya ulang. "Coba masukin nomor yang baru." Kia menurut.
Revan yakin Kialah jodohnya, bahkan sekarang dia ingin menunjukkan pada Kia, apa yang dia miliki. Bukan karna ingin menyombongkan diri, tapi karena Revan sudah percaya dengan Kia.
Setelah barangkas terbuka Kia menelan ludah kasar.
Bukan hanya dokumen-dokumen penting tapi tumpukan uang merah juga memenuhi tempat itu.
"Ini bukan duit palsu kan Bang?"
Revan tekekeh melihat gadisnya yang polos itu.
"Ambil beberapa iket dek, itu punya kamu juga sekarang. Buat nanti jaga-jaga kalau di apartemen butuh uang cash. Bisa juga buat besok bikin buku rekening atas nama Adek sendiri untuk setoran awal."
Ya, tadi pagi Revan memaksa Kia untuk menerima ATMnya yang berisi uang hasil pemasukan kafe. Tapi Kia menolak dan mengambil yang isinya lebih sedikit, yaitu ATM yang berisi gajinya tiap bulan. Sedikit versi Revan tapi banyak menurut Kia. Meski kata Revan udah digunakan untuk mentraktir teman-temannya, nyatanya dicek pake mbanking, saldonya tetap masih banyak.
"Abang jangan terlalu manjain Kia kek gini. Nanti yang ada Kia jadi manja beneran, lama-lama Kia jadi akan terlihat menyebalkan tau ga!"
"Ga ada penolakan! Sini Abang aja yang ambil kamu yang bawa."
Dan Kia hanya bisa pasrah.
TBC...
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya, tekan 👍 dan❤️
Makasih semua❤️❤️