Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 35. MENCERITAKAN


__ADS_3

"Assalamu alaikum..." tidak ada jawaban.


"Kenapa sepi sekali, bukannya tadi Kia bilang akan langsung pulang?" Revan masih bermonolog.


Dia berjalan ke dapur. Di meja makan sudah tertata rapi beberapa menu siap santap.


Karena tak mendapati orang yang dia cari, akhirnya dia mengetuk pintu kamar Kia, namun beberapa kali dia mengetuk pintu tetap tak ada jawaban.


Revan membuka perlahan pintu itu, tak ada orang di dalam, pikirannya tiba-tiba tak tenang.


Revan mengetuk pintu kamar mandi.


Dok dok dok......


"Dek... Kamu di dalam ya? Sayang... Ini Abang. Jangan bercanda deh!" teriak Revan masih sambil mengetuk pintu.


Tak ada jawaban, Revan menarik handle pintu. Tidak dikunci, namun tak ada orang juga di dalam.


"Dek... Kamu di mana sih, jangan bikin Abang panik deh!" Revan masih berteriak-teriak frustasi. Dia duduk di tepi ranjang Kia, lalu melakukan panggilan ke nomor Kia.


Bebrerapa kali berdering nun tidak di angkat, namun setelah Revan berdiri ternyata ponsel Kia terlihat ada di meja rias, hanya berkedip karna dimode silent.


Brak...


Revan membuka pintu kamarnya dengan kasar. Revan bernafas lega saat mendapati gadisnya tertidur meringkuk sambil memeluk kaos Revan yang belum dicuci.


Revan mendekat dengan tak sabar, dia melompat ke atas ranjang. Bahkan dia tak membuka sepatunya.


"Sayang... Kamu bikin aku khawatir tau!" ucapnya masih dengan nada cemas, sambil memeluk Kia dari belakang.


"Yang... Bangun, dah mau maghrib!" ucapnya lagi sambil membalikkan badan Kia. Revan terkejut melihat mata sembab Kia.


"Dek... Hey... Kamu kenapa? Ada yang nyakitin kamu? Yang... Buka mata kamu?" Revan membangunkan Kia sambil menepuk-nepuk pipi Kia dan menghujaninya dengan kecupan-kecupan kecil.


Sesaat Kia menggeliat dan membuka matanya perlahan.


"Abang udah pulang? Maaf Kia tadi masuk kamar Abang ga minta izin, terus Kia ketiduran juga." ucap Kia merasa bersalah.


"Ga papa sweet heart. Ini juga bakal jadi kamar kamu, kamu bebas ngapain aja di tempat ini. Mata Adek bengkak, habis nangis? Ada yang jahatin Adek?" tanya Revan penasaran sambil membelai pipi Kia yang masih ada sisa air mata. Takut jika dirinyalah yang sudah membuat Kia menangis.


Kia hanya menggeleng sambil memandang wajah Revan dengan tatapan yang susah diartikan. Namun sesaat kemudian Kia memeluk leher Revan.


"Ok, nanti saja ceritanya. Sekarang Abang mandi dulu ya. Tunggu Abang di sini dulu, nanti sholat berjamaah, oke!" Kia hanya mengangguk. Revan mengecup kening Kia sekilas lalu ke kamar mandi.


Revan mandi dengan cepat, di atas ranjang sudah tersedia celana pendek, sarung dan koko. Sajadah sudah terbentang di lantai. Mungkin Kia sedang ke kamarnya mengambil mukena.


"Ya Allah... Terima kasih untuk calon bidadari surgaku yang Kau kirimkan untukku." ucap Revan lirih sambil tersenyum.


*******


Kia membukakan pintu saat bel apartemen berbunyi. Pasti Arya dan Ara, pikirnya.


"Ara, kenapa dia ada di sini? Kalian pacaran." tanya Revan pada Ara saat mereka sudah berada di meja makan.


"Abang jangan galak-galak sama calon kakak ipar, eh... Adek ipar ding... Eh, dua-duanya bener ding. Kenalin aku Arya bang." Arya dengan santainya memperkenalkan diri.


Revan masih belum mengerti maksud kata-kata pria itu. Tak urung dia pun menyambut tangan Arya untuk berkenalan.


"Udah tau namaku kan?" ucap Revan cuek.

__ADS_1


"Udah ah. Makan dulu yuk, keburu dingin." sergah Kia mengengahi perdebatan mereka.


"Calon istri Abang memang the best. Enak nih kayaknya. Tuh Ra, belajar masak. Jangan maen mulu. Biar bisa nyenengin suami." ucap Revan menasehati sepupunya.


"Aku tadi juga bantuin tau! Iya kan Ki... Ara tadi ngupas bawang sampai nangis-nangis. Iya kan Ar?" ucap Ara mencari pembelaan.


"Jadi lo udah lama di sini? Mau ngapain?" tanya Revan berapi-api.


"Sssttt... Tar aja ngobrolnya. Hak...!" Kia menyuruh Revan membuka mulutnya.


"Eemmm...!!!" Revan mengacungkan kedua jempolnya, tanda bahwa makanannya enak.


Arya memperhatikan interaksi keduanya. Dia bersyukur Kia jatuh pada orang yang tepat.


"Bang... Arya mau ngomong serius sama Abang. Ini tentang Kia. Kita perlu suasana tenang dan nyaman. Kalau bisa jangan ada yang tau tentang ini." ucap Arya ketika telah selesai makan.


Revan mengernyitkan dahinya. Mencoba menerka apa maksud pria ini.


"Kamu suka sama calon istri aku? Jangan macam-macam ya!" seru Revan tidak terima.


"Ck... Kakak sama adek sama aja. Curigaan mulu!" sanggah Arya.


"Ikut ke ruang kerja!" ucap Revan mendahului ke ruang kerja.


"Jadi?" tanya Revan tanpa basa - basi.


"Abang udah lama kenal Kia?" tanya Arya.


"Ga usah muter- muter. Langsung ke intinya saja!" ucap Revan tak sabaran.


Arya menghela nafas.


"Apa? Maksudnya? Siapa Om kamu?" tanya Revan.


"Abimana Rahardian. Biar aku ceritakan dulu Bang, bagaimana bisa dulu mereka bisa keluar dari rumah. Agar Abang nanti tahu bagaimana harus bersikap." ucap Arya sambil mengamati wajah Revan. Dia terlihat menganggukkan kepala.


"Om Abi dulu memang bodoh karena percaya begitu saja dengan fitnah sesorang yang dituduhkan pada tante Laras, sehingga puncaknya Om Abi mengusir tante Laras dan Zaskia keluar dari rumah. Setelah kepergian tante Laras, hidup Om Abi menjadi berantakan. Bahkan setelah setahun Kepergian mereka Om Abi baru tahu kalau selama ini dirinya hanya diadu domba yang tujuannya memang ingin agar Laras pergi." Arya menjeda. Terlihat Revan masih mendengarkan dengan serius.


"Om Abi semakin merasa bersalah. Mereka mencari tante Laras kemana-mana namun tidak ditemukan. Sampai Om mencari ke kampung asal tante Laras. Di sana juga ga ada. Bahkan kakaknya tante Laras malah dititipi untuk menjual tanah peninggalan orang tuanya karna butuh uang. Akhirnya Om Abi yang membeli tanah tersebut." Arya masih bercerita panjang lebar.


"Om kamu Om percaya saja?" tanya Revan gemas.


"Om Abi saat itu hanya memikirkan nasib istri dan anaknya yang mungkin memang butuh uang. Jadi tanpa tawar-menawar lagi Om membeli tanah tersebut. Tak lama setelah itu Om Abi kecelakaan, koma hampir 2 tahun. Setelah sadar pun, rasa bersalahnya semakin membuatnya terpuruk dan frustasi. Dia menghukum dirinya sendiri, dia tidak mau melakukan terapi. Sampai Papaku, Aditama bebera waktu lalu mendapati fakta bahwa semua kejadian di masa lalu sudah direncanakan oleh orang kepercayaannya sendiri, asisten pribadinya. Orang yang dia berikan kepercayaan penuh untuk memegang perusahaan dan juga orang yang diberikan tanggung jawab terhadap pencarian anak dan istrinya. Dan sekarang Abang bisa tebak kan, mengapa sampai sekian lama Om Abi belum menemukan Kia dan Tante Laras?" jelas Arya panjang.


"Bagaimana keadaan Om Abi sekarang?" tanya Revan.


"Setelah Papa meyakinkan Om Abi. Perlahan Om Abi mulai bangkit dan mau melakukan terapi agar bisa berjalan kembali. Dia ingin terjun langsung lagi mencari istrinya meskipun mungkin mereka masih marah dengan Om Abi, dia siap menerima hukuman dari mereka, jika mereka telah ditemukan." jelas Arya.


"Apa kamu yakin jika Kia adalah anak Om Abi? Bagaimana jika hanya kebetulan saja nema meraka sama?" tanya Revan.


"Wajah Kia sama persis dengam tante Laras saat masih Muda. Jika pun ada keraguan, itupun aku rasa tidak ada 1 persen." jawab Arya.


"Lalu menurutmu aku harus bagaimana?" tanya Revan.


"Sementara kita diam-diam dulu. Meski aku yakin Kia adikku, aku pun harus mencari bukti dulu kan? Dan jika Kia terbukti anak Om Abi, maka dia dalam bahaya. Banyak yang akan mengincarnya. Karna pada dasarnya Kia sejak kecil memang sudah menjadi sasaran, karna dia adalah pewaris tunggal Abimana. Dan yang selama ini ingin merebut semua harta Om Abi adalah asisten pribadinya sendiri, Roy Arkatama. Ngerti kan maksud aku." ucap Arya memberi gambaran.


Revan mengangguk, sudah terbersit rencana dalam otaknya untuk melindungi gadisnya.


" Sekarang ceritakan bagaimana kalian bisa bertemu? Bukankah seharusnya Kia baru lulus SMA? Tapi mengapa dia bisa jadi tunangan Abang yang sudah tua?" tanya Arya sedikit menandai Revan.

__ADS_1


"Sembarangan. Aku itu dewasa bukan tua. Emang wajah aku kayak om-om apa. Aku baru mau 27 tahun tahu!" jawab Revan.


"Hahaha... Orang tua memang selalu sensitif kalau dibilang tua. Padahal bener kan kelian itu selisihnya hampir 10 tahun. Ayolah bang masa ga mau ngaku tua. Ah, harusnya kan aku panggil om kan? Hahahaha...." ucap Arya memprovokasi.


"Ngomong apa? Sekali lagi!" tanya Revan sambil merangkul leher Arya yang masih sandaran di sofa. Arya mencoba melepaskan cekalan Revan namun karna kekuatan mereka seimbang akhirnya mereka guling - guling di lantai.


Ceklek...


"Kok lama ba.... Aaaaa..... Kalian ngapain? Mau mesum ya? Kia... Laki kita ternyata belok." teriak Ara yang tiba-tiba masuk.


Kia langsung melongokkan kepalanya ke dalam ruangan. Dia melihat posisi Revan yang menindih Arya di lantai.


Rwvan segera menegakkan tubuhnya lalu berjalan menuju Kia.


"Enggak yang... Ini ga seperti yang kalian lihat. Abang normal kok, beneran." ucap Revan membujuk Kia agar tidak salah paham.


Kia dan Ara hanya geleng - geleng kepala.


"Trus itu tadi apa? Kamu tega banget sih Ar, jadi seharian ini kamu nungguin Abang karna kamu suka ya sama Abang?" tuduh Ara pada Arya.


"Enggak beb... Itu gara-gara Abang kamu tadi mau nyekik aku. Terus aku nglawan." ucap Arya membela diri.


"Abang mau bunuh Kak Arya?" tanya Kia pada Revan.


"Gak gitu yang... Tadi itu si tengil ini ngatain Abang tua, terus masa Abang dipanggil Om. Emang bener muka Abang udah kelihatan tua?" tanya Revan sambil memeluk Kia dari belakang manja.


"Jawab yang jujur Ki, dia memang sudah tua kan. Nih, jauh sama kakak kamu yang muda, ganteng dan keren ini! Hahaha...!" Arya masih belum menyerah memprovokasi Kia.


Revan yang mulai tersulut lagi dengan cepat ak menghampiri Arya yang sekarang posisinya berlindung di belakang Ara.


Namun tangan Kia lebih cepat menyambar tangan Revan.


"Udah Bang, ayo ah ke depan. Udah aku siapin teh sama camilan. Ngobrolnya pindah depan tivi aja." ucap Kia sambil menarik tangan Revan.


Ke dua orang tadi hanya mengikuti dari belakang.


"Sini...!" Kia meminta duduk di sampingnya.


Namun Revan memilih untuk tiduran dan memakai paha Kia sebagai bantal.


"Ck, dasar bayi tua manja!" Arya berkomentar, Lalu duduk di karpet bulu dan menyandarkan tubuhnya di kaki Ara yang sudah duduk di sofa.


Revan tak menjawab. Dia malah memeluk perut Kia sejenak, lalu berkata, "Abang memang udah kelihatan tua banget yang?" tanya Revan memcoba mencari pembelaan Kia.


"Abang itu bagi Kia yang paling ganteng. Abang itu bukan tua tapi dewasa." jelas Kia tanpa menutupi perasaannya. Tangannya mengusap-usap rambut Revan tanpa dikomando.


"See... Aku ga tua kan?" ucap Revan bangga.


Arya hanya mencebik tanpa protes lagi.


"Jadi sekarang ceritain bagaimana kalian bisa bertemu?"


Akhirnya mereka melanjutkan obrolan sambil ngeteh.


TBC...


Terima kasih dukungannya...


Jangan lupa tekan 👍 dan ❤️ ya

__ADS_1


Makasih❤️❤️


__ADS_2