
Meski hati Andre merasa cemburu dengan kedekatan Revan dan Zaskia, namun nalurinya berkata bahwa dia harus ikhlas melepas Zaskia. Dia percaya Revan bisa membahagiakan Zaskia.
Apalagi saat tadi dia melihat sendiri binar kebahagiaan di mata Zaskia, Revan yang terlihat sangat memanjakan Zaskia. Setidaknya Zaskia bersama orang yang tepat.
Setelah maghrib Andre bersiap akan pergi menyusul Zaskia dan Andre. Tentu saja dia tidak mau ribet mengajak Vera. Dia tidak mau nantinya vera membuat ulah.
Drrrrtttt..... Drrrrrttt....
Ponsel Andre bergetar, rupanya dari ibunya. Orang yang seharusnya sangat ingin dia bahagiakan, namun sayang ternyata malah Andre mengecewakannya.
"Andre... Apa kamu sudah menemukan Zaskia? Dia katanya sudah dilamar orang, apa kamu tahu?" belum sempat Andre mengucap salam, ibunya sudah langsung menodongnya dengan pertanyaan.
"Assalamu alaikum Bu. Jaga emosi Ibu, jangan banyak pikiran kayak gitu."
"Wa alaikum salam ... Gimana ibu ga kepikiran? Kamu sebenernya tahu ga sih?"
Andre menghela nafas berat, "Andre belum bertemu tapi baru saja Zaskia mengangkat panggilan dari Andre. Ibu harus merelakan Zaskia menjadi istri orang lain. Maaf, Andre sudah memupuskan cita-cita Ibu untuk memiliki menantu sebaik Zaskia." ucap Andre penuh penyesalan.
"Zaskia bilang apa? Jadi benar apa yang dikatakan ibunya Vera kalau Zaskia akan menjadi istri simpanan. Ya Allah Ndre... Ibu merasa sangat bersalah kalau sampai itu terjadi."
Andre mengernyitkan alisnya, bingung dengan pernyataan ibunya.
"Maksud ibu Apa? Istri simpanan bagaimana? Ibu jangan ngaco deh." tanya Andre tidak mengerti.
"Lho memang kamu ga tahu kalau Zaskia mau menikah dengan laki-laki tua. Kita harus bagaimana Ndre... Kasihan Zaskia." Bu Mala menjelaskan tentang yang didengar dari Bu Retno.
"Memangnya Bu Retno pernah melihat langsung calon suaminya Zaskia, sampai dia bisa mengatakan calon suami Zaskia sudah tua?" tanya Andre heran.
"Dia itu punya videonya Kia bersama pria itu. Cocoknya jadi bapak nya malah." jelas Bu Mala lagi.
Andre memijat keningnya sesaat. Sebenarnya apa maunya Vera, kenapa semua orang jadi dihasutnya?
"Ibu jangan percaya dengan mereka. Jangan over thinking bu, jaga kesehatan Ibu. Calon suaminya Zaskia masih muda, tadi Andre habis kenalan juga kok. Kita doakan yang terbaik saja untuk Zaskia." jawab Andre bijak.
"Benarkah? Ya sudah kalau begitu, ibu jadi lega. Biarlah kapan-kapan ibu sendiri yang menghubungi Zaskia. Ibu juga kangen sama dia." ucap Bu Mala kemudian.
Akhirnya mereka mengakhiri panggilan itu dengan perasaan lega. Bagaimanapun Bu Mala merasa bertanggung jawab dengan keadaan Zaskia.
*******
"Laras... Apakah kamu mau bertemu dengan Abimana? Tadi siang Mas Tomo sudah bertemu dengan suamimu. Mas Tomo bilang bahwa sebenarnya sudah dari setahun sejak kamu pergi, suamimu mencari keberadaanmu. Saat itu Abimana baru tahu bahwa kalian sengaja dipisahkan. Namun sampai kecelakaan itu terjadi Abimana belum juga menemukanmu. Setelah sadar dari koma, dia seperti orang depresi, sedang asisten pribadinya ternyata berkhianat, jadi selama ini dia tidak benar-benar mencari keberadaan kalian." Mami Meli menyampaikan apa yamg dia dengar dari Papa Tomo.
Laras menautkan kedua tangannya dan saling meremas untuk menetralkan rasa yang ada di hatinya. Selama ini dia menahan rasa rindu, marah dan benci bercampur menjadi satu. Namun Laras mencoba untuk tetap berlapang dada. Dan kini dia tahu bahwa sebenarnya Abimana masih mau mencari keberadaannya, seketika rasa rindu itu menjadi lebih besar bahkan berkali-kali lipat.
Tapi bisa saja Mas Abi mencariku karna ingin bertemu Zaskia saja kan? Diana tinggal di mansion sudah cukup lama. Bisa saja mereka sudah sempat menikah. Aku memang masih mencintainya. Namun aku juga tidak bisa membayangkan suamiku pernah menyentuh wanita lain. Tidak! Batin Laras muali berperang dengan asumsinya sendiri.
Tanpa sadar Laras menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak mau bertemu Abimana?" tanya Mami Meli saat melihat Zaskia menggelengkan kepalanya.
Laras masih terdiam, anaknya sangat ingin bertemu dengan ayahnya. Dia tidak boleh egois. Setidaknya demi anaknya dia harus bertemu dengan Abimana. Karna Laras tahu benar anaknya, dia juga tidak akan bertemu dengan Abimana jika itu menyakiti hati Laras.
__ADS_1
"Saya... Saya mau kok mbak ketemu mas Abi. Kapan kami bisa bertemu? Apakah dia akan ke sini ataukah saya yang harus ke sana?" jawab Laras kemudian.
Melina tersenyum mendengar jawaban Laras. Dia tahu bahwa di dalam hati, Laras pun sangat menantikan pertemuan ini.
"Kapan Mami mau berangkat? Sama Papi juga?" tanya Zahra saat tak sengaja tadi mendengar obrolan Laras dan Melina.
"Mungkin besok pagi. Kamu mau ikut sayang? Mumpung besok hari minggu dan anak didik kamu juga habis ujian kan. Kamu gak mengampu kelas 2 juga?" tanya Mami Meli. Pasalnya Zahra memang susah sekali untuk diajak bepergian.
"Iya ra, katanya kangen sama Zaskia." sahut Laras.
"Masalahnya Zahra sudah terlanjur ada janji tante. Jadi besok Zahra nyusul aja deh, kalau ga ya lain kali saja." tolak Zahra halus. Dia memang ada janji bertemu Ferdi untuk memberikan keputusan mau lanjut atau tidak.
"Ya sudah kalau begitu. Kamu mau pergi, sudah cantik gini?" ucap Mami Meli.
"Iya Mi, ada acara dengan temen-temen kuliah dulu." jawab Zahra.
"Nanti balik sini lagi kan? Sama siapa perginya? Reno mana, suruh anter Reno aja deh. Bahaya lho malem-malem pergi sendiri." ucap Mami Meli yang mengkhawatirkan Zahra.
"Iya Mi, sekalian Reno mau langsung pulang nanti. Pamit sekalian ya." ucap Reno yang yang muncul dari belakang bersama Papi.
"Zahra juga sekalian pamit aja ya Mi, nanti ga balik sini lagi. Toh besok pagi Zahra juga ditinggal. Jadi pamit sekalian aja ya." ucap Zahra pamit.
Setelah berpamitan, Reno melakukan mobilnya santai. Kecanggungan memang sudah mencair, namun Zahra sengaja membuat jarak, agar hatinya tidak terlena.
"Abang duluan aja nanti. Takutnya kelamaan nunggu, kan nanti tempat acaranya ga jauh dari tempat Rara. Nanti Rara naik taksi aja." ucap Zahra lembut. Dia tidak mau terlalu merepotkan Reno. Bagaimanapun Zahra tahu, tidak baik mereka sering berada ditempat yang sama berdua, apalagi berdekatan seperti ini. Perlakuan Reno yang mulai banyak perhatian seperti dulu lagi, bisa saja menggoyahkan keputusannya untuk menerima Ferdi.
"Yakin, ga mau abang tungguin aja. Mumpung abang ga ada acara lho." tanya Reno memastikan.
"Iya yakin kok. Lagian ini kan malam minggu, bukannya biasanya juga dirantai sama istri. Sekarang tumben-tumbenan dibiarin sendirian kemana-mana." jawab Zahra tanpa melihat wajah Reno.
"Sekarang sudah tidak lagi. Kalau ada apa-apa, kapan saja dan di mana saja Abang pasti siap meluncur buat adek kesayangan abang." ucap Reno sambil mengusap pucuk kepala Zahra dari samping.
Setelah menempuh perjalanan hampir 1 jam, mereka pun sampai di tempat janjian. Baru turun dari mobil, dia sudah disambut oleh suara riuh teman-temannya. Bukan di restoran mahal. Karna memang Zahra sejak dulu tak pernah memperlihatkan kastanya, karna dia pikir dia hanya anak angkat. Faktanya dia tetap dari keluarga sederhana. Dan teman-temannya juga dari kalangan menengah, meski ada 2 atau 3 orang yang dari keluarga kaya. Biarlah mereka yang merasa di atas, memandang dirinya rendah. Itu sama sekali tak akan mengurangi derajat kita di hadapan Tuhan.
"Tambah cantik deh bu guru kita." ucap salah satu teman Zahra.
"Sayangnya belum punya gandengan, hahaha..." timpal yang lain.
"Sebentar lagi, tenang saja. Ditunggu saja undangannya!" sahut Zahra asal. Mereka ngobrol ngalor ngidul mengenang masa-masa kuliah.
Karna waktu sudah larut, mereka pun akhirnya berpisah ke tempat masing-masing. Sebelum pulang, Zahra memutuskan untuk ke toilet terlebih dulu. Keluar dari toilet, ia melihat seseorang yang dia kenal. Karna jalan keluar searah dia pun berniat menyapanya, tapi saat menyadari dia bersama seorang perempuan Zahra pun menghentikan langkahnya.
Sayup-sayup dia mendengar namanya disebut. Beruntung posisinya saat ini terhalang oleh tirai.
"Jika saja kamu mau hamil anak kita sendiri, aku tidak harus menikah dengan orang lain agar bisa mendapat keturunan. Kamu tahu kan, keluargaku sangat mengharapkan keturunan?" ucap laki-laki yang tak lain adalan Ferdi.
"Pokoknya aku ga mau ya punya anak, aku ga mau nanti tubuhku jadi jelek. Lagian tujuan kamu menikah kan hanya untuk punya anak. Ya udah sih, aku ga papa kok asal setelah anak kamu lahir, kamu ceraikan dia." ucap si perempuan itu dengan entengnya.
"Jadi kamu lebih rela, suamimu bercinta dengan wanita lain dari pada kamu mengandung benihnya?" Ferdi menggeleng heran, namun si perempuan masih terlihat santai. "Kamu tidak takut kalau aku benar-benar jatuh cinta padanya dan tidak akan memceraikannya?" lanjutnya lagi.
"No! Itu gak akan pernah mungkin. Aku tahu kamu sangat mencintaiku. Jadi gak mungkin kamu mencintai... Siapa itu? Ah, Zahra ya. Memang dia punya apa sampai bisa menggeserku dari hatimu. Udahlah Fer, berhenti berdebat, ok!"
__ADS_1
"Kamu terlalu menganggap remeh masalah perasaan Tan." ucap ferdi sambil tersenyum sinis. Tania tidak tahu bahwa sejak awal pertemuannya dengan Zahra, hatinya sudah mulai berpaling.
Zahra masih mematung di tempatnya. Tiba-tiba tubuhnya bergetar. Dia merasa kakinya sudah tidak menapak lantai.
" Astaghfirullaah, jadi dia mendekatiku dan ingin menikah denganku karna ingin keturunan? Dia mau jadikan aku istri kedua? Ya Allah.... Batin Zahra.
"Sudah ya Mas, kamu mau pulang ke rumah orang tuamu kan? Kalo gitu aku duluan, aku masih mau mampir ke suatu tempat." ucap istri Ferdi. Tak menunggu jawaban dari Ferdi, perempuan itu pergi begitu saja.
Nampak Ferdi menyugar rambut kepalanya dengan kasar.
" Baiklah itu maumu, dan sekarang aku akan mengejar Zahra. Aku akan menjadikannya ratu. Dan kamu akan menyesal Tan! Apapun caranya, aku harus bisa menikah dengan Zahra." Gumam Ferdi. Dia meletakkan uang di atas meja lalu berdiri hendak meninggalkan tempat itu.
Namun seketika dia terpaku saat membalikkan badannya.
" Zahra... Ka... Kamu makan di sini juga?" tanya Ferdi tergagap. Semoga Zahra tidak mendengar pembicaraannya tadi, Ferdi berbicara dalam hati.
Zahra mencoba tetap tenang. "Iya Kak, ini sudah mau pulang." jawabnya.
"Boleh saya antar? Saya juga sudah selesai. Kita searah kan?" Ferdi membujuk Zahra. Sebenarnya ini adalah kesempatannya untuk jalan berdua dengan Zahra.
Mungkin tidak usah menunggu besok, hari ini juga aku akan memberikan jawabanku. Batin Zahra.
"Jadi sebenarnya apa tujuan Kak Ferdi ingin menikahiku?" tanya Zahra datar tanpa melihat ke arah Ferdi.
Saat ini mereka sudah dalam perjalanan pulang. Reno yang dari tadi sebenarnya tidak pulang merasa heran, mengapa Jadi ada Ferdi di sana. Saat Zahra memasuki mobil Ferdi, Reno pun tak menghalangi. Dia hanya mengikuti mereka dari jarak jauh. Memastikan Zahra sampai tempat dengan selamat.
"Saya sebenarnya sudah jatuh cinta sama kamu sebelum kita bertemu, waktu itu aku sering melihatmu ikut kajian di sana."
Zahra tersenyum sinis namun Ferdi tidak memperhatikannya.
"Terus mbak yang tadi siapa? Istri kak Ferdi kan? Terus, kalau kak Ferdi sudah punya istri kenapa harus repot-repot mendekatiku?"
Pertanyaan Zahra membuat Ferdi tergagap. Ferdi tercekat, rasanya sampai tidak bisa menelan ludah.
"Kamu mendengar semua?" Zahra mengangguk, "Sebenarnya kami hanya menikah siri. Orang Tuaku tidak merestui kami."
"Tapi maaf Kak, sepertinya Zahra tidak bisa jika harus berbagi suami. Maaf, sepertinya kita tidak bisa melanjutkan untuk taaruf." ucap Zahra sambil memunduk. Berharap Ferdi akan menyadari kesalahannya.
"Tidak dek, aku mencintai kamu. Aku akan menceraikannya jika itu yang kamu mau. Sekarang aku baru sadar mengapa dulu orang tuaku tidak merestui penikahan kami." ucap Ferdi mencoba meyakinkan Zahra.
"Tidak kak, maaf. Zahra benar-benar tidak bisa meneruskan. Maaf jika Zahra terburu-buru mengatakan ini. Zahra kira, besok atau aekarang sama saja." ucap Zahra
Tanpa menyahut Ferdi tiba-tiba membelokkan mobilnya ke arah jalan sepi. Zahra bingung namun tetap mencoba tenang.
" Kenapa ke sini Kak? Kita mau ke mana?" Zahra tak bisa lagi menutipi kepanikannya. Pasalnya dia tahu kalau jalan ini ke arah hutan, jaramh sekali ada yang melintas di jalan ini. "Kak, tempat Zahra tinggal dikit lagi lho tadi. Kita mau ke mana sih?" tanya Zahra yang bertambah panik.
Zahra masih berusaha untuk tidak takut, dia terus berdoa di dalam hati agar Allah melindunginya.
TBC...
Tetap dukung karyaku ya
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, favorit
Makasih❤️❤️