
"Abang tadi, ngomong apa saja sama tante genit itu?" tanya Zaskia sambil cemberut, Revan tahu saat ini gadisnya sedang dalam mode cemburu.
Revan sejak masuk kamar hanya diam sambil tiduran di sofa kamar memang. Kepalanya dia letakkan pada ceruk leher Zaskia yang saat ini sedang duduk di karpet bulu tebal sambil menonton tv. Revan masih menyesali keteledorannya sampai Zaskia terluka. Tangan Revan sesekali mengusap dan memainkan rambut Kia.
"Abang ih, ditanya juga!" ucap Kia lagi saat tak ada jawaban dari calon suaminya itu. Zaskia menoleh, wajah mereka sangat dekat. Terlihat sudut mata Revan yang berembun.
Seketika Zaskia mengangkat kepala revan dan merebahkan di sofa. Dia sendiri berpindah posisi menghadap Revan dengan lutut sebagai tumpuan.
"Abang kenapa? Sakit?" tanya Kia sambil meraba kening revan dengan punggung tangannya. Bukannya menjawab, Revan malah memeluk pinggang Zaskia.
"Maaf, Abang ga bisa jagain Adek. Adek jadi terluka gara-gara abang. Maaf!" ternyata pria yang terlihat dingin dengan perempuan jika diluaran ini, sekarang sudah menjadi pria lemah di hadapan gadis yang baru beranjak dewasa.
Fix... Revan benar-benar jadi bucin-nya Zaskia.
"Kia ga papa Bang, itu maunya Kia. Kia yang ga mau tante itu mengambil milik Kia, Kia ga mau kehilangan Abang. Kia takut dia mengambil Abang dari Kia. Kia ga udah ga sakit. Nih lihat!" ucap Zaskia sambil menekan-nekan bekas tamparan tadi.
Pipinya masih terlihat lebam, namun tak mengirangi aura kecantikan gadis kecilnya. Gadis ini semakin hari semakin terlihat sangat kuat, iti yang membiat Revan menjatuhkan hatinya semakin dalam pada cinta Zaskia.
"Adek tahu, seandainya Abang bisa mengulang masa lalu, maka Abang akan memilih untuk tidak berhubungan dengan wanita manapun dan memilih menunggu adek." ucap Revan lembut. Tak lama dia menegakkan tubuhnya, kemudian menarik zaskia agar duduk disampingnya.
"Abang tidak perlu menyesali masa lalu, yang penting di masa sekarang dan masa depan Abang hanya ada Kia. Kia sayang Abang. Tadi Abang belum jawab pertanyaan Kia lho ngoamong-ngomong." ucap Zaskia mengingatkan Revan.
Revan menghembuskan nafas kasar. Dia jadi ingat akan janjinya pada Lina tadi.
"Abang janji akan memberi kesempatan untuk Lina jadi pacar Abang tapi dengan syaray dan syaratnya akan Abang beri tahu besok pagi." ucap Revan lirih.
Kia terlonjak kaget, baru saja dia menginginkan Revan hanya akan menjadi milikmya malah sekarang Revan akan memberi kesempatan pada wanita lain.
"Apa? Abang jahat banget sih sama Kia. Katanya tadi ga mau nyakitin Kia tapi ini apa?" protes Kia sambil memukul-mukul kecil lengan revan.
"Dengerin Abang dulu. Emang adek ga pengen tahu apa syaratnya?" tanya Revan sambil menangkup wajah Zaskia dengan kedua tangannya.
Zaskia masih cemberut. Semoga Revan tidak tergoda oleh bisikan syetan yang terkutuk yang terus membujuknya untuk menerkam bibir Zaskia.
Zaskia tidak menyahut, dia masih larut dalam prasangkanya sendiri. Namun sesaat kemudian dia memeluk Revan erat menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Revan. Hembusan nafas Zaskia di lehernya semakin menghipnotis Revan. Dia hanya memejamkan matanya untuk meneyralkan rasa yang bergejak di dadanya.
"Kia ga suka Abang deket-deket cewek lain. Apakah Kia berlebihan?" ucap Kia lirih namun mampu membuat Revan tersenyum lebar.
"Abang seneng Kia posesif sama Abang, Abang ngrasa kalau Adek itu menginginkan Abang sepenuhnya. Abang juga seperti itu sayang... Abang hanya ingin adek jadi milik Abang. Makanya dengerin dulu. Bantu Abang memberantas tikus-tikus kecil yang akan menjadi hama dalam hubungan kita ke depannya.
Zaskia mendongak dan menegakkan badannya. "Apa emang?"
"Bagaimanapun Abang akan memberi pelajaran agar di kemudian hari dia tidak berani berfikir untuk mengganggu adek. Besok abang akan temui dia, dan syarat agar dia bisa jadi pacar Abang ya harus seizin calon istri Abang dong. Gimana? Emang kamu mau ngizinin. Abang sih meski diizinin juga ogah deket-deket dia, bisa-bisa masuk rumah sakit malahan."
"Enak aja, ga maulah! Ga boleh, Abang itu cuma milik Kia." Kia mulai ceria lagi. "Emang bener ya tante Lina itu udah punya anak. Anaknya udah SD lho katanya. Masa mbak Siska tadi bilang katanya hasil jualan tempe. Saat Kia tanya Kok bisa jualan tempe menghasilkan bibit anak, eh... Ara malah bilang udah tau terus aku suruh tanya sama Abang. Emang bisa Bang?" tanya Kia polos yang membuat tawa Revan pecah.
"Siska yang ngomong gitu? Hahaha... astaga! Itu maksudnya perempuan itu dulu mungkin suka jual diri istilah kasarnya p*l*c*r gitu lah. Tapi emang iya? Hiiii... Ngeri ya! Abang sama Kia aja deh. Ga mau yang lain."
"Pantesan Mbak Siska bilang ayah anaknya bernama Bram alias Brame-rame. Mbak Siska nih suka aneh-aneh bikin istilah." Zaskia terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Eemmmm Bang... Mbak Fely itu seperti apa sih? Abang dulu sedekat apa sama dia. Sama kaya Kia gini? Atau malah lebih deket?"
"Abang itu memang pernah punya pacar, tapi Abang baru kali ini deket dengan perempuan. Dan perempuan itu adalah kamu, Zaskia Maharani."
Mendengar jawaban Revan, Zaskia merasa lega. Setidaknya di kemudian hari tidak akan muncul mantan kekasih yang datang menggendong anak dan mengaku anak dari Revan, kaya di novel-novel yang pernah dia baca.
"Terus pacaran ngapain aja kalau ga deket?"
"Apa ya? Paling makan bareng kalau nonton enggak pernah. Aku tuh ga nyaman aja terlalu deket dengan cewek. Apalagi saat menyaksikan live dia dan temen Abang sedang begituan, reaksi Abang kalau dekat dengan cewek makin berlebihan. Yang dulu cuma ngrasa ga nyaman berubah jadi mual, pusing sampe muntah-muntah. Tuh kan, abang kalo keinget aja rasamya dah kaya gini perutnya." ucap Revan sambil memegang perutnya.
"Ya udah sini Kia obatin. Abang turun dulu, sofanya dilebarin biar jadi bed. Ini bener kan sofanya kayak yang di kamar Abang itu?" tanya Kia karna sepertinya Revan juga tidur sofa bed setelah kilafnya semalam dan Zaskia tidur di ranjang.
"Abang mau diapain?" Revan sudah dag dig dug tak menentu.
Gak mungkin kan Kia ngajak tidur bareng. Astaga, iman aku ga sekuat itu Ya Allah. Batin Revan.
"Sini cepetan baring!" ucap Zaskia sambil menepuk sofa yang sudah ada bantalnya.
Revan hanya mengikuti permintaan Zaskia. Dia merebahkan tubuhnya disofa bed.
"Tengkurep Bang..."
Revan tak banyak tanya, dia segera Tengkurep.
Zaskia memijit kaki Revan dengan telaten. "Abang ada alergi minyak urut ga? Lebih enak kalau pake itu."
Kemarin saat pertama melihat rumah ini seperti melihat deretan obat-obatan di kotak obat kaca transparan. Kia berdiri dan mencari sesuatu yang bisa untuk mengurut.
"Abang capek banget ya, sampe ototnya pada tegang gini. Zaskia mengurut kaki revan dengan agak di tekan.
" Aw... Sakit yang... Ah...!!" teriak Revan saat tangan Kia mengurut bagian otot yang tegang.
" Tahan bentar Bang... Nanti kalau sudah lemes ga sakit lagi. Nanti tidurnya nyenyak." ucao Kia masih sambil mengurut bak tukang pijit profesional.
"Adek belajar dari mana?" tanya Revan sambil meringis. Matanya merem melek merasakan sensasi antara sakit dan enak.
"Dulu waktu masih SD belajar sama Pak RT, dia sering nyuruh ngurut terus Kia dikasih uang jajan."
Jadi gini rasanya ada yang manjain dan ngasih perhatian ke kita. Batin Revan bahagia.
"Enak yang aahhh... Iya tinggal yang itu yang masih sakit. Aduh duh duh..." kali ini Revan tak menjerit.
"Abang ga pernah dipijit?"
"Pernah dulu waktu kecil, kalau ga Mama ya Papa yang mijit."
"Udah selesai Bang. Kia cuci tangan dulu. Abang tidur duluan gapapa." ucap Kia sambil berlalu ke kamar mandi.
"Pengen peluk dulu dek." rengek Revan saat melihat Kia selesai cuci tangan.
__ADS_1
Kia mendekat dan duduk di tepi sofa bed.
"Udah, Abang tidur aja. Kia takut kalau lama-lama pelukannya." ucap Kia sambil menahan sensasi geli karena Revan memeluk perutnya dan kepalanya mendusel di perutnya.
"Takut Abang kilaf?" tanya Revan yang sepertinya sudah mendapat posisi nyaman.
"Bukan... Kia takut nanti Kia ga bisa mengndalikan diri buat nyerang Abang." upppsss...
Kia yang menyadari ucapannya langsung menutup mulutnya, melepaskan diri dari belitan tangan Revan dan berlari ke ranjang lalu menyembunyiknan diri ke dalam selimut agar mukanya yang memerah tak terlihat.
Revan hanya tersenyum mendengar ucapan Zaskia. Ternyata bukan hanya dirinya saja yang menginginkan untuk bersama. Dada revan makin bergemuruh. Ingin rasanya dia berlari mengejar Zaskia dan menerkamnya.
Untuk menghilangkan pikiran-pikiran nakalnya itu, Revan juga segera merebahkan diri dan berusaha untuk tidur.
*******
Andre POV
Aku merasa terbelenggu dengan pernikahanku. Meski dulu aku selalu berharap akan bertemu kembali dan menikah dengan cinta pertamaku. Namun setelah bertunangan dengan Zaskia, hatiku mudah sekali memerimanya benih cinta itu mulai tumbuh.
Aku sangat yakin saat itu kalau Zaskia lah yang memggantikan Keyzia wanita yang aku sendiri tak tahu ada dimana. Setelah lulus SMA kami miskomunikasi, dia pindah ke luar kota bersama orang tuanya. Belum ada putus di antara kami, itulah yang membuatku masih berharap berjodoh dengannya.
Akhirnya semua ternyata tak berjalan sesuai harapan. Karna kebodohanku Zaskia pergi dariku. Saat itu, entah mengapa hasratku tak bisa tertahan. Padahal sebelumnya aku tak pernah tergoda pada Vera. Namun waktu itu seperti ada dorongan dari dalam tubuhku yang menuntut untuk segera dipuaskan.
Saat bergumul dengan Vera, bahkan yang ada di mataku adalah Zaskia, gadis itu benar-benar sudah mengisi kekosongan hatiku. Namun apa mau dikata, saat akhirnya Vera hamil terpaksa aku menikahinya.
Siapa yang menduga jika hari itu Zaskia menyusulku ke Jakarta. Saat dia ingin memberiku kejutan malah aku yang membuatnya shock dan sakit hati
Aku bodoh, aku jahat. Berkali-kali aku menghubunginya namun tak pernah diangkat, ratudan pesanku pun belum ada yang dibuka. Aku benar-benar terpenjara dalam rasa bersalah. Setiap hari aku tak bosan mengirim pesan, aku selalu membuka halaman story mungkin dia mengunggah sesuatu.
Jujur dalam hatiku aku masih ingin bersamanya, aku juga tak berniat menjadi suami Vera :selamanya. Meski dibilnag aku mempermainkan janji suci pernikahan, namun nyatanya sejak awal aku memang tidak ada rasa dengannya. Bahkan setelah menikah, aku sama sekali tak berhasrat padanya. Ini aneh, meski Vera sering bert*l*nj*ng bulat untuk menggodaku, nyatanya aku sama sekali tak bern*fs*.
Pagi itu aku melihatbdia memposting sesuatu. Ternyata dia mengunggah foto dengan caption yang cukup membuatku merasa cemburu. Mengapa cepat sekali dia move on? Tangannya bahkan digenggam dengan posesif. Sebelumnya Vera menunjukkan foto dan video tentang kebersamaan Zaskia dan seorang pria berumur, Vera bilang Zaskia menjadi simpanan om-om. Aku tidak percaya, bagaimana bisa hanya karna patah hati, dia jadi memilih jalan yang tidak benar.
Setelah membuka unggahan di status WA, aku beralih ke instagram siapa tahu dia juga mengupload sesuatu di sana. Benar saja, dia mengunggah foto seorang laki-laki yang menurutlu sangat tampan. Ya, aku sebagai seorang pria saja mengagumi ketampanannya, bagaimana dengan Zaskia. Pantas saja dia mudah sekali move on, pikirku. Dia juga mengupload foto bersama seorang pria yang sudah berumur wajahnya sama persis dengan yang ditunjukkan Vera, namun ternyata setelah kubaca captionnya, dia adalah ayah dari laki-laki yang aku yakini adalah kekasihnya.
Akubtidak peduli, alu masihbterus mengiriminya pesana. Aku ingin berbicara dengannya, setidaknya aku ingin memastikan bahwa dia sudah memaafkanku. Mungkin itu akan membuatku tenang untuk ke depannya.
TBC...
Mampir juga di karya keduaku ya, mohon dukungannya.
Jangan lupa tinggalkan komentar ya biar othornya semangat nglanjutin ceritanya. Karna ide itu kadang datangnya dari pembaca.
So jangan lupa tekan 👍 dan ❤️
Makasih❤️❤️
__ADS_1