
Kemarin setelah mendapatkan kabar bahwa hari ini ada yang akan bertamu dengan tujuan melamar Kia, Bunda Laras menceritakan kepada pak RT.
Pak RT memang sempat terkejut, pasalnya setahu dia, Kia sudah bertunangan dengan anak Pak Lurah. Bunda pun menceritakan bahwa Andre telah menikahi Vera anak dari kakaknya. Pak RT merasa kasihan dengan nasib yang dialami Laras dan ibunya. Namun juga turut bahagia karena setelah gagal menikah, Kia segera mendapatkan penggantinya.
Hari ini meskipun hanya menyiapkan menu ala kadarnya, Bunda ingin menyambut tamunya dengan baik.
Denis sejak pagi juga sudah standby di rumah Bunda. Dia sudah seperti jadi tangan kanan Revan saja. Tiba-tiba saja dia ingin meniru figur seorang Revan, makanya apapun akan dia lakukan jika Revan yang yang meminta.
Terdengar suara mobil mendekati pekarangan rumah sederhana itu. Denis, Pak RT, dan istrinya ikut menyambut tamu mereka.
"Assalamu Alaikum." ucap mereka setelah turun dari mobil.
Ternyata Mama dan Papa datang dengan dikawal bodyguard.
Bunda langsung keluar ikut menyambut tamunya.
Tak ada yang istimewa dari penampilannya, meski sudah memakai pekaian terbaiknya, tetap saja Bunda merasa minder. Sebagai orang yang pernah bersuamikan pengusaha, dia tahu berapa harga mobil yang saat ini dipakai tamunya. Bukan mobil sejuta umat yang biasa orang miliki di desanya. Bunda jadi makin tidak percaya diri.
"Wa alaikum salam... Maaf keadaanya seperti ini Pak, Bu... Mari masuk." Bunda menyambut tamunya dengan ramah dan apa adanya dan mempersilakan masuk
"Santai saja Bu, kenalkan saya Mamanya Revan, Renata. Dan ini Papanya Revan, Sutomo. Ternyata Bundanya Kia masih muda ya." ucap Mama Rena setalah mengamati calon besannya ini.
Papa hanya tersenyum, tak ingin menginterupsi obrolan dua wanita ini.
"Ah, Bu Rena bisa saja. Saya sudah tua bu, anak gadis saya saja sudah besar. Beginilah keadaan kami Bu, saya takut nantinya akan mempermalukan keluarga Bu Rena."
"Tapi beneran masih cantik kan Pa? Hahaha..." ucap Mama Rena lagi
Memang aura kecantikan Bunda masih kuat, meski terlihat kulit wajah yang kusam.
Papa hanya mengangguk.
"Jadi begini Bu, kedatangan kami ke sini... Yang pertama kami ingin bersilaturrahim, yang ke dua mungkin anak kami Revan sudah memberitahukan kedatangan kami sebelumnya, bahwa kami ingin meminta anak Bu Laras Zaskia untuk menjadi istri dari anak bungsu kami Revan." Papa mengungkapkan maksud kedatangannya ke rumah Bunda Laras.
Bu Laras memberikan kode pada Pak Rt untuk berbicara mewakili.
" Alhamdulillaah kami keluarga Zaskia menyambut maksud baik Bapak Ibu sekalian. Namun ada beberapa hal yang harus Bapak dan Ibu ketahui. Selain keadaan ekonomi yang apa adanya, separti yang Anda lihat, Zaskia saat ini masih mempunyai wali, hanya saja tidak diketahui keberadaannya, dan dulu waktu Kia masih kecil, Ayah Zaski sempat tidak mengakuinya sebagai anak. Sebelum memutuskan untuk melangkah ke tahap berikutnya, kami harus memberitahu ini agar tidak jadi masalah di kemudian hari. Jika setelah mengetahui ini Bapak dan Ibu mau mundur, kami persilakan, daripada nanti Anda mundur saat telah terjadi kesepakatan."
Ucap pak RT tegas, dia tak mau Kia yang sudah dianggap anaknya harus merasakan kedua kali disakiti.
Papa dan Mama terharu mendengar kejujuran mereka. Terlihat sekali mereka bukanlah penjilat.
"Kami sudah tau Pak, Kia audah menjelaskannya. Untuk masalah Ayah Kia, hanya saja mungkin ibu perlu menceritakan tentang beliau. Karna nantinya akan berhubungan dengan wali nikah. Dan juga, saya mengenal seseorang yang namanya sama seperti ayah Kia, saya ingin memastikan apakah benar orang yang sama atau hanya kebetulan saja." ucap Papa Tomo.
"Apakah Bu Laras ada foto Ayah Kia?" tanya Mama Rena menyambungi penjelasan Papa.
"Maaf, waktu itu saya tidak sempat membawa apa-apa. Saya hanya membawa dokumen anak saya akte kelahiran dan ktp saya." jawab Bu Laras lirih.
Semua yang ada di sana terenyuh mendengar ucapan Bunda Laras.
Papa merogoh ponselnya, dia membuka galeri yang dikirimkan Reyhan tadi melalui WhatsApp berupa foto Abimana saat berkunjung ke kantor kemarin.
"Ini adalah foto rekan kerja saya Bu. Maaf apakah dia juga Ayah Kia?" tanya Papa.
Bunda menerima dan membukanya, dilihatnya foto seorang pria yang sudah menyakitinya namun selalu dia rindukan sedang berada ki kursi roda.
Deg deg deg
Air mata Bu Laras tanpa aba-aba keluar.
__ADS_1
"Be... Benar ini seperti Ayahnya Kia Pak... Ta tapi, apa yang terjadi dengannya? Mengapa dia duduk di kursi roda?" tanya Bunda Laras sambil terisak.
"Yang saya dengar, Pak Abi dulu waktu masih muda mengalami kecelakaan dan sempat koma hampir 2 tahun dan setelahnya tidak terdengar lagi beritanya. Dan ini pertama kalinya dia ke kantor Bu." jawab Papa Tomo.
"Ya Allah, saya benar-benar tidak tahu. Mengapa jadi seperti ini Mas? Apa yang sebenarnya terjadi?" tangis Bunda tambah pecah.
"Apakah Bu Laras tidak ingin mencoba untuk kembali? Maaf jika saya lancang. Tapi saya rasa ada yang memang sengaja memanfaatkan ini untuk kepantingan pribadi mereka, bahkan mungkin Pak Abi pun tidak tahu kalau sedang dimanfaatkan." ucap Papa Tomo mencoba memberi saran.
Mama Rena mendekat dan memeluk Bunda yang sepertinya sedang sedih, entah teringat masa dulu atau karena sedih melihat suaminya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Sa... Saya takut Pak. Saya tidak mau mendapat penolakan lagi, karena itu hanya akan menyakiti hati anak saya." jawab Bunda Laras masih sesenggukan.
"Masalahnya, sepertinya Bunda Laras dan Zaskia sekarang sedang menjadi target pencarian. Apakah pernah ada orang yang datang mencari Bu Laras?" tanya Papa Tomo.
"Kemarin ada orang-orang berpakaian hitam-hitam mencari Bu Laras Pak. Tapi Bu Laras saya suruh diam-diam pergi ke rumah Pak RT dari belakang." kali ini Denis ikut menjawab.
"Begini Bu, sejak Zaskia diperkenalkan kepada kami oleh anak kami, kami sudah menganggap Kia anak saya sendiri. Jika Bu Laras berkenan, izinkan kami membantu menyelidiki hal ini. Dan untuk itu kami mohon ibu bersedia ikut kami untuk keamanan Bu Laras sendiri. Karna jika Bu Laras tetap di sini tidak ada yang bisa menjamin keselamatan Ibu. Bagaimana?" tanya Papa penuh penekanan.
"Saya... Saya bingung Pak. Apakah saya bisa berbicara dulu dengan Kia Pak? Apa jam segini Kia bisa menerima telepon?" tanya Bunda ragu-ragu.
"Sebentar ya, semoga terhubung." jawab bunda yang segera meraih ponselnya. Untung meski di daerah pedesaan, internet juga sudah lancar.
Panggilan video terhubung, tak lama muncullah wajah Kia yang terlihat sedang bekerja karena masih memakai seragam.
"Assalamu alaikum Mama." sapa Kia girang karna Mama Rena menghununginya.
"Wa alaikum salam sayang, masih kerja? Sibuk ga?" jawab Mama Rena.
"Iya Ma, masih di kafe. Ga begitu sibuk sih Ma. Tadi belajar bikin laporan sama Mas Roni. Kenapa Ma? Eh, mama di mana sih? Kok Kia kayanya ga asing?" ucap Kia penasaran.
"Mama punya kejutan... Tara.." Mama mengarahkan kamera kepada Bunda.
"Gimana kabar kamu sayang?" tanya Bunda.
"Alhamdulillah Kia sehat Bun... Bunda gimana? Kangen Bun...!" rengek Kia.
"Katanya mau jadi istri, kok masih manja sih? Lagian kamu kan kerja sayang, ga bisa seenaknya bolos dong." jawab Bunda.
Kia terlihat mengerucutkan bibirnya.
"Kok Bunda tau, jangan-jangan Mama dan Papa ke situ...? Astaga... Ini? Bun... Ceritain, masa Kia ga tau apa-apa sih." ucap Kia.
Mereka yang ada di sana tertawa mendengar ocehan Kia yang terdengar menggemaskan.
"Sekarang Mama sudah melamar Kia, Kia mau kan jadi suami Revan? Jadi anak Mama dan Papa?" tanya Mama Rena.
Kia tersipu dan akhirnya mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu, kamu lanjut kerja dulu ya. Nanti bos kamu marah kalau kamu kerjanya ga bener. Bunda sayang Kia." ucap Bunda mengakhiri panggilan
Tak ada yang lebih Bunda inginkan kecuali kebahagiaan putrinya.
"Kalau saya menerima ajakan Bapak dan Ibu apa tidak merepotkan?" ucap Bunda ragu.
"Tentu saja tidak Bu, kami tahu tempat yang aman untuk Bunda."
Akhirnya Bunda pun menyetujui untuk ikut bersama mereka. Dalam hati Bunda selalu berdoa semoga kebahagiaan putrinya tidak akan pernah berakhir. Beruntungnya Kia bertemu dengan keluarga ini. Batin Bunda Laras.
******
__ADS_1
Zahra masih membolak-balikkan badannya di tempat tidur. Sepulang mengajar tadi sesuai janjinya, dia membantu Reno berkemas dan membantu pindahan ke rumah barunya. Dia masih belum juga mengerti, tumben sekali Clara sama sekali tak terlihat.
Zahra juga tak menanyakan tentang itu pada Reno. Sikap Reno yang manis itu semakin membuat hatinya resah.
"Tidak, ini tidak benar. Aku harus membuang perasaan ini. Bang Reno adalah kakakku. Itu yang harus selalu ku ingat." gumam zahra.
Tring...
Terdengar bunyi notifikasi dari ponselnya.
Kak Ferdi :
Assalmu alikum Wr. Wb. Dek Zahra...
Apakah saya mengganggu?
" Ok Zahra... Saatnya kamu move on! " ucap Zahra bermonolog.
To Kak Ferdi:
Wa alaikum salam Wr. Wb.
Ga ganggu kok Kak, Zahra baru bersiap tidur.
Ada apa?
Kak Ferdi :
Oh, ga papa
Kakak cuma pengen kenal Dek Zahra lebih dekat saja
Bolehkah?
To Kak Ferdi :
Insya Allah boleh Kak
Apa ada yang ingin kakak tanyakan?
Obrolan pun berlangsung lama saling menanyakan kegiatan dan mulai bertukar cerita tetang keseharian mereka. Zahra sampai akhirnya tertidur dengan chat masih dalam kondisi online.
Sedangkan Reno yang sejak tadi mengirim pesan tapi tidak dibalas jadi gelisah.
"Ni anak ngapain aja sih, dia masih online kok. Tapi kok pesanku ga dibalas-balas ya." ucap Reno menggerutu.
Reno mendesah...
"Kamu berhak bahagia dek... Abang ga mau egois. Kamu pantas mendapatkan laki-laki yag sempurna. Maafkan Abang, bukan Abang tidak peka dengan perasaan Rara. Tapi Abang bukang laki-laki yang sempurna. Abang sayang kamu Dek..." ucap Reno lagi.
Meskipun dokter mengatakan bahwa hasil pemeriksaan tidak ditemukan kelainan, namun Reno merasa dirinya tidak sempurna sebagai laki-laki.
TBC...
Terima kasih dukungannya
Ditunggu komentarnya
Jangan lupa tekan 👍 dan ❤️
__ADS_1
Makasih ❤️❤️