
"Mas, udah siang ini. Jadi nyusul Mama ga?" Siera mencoba membujuk suaminya saat melihat jam dinding menunjuk angka 10.40 WIB.
"Belum puas yang... Sekali lagi ya, pliss! Ya ya!" jawab Reyhan memelas sambil menciumi leher istrinya.
"Mas... Cira tuh pengen jalan-jalan sama Kia." ucap Siera tak kalah memelas, "Aaahhh.... Maasss, udaahhh...." kali ini siera tak tahan untuk mend*s*h.
Reyhan tak menanggapi lagi rengekan istrinya. Karna sekarang dia sedang sibuk dengan mainan favoritnya yang pernah menjadi sumber kehidupan si kembar. Siera pun akhirnya menyerah juga. Dia tak pernah bisa menolak pesona suaminya itu.
Tadi sebenarnya setelah si kembar aman bersama mbak pengasuh dan mbok Mi, mereka akan menyusul Mama ke mall. Namun gara-gara tragedi handuk merosot Reyhan yang sudah siap berangkat pun tak urung menanggalkan semua pakaiannya dan berakhir dengan pergulatan sengit di atas ranjang.
"Tuh kan udah mau adzan, Mama sama Kia pasti dah mau balik." Kia masih merajuk setelah menyeleaaikan pertempuran mereka.
Reyhan hanya terkekeh tanpa merasa berdosa. Istrinya itu masih saja menggemaskan. Padahal tadi saat pertarungan, dia pun sangat menikmati.
"Udah, jangan ngambek. Kapan-kapan kan masih bisa jalan bareng. Atau kalo main ke kantor Mas, kan bisa mampir ketemu Kia di kafe."Reyhan masih membujuk istrinya agar tidak marah lagi.
" Mas Rey sih, ga ada puasnya. Padahal habis subuh udah, masa belum ada sehari udah 3 kali. "ucap siera merengut. "Padahal minum obat yang 3 kali sehari aja pake jeda lho."
Reyhan semakin melebarkan tawanya, lalu merengkuh istrinya. "Mas yang maksa, tapi kamu juga rela kan? Masa enggak sih, kan pahala yang!"
"Tau ah... Mas harus tanggung jawab!"
"Tanggung jawab apanya sih yang? Kan kita udah nikah yang... Mau nikah lagi emang? Itu bibir dimanyun-manyunin gitu minta cium? Sini, Mas masih bisa lho yang lanjut lagi." ucap Reyhan sambil menggelitiki pinggang istrinya.
"Geli Masss... Ampun! Udah, stop Mas geli!" teriak Siera menahan geli.
Tak lama Reyhan pun menghentikan aksinya dan memberikan kecupan-kecupan kecil di wajah istrinya.
"Udah, jangan ngambek! Mandi yuk, udah adzan." tanpa menunggu jawaban istrinya, Reyhan membopong Siera ke kamar mandi.
Setelah membersihkan diri dan sholat mereka masih makan siang, nampak si kembar baru saja pulang dari taman bermain.
"Ihhh... Anak mami baru pulang ya? Sini peluk dulu. Danesh sama Nesha udah mamam?"
"Udah, sama mbak, sekalang ngantuk Mi."
"Ya udah, yuk bobo sama Mami. Biar mereka sama saya saja mbak! Mbak istirahat saja. Mbok... Nanti tolong beresin meja makan ya!" ucapa Siera masih dengan nada sopan.
"Iya mba, tinggal aja nanti mbok beresin!"
"Mas, Cira temenin anak-anak dulu ya." pamit Siera yang dibalas anggukan oleh suaminya yang belum selesai makan.
*****
"Jadi ini yang dimaksud rumah sayap kanan Bang. Besar juga ya Bang?" tanya Kia saat Revan menghentikannya di rumah sayap kanan yang dimaksud.
"Lumayan, besok kalau udah nikah, Adek bebas mau tinggal di mana. Senyamannya aja." kata Revan sambil merengkuh bahu Kia lalu menggiringnya masuk ke dalam.
"Ada 2 kamar di sini tambah di belakang 1, kalau di atas ada 2, masing-masing sudah ada kamar mandinya." jelasnya kemudian.
__ADS_1
Kalu dibandingkan dengan rumah besar, memang rumah ini lebih kecil tapi kalau dibandingkan dengan rumah Kia yang di desa ini mah 3 kali lipatnya. Ini pun Masih tambah lantai 2. Batin Kia mulai membandingkan dan merasa takjub, dia merasa kembali tidak percaya diri, apakah mungkin upik abu bisa menjadi ratu. Pandangannya berubah menjadi sendu.
"Kenapa?" tanya Revan saat menyadari perubahan raut muka gadisnya.
"Ga papa. Kia hanya jadi ngrasa ga pantas aja bersanding sama abang. Kita itu ngrasa bagaikan bumi dan langit tau ga Bang?"
"Jangan gitu ah, Abang ga suka dengernya. Harta itu hanya titipan, hati seseorang tidak bisa dinilai dengan uang. Abang mencintai adek apa adanya. Jika abang mencari yang yang punya banyak harta, mungkin abang malah udah nikah dari dulu. Tapi nyatanya, hati dan tubuh Abang nyantolnya di kamu, gimana dong?" tutur Revan panjang sambil menggoda Kia.
Saat ini mereka sedang berada di kamar utama yang biasa Revan tempati. Kamar ini lebih besar daripada kamar yang di apartemen namun lebih kecil dari yang di rumah besar. Tapi bagi Kia, kamar ini masih terbilang besar, bahkan masih bisa dipakai untuk main badminton.
Perlahan Kia membalikkan badannya menghadap Revan, lalu mengulurkan tangannya untuk menggapai wajah Revan. Revan hanya memejamkan mata saat kedua tangan Kia yang dulu dirasa kasar tapi sekarang nampak terasa lebih lembut itu menyapu wajahnya.
"Aku rasa pasti di kehidupan sebelumnya, Kia itu melakukan perbuatan baik sehingga saat berada di kehidupan sekarang, Kia bisa dicintai oleh pria seperti Abang. Kia juga sayang sama Abang. I Love You Abang... Cup!" Kia mengungkapkan perasaannya diakhiri dengan kecupan di dagu Revan. Kemudian dia menyembunyikan wajahnya di dada Revan karna malu sudah mencuri sedikit kecupan.
Revan langsung terbelalak saat merasakan bibir Kia mendarat di dagunya. Ini adalah peetama kalinya Kia menciumnya terlebih dulu meski hanya kecupan singkat. Apalagi mendengar ungkapan hati Kia, senyumnya langsung tercetak lebar.
"Ah... Sayang, kamu mulai nakal ya! Bisa kilaf beneran lho Abang. Tapi abang suka, jangan pernah berubah ya! Ke depannya bukan tidak mungkin hubungan kita akan banyak rintangan, abang hanya minta untuk kita saling percaya, selalu mengungkapkan apa yang mengganjal di hati kita. Jangan dipendam. Ok! " ucap revan menyiratkan permohonan sambil mengeratkan pelukannya. Kia hanya mengangguk dalam dekapan Revan." Masih mau di sini atau jalan sekarang nih?"
Pertanyaan yang menyadarkan Kia.
" Ah iya, sekarang aja Bang." jawab Kia lalu berbalik sambil menggandeng Revan keluar rumah.
*****
Tok tok tok...
Suara kamar Reyhan di ketuk dari luar.
"Iya mbok, makasih ya." jawab Reyhan.
Reyhan bergegas menemui Papanya di ruang kerja.
"Gimana Pa?" tanya Reyhan setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk oleh Papa.
"Sepertinya adikmu memang sudah serius dengan gadis itu. Papa ingin berkunjung langsung ke rumahnya. Papa percaya Kia anak yang baik. Papa hanya ingin memastikan beberapa hal."
"Maksud Papa?"
Pak Tomo menghela nafas panjang.
"Kia tadi menyebut Abimana Rahardian sebagai ayahnya. Papa ingin memastikan apakah dia orang yang sama dengan orang yang kita kenal atau bukan. Karna setahu Papa, setelah mengalami kecelakaan, Abimana bahkan sampai saat ini tidak pernah mengurus perusahaannya sendiri, semua dikerjakan oleh asistennya."
"Apakah masih lama kontrak kerja dengan 3R group Pa?"
"Kalau tidak salah, masih ada 3 bulanan lagi. Entahlah, Papa hanya merasa kinerjanya semakin menurun?"
"Papa ingin Rey menyelidikinya?"
"Sepertinya memang tidak ada salahnya kita menyelidikinya. Mungkin saja ada yang tidak beres, Jadwalkan juga untuk mengunjungi Abimana."
__ADS_1
"Baik pa, Reyhan dan Bimo akan turun langsung."
"Bagus! Atur secepatnya dulu ke rumah calon mantuku. Kalau bisa besok juga ga papa."
"Papa besok pagi ada meeting penting dengan Mr. Simon, dia ingin bertemu langsung dengan Papa, hanya itu Pa yang tidak bisa diwakilkan, selebihnya untuk minggu ini bisa Reyhan handle. Pesawat siang sepertinya masih bisa atau Papa mau ambil yang penerbangan malam saja? "
"Bagus, mungkin malam saja biar tidak terburu-buru, nanti Papa bilang Mama dulu!!" Jawab Papa
"Mau sama Mama Pa?" tanya Reyhan memastikan.
"Pake tanya lagi! Ya iyalah, masa mau ngajak irfan. Nanti dikira mau melamarkan dia lagi. Lagian itu bocah sebenarnya tampan lho, eh sebenarnya dia doyan cewek ga sih. Curiga nih Papa!" sahut Papa sambil bersungut. Irfan adalah teman Reyhan yang bekerja di 3R Group, namun gayanya seperti perempuan.
"Ha ha ha ha ha.... Normal Pa dia, tenang saja. Oke Pa, Reyhan hubungi Bimo dulu untuk memesan tiket dan mengatur penjemputan!"
Papa keluar dari ruang kerja menuju kamarnya, ternyata Mama sedang menerima panggilan telepon dari adik iparnya di Surabaya.
"Ada apa Ma?" tanya Papa menyelidik, karena setelah panggilan berakhir wajah Mama jadi murung.
"Melina beberapa kali melihat clara bersama dengan laki-laki dan berinteraksi sangat intim. Dan terakhir, kemarin siang karna Meli merasa penasaran, dia mengikuti Clara. Ternyata mereka check in di sebuah hotel. Mama takut Reno terluka Pa." ucap mama mengungkapkan kegelisahannya.
" Mama jangan khawatirkan Reno, dia sudah dewasa. Dia sebenarnya bukan orang yang mudah ditindas, mungkin karna sekarang saja dia belum menyadari, biarkan sampai dia melihatnya sendiri. "
" Iya Pa, entahlah... Sebenarnya apa Yang dilihat dari isterinya itu?"
"Sudahlah Ma, jangan berpikir yang berat-berat!"
"Ngomong-ngomong soal Meli, kok Kiara lama banget ga main ke sini ya. Biasanya juga sering nongol di butik, tapi akhir-akhir ini ga ada lihat."
"mungkin banyak tugas kuliah, jadi ga sempet main."
"Iya sih. "
"Mama mau ke berkunjung ke Surabaya?"
"Mau sih Pa, emang kapan Papa senggang? Mama juga kangen sama zahra Pa. Terakhir ketemu pas nikahannya Reno kan? Anak itu jadi tambah cantik."
"Besok kita ke Jogja, habis dari Jogja langsung ke Surabaya, gimana?"
"Besok kita mau ke Jogja? Kok ga kasih tau dari kemarin?"
"Punya rencana juga hari ini, gimana dong?"
"Ada masalah sama hotel di Jogja, Pa?"
"Kita mau melamar Kia Ma. Mama mau kan anak kesayangan mama itu segera menikah?"
"Yang bener Pa? Bukan prank kan ini?" Papa hanya mengangguk. "Papa memang selalu terbaik? Love you Pa!" Mama berhambur memeluk Papa.
TBC...
__ADS_1
Terima kasih untuk dukungannya, jangan lupa tekan👍 dan❤️
Makasih semua💞❤️