Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 56. PERTEMUAN


__ADS_3

"Bagaimana persiapannya Zi? Apa perhatian mereka bisa dialihkan?" tanya Abimana pada asistennya.


"Sesuai rencana Tuan. Roy sedang disibukkan dengan rencana mereka untuk mendekati Pak Revan dan atasannya, masih dengan tujuan yang sama." jawab Zian


"Semoga Revan bisa mengecoh mereka sehingga jadwalku terapi tidak tertunda setelah itu kita bisa langsung menuju 3R Group. Tapi tetap waspada Zi, jangan lengah. Kita tidak tahu, seberapa besar kekuatan Roy di luar sana." ucap Abimana pelan namun tegas.


"Benar Tuan, orang kita sedang menyusup ke dalam kelompok mereka. Secepatnya kita akan tahu seberapa besar kekuatan mereka dan apa yang sedang mereka rencanakan selanjutnya untuk menjatuhkan perusahaan." lapor Zian pada Abimana.


"Bagus Zi, setelah itu jangan kasih ampun mereka. Mereka harus merasakan sakit yang selama ini kami rasakan Zi. 17 tahun... Mereka harus menebus kesakitan kami selama itu." ucap Abimana dengan pandangan penuh luka dan dendam.


"Sedikit lagi Tuan, semoga tidak ada hambatan yang berarti." ucap Zian menanggapi.


Abimana menarik nafas dalam. Sejujurnya dia sampai saat ini belum tenang. Masih menduga-duga. Apakah dia bisa kembali bersama dengan istri dan anaknya. Bagaimana jika Laras terlanjur sakit hati dan tidak mau kembali padanya.


"Maaf Tuan, kita akan berangkat sebentar lagi. Jadwal terapi anda sedikit dimajukan. Apakah anda keberatan?" tanya Zian sopan.


"Baiklah, tidak masalah. Kita mampir ke kantor sebentar nanti. Bagaimana tanggapan Roy saat kamu mengatakan untuk membuatkan proposal kerjasama dengan 3R GROUP tentang pembangunan di atas tanah yang dulu aku beli di kampung halaman Laras?" tanya Abimana.


"Sepertinya dia tidak merasa curiga Tuan, karena saya mengatakan pembangunan itu bukan semata untuk tujuan bisnis tapi juga untuk mengenang Nyonya. Begitu Tuan." jawab Zian.


"Baguslah jadi kepergian kita ke 3R GROUP tidak perlu sembunyi-sembunyi dengan alasan itu." ucap Abimana sambil tersenyum. Bahkan dia belum memikirkan bagaimana nanti dia akan membawa istri dan anaknya. Ah, dia lupa memikirkan hal ini kemarin.


"Menurutmu, jika Laras bersedia ikut denganku, kemana aku harus membawanya Zi? Aku takut mereka akan dengan mudah menjadi incaran perempuan laknat itu." tanya Abimana ketika sudah berada di perjalanan.


"Jangan berburu - buru Tuan. Mungkin ada baiknya jika nanti kita meminta pendapat Tuan Tomo. Karna tempat Nyonya dan Nona yang paling aman saat ini adalah kediaman Tuan Tomo." ucap Zian yang Tahu jikalau sebenarnya Abimana sangat ingin segera berkumpul dengan istrinya.


"Baiklah, kamu benar Zi. Aku harus menahan diri sepertinya." Abimana menanggapi.


Sesampainya di rumah sakit, Abimana dengan semangat mengikuti arahan dari dokter dan orang-orang yang membantunya.


Keinginannya untuk sembuh membuatnya sangat bersemangat melakukan terapi. Tidak ada rasa takut meski terjatuh berkali-kali. Perawat yang membantu proses terapi pun tak dia izinkan untuk membantunya. Abimana tahu, jika sejak awal wanita itu memperhatikannya, namun Abimana tak mempedulikan.


Suster Diah, dia adalah perawat yang diminta oleh dokter Arif untuk mendampingi dan menyiapkan segala keperluannya. Sejak awal melihat Abimana, janda 2 anak ini memang terlihat sekali mengagumi ketampanan Abimana. Dalam hati, dia selalu berharap Abimana akan meliriknya.


Dari penampilannya saja Diah tahu bawa Abimana adalah orang kaya. Setidaknya jika dia bisa mendekati Abimana apalagi sampai menikah dengannya, dia tidak harus memikirkan biasa kuliah dan sekolah anaknya.


Dia tidak tahu mengapa sejak awal Abimana hanya datang dengan asistennya saja. Istrinya kemana? Dia menduga-duga hal yang mungkin terjadi sehingga istrinya tidak mendampingi. Mungkin Abimana sudah bercerai atau mungkin istrinya meninggalkan Abimana karna sekarang dia cacat. Sejak saat itulah dia mencoba mencari perhatian Abimana.


Melihat Abimana yang sudah selesai terapi dia segera mendekat dan beriniaiatif mengelap keringat yang menetes di wajahnya, namun Abimana segera menepisnya.


"Saya bisa sendiri." ucap Abimana dengan nada datar tanpa ekspresi yang langsung menarik handuk yang dipegang Diah. Entahlah, mengapa wanita ini mengingatkannya pada Diana. Bahkan Abimana sebelumnya juga tidak mengenalnya, mamun hatinya sudah membencinya.


"Ah, iya. Maaf Pak. Saya ambilkan minum saja." ucap Diah


"Tidak perlu Bu, saya sudah membawakannya." ucap Zian yang datang dari belakang.


Abimana meraihmya dan menenggak air mineral dalam botol itu perlahan. Terlihat jakunnya naik turun karena minuman yang masuk lewat kerongkongannya. Pemandangan itu tak luput dari perhatian Diah hingga dia tak dapat menelan ludahnya sendiri.


Zian yang menyadari itu hanya menggelengkan kepalanya. Sepertinya Dia punya tugas baru untuk melindungi Tuannya dari perawat itu.

__ADS_1


Setelah selesai melakukan terapi Abimana didampingi Zian menuju ke kantor dan masuk ke ruangannya. Tak lama, masuklah Roy Arkatama dengan membawa map, yang diyakini adalah proposal dan draft yang nanti akan diajukan untuk kerjasama dengan 3R GROUP.


"Ini proposal yang Tuan minta, Anda bisa mengeceknya dulu. Apakah Tuan yakin akan menghandlenya sendiri?" tanya Roy basa-basi. Roy dari awal memang tidak tertarik dengan proyek itu. Terlalu membuang-buang tenaga untuk sesuatu yang belum tentu ada hasilnya.


" Iya, karna ini adalah proyek persembahan untuk istriku. Aku ingin memastikan sendiri, semua berjalan sesuai impianku." jawab Abimana.


"Baiklah Tuan. Ada lagi yang bisa saya bantu?" tanya Roy.


"Tidak, lanjutkan saja pekerjaanmu. Biar aku pelajari dulu proposal ini." ucap Abimana


"Sekalian saya pamit Tuan, ada meeting di luar kantor. " pamit Roy kemudian. Sekilas dia melirik Zian dengan sinis lalu keluar ruangan Abimana setelah dipersilakan.


"Zi, rasanya gerah kalau tidak mandi lagi. Kau saja yang cek aku mandi dulu. Ini pertemuan penting untukku. Masa iya, aku bau keringat seperti habis lari maraton." ucap Abimana yang kemudian segera menarik kursi rodanya ke kamar mandi. Meski Zian sudah menawarkan bantuan, namun Abimana menolaknya. Mulai sekarang, dia ingin melakukan hal-hal pribadinya sendiri tanpa bantuan.


Janji temu di 3R GROUP ditentukan setelah makan siang. Saat ini Abimana bahkan tak berselera makan meski banyak makanan tersaji di meja makan resto favoritnya bersama sang istri dulu saat masih bersama. Meski begitu, mau tidak mau dia tetap harus makan agar punya tenaga untuk mengadapi apapun situasinya nanti.


Setelah selesai mereka segera menuju tempat yang sudah dijanjikan oleh CEO 3R GROUP itu untuk bertemu dengan istri dan anaknya.


Saat sampai di loby, sudah ada Bimo yang menyambut kedatangan ayah Zaskia ini. Bimo segera mengantarkan ke ruangan khusus untuk tamu VIP bukan ke ruang meeting.


"Silakan masuk Pak Abi." ucap Bimo mempersilakan masuk.


"Sebentar lagi Pak Tomo dan yang lain akan segera datang. Pak Zian katanya ingin bertemu saya?" tanya Bimo beralih pada Zian.


"Iya Pak Bimo, Pk Abi ingin mangajukan kerjasama. Saya sudah membawa proposalnya." ucap Zian menjawab pertanyaan Bimo.


"Saya di sini sendiri tidak apa Nak Bimo, tidak perlu mencemaskan saya." ucap Abimana.


"Baiklah Pak, kalau begitu saya tinggal dulu. Mari Pak Zian!"


Mereka segera keluar menuju ruangan Bimo. Dilrong mereka sudah berpapasan dengan Pak Tomo, Reyhan, Laras dan Zaskia. Dua permpuan beda generasi itu sudah di make over oleh Siera sebelum datang ke sini. Usia laras masih 39 hampir 40 tahun, dan kini wajahnya terlihat lebih segar lebih muda dari usianya. Mereka berjalan sambil saling merangkul dari samping.


Zian mengangguk hormat pada mereka. Beruntung sakali Abimana mendapatkan dua wanita spesial ini. Setelah ini tampaknya dia akan memasuki masa puber yang ke 2, batin Zian sambil terkekeh sendiri dalam hati.


Ceklek...


Arah pandang Abimana langsung tertuju pada pintu yang terbuka.


Deg deg deg...


Jantungnya tiba-tiba berdetak tak beraturan, dadanya seperi tertimpa benda berat, rasanya sesak. Saat melihat dua wanita yang berada di belakang Tomo dan Reyhan. Air matanya keluar tanpa dikomando. Dia bahkan sudah lupa untuk menyapa sang pemilik tempat.


Papa Tomo masuk dan menepuk-nepuk bahu Abimana memberikan dukungan. Setelah bisa menguasai diri, perlahan Abimana menggerakkan kursi rodanya mendekati dua wanita yang selama ini dia rindukan.


Sementara Laras dan Zaskia sendiri bahkan sejak akan membuka pintu matanya sudah memanas, sudut matanya sudah berembun. Jantungnya terpompa berkali-kali lipat lebih cepat. Dan saat pintu terbuka air matanya langsung meluncur saat melihat pria di kursi roda. Zaskia dan Laras saling berpelukan sambil menangis. Apakah ini nyata saat akhirnya Zaskia bertemu dengan ayah yang selama ini ingin dia temui.


Laras sendiri bingung dengan statusnya saat ini. Apakah dia masih istri Abimana atau bukan. Sudah lama sekali, 17 tahun bukan waktu yang sebentar. Bisa saja Abimana sudah mengurus surat cerainya. Dia mengusap-usap kepala anaknya memberikan kekuatan. Gerakan kepalanya memberikan kode pada Zaskia untuk mendekat pada ayahnya. Meski sejujurnya dia sendiri merindukan Abimana namun logikanya saat ini menyuruhnya untuk tidak memeluk Abimana. Setidaknya dia tidak akan malu jika Abimana menolaknya.


Zaskia menegakkan tubuhnya. Dengan perlahan dia berjalan ke arah Abimana yang berjalan dengan kursi roda ke arahnya. Tangis Zaskia makin menjadi saat dia menubrukkan tubuhnya dan memeluk kaki Abimana yang dalam posisi duduk. Abimana pun sampai tak bisa berkata-kata lagi. Mereka saling berpelukan menyalurkan perasaan rindu yang selama ini hanya bisa mereka pendam karna tak tau keberadaan masing-masing.

__ADS_1


Mereka yang menyaksikan pertemuan ayah dan anak ini ikut terharu dan meneteskan air mata.


"Bicaralah bertiga, pasti ada banyak hal yang harus kalian selesaikan. Kami permisi dulu, kalau butuh sesuatu hubungi kami." ucap Papa Tomo sambil menepuk bahu Abimana dan mengelus pucuk kepala Zaskia. Kemudian beralih menatap Laras yang sejak tadi masih berdiri di depan pintu sambil menangis sesenggukan. Papa menghampiri Laras sambil berkata, "Semua akan baik-baik saja. Kalian berhak bahagia."


Setelah terlihat Laras mengangguk, Papa Tomo keluar diikuti Reyhan.


Abimana dan Zaskia masih berpelukan sambil menangis. Tangannya mengusap lembut kepala putrinya.


"Maafkan ayah Sayang. Ayah sudah banyak menyakiti Zaskia dan bunda. Ayah sudah berdosa pada kalian. Tapi ayah mohon, ampuni ayah. Ayah sayang dengan kalian. Jika kata maaf saja tak cukup, maka hukumlah ayah. Apapun akan ayah terima asal kalian memaafkan ayah dan kembali bersama ayah." ucap Abimana dengan air mata yang masih mengalir.


Zaskia melonggarkan pelukannya, dan memberanikan diri menatap ayahnya.


"Kata Bunda, meskipun ayah tidak pernah menemui kami, ayah itu orang baik. Bunda bilang Kia tidak boleh membenci ayah. Bunda bilang, kalau Kia pengen ketemu ayah, Kia harus banyak-banyak berdoa agar ayah sehat agar nanti kita bisa bertemu. Dan sekarang Allah sudah mengabulkan doa-doa Kia. Kia sayang sama ayah. Kia kangen sama ayah.. " ucap Zaskia masih sambil terisak.


Abimana kembali merengkuh Zaskia dalam pelukan, meski dengan keadaan Abimana yang duduk di kursi roda tidak bisa benar-benar memeluk putrinya dengan sempurna.


Abimana sama sekali tidak menyangka, orang yang sudah dia sia-siakan masih mau menanamkan pikiran pada putrinya seperti itu. Abimana semakin merasa bersalah, sudah banyak waktu yang dia sia-siakan untuk menghukum diri. Seandainya dia tidak larut dalam rasa bersalah dan mau bangkit lebih awal, mungkin dia bisa menemukan istri dan putrinya lebih cepat. Tapi mungkin inilah yang disebut takdir. Sekuat apapun kita melawan, kita tak mampu untuk mengubahnya.


"Jadi, apakah Kia mau memaafkan ayah?" tanya Abimana setelah mereka agak tenang.


Dengan cepat Zaskia mengangguk, "Tidak ada yang perlu dimaafkan. Bukankah semua ini juga bukan kemauan ayah. Ayah tidak sungguh-sungguh membenci kami kan?"


"Iya sayang, tapi jika bukan karna kebodohan ayah, semua ini pasti tidak akan terjadi." ucap Abimana lagi sambil mengusap air mata Zaskia.


Pandangan Abimana beralih pada Laras yang sejak tadi tidak beranjak dari tempatnya. Laras terlihat menunduk, tubuhnya bergetar, sudah bisa dipastikan jika sejak tadi dia juga tak berhenti menangis.


Zaskia yang melihat arah pandang ayahnya pun segera berdiri. Zaskia paham, ada yang harus diselesaikan oleh mereka berdua. Zaskia sedang mencari alasan agar bisa keluar dan memberi waktu untuk mereka berdua berbicara.


Zaski yang tadinya berjongkok pun akhirnya perlahan berdiri sambil berusaha menetralkan perasaannya. Dia sejenak menarik nafas panjang.


"Ayah, Kia haus... Kia mau nyari Papa Tomo dulu minta minum. Ayah bicara sama bunda dulu ya. Nanti Kia akan kembali lagi. Ayah harus bisa mengambil hati bunda lagi. Ayah masih sayang kan sama bunda?" tanya Kia setengah berbisik yang lamgsung diangguki oleh Abimana.


Zaskia berjalan menuju pintu, namun saat di depan Laras Zaskia memeluknya erat dan mencium pipi Laras.


"Bicaralah dengan ayah Bun, Zaskia keluar dulu. Apapun yang bunda rasakan jangan di pendam. Kalau marah ya marah saja. Tapi setelah itu bunda juga harus baikan sama ayah. Ya Bun?" ucap Zaskia mengungkapkan keinginannya sekaligus menyemangati bundanya.


Laras hanya tersenyum meskipun air matanya belum berhenti menetes, dia mengangguk kemudian mengusap kepala anaknya. Setelah Zaskia keluar, laras memberanikan diri menatap Abimana. Dalam hati dia terus merapalkan mantra agar bisa mengontrol ucapan dan tubuhnya.


"Ingat laras, kalian sudah lama berbisah... Status kalian masih dipertanyakan, jangan berharap lebih agar tidak kecewa nantinya. Kalian berbeda kasta..." seperti itulah yang ada dalam pikiran Laras saat ini.


TBC...


Sudah sah ya bestie... Mereka sudah ketemu...


Authornya selalu berusaha Agar setiap episodenya tidak membosankan dan enak di baca.


Jangan lupa tinggalkan komentar, like and favorit.


Makasih❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2