
"Sayang... Zahraku, istriku... Dengar! Aku Reno Zayan Abidin mulai semalam, aku sudah resmi menjadi suamimu. Dan mulai saat itu juga aku berjanji akan melindungimu, akan menyayangimu dan menjagamu dengan sepenuh hati." ucap Reno serius.
"Istri?" tanya Zahra pelan. "Abang bercanda kan? Abang sengaja ya baperin Rara, jahat banget sih." entah kenapa Zahra seperti sedang dipermainkan. Perlahan dia bangkit. Hampir saja tubuhnya jatuh jika tidak ditarik Reno.
"Kenapa? Mau kemana? Abang anterin ok!" ucap Reno panik saat Zahra menepis tangannya.
"Rara mau pulang. Abang jahat." ucap Zahra menahan sesak di dadanya.
"Pulang kemana? Ini rumah kita sayang... Rara marah sama abang?" ucap Reno lembut. Reno menyadari banyak hal yang belum dia jelaskan pada Zahra. Reno memeluk zahra dari belakang dengan posesif.
"Abang jangan bercandain Rara lagi. Rara ga suka. Rara mau pulang aja." ucap Zahra sambil mencoba melepaskan pelukan Reno.
Bukannya mengendur, pelukan Reno malah tambah kuat.
"Abang serius sayang. Pakde sudah menikahkan kita semalam. Abang yang minta pakde menikahkan kita. Abang pengen jagain Rara selamanya semampu abang." bukannya tenang, zahra malah menangis sesenggukan.
"Abang tau ga kenapa semalam kak Ferdi mau jahatin Rara? Karna Rara menolak melanjutkan taaruf kami. Karena Rara ga mau menikah dengannya. Abang tahu kenapa? Karena Rara ga mau jadi istri kedua. Rara ga suka berbagi suami. Dan sekarang... Abang tanpa membicarakan apa-apa dulu malah langsung nikahin Zahra? Apa abang tidak merasa kalau abang lebih jahat? " ucap zahra panjang lebar sambil menangis.
" Zahra... Dengar abang! Sayang... Hei, tenang dulu. Dengerin abang ngomong." bujuk Reno berusaha menenangkan Zahra.
" Ok, ini sudah subuh. Kita sholat dulu ya, biar pikiran kamu tenang. Nanti setelah kamu tenang, abang akan jelaskan semuanya. Jika setelah mendengar semua kamu bisa putuskan untuk tetap di sini atau tidak, oke!. " bujuk Reno pada Zahra.
Zalfa pun menurut. Reno membantu zahra mengambil air wudlu. Mereka sholat subuh dengan khusyuk. Tidak banyak yang Reno minta dalam doa. Dia hanya berharap ke depannya bisa selalu membahagiakan istrinya. Sedangkan Zahra sendiri mulai pasrah dengan keadaan. Semua sudah terjadi, dia meyakini apa yang terjadi adalah sebagai takdir.
Setelah selesai Reno berbalik dan menyodorkan tangannya. Zahra yang tahu maksud Reno masih diam menimbang, namun perlahan zahra menyambut tangan suaminya.
"Buka dulu mukenanya, kita ngobrol di ranjang saja ya, biar ga dingin." ucap Reno lembut sambil membantu zahra melepas mukenanya. Setelah itu dia mengajak Zahra untuk naik ke atas ranjang. Zahra memilih duduk bersandar pada ranjang. Dia sudah tidak memberontak seperti tadi.
Reno menyusul duduk di sampingnya, dia menarik slimut ke atas agar Zahranya merasa hangat.
"Maaf kalau Abang dulu tidak peka dengan perasaan Zahra. Abang juga baru tahu beberapa minggu lalu." ucap Reno sambil melihat wajah Zahra. Sedangkan Zahra membuang mukanya, memandang ke arah lain. Sungguh dia malu karena ternyata selama ini Reno tahu tentang perasaan terpendamnya. Sejenak Reno tersenyum melihat istrinya yang tengah menahan malu namun masih diam itu.
"Kamu pernah tanya kan, mengapa kamu tak pernah melihat Clara? Aku memang tidak memberitahu siapa pun kalau sebenarnya abang sedang mengurus perceraianku. Abang sudah menalak dia. Jadi, meskipun ini adalah pernikahan kedua abang, kamu adalah satu-satunya istri abang sayang. Abang tidak berpoligami. Meskipun proses perceraian kami belum selesai, tapi secara agama, kami sudah bercerai dan tidak bisa kembali lagi." Reno menarik nafas sejenak.
Zahra perlahan menoleh ke arah Reno, dia menaikkan tangan kanannya dan menyentuh wajah Reno. Reno hanya memejamkan matanya, menikmati sensasi yang sangat berbeda dibandingkan saat dulu dia bersama Clara. Jantung mereka berdetak lebih cepat, dalam keadaan hening seperti ini suaranya terdengar saling bersahutan.
Reno kemudian mengambil tangan yang saat ini masih membelai rahangnya, kemudian mengecupnya.
"Kenapa Abang ga bilang lebih awal tentang status abang, kalau abang tahu perasaan Rara sama abang?" tanya Zahra kemudian. Reno hanya tersenyum.
"Abang nyebelin tau ga sih, ditanya malah senyum-senyum." ucap Zahra karena Reno tak kunjung memjawab. Reno senang karna akhirnya Zahranya sudah kembali ceria. Sungguh, Reno merindukan saat-saat diomeli Zahra.
"Peluk dulu." ucap Reno sambil menarik Zahra ke dalam pelukannya, kemudian mengecup keningnya lama. Kali ini Zahra tak menolak, jujur... dalam hati dia juga ingin merasakan kebahagiaan seperti ini dengan pujaan hatinya. Biarlah dia terkesan jahat karena sangat bahagia saat mendengar Reno menceraikan Clara.
"Tahu gak? Sejak abang tahu kalau kamu memendam perasaan pada abang, hati abang tuh rasanya juga berdesir saat lihat kamu, denger suara kamu. Namun abang itu merasa tidak pantas buat kamu. Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik dari abang." ucapnya terjeda karena menghela nafas panjang." Saat kamu akrab dengan laki-laki lain pun sebenarnya abang ga suka. Namun abang selalu meyakinkan diri bahwa ini demi kebahagiaan kamu. Tapi saat ternyata orang itu ingin menyakiti kamu. Abangbtidak terima, maaf jika abang egois dan diam-diam menjadikanmu milik abang." lanjut Reno lagi.
Zahra menggelengkan kepalanya yang masih dalam pelukan Reno. Baginya ini adalah kejutan yang sangat manis, saat bangun tidur, tiba-tiba saja dia sudah menjadi istri laki-laki yang memamg selama ini menjadi impiannya.
"Zahra mencintai abang, jangan tinggalin Rara bang." ucap Zahra.
__ADS_1
"Abang akan selalu ada untuk Rara. Selamanya kita akan bersama sayang." sejenak mereka hanya saling berpelukan untuk menyalurkan perasaan terpendam mereka selama ini. Bahkan Reno sudah membawa zahra duduk di pahanya dengan kedua kaki Zahra berada di kanan kiri pahanya dan menghadap Reno.
Zahra melonggarkan pelukannya saat merasakan ada yang keras menekan intinya di bawah sana. Ah, ternyata hanya berpelukan saja bisa membuat senjata Reno bereaksi berlebihan.
Astaga, cuma beginian doang kamu minta keluar. Dulu aja saat bersama Clara meski sudah diuyel-uyel aja tegang cuma sebentar habis itu lemes lagi. Mungkin benar kata dokter, aku bukannya kelainan, hanya saja kita belum menemukan lawan main yang cocok. Batin Reno terkekeh saat menlgingat perkataan dokter.
"Kenapa? Mengganjal ya? Sepertinya dia tahu, kalau pawangnya sudah deket." ucap Reno dengan tatapan sendu. Wajah Zahra memerah menahan malu. Walaupun mereka dekat, namun sebelumnya tak pernah membicarakan hal-hal intim seperti ini.
"Abang apaan sih." jawab Zahra sambil membuang muka.
"Kenapa? Malu? Abang sekarang sudah punya kamu. Apa pun yang ada di tubuh abang ini halal untukmu." ucap Reno sambil menarik wajah Zahra agar menghadap ke arahnya.
Mereka berpandangan sangat lama dengan tatapan memuja pada makhluk Tuhan yang ada di hadapan mereka. Wajah Reno semakin maju, fokusnya tertuju pada bibir ranum zahra.
Cup... kecupan singkat dia daratkan dibibir Zahra yang membuatnya tersipu , Reno mengulanginya. Kali ini dia menempelkannya cukup lama, perlahan Reno mulai ********** dengan sangat lembut.
"Kok ga dibalas?" tanya Reno saat ciumannya terlepas.
"Balas? Gimana caranya?" tanya Zahra yang memang belum pernah melakukannya.
"Ikuti gerakan abang, gunakan instimg kamu." ucap Reno lembut.
Zahra hanya mengangguk, tak lama Reno pun mengulanginya lagi. Zahra berusaha membalas ciuman suaminya. Lama kelamaan gerakan mereka terlihat lebih tak sabaran. Zahra sudah mengalungkan tangannya di leher Reno. Sementara tangan kiri Reno memegang tengkuk Zahra agar bisa memperdalam ciumannya.
Tak berhenti di situ, tangan kirinya yang masih terbebas sudah bergerak kesana kemari mencari sesuatu untuk diraba atau dipegang. Reno seperti orang yang baru saja terbebas dari belenggu hasrat yang mengikatnya bertahun-tahun. Bahkan saat ini dia sangat yakin bahwa hanya istri barunya ini, wanita yang bisa menakhukkan dirinya, yang bisa membebaskannya dari rantai yang menyesakkan jiwa dan raganya.
"Eemmmmggghhhh..." lenguhan Zahra keluar saat tangan Reno meremas dadanya yang menonjol. Meski masih dilapisi kaos namun Reno tahu jika istrinya tak memakai dalaman. Dan ini baru disadari oleh Zahra.
"Kenapa? Ga boleh? Maaf kalau abang terburu-buru." ucap Reno menyesal. Seharusnya dia memang memberikan ruang pada Zahra agar gadis ini terbiasa dulu dengan statusnya.
"Gak gitu.... Rara malu." jawab Zahra yang kemudian menyembunyikan wajahnya diceruk leher Reno.
Reno tersenyum, Ah jadi karna malu, aku pikir dia akan marah. Batin Reno.
Reno memeluknya erat, seakan merasa takut jika Zahra akan pergi.
"Kita akan mulai pelan-pelan agar terbiasa. Biar ga malu lagi." ucap Reno kemudian.
Zahra tidak bereaksi. Dia masih larut dalam pikirannya sendiri. Tak lama Zahra pun menegakkan tubuhnya. Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan. Ini penting untuk kelanjutan hubungannya dengan Reno ke depan.
"Emmm... Apa Rara boleh bertanya seauatu pada Abang?"
"Tanyakan apa saja yang ingin kamu tahu dari abang. Bukankah suami istri harus saling terbuka?" jawab Reno lembut namun tegas tanpa keraguan.
"Abang kenapa bisa memutuskan untuk bercerai dengan mbak Clara?" tanya Zahra hati-hati takut menyinggung perasaan suaminya.
"Itu karna..." belum sempat Reno menyelesaikan kalimatnya, pintu sudah diketuk dari luar.
Tok tok tok...
__ADS_1
"Maaf Mas, mbak... Ini Bi Situm mau mengantarkan baju ganti untuk mbak Zahra." ucap bi Situm dari luar kamar.
"Nanti disambung lagi ya. Sekarang kamu mandi dulu. Biar abang yang bukain pintu. Setelah mandi kita sarapan bersama. Cup!" ucap Reno yang diakhiri dengan kecupan singkat di bibirnya.
Zahra beranjak dari pangkuan Reno dan turun dari ranjang menuju kamar mandi. Sedangkan Reno bergegas membukakan pintu kamar. Setelah menerima paper bag dari bi Situm dia menuju walk in closet mengambil handuk baru. Reno yakin, sebentar lagi istrinya akan memanggilnya karna memang tidak ada handuk di kamar mandi. Tadi Reno juga lupa untuk memberi tahu Zahra.
"Bang... Abang..." panggil Zahra sari dalam kamar mandi.
"Bener kan?" gumamnya lirih sambil keluar dari walk in closet yang langsung terhubung dengan kamar mandi. Ada lorong sempit di sana dengan sekat kaca transparan yang tirainya belum terpasang. Karena selama Reno pindah kerumah ini dia belum pernah berpikir akan ada orang lain yang akan ikut mandi di sini.
Reno menelan ludah kasar, saat dengan jelas matanya disuguhkan oleh pemandangan yang sangat indah, lekuk tubuh Zahra terlihat nyata. Seksi, itulah yang ada di otak Reno saat ini. Entahlah, otaknya kenapa sekarang jadi mesum. Maklumlah ini adalah pagi pertamanya bersama istri barunya, namun dia segera mengembalikan kewarasannya saat melihat tubuh Zahra yang kedinginan.
"Bang... Di dalam ga ada handuk." ucap Zahra lagi.
"Iya sayang, buka pintunya." ucap Reno yang sudah berada di depan pintu.
Zahra membuka sedikit pintu kamar mandidan hanya mengeluarkan tangannya.
"Cepetan bang, Rara kedinginan." ucap Zahra sambil menggigil. Karena tak tega, Reno yang tadinya mau mengerjai istrinya pun dia urungkan.
"Kenapa ga diatur pake air anget sih yang?" tanya Reno dari luar.
"Kenapa ga sama bajunya sekalian? Abang mau ngerjain Rara ya?" tanya Zahra.
"Eh iya, tadi pas ngambil handuk bajunya ketinggalan di walk in closet. Udah pake handuk dulu terus pake bajunya di sana sekalian. Buruan sayang, nanti tambah dingin. Kalo ga cepet keluar abang yang masuk nih." ancam Reno.
Akhirnya pintu terbuka, terlihat kaki jenjang Zahra yang putih dan mulus tanpa cacat. Handuk yang melingkar hanya menutup dadanya sampai setengah pahanya saja. Zahra berjalan pelan keluar dari kamar mandi, Reno tak berkedip menatap bidadari di depannya ini.
"Jangan lihatin Rara kek gitu bang, bajunya di mana? Dingin banget ini." ucap Zahra lagi.
Tanpa aba-aba Reno yang sudah tersadar dari lamunannya mengangkat Zahra ke kamar dan merebahkannya diranjang
Dengan cepat dia menaikkan slimut sampai leher Zahra untuk mengurangi rasa dingin. Reno sendiri mengambil baju ganti Zahra yang tadi tertinggal di dalam walk in closet.
Sedapat mungkin Reno menahan hasratnya yang sebenarnya sudah di ubun-ubun.
"Cepet dipake, biar ga kedinginan. Atau mau abang bantuin?" ucap Reno menggoda Zahra. Pipinya sudah bersemu merah karna tersipu.
"Nggak mau, sana abang mandi juga! Zahra sudah laper." jawab Zahra yang memang merasa lapar.
Reno hanya tersenyum kemudian melangkah ke kamar mandi.
Setelah pintu kamar mandi tertutup, buru-buru zahra memakai pakaiannya. Jujur saat ini hatinya berbunga-bunga dengan perlakuan Reno hari ini. Bahkan setelah berpakaian, tangannya masih memegang dadanya yang sejak tadi berdebar-debar tak menentu.
"Ya Allah, limpahkanlah kebahagiaan pada kami. Jadikanlah kami keluarga yang sakinah mawadah warrahmah." doanya lirih.
TBC....
Terima kasih yang sudah memberikan dukungan.
__ADS_1
Selamat menunaikan ibadah puasa...
Maaf dunia halunya author belum puasa😄