Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 65. ITSBAT NIKAH


__ADS_3

Sudah 4 hari Zahra tinggal bersama Reno di rumah barunya. Zahra memang sejak kecil sudah mandiri, meskipun mami angkatnya menyediakan fasilitas lengkap, dia tetap menyiapkan semua keperluannya sendiri. Maka tak heran, jika di rumah Reno pun dia tak mau diam. Ada saja yang dikerjakan oleh Zahra.


"Bi, aku tinggal bersih-bersih ya. Maaf, belum beres dapurnya habis Zahra berantakin." ucap Zahra pada Bi Situm.


Setiap pagi Zahra berusaha membuatkan sarapan dengan tangannya sendiri. Bi Situm kadang sampai heran melihat anak orang kaya yang tidak canggung sama sekali saat bekerja di dapur. Zahra sangat cekatan saat mengerjakan sesuatu. Biasanya yang namanya orang dari kalangan atas, dia akan enggan mengerjakan pekerjaan yang bisa dikerjakan pembantu. Pantas saja Mas Reno sangat menyayangi Mbak Zahra, batin Bi Situm.


"Iya mbak, ditinggal saja." sahut Bi Situm yang tahu kalau istri baru majikannya itu pasti menyiapkan keperluan Reno.


Bi Situm kadang merasa tersipu sendiri hanya karena menyaksikan sikap manis Reno pada Zahra, sedangkan Zahra masih malu-malu. Padahal sebelum tahu statusnya telah berubah, dia masih bisa bersikap biasa bahkan terkesan slengekan jika sedang bersama Reno. Hal itu membuat yang melihat akan menjadi gemas sendiri.


"Loh kok belum pake baju? Abang belum mandi?" tanya Zahra heran yang melihat Reno mondar-mandir dengan ponsel di tangannya, sedangkan tubuhnya hanya terbalut handuk yang melingkar di pinggangnya.


Reno hanya nyengir tanpa menjawab pertanyaan Zahra. Sejak tadi dia menerima telepon dari pengacaranya yang menyampaikan tentang kelanjutan sidang gugatan cerai dan juga pengajuan itsbat nikah.


Reno memang langsung mendaftarkan pernikahannya dengan Zahra agar sah secara negara setelah berkonsultasi pada pengacaranya tentunya. Dia menjelaskan bahwa Reno bisa mendaftarkan itsbat nikah tanpa harus menunggu akta cerai terlebih dahulu. Dan hari ini dia mendapat panggilan dari KUA untuk melengkapi berkas dan tanda tangan di buku nikah.


"Abang belum mandi sayang, tadi pengacara abang memberitahu kalau buku nikah kita sudah bisa diambil dan kita harus datang untuk melengkapi berkas dan tanda tangan." ucap Reno.


"Ya udah abang cepetan mandi, nanti gantian Rara." jawab Zahra.


Sesungguhnya jantungnya sejak tadi sudah tidak karuan hanya melihat Reno yang tel*nj*ng dada, mukanya sudah memerah. Dia sengaja berbicara tanpa melihat ke arah Reno agar Reno tak melihat dirinya yang sedang salah tingkah.


Bukannya pergi ke kamar mandi, Reno malah memeluk Zahra yang saat ini sedang duduk di meja rias sambil memainkan kukunya. Perlahan Reno membuka hijab instan yang dipakai Zahra.


"Mandi bareng ya sayang?" ucap Reno yang kini mulai mengendus leher jenjang zahra yang sudah tidak tertutup hijab. Zahra langsung merinding saat merasakan sapuan bibir Reno yang mulai nakal menggigit kecil telinganya.


"Abang duluan aja mandinya, nanti gantian." ucap Zahra dengan nafas tertahan.


Reno memegang kedua pundak Zahra dan menarik agar zahra berdiri. Kemudian Reno membalikkan tubuh zahra sampai menghadap ke arahnya.


"Kenapa ga mau? Rara masih malu? Padahal abang pengen digosok punggungnya. Mau ya sayang?" bujuk Reno pada zahra.


Zahra sebenarnya mulai membiasakan diri untuk tidak canggung menerima setiap sentuhan dari Reno. Bahkan Reno pun sering berbicara tanpa sensor saat sedang berdua dan membicarakan hal intim dengan Zahra. Namun entah mengapa Zahra masih sangat malu. Apalagi saat semalam Reno membicarakan jika dia ingin melakukan ritual wajib setiap mau tidur.


"Sepertinya kalau ritual yang kayak semalam dilakukan pagi hari juga bakalan tambah energi lho yang." ucap reno lagi. Tangannya mulai membuka resleting gamis rumahan yang sedang dipakai Zahra. Dada Zahra sudah berdebar-debar tak menentu. Tanpa aba-aba gamis itu langsung meluncur ke lantai.

__ADS_1


Zahra langsung memeluk Reno, seluruh tubuhnya rasanya semakin bergetar. Dia malu karna tubuhnya hanya tertutup di bagian dada dan intinya saja.


"Abang, kok dilepas di sini, Rara malu!" protes Zahra kemudian. Karna gerakan reflek yang dilakukan Zahra, handuk yang dipakai Reno malah terlepas. Zahra semakin panik karena meski menggunakan cd, tampaknya Reno junior sudah berontak dan sebagian sudah keluar dari sarangnya. Masih dalam posisi memeluk Reno, dia masih berusaha menenangkan jantungnya.


Reno malah asyik menikmati momen tersebut. Dia malah sengaja menggesek-gesekan bagian bawah tubuhnya itu pada bagian inti Zahra. "Udah kepalang tanggung yang, kita mandi bareng ya. Jangan takut, abang kan sudah janji akan meminta hak abang saat surat nikah kita udah jadi. Abang ga akan ingkar janji." ucap Reno dengan tangan yang sudah merayap kemana-mana. Bahkan dia sudah membebaskan dua pengait yang membungkus dua bukit indahnya.


"Abang... Jangan kek gini, kaki Rara lemes bang rasanya." ucap Zahra dengan suara lirih.


Reno menggendong Zahra seperti koala menuju ranjang, kemudian meletakkannya perlahan. Tangan Zahra masih melingkar di leher Reno.


"Yakin cuma mau pelukan aja, ga mau yang lain, hmm?" goda Reno yang merasakan tubuh Zahra masih tegang. Perlahan Zahra mengendurkan pelukanya. "Jangan diturunin tangannya." ucap Reno dengan suara serak, dia mulai mencium Zahra dengan lembut. Karena seringnya Reno mengajarinya, Zahra pun sudah bisa membalas ciuman Reno dan mengimbanginya. Gerakan yang semula pelan dan lembut lama kelamaan menjadi rakus dan lebih menuntut.


"Bernafas sayang...!" ucao Reno disela-sela kegiatannya. Zahra tak menyahut, dia hanya memejamkan matanya saat bibir Reno mulai memberikan kecupan - kecupan mesra di Wajahnya lalu turun ke leher. Tangan kiir Reno menahan tengkuk Zahra dan tanga kanannya mulai meraba mainan barunya. Dia bahkan sudah membuang kaca mata penutup bukit kembarnya.


Tubuh Zahra mulai bergerak gelisah, saat bibir Reno sudah sampai di tempatnya melakukan ritual sebelum tidur semalam. Reno memberikan gigitan kecil dan memberikan banyak tanda kepemilikan di atas dadanya. Dengan rakus dia mulai menyesap bergantian kanan dan kiri calon sumber kehidupan anakmya kelak. Meskipun sudah sekuat tenaga Zahra menahan agar tidak mengeluarkan suara-suara laknat, nyatanya kali ini dia tak tahan lagi untuk mengeluarkannya.


"Eemmmmmhhh... Abang....!" suara serak Zahra semakin memancing hasratmya untuk menc*mb* istrinya. Tangan Zahra sudah sejak tadi berada di kepala Reno, sesekali dia meremas rambut Reno dan menekan kepalanya.


"Jangan ditahan sayang, keluarkan suaramu. Tidak akan ada yang denger." ucap Reno saat melepaskan mulutnya dari benda yang dianggapnya akan memberinya nutrisi itu. Dia kembali menyerang bibir Zahra, sementara tangannya tak berhenti bergerak memilin, memijat pelan kemudian m*r*m*snya. Tubuh Zahra semakin gelisah menerima sentuhan-sentuhan itu.


Sejanak Reno menegakkan badannya. Dia menatap tubuh indah istrinya dengan intens. Zahra memalingkan wajahnya menatap ke sembarang arah karena malu.


"Lihat abang, sayang! Abang mencintai Rara, Rara juga mencintai abang kan?" ucap Reno sambil menangkup wajah istrinya agar melihat ke arahnya. Zahra hanya mengangguk.


"Rara mencintai abang, sejak dulu dan selamanya akan selalu mencintai abang. Rara sudah berusaha selama ini untuk meluapakan cinta Rara sama abang, tapi nyatanya Rara ga bisa, Rara malah tersiksa. Maaf bang." ucap Zahra merasa bersalah karena cintanya sudah menjerat abangnya dan rela menikahinya.


" Kenapa minta maaf, harusnya abang yang menyadari sejak dulu perasaan Rara. Maaf jika abang tidak peka dan melukai hati Rara. Maaf karna abang terlambat menyadari jika abang juga punya rasa yang sama dengan Rara. Mulai sekarang kita akan selalu bersama, abang akan selalu berusaha membahagiakan kamu sayang." ucap Reno yang diakhiri dengan memeluk erat tubuh wanita yang ada di bawahnya ini.


"Abang... Jangan tinggalkan Rara, Rara ga mau jauh lagi sama abang." sahut Zahra sambil pelukan suaminya.


Reno perlahan mulai melepaskan pelukannya dan bergeser ke samping tubuh Zahra, menarik selimut dan meutupi sebagian tubuh mereka. Dia menyangga kepalanya dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya tak berhenti berkelana.


"Kamu cantik sekali sayang, tubuh kamu sangat indah... Abang berusaha mati-matian ini buat ga memakan kamu sekarang. Kamu tahu kenapa waktu itu abang memutuskan bercerai tapi tidak segera memberi tahu kamu?"


"Iya, itu yang Rara tanyakan tapi belum abang jawab lengkap." jawab Rara mulai memberanikan diri menyentuh dada Reno dan merabanya dengan telapak tangannya. Sesaat Reno memejamkan matanya, sentuhan Zahra sebenarnya semakin membuatnya berhasrat, namun dia tetap menahannya.

__ADS_1


"7 tahun abang menjalani pernikahan, abang merasa di curangi, abang sebenarnya tidak merasakan cinta padanya, seperti yang orang-orang lihat. Mereka tahunya abang sangat mencintai Clara. Namun nyatanya batin abang tersiksa karna tak pernah bisa mengungkapkan perasaan abang yang sesungguhnya pada keluarga kita. Abang selalu seperti orang bodoh yang selalu menuruti kemauan Clara. Tapi untungnya, setelah abang semakin mendekatkan diri pada Allah, semua tabir mulai terbuka, hati abang seperti mendapat cahaya. Apalagi saat mengenal Pak ustadz dan Pak Kyai, pikiran abang jadi waras lagi." ucap Reno panjang lebar kemudian merik nafas dalam.


"Jadi bener abang dipelet? Eh, maksudnya... Mami itu sering cerita, kalau muka abang itu selalu terlihat seperti tidak bahagia, jangan-jangan abang kena pelet. Gitu kata mami." sahut Zahra kemudian.


Reno tersenyum, ternyata keluarganya juga merasa dan memperhatikannya.


"Selama menjadi suaminya, abang ini adalah pria lemah, padahal kamu tahu ga? Clara itu hyper ***. Bahkan dulu abang sampai dikasih obat perangsang sama dia, saking inginnya dia ditiduri sama abang. Tapi saat abang bisa masuk, punya abang sudah lemah lagi. Yang ada abang malah masuk rumah sakit. Abang takut kalau itu adalah penyakit abang. Abang takut kalau abang memberi tahu Zahra tentang perceraian abang hanya akan memberikan harapan palsu karna nantinya abang tidak akan bisa memberikan nafkah batin sama kamu. Itu yang membuat abang memutuskan untuk mendukung kamu berkenalan dengan pria lain, meski sebenarnya hati abang ga rela." ucap Reno lagi menceritakan keadaannya saat itu.


"Masa sih Bang, Rara pikir abang itu orangnya nafsuan, hehe..." sahut Zahra sambil terkekeh. Dia sudah mulai rileks dan mencoba tidak malu-malu lagi.


"Kamu tahu sayang, abang seperti ini hanya sama kamu. Makanya abang segera menikahi kamu malam itu juga. Hanya melihat kamu yang tanpa hijab dan ini yang sedikit terbuka, hasrat abang sudah terpancing. Maaf jika abang mengambil kesempatan saat kamu mengalami musibah. Abang hanya ingin jagain kamu dengan cara yang benar. Dan abang sekarang yakin kalau abang ini normal dan bisa melakukan itu sama kamu. Hanya sama kamu sayang." ucap Reno sambil menarik tangan Zahra dan membawanya pada senjata Reno di bawah sana.


Zahra terkejut namun berusaha menuruti kemauan Reno. Entah sejak kapan Reno membebaskan kain segi tiga yang tadi masih menutupi milik Reno.


"Abang...." suara Zahra tertahan, dadanya bergemuruh saat tangannya menyentuh pusaka milik suaminya. "I... ini... Kenapa sebesar ini bang?" ucap Zahra yang langsung menggigit bibirnya, merasa bodoh dengan pertanyaannya.


Reno agak menegakkan tubuhnya dan bersandar di sandaran ranjang, tanpa melepaskan tangan Zahra.


"Pegang yang bener sayang, begini. Rara ga mau lihat? Itu punya Rara sekarang. Rara boleh apain aja." ucap Reno kemudian.


Zahra memberanikan diri melihat dan menggenggamnya. Muka Zahra sudah merah padam membayangkan benda itu akan memasukinya. Apakah muat, pikirnya. Sepertinya mulai sekarang, Zahra benar-benar harus harus mengimbangi pikiran mesum suaminya. Kasihan juga suaminya itu, jika terlalu lama menahan hasratnya.


Sepertinya kepala Reno bertambah pusing jika tidak segera menuntaskannya. "Jadi mandi bareng ga ini? Bantuin abang menuntaskannya. Plis. Keburu siang nanti." ucap Reno memohon. Zahra belum paham maksudnya, namun dia segera mengangguk. Toh Reno sudah melihat dia hampir tel*nj*ng, pikirnya.


Reno segera membopong tubuh Zahra ke kamar mandi. Mereka benar-benar hanya mandi setelah Reno menuntaskan hasratnya dengan dibantu zahra.


"Yang, habis dari KUA kita langsung terbang nyusul mami ke Jakarta ya. Revan akan menikah akhir pekan ini. Nanti sekalian kita cerita tentang kita pada mereka. Mumpung mereka lagi kumpul." ucap Reno sambil memakai kaos kakinya.


"Hah, kok abang ga kasih tahu dari kemarin? Kan Rara bisa siapin yang mau dibawa." ucap Zahra yang panik karna belum persiapan apa-apa.


"Abang baru buka pesannya Papa. Semalam temu keluarga besar Kia, dan mereka memutuskan untuk mengadakan akad akhir pekan ini. Ga usah bawa apa-apa. Besok nyari di sana aja, sekalian abang mau ngajak kencan. Abang juga pengen ngerasain kencan kayak yang lain dong." ucap Reno sambil tersenyum.


Zahra hanya menurut saja apapun yang dikatakan suaminya. Setelah siap mereka segera sarapan dan berangkat setelah berpamitan dengan Bi Situm dan pekerja yang lain kalau dia akan ke jakarta mungkin sampai seminggu ke depan.


TBC...

__ADS_1


Semoga suka ceritanya, jangan lupa tinggalkan komentar, dan like ya


Makasih❤️❤️


__ADS_2