Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 22. CALON MENANTU


__ADS_3

Setelah penikahan dengan sang pujaan hati terjadi, tak lantas membuat kehidupan Vera bahagia. Andre yang memang mengatakan akan menceraikannya setelah anak yang dikandungnya lahir pun sama sekali tak menyentuhnya.


Bahkan hampir seminggu ini mereka tidur di kamar terpisah.


Sebenarnya Andre sudah mencoba menerima takdirnya, namun Andre nampaknya belum merelakan Zaskia yang meninggalkannya karna telah menikahi wanita lain.


Ya... Ini memang salahnya, tapi itu tak membuat dirinya rela melepaskan Zaskia. Berkali - kali dia mengirim pesan namun dibuka pun tidak. Panggilannya pun tak pernah diangkat.


"Mas memang pantas mendapat marahmu sayang... Tapi mas sangat mencintaimu. Tak bisakah kita bersama lagi, beri Mas kesempatan sayang, mas akan memperbaikinya."


Isi pesan yang dikirim setiap harinya hampir sama, meminta maaf dan meminta kesempatan kedua.


Tok tok tok


Belum sempat Andre menjawab Vera sudah membuka pintu dan masuk ke kamar Andre. Wanita ini sungguh sangat niat menggoda suaminya, namun meskipun saat ini Vera hanya menggunakan lingeri tipis tanpa dalaman pun, tak membuat suaminya berhasrat. "Mas, anak kamu pengen ditemeni bobo." ucap Vera sambil bergelayut manja.


Meskipun Andre tak berhasrat namun dia tak lantas memperlakukan istrinya dengan buruk. Andre sampai saat ini memang tak tahu ada obat yang saat itu membuatnya berhasrat sehingga menyentuh Vera, dan kejadian itu berulang 3 kali di hari yang berbeda.


Mengapa saat melakukan itu dengan Vera hasratku menggebu bahkan tak bisa dibendung, tapi saat sekarang aku sudah sah, aku malah sama sekali tak berminat untuk menyentuhnya. Bahkan melihat Vera yang nyaris tel*nj*ng seperti ini, 'dia' tak bangun sama sekali. Apa karna yang ada dipikiranku hanya rasa bersalah pada Zaskia. Batin Revan masih berusaha mencari tahu tentang hati dan tubuhnya.


Andre masih tak bergeming dan belum bersuara. Sampai akhirnya dia berkata, "Aku akan menemanimu sampai tertidur, kamu duluan nanti aku menyusul."


Sial, aku sudah berpenampilan sedemikian seksi dia masih menolakku? Masa sih cuma minta gituan sama suami juga harus pake obat, batin kia menggerutu.


Akhirnya Vera meninggalkan kamar Andre dengan rasa kecewa.


Brak...


Vera menutup pintu kamarnya dengan kasar. Mungkin hormon kehamilan yang membuat hasrat ingin disentuh jadi meningkat.


Vera mengambil ponselnya, dibukanya pesan dari Mario yang dari kemarin belum sempat dibalasnya.


"Kamu kemana sih beb, beberapa hari ini susah banget untuk ditemui. Aku kangen d*s*h*nmu❤️❤️." isi pesan Mario


"Ah, Mario sialan, bikin aku tambah pengen kan." gumamnya makin fruatasi.


"Besok ya, jemput aku jam 8 pagi, lokasinya aku share besok. Kita shift malam kan? Sorenya kita langsung berangkat bersama saja." balas Vera tanpa basa-basi.


Dia ingat kalau besok jadwal kerjanya dengan Mario sama.


Tak lama terdengar Andre mengetuk pintu. Vera segera menonaktifkan ponselnya dan membukakan pintu untuk Andre. Ternyata dia membawa susu untuk Vera.


" Habisin dulu susunya, biar dia sehat. Setelah itu baru tidur."


"Iya mas, makasih." jawabnya sumringah.


Apakah setelah ini dia akan melakukannya? Tak masalah jika tidak, dia mulai perhatian, itu awal yang bagus, batin Vera.


"Tidurlah, aku akan menemanimu." ucap Andre datar.


Dan akhirnya mereka hanya benar-benar tidur.


******


Selama perjalanan ke rumah besar, Revan dan Kia tak melepas tautan tangan mereka. Bak ABG yang baru mengenal cinta, senyum pun tak pernah surut dari bibir mereka. Sambil bercanda sesekali tangan Revan mengelus pucuk kepala gadisnya. Sepertinya Revan tak akan sanggup jika menunggu lebih lama lagi untuk meminang Kia, apalagi menunggu sampai lulus kuliah.


"Terus, rencana kuliah kamu gimana Dek jadinya?"


"Belum tau Bang. Kalau mau ambil bea siswa, waktu registrasinya hampir habis, sementara persyaratannya ada di rumah. Mungkin Kia kerja dulu aja, baru nanti kalau duitnya udah cukup Kia kerja sambil kuliah."


"Kerja sambil kuliah itu berat Dek. Abang sudah pernah mengalaminya, itu aja dulu abang kerja di kantor papa, jadi waktunya bisa disesuaikan. Tapi kalau abang pengennya Adek tetep kuliah aja, jangan pikirin biaya kuliah. Kalau kamu pengen sambil kerja ya ga papa. Kamu bantuin kelola kafe Abang aja, tapi jangan yang berat-berat kerjanya."


"Adek bingung Bang kalau kek gitu. Biaya kuliah itu mahal, aku ga mau manfaatin Abang. Kalau untuk kerjaan, apa kata pegawai kafe yang lain kalau tiba-tiba Kia dapet posisi yang enak. Padahal mereka kan kerja lebih lama."


"Banyak ga enaknya Adek mah! Kalau gitu solusinya cuma satu! "


Kia menengok lalu mengernyitkan keningnya," Apa Bang? "


"Kita segera menikah."


"Nikah nikah... Baru juga mau dikenalin sama keluarga abang, kalau Adek ditolak ya ga bisa nikah Bang!"


"Abang jamin mereka bahkan akan langsung setuju kalaupun Abang nikahi kamu hari ini juga."

__ADS_1


"Sembarangan!" reflek Kia mencubit perut Revan yang dirasa keras itu.


"Geli Dek..."


"Keras banget sih Bang... Ga mempan tangan Kia ternyata."


Sopir taksi sejak tadi hanya ikut senyum-senyum melihat adegan sepasang anak muda yang duduk di belakangnya.


"Yang di depan itu bukan Mas rumahnya?"


"Iya Pak, nanti masuk saja!"


"Eh, udah mau sampe ya? Adek gugup Bang!"


"Ini jangan dilepas biar ga gugup." kata Revan sambil melirik tangan mereka yang masih bertautan.


*****


Semalam setelah mendapatkan kabar dari Ardi kalau Revan sudah bertemu dengan gadis yang digadang-gadang akan jadi menantunya itu, Mama Rena tak henti-hentinya merapalkan doa, semoga gadis itu mau menerima Revan. Tak peduli dari mana asal usulnya, keturunannya, ataupun masa lalunya. Yang terpenting adalah kebahagiaan anak bungsunya, itu sudah cukup bagi Mama Rena.


Semalam Revan mengirim pesan singkat,


"Ma, besok pagi Revan bawa calon mantu mama. Jangan dinakalin ya... Love u Ma💞❤️."


Mama Rena tidak membalas pesannya, tapi sejak habis subuh tadi, Mama Rena sudah heboh menyiapkan berbagai menu sarapan pagi untuk menyambut calon menantunya itu. Karna dia tidak tahu kesukaannya, maka dia memasak banyak menu.


" Ma, tumben ini masak sarapan banyak banget? Mama ngidam?"


Plak!!


Peryanyaan Reyhan itu praktis mendapat hadiah pukulan kecil di lengannya.


"Sembarangan kalau ngomong."


"Pagi Ma! Maaf tadi Cira ga bantuin bikin sarapan. Mama tumben masak sendiri dan banyak."


Mama Rena hanya tersenyum menanggapi menantunya ini. Sudah bisa di tebak, hari minggu seperti ini, pasangan suami istri itu pasti turun lebih siang dari biasanya. Namun Mama tak mempermasalahkan, mengingat dulu, waktu dia sendiri masih seumuran anaknya itu. Rumah tangga yang harmonis akan selalu menggebu-gebu mengekspresikan cintanya, bahkan serangan fajar pun sering terjadi.


"Mama lagi pengen masakin tamu spesial pagi ini, makanya mama masak sendiri."


"Mantu mama dong!" jawab mama ceria.


"Beneran mau ke sini sekarang? Pantesan Revan pagi-pagi udah nanyain rekomendasi skincare yang bagus." sahut Siera.


"Beneran? Kita jalan bareng aja yuk nanti." ajak Mama Rena antusias.


"Cira sih yes aja Ma. Tapi nanti lihat anaknya dulu, kita buat nyaman dulu aja Ma." ucap Siera bijak.


"Iya sih. Bantuin Mama menatanya ya. Udah selesai ini."


"Siap Ma. Ini mama juga yang udah bikin puding?"


"Ah, iya Mama lupa masukin kulkas. Tolong sekalian ya."


"Iya Mama sayang."


Papa dan Reyhan yang memperhatikan interaksi dua wanita beda generasi ini hanya tersenyum, berharap kelak istri Revan juga bisa mengakrabkan diri dan membaur bersama mereka.


"Assalamu alaikum..." terdengar suara Revan yang sudah sampai di ruang tengah.


"Wa alaikum salam." jawab mereka serempak.


Nampak Revan yang sedang menggandeng gadis muda, yang kalau Reyhan tak salah lihat, wajahnya lebih cerah dan aura kecantikannya makin terlihat. Pantas saja, adiknya itu makin tergila-gila.


Belum ada yang bersuara, mereka masih terbengong, bukan karna gadis cantik itu, tapi karna Revan yang sangat posesif pada gadis itu. Terlihat dia tak melepaskan genggaman tangannya pada gadis itu. Sedangkan Kia hanya mengangguk sambil tersenyum, sekarang dia hanya menunduk dengan satu tangan yang masih terbebas itu meremas ujung kaosnya.


"Ini beneran anak Mama kan?" akhirnya kata itu yang keluar dari mulut Sang Mama.


"Apaan sih Ma!" Revan malah merasa bingung.


"Kamu ga mau izinin mama memeluk calon istri kamu?"


Seketika Kia mendongak, memberanikan diri menatap mereka satu persatu.

__ADS_1


"Ah iya, maaf Ma. Semua... Kenalin ini gadis yang Revan ceritain kemarin. Nama Zaskia."


Zaskia menatap Revan sejenak, kemudian ditanggapi anggukan oleh Revan.


Kia menyalami dan mencium punggung tangan mereka satu persatu dengam takzim.


"Saya Kia Om, tante, Kak... Maaf, karna pagi-pagi Sudah bertamu." ucap Kia lembut, Revan sepertinya semakin jatuh cinta dengan sikap Kia pada keluarganya.


Kesan pertama, sepertinya pilihan Revan memang baik. Batin Papa.


Mama merangkul Kia, "Yuk, sarapan dulu." ucap mama sambil menggiring Kia ke meja makan.


Revan melongo melihat gadisnya gantian dimonopoli Sang Mama.


"Astaga Van, Mama cuma pinjem bentar. Kamu ga mau sarapan, kok masih bengong aja." ucap mama menyadarkan Revan. Yang lain hanya tertawa melihat tingkah Revan.


"Biasa aja itu mulutnya, mau gue cium" ucap Reyhan yang yang melihat Revan memanyunkan bibirnya.


"Makan yang banyak sayang, kamu mau yang mana?" kata mama sambil membalikkan piring Kia.


"Eh, biar Kia sendiri aja tante..."


"Kok tante sih, Mama dong panggilnya. Jangan sungkan sayang."


"Iya tante... Eh... Ma."


"Ambilin yang..." ucap Revan manja membuat Kia malu, wajahnya langsung bersemu.


Tak menyangka Revan yang hanya bisa manja pada mamanya, sekarang bisa manja juga dengan gadis kecil ini.


Meski merasa malu namun tak urung Kia melayani Revan.


"Abang mau yang mana?"


"Nasi goreng sama telur ceplok aja."


"Segini cukup?"


"Iya, tar nambah kalau kurang."


Interaksi mereka yang luwes tak luput dari perhatian mereka.


Ya Allah... Terima kasih Kau telah memberikan kebahagiaan kepada kami. Batin mama Rena.


"Mami... Papi... Oma... Opaa... Oom..." teriak ai kembar mengabsen penghuni meja makan.


"Sini sayang... Nih, Oom Epan bawa tante cantik. Kalian kenalan dulu, salim yang bener ya." tanpa menjawab Siera mereka langsung menyalami Kia.


"Aku Danesh tante..."


"Kalo aku Danesha tante..."


"Ah... Lucunya, mereka kembar mb? Kenalin nama tante Kia, panggi tante Kia, ok!"


"Iya tante. Mi, nanti boleh main sama tante cantik?" ucap Nesha sambil menatap maminya.


"Boleh dong, tapi sekarang mamam dulu ya." kali ini Kia yang menjawab.


"Ok tante." jawab si kembar serentak.


Sarapan yang penuh kehangatan pun telah usai, si kembar sudah bersama mbak pengasuh.


"Van, Mama pinjem Kia sebentar ya..."


Deg deg deg


Kia kok jadi takut ya....


TBC


Maaf masih banyak typo


Mohon dukungannya ya pemirsah dengan tekan👍dan❤️

__ADS_1


Terima kasih❤️❤️


__ADS_2