
"Saat ini kita harus bersiap dengan rencana cadangan." kata Roy saat menemui Diana di apartemennya.
"Apa mereka sudah tahu pergerakan kita selama ini?" Diana menjawab dengan nada cemas.
"Jika mereka tahu, pasti kita sudah masuk penjara." ucapnya mencoba tenang meskipun dia khawatir ulahnya selama ini akan terbongkar sebelum waktunya.
"Aditama saat ini sedang berada di mansion Abimana, aku khawatir mereka sedang merencanakan sesuatu. Aku sudah diam-diam merancang mendirikan perusahaan sendiri yang dananya bersumber dari uang yang setiap bulan kita dapatkan, Abimana yang bodoh itu pasti belum menyadarinya. Sedikit demi sedikit kita akan mengambil alih investor untuk beralih berinvestasi ke perusahaan baru kita. Semua sudah kurencanakan dengan matang, tinggal masalah perizinan saja, kurasa itu bukan hal yang sulit. Aku kenal orang dalam yang bisa memuluskan jalan kita." Roy mengungkapkan rencananya
"Bagus, aku juga kenal baik dengan istri pejabat daerah ini, mungkin dia bisa bantu." sahut Diana.
"Ma, Luci mau keluar dulu sama temen-temen, Juny merayakan ulang tahunnya di club." ucap seorang gadis yang baru keluar dari kamar.
Sebenernya Lucia anak yang penurut tapi karna salah didikan, dia jadi meniru sifat ibunya. Bahkan dari tampilannya saat ini, dia sudah seperti wanita malam. Bahkan dia sering melihat Diana bergelut dengan laki-laki yang berbeda-beda. Salah satunya adalah pria yang ada didepannya ini.
"Sama siapa saja ke sana?" tanya Diana.
"Sara mau jemput Luci di bawah Ma." Sahut Lucia.
"Ya sudah hati-hati."
"Dada Mama, dada Om!"
Anak ini makin lama semakin hot bahkan sekarang mamanya kalah. Kurasa tidak ada salahnya kalau menikmatinya juga. Batin Roy dengan senyum menyeringai.
Roy hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Ok, kalau gitu aku juga pamit Di."
"Yakin mau langsung pulang saja, mumpung Lucia tidak ada lho!" Diana mulai menggoda.
"Ah, sayang sekali aku masih ada yang harus dikerjakan. Lain kali saja ya." Tolak Roy halus.
*****
Sudah 7 tahun Zahra mencoba untuk melupakan cinta pertamanya, cinta yang saat ini haram baginya. Namun entah mengapa nama kakak sepupu angkatnya ini bukannya menghilang dari hatinya, tapi semakin hari mah semakin melekat. Padahal dia sudah menyerahkan hatinya pada Yang Maha Kuasa. Cinta yang dulu dia kira hanya cinta monyet, nyatanya malah semakin tumbuh subur dihatinya.
Zahra bahkan sudah ikhlas dengan takdirnya, bahkan dia selalu mendoakan agar Reno selalu dilindungi dan mendapatkan kebahagiaan dan keberkahan.
"Ya Allah, mengapa aku belum bisa memberikan hatiku untuk yang lain. Ampuni hamba karna cinta terlarang itu nyatanya belum hilang dari hatiku. Bimbinglah hamba Ya Allah. Aamiin." doa itulah yang tak pernah lupa dia panjatkan selain doanya kepada Ayah dan ibunya yang sudah berpulang terlebih dulu menghadap Yang Kuasa.
Aulia Azzahra adalah anak dari asisten pribadi Zaenal Abidin, yaitu Aidan. Ibu Zahra meninggal saat melahirkannya dan Aidan sendiri meniggal karna kecelakaan saat buru-buru menjemput Zahra yang saat itu masih TK. Zahra masih punya Pakde (kakak laki-laki Aidan), namun keluarga Zaenal Abidin meminta izin untuk merawatnya dan mengangkatnya sebagai anak, karna saat itu mereka belum diberikan keturunan. Namun, tak lama setelah mengadopsi Zahra, Melina hamil. Mereka menganggap Zahra adalah anak pembawa berkah, makanya mereka memperlakukan Zahra sama seperti memperlakukan anak kandungnya sendiri, Kiara.
"Abang kenapa malah muncul sih saat aku masih berusaha mati-matian nglupain dia." ucap Zahra bermonolog.
Berkali-kali Reno mengajaknya bertemu, rindu katanya. Namun Zahra selalu menolak.
"Abang tau ga, kenapa Rara ga mau ketemu sama Abang? Rara tuh belum bisa move on Bang!" lanjutnya.
"Abang udah bikin Rara kaya orang gila, bahkan di tempat kajian pun Rara suka berhalusinasi ada Abang di sana. Ya Allah, masa gini amat sih mencintai suami orang. Boleh ga sih aku egois?" ucap Zahra sambil memandangi satu-satunya foto Reno yang masih tersimpan di ponselnya. Lalu dia berguling-guling sambil masih mengajak foto itu untuk ngobrol.
Zahra jadi ingat, saat Abah secara khusus mengundangnya untuk sowan ke ndalem kemarin setelah kajian.
"Maaf Abah Kyai, apakah ada hal penting yang bisa saya lakukan sehingga Abah kyai memanggil saya?" tanya Zahra sopan, karena meski sering mengikuti kajian di pesantren ini, namun Zahra bukanlah santri di sini. Sehingga jika dia sampai dipanggil oleh pemilik pesantren ini, pasti karena ada hal yang penting.
__ADS_1
"Panggil saja Abah Nduk!" Katanya dengan nada lembut.
"Inggih Abah." jawab Zahra tak kalah lembut
"Begini Nduk, saya sering melihatmu aktif di kajian. Ada salah satu anggota kajian juga yang sering melihatmu dan sudah lama memperhatikanmu. Dia meminta tolong Abah untuk memperkenalkanmu, lebih tepatnya dia ingin mengambilmu sebagai istri." ucap Abah hati-hati.
Hati Zahra berdebar tak menentu, dia tidak mengenal pria yang dimaksud, ingin menolak tapi tidak enak dengan Abah. Tapi, mungkinkah ini jawaban dari istikharohnya apakah dia harus mencobanya, sungguh hati Zahra sangat dilema.
Zahra masih diam, belum tau harus menjawab apa.
"Apakah Nak Zahra sudah mempunyai calon sendiri? Maaf nak, Abah tidak bermaksud apa-apa."
Ada raut penyesalan dalam kata-kata Abah, Kia jadi merasa bertambah sungkan.
"Maaf Abah, apakah saya kenal dengan pria yang abah maksudkan? Saya memang belum memiliki calon, namun saya juga belum ada keinginan untuk berumah tangga." ucap Kia hati-hati, takut salah berucap.
Abah tersenyum mendengar jawaban Zahra.
"Dia adalah salah satu anak pejabat di kota ini, dia juga seorang PNS sama seperti kamu Nak, hanya saja dia ditugaskan di pemda. Abah tidak memaksamu nduk, tapi mungkin biar sama-sama lega, ada baiknya kalau kalian berkenalan dulu, jika setelah berkenalan mau lanjut ta'aruf, monggo Abah dukung, jika tidak pun, tidak jadi masalah."
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Zahra mengangguk.
"Baiklah Bah, jika hanya sekedar berkenalan Zahra tidak masalah." jawab Zahra kemudian.
Pembicaraan itu masih terus terngiang-ngiang di kepala Zahra.
"Sekarang aku harus apa, sedangkan besok sore kami akan bertemu. Ya Allah, bukakanlah pintu hatiku untuk bisa menerima kehadiran hati yang lain." ucapnya masih bermonolong.
"Ya, mungkin ini yang terbaik. Jika dia memang menginginkanku menjadi istrinya mungkin sebaiknya kuterima saja. Dengan begitu akan cepat melupakan Abang." ucapnya memutuskan.
Zahra segera mencari kontak Reno, lalu melakukan panggilan telepon.
"Assalamu alaikum sayang."
Astaghfirullaah Abang, baru juga mau move on udah disayang - sayang gini sih. Jadi ragu ini. Batin Kia.
"Wa... Wa 'Alikum salam Abang" jawab Zahra mencoba untuk tidak gugup.
"Tumben malem-malem telpon, ada apa? Kangen Abang?" tanya Reno sambil menggoda.
Zahra hanya mengerucutkan bibirnya, walaupun dia tahu Reno tak bisa melihatnya.
"Bang, Zahra mau mengatakan sesuatu...." Kia menjeda kalimatnya, memantapkan hatinya.
Sedangkan di seberang telepon Reno resah menduga-duga apa yang akan dikatakan Zahra. Apakah Zahra akan mengatakan perasaannya?
"Ada seseorang yang ingin berkenalan dengan Zahra, dan kalau kami cocok mungkin kami akan lanjut ta'aruf." ucap Kia mencoba berkata mantap agar Reno tidak tahu kegundahan hatinya.
Deg deg deg
Jantung Reno berdetak sangat kencang, ada rasa sesak di dadanya. Bukankah harusnya ini berita yang baik, adik kesayangannya akan mendapatkan jodohnya. Tapi mengapa sekarang Reno menjadi resah.
"Video call dek!" ucap Reno tegas.
__ADS_1
Mereka pun segera beralih ke panggilan video.
"Jadi kamu belum mengenal pria itu?" ucap Reno sambil menatap Zahra lekat. Menelisik mencari keraguan di raut muka Zahra.
Zahra hanya mengangguk lalu menunduk. Reno memejamkan matanya mengurai sesak di dadanya.
"Siapa yang akan mengenalkanmu pada pria itu?" tanya Reno lagi dengan nada rendah.
"Abah kyai, pemilik pesantren tempat Zahra sering ikut kajian." jawab Kia masih sambil menunduk.
Reno menarik nafas dalam, jika Pak Kyai yang akan mengenalkan dengan seseorang harusnya Reno merasa lega.
"Ajak Abang juga jika akan bertemu." akhirnya hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Zahra hanya mengangguk pelan dan mengakhiri percakapan mereka setelah mengucapkan salam.
"Abang.... Hik hik hik..." air mata yang dari tadi ditahan Zahra akhirnya tumpah. Bukannya lega, namun Zahra malah merasakan dadanya semakin sesak.
Begitu juga dengan Reno, entah ada apa dengan hatinya.
Beberapa kali bertemu dengan Pak Kyai membuatnya merasa kembali menjadi diri sendiri. Hatinya menjadi tentram. Rasa takut jika Clara akan pergi darinya sekarang berbalik menjadi kebencian. Namun Pak Kyai berpesan jika kita memang ingin hidup damai maka kita harus bisa memaafkan dan melupakan masa lalu yang akan membuat hidup kita tidak tenang.
Kemarin Reno telah membuat keputusan besar dengan mengurus berkas-berkas perceraiannya. Semua bukti perselingkuhan Clara sudah dikantongi, bahkan Reno baru tahu fakta baru. Dulu Reno sangat merasa bersalah karna telah menodai Clara, namun ternyata Clara sendiri yang membuat jebakan untuknya. Clara mengatakan bahwa Reno telah mengambil kesuciannya.
Semalam setelah menyerahkan semua berkas-berkas kepada pengacaranya, Reno segera ke rumah mertuanya. Ingin membicarakan tentang keputusannya untuk bercerai.
Sudah beberapa hari ini Clara memang tidak pulang ke apartemennya, Reno tahu alasannya. Apalagi jika bukan karna uang.
Baru saja Reno ingin mengetuk pintu, dia mendengar pembicaraan yang sangat sensitif.
"Kamu kenapa bodoh sekali sih! Bagamana kamu bisa hamil sementara suamimu sudah la tak menyentuhmu." tanya mama Clara berapi-api.
"Aku ga sengaja Ma, waktu itu Clara mabuk. Clara juga ga tahu siapa yang melakukannya." ucapnya membuat Mamanya geram.
Nasib baik sedang berpihak pada Reno. Pintu yang terbuka sebagian membuatnya lebih leluasa untuk mengambil video kejadian itu.
"Kamu ini memang tidak bisa diandalkan, Mama dulu sudah susah-susah menjebak Reno agar seolah-olah dia menodaimu dan mengambil kesucianmu. Dan sekarang setelah kita tinggal menikmati hasilnya, kamu ingin menghancurkan semua? Kamu mikir dong! Gugurin kandungan kamu."
"Mama jangan salahin Clara terus dong, salahin itu dukun Mama. Ilmunya sudah ga mempan. Reno sudah tidak pernah lagi memenuhi permintaanku."
"Makanya kamu harus baik-baikin Reno, biar dia terkesan dengan kamu. Jangan nglayap terus!"
Di tengah perdebatan itu tiba-tiba masuk seseorang.
Prok prok prok....
TBC...
Yang reques kisah Reno sudah dikabulin ya, jangan lupa tekan ❤️ untuk mendapat notifikasi update bab baru
Tinggalkan komentar jika kamu suka, atau ada pertanyaan
Jangan diskip-skip ya gaes bacanya, biar ga gagal paham. Soalnya semua saling berhubungan.
__ADS_1
Makasih ❤️❤️