
Reno dan Zahra sudah berada di kediaman Abah kyai. Sejak tadi Zahra hanya menunduk, dia takut keputusannya untuk melupakan Reno akan goyah jika melihat wajahnya.
Tak bisa dipungkiri dia masih merasakan getaran itu, bahkan lebih kuat. Setelah sekian lama tak bertemu, Zahra menahan diri untuk tidak memeluknya saat Reno merentangkan tangannya.
Reno terlihat kecewa saat Zahra menolak pelukannya. Reno hanya pasrah tak ingin Zahra mengecapnya pemaksa.
"Assalamu alaikum Abah." sapa Zahra saat melihat Abah keluar menemuinya.
"Wa alaikum salam, sudah lama Nduk? Sebentar lagi Ferdi akan datang, masih di jalan katanya." tutur Abah.
Abah tidak tahu jika akan ada tamu lain di rumahnya.
"Assalamu alaikum Abah." Reno juga ikut memanggil dengan sebutan Abah.
"Wa alaikum salam. Kok bisa barengan gini? Gimana perasaanmu sekarang?" tanya Abah kemudian.
Zahra hanya mendengarkan, dia tidak tahu kalau Reno juga mengenal Abah.
"Alhamdulillah, jauh lebih baik Bah. Hati saya jauh lebih tenang sekarang. Saya sengaja datang dengan Zahra, dia adek sepupu saya Bah. Saya ingin tahu, pria yang ingin mengenal Zahra." jawab Reno apa adanya.
"Baguslah kalau begitu." jawab Abah singkat.
"Assalamu alaikum..." Ucap seorang pria di depan pintu yang memang tidak ditutup itu.
"Wa alaikum salam. Masuk Nak!" jawab Abah.
Seorang pria yang Reno taksir usianya tidak jauh darinya masuk menyalami Abah. Lalu duduk di sebelah kanan Zahra yang hanya terpisah satu kursi saja.
"Nah ini yang ditunggu sudah datang. Nak Zahra, ini Nak Ferdi yang kemarin Abah ceritakan." ucap Abah mengenalkan.
Zahra menatap Reno sebentar, Reno mengangguk sebagai kode. Zahra tersenyum sambil menangkupkan tangannya didepan dada sambil mengenalkan diri.
" Saya Zahra Kak." ucap Zahra sopan.
"Ah, iya. Saya Ferdi." Ferdi melakukan hal yang sama dengan Zahra, lalu beralih pada Reno.
"Saya Reno." kali ini mereka bersalaman.
Sesaat Zahra menilai, dari tampilan fisik lumayan. Meski tidak setampan dan segagah Reno. Ah, mengapa masih Reno yang jadi tolak ukurnya.
"Begini Nak Ferdi, saya sudah janji dengan Nak Zahra, bahwa peran saya hanya mengenalkan saja. Setelah ini, jika kalian mau lanjut monggo, Abah akan mendukung. Tetapi jika Zahra tidak ingin melanjutkan berteman atau saling mengenal lebih jauh, Abah harap Nak Ferdi memaklumi.
"Inggih Bah." jawab Ferdi singkat. "Jadi menurut Dek Zahra bagaimana, apakah saya boleh mendekati Dek Zahra?" tanya Ferdi pada Zahra kemudian.
"Sa... Saya... Apakah boleh jika kita berteman dulu? Maaf, rasanya saya canggung karna belum mengenal Mas Ferdi." jawab Zahra terua terang.
Reno hanya diam menyaksikan interaksi keduanya. Namun sejujurnya dalam hati, Reno tidak rela Zahranya dekat dengan lelaki itu. Apakah Reno egois?
"Ya, mungkin lebih baik seperti itu. Apakah boleh kita bertukar nomor ponsel?" tanya Ferdi penuh harap.
Zahra menoleh pada Reno lagi. Dan Reno akhirnya meminta Ferdi untuk menyebutkan nomer ponselnya. Tak lama sebuah pesan masuk dari kontak baru dan mengirimnya pesan.
Menjelang maghrib mereka memutuskan untuk sholat di pesantren baru kemudian pulang.
"Kita makan dulu ya." ajak Reno saat mereka sudah dalam perjalanan.
"Ga usah, Abang langsung pulang aja, nanti mbak Clara nyariin." tolak Zahra halus.
Dia jadi ingat, dulu Clara pernah mengancam Zahra saat tahu kedekatan Reno dan Zahra.
"Besok lagi, jangan pernah dekat-dekat dengan Reno. Kamu menyukainya sebagai pria dewasa kan? Kau bisa membodohi yang lain, tapi aku tidak. Kamu tahu? Gampang sekali membuat dia menderita. Reno sangat mencintai aku, jika kamu masih berusaha mendekatinya, maka aku akan meninggalkan Reno dan saat aku pergi maka dia bisa gila. Kamu mengerti kan? " ancaman Clara saat itu.
__ADS_1
Dan sekarang Zahra sangat merasa gelisah.
"Abang masih ingat kebiasaan kamu, pasti kamu dari siang ga makan kan? Atau malah sejak pagi belum sarapan?" ucap Reno yang tahu jika Zahra akan menghadapi sesuatu atau seseorang maka dia jadi tidak nafsu makan karena gelisah.
"Iya, tapi aku ga mau nanti mbak Clara marah sama Abang terus ninggalin Abang. Katanya Abang tuh cinta mati kan sama Mbak Clara. Dan kalau dia pergi ninggalin Abang, Abang bisa gila. Rara ga mau Abang gila." ucap Zahra panjang membuat Reno terkejut.
Bukan marah malah ingin tertawa. Reno menepikan mobil dan menghentikan mobilnya di pinggir jalan masih sambil terkekeh.
"Abang kenapa tertawa sih. Terus kenapa berhenti di sini? Bensinnya habis?" tanya Zahra yang membuat Reno jadi gemas sendiri.
"Bentar dek Abang mau puas-puasin tertawa dulu. Rara denger dari siapa sih cerita kaya gitu? Cinta mati? Dan apa tadi, abang akan gila? Tapi bisa juga sih kalau Abang masih dalam pengaruh pelet, hahahaha..." ucap Reno yang membuat Zahra merengut.
"Denger, pokoknya kita makan dulu. Kalau Rara ga mau pilih biar Abang aja yang pilih menunya." ucap Reno yak mau dibantah.
Reno melanjutkan perjalanan menuju warung tenda, dia ingat kalau Zahra suka sekali dengan ayam penyet dan pecel lele.
"Bu, ayam kampung goreng 2, lele 2, nasi 2, minumnya teh anget saja 2 ya bu. Jangan lupa sambel penyet dan lalapannya." ucap Reno pada pemilik warung.
Zahra tersenyum, ternyata Reno masih ingat kesukaanya.
Reno menarik Zahra duduk si pojokan memilih duduk bersebelahan di lesehan.
"Abang masih inget kesukaan Rara?" tanya Zahra.
"Rara kenapa ga pernah kasih kabar Abang selama ini? Ganti nomor juga ga kasih tabu Abang. Abang pernah buat salah sama Rara? Hmmm?" Reno memberondong dengan banyak pertanyaan.
"Ga papa sih, waktu itu kan Rara sibuk kuliah. Dan aku ga mau nanti memancing kemarahan mbak Clara." jawab Zahra jujur.
"Kamu kenapa takut banget sama Clara sih. Kamu pernah diancem?" tanya Reno lagi.
"Eh, Rara ga takut kok sama mbak Clara. Abang jangan bilang sama Mbak Clara ya nanti, kalau Abang nemenin Rara hari ini." ucap Zahra memohon.
"Tuh kan, katanya ga takut?" Reno mencebik, dan disambut cengiran oleh zahra.
"Abang boleh minta bantuan Rara?" tanya Reno lagi.
"Apa Bang?" tanya Zahra sambil memisahkan duri yang ada di perut lele.
Kebiasaan Reno hampir sama dengan Revan. Suka makan ikan tapi tidak sabar memisahkan durinya.
Saat ini Reno dan Zahra lebih mirip pasangan yang sedang berkencan.
"Abang mau pindah dari apartemen, kemarin sudah dapet rumah diperumahan Pakuwon. Rara bisa bantuin packing? Perabotan rumah ga Abang bawa kok. Rencananya, apartemen mau Abang jual sama perabotannya." ucap Reno menjelaskan rencananya.
"Emang kenapa dijual? Bukannya itu impian mbak Clara tinggal di apartemen?" tanya Rara.
Reno menghela nafas panjang, dia masih enggan memberi tahu Zahra tentang perpisahannya.
"Kita ga usah ngomongin Clara dulu ya. Clara lagi ga sama Abang. Kamu ga usah takut lagi sama dia." ucap Revan serius sambil mengusap kepala Zahra yang berbalut jilbab. "Abang hanya ingin melihat Rara bahagia, jika Rara yakin pria tadi bisa menjadi imam Rara kelak, maka Abang akan dukung. Tapi jika Rara tidak yakin sebaiknya jangan buru-buru memutuskan. Istikhoroh dulu, ok!" lanjutnya.
"Iya Bang." jawab Zahra, kemudian dia mencuci tangannya, tanda sudah selesai makan. "Kalau besok sore aja gimana packingnya, sekalian pindahan. Rumahmya jauh emang?" tanya Zahra.
"Di Pakuwon, sebalum tempat kamu ngajar itu."
"keren ih, itu kan perumahan elit. Tajir dong Abang."
"Hahaha... Ga usah sok miskin deh. Itu duit yang Papi sama Mami kasih masih sisa banyak kan kalo cuma buat beli rumah kayak gitu."
Zahra hanya nyengir. Meskipun tidak tahu detailnya, tapi Reno tahu kalau Zahra itu tipe orang yang sederha dan hemat. Sedang Mami sama Papinya selalu memberi uang jajan yang sangat besar. Belum lagi dulu Reno sendiri sering ngasih uang jajan juga.
" Udah selesai, mau langsung pulang apa nginep apartemen Abang aja?" ucap Renomencandai Zahra.
__ADS_1
"Abang ih, seneng banget baperin Rara."
"Emang Rara baper? Beneran Abang culik lho ini dek. Ck, gemesin banget sih!!!"
Reno akhirnya hanya berani menarik hidung Zahra karna gemas.
Di dalam mobil hanya ada keheningan.
Ya Allah... Boleh ga sih kalau aku minta Abang saja yang jadi suami aku? Tapi aku ga mau ah, masa iya aku pelakor. Big No! Ah, sepertinya memang lebih baik mencoba untuk menerima kak Ferdi saja biar aku tetap waras. Batin Zahra berperang.
********
Acara masak memasak sudah selesai 1 jam yang lalu. Ara telah kembali ke unitnya. Sedang Arya sedari tadi masih ngintilin Ara. Tadi sempat berdebat karna Ara menyuruhnya pulang. Namun Arya ngotot ingin menunggu abangnya. Jadilah Kia mencarikan kaos Revan untuk dipakai Arya setelah mandi.
Kia masih memikirkan perkataan Arya tadi di sela-sela kegiatannya di dapur.
"Kakak mau tanya sesuatu boleh ga Ra?"
"Kenapa Kak?"
"Emmmm... Kia itu mirip sekali sama isteri Om aku. Namanya tante Laras. Lihat nih, persis banget kan sama kamu."
Kia terhenti dari kegiatannya yang sedang memotong Sayur. Dia menghampiri Arya dan meraih ponselnya lalu memperhatikan foto di galerinya. Hatinya bergetar.
Harapan yang pernah dia pendam, rasanya ingin dia gali lagi.
Apakah aku boleh berharap untuk bertemu ayahku? Tali bagaimana jika dia tidak mau mengakuiku? Batin Kia masih dipenuhi ketakutan.
"Iya, ini persis banget sama Kia. Memangnya Omnya Kakak namanya siapa?" tanya Kia dengan suara bergetar.
Arya mengambil ponselnya dan menggeser fotonya, lalu memperlihatkan foto seorang pria di kursi roda.
Deg...
Kenapa rasanya sakit melihat keadaan pria yang ada di kursi roda itu, tatapannya seperti kosong. Apakah dia ayahku. Batin Kia.
Tak terasa air matanya lolos.
"Hei, jangan nangis! Aku berharap kalau kamu memang adik aku. Apakah nama ibu kamu memang benar Bunda Laras?" Arya mulai mengintrogasinya.
Kia hanya mengangguk. Dia semakin terisak. Ara segera memeluknya.
"Jangan nangis Kia, apa kamu menakutkan sesuatu?" tanya Ara.
Kia mengangguk disela tangisnya.
"Kenapa?" tanya Arya.
"Kia takut ketemu Ayah. Kia takut Ayah tidak mau mengakuiku." jawab Kia masih sambil terisak.
Arya mengelus rambut Kia dengan sayang. Dia betambah yakin kalau gadis ini adalah orang yang sedang keluarganya cari. Tapi dia tidak ingin terburu-buru. Salah bergerak, bisa saja membahayakan Kia.
"Jangan khawatir, jika memang kamu benar anak Om Abi, maka dia pasti akan sangat senang karena bisa menemukanmu. Aku akan membantumu untuk menyelidiki kebenarannya. Makanya aku harus bertemu dengan calon suamimu. Sudah, sekarang kamu tenang ya, kita sama-sama berdoa. Jika memang kamu adek aku, nanti kakak jelasin kedaan om Abi. Jika kamu marah sama beliau, kamu boleh menghukumnya. Di akan sangat senang menerima hukumannya asal kalian mau kembali." bujuk Arya kemudian.
Kia mengusap air matanya dn berusaha menenangkan diri lalu meneruakan acara memasaknya.
TBC...
Mau minta pendapatnya, Zahra sebaiknya dijodohkan dengan siapa nih?
Tulis di kolom komentar ya...
__ADS_1
Terima kasih dukungannya, jangan lupa tekan 👍dan❤️
Makasih❤️❤️