Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 37. PENGUNTIT


__ADS_3

Sejak siang hari Lucia menunggu pria yang ingin dikejarnya, di depan kantor tempat kerja pria itu.


"Lama banget sih, aku harus apa ya untuk menarik perhatiannya." ucapnya bermonolog.


"Pura-pura mobil mogok? Ketahuan ga ya nanti? Atau pura-pura jatuh aja biar ditolongin? Ah, pasti so sweet banget kalau gue di gendong ala-ala bride style gitu. Ah ya, gitu aja deh. Tapi harus ada rencana cadangan, apa ya?" Lucia masih berbicara sendiri memikirkan ide.


Pukul 15.45 WIB terlihat mobil innova grey keluar dari gerbang perkantoran. Mobil ini menjadi patokan Lucia dalam perburuannya.


Lucia berjalan pincang sembari menghadang mobil yang sejak tadi menjadi pusat perhatiannya.


"Sepertinya cewek itu butuh bantuan Mas." ucap seorang pria berumur yang duduk di kursi kemudi.


Revan yang sejak tadi fokus pada tabnya menoleh.


Sejenak mengamati wanita yang berdiri menghadang mobilnya. Tampilan yang sangat tidak ingin dia lihat dari seorang wanita, mini dress di atas lutut, bagian dadanya rendah sehingga belahan dadanya terlihat jelas.


"Astaga, ini cewek masih sore kok mau jualan ya Mas?" tanya pria itu lagi yang tak lain adalah Pak Ridwan, sopir kantor yang sengaja Revan pinjam untuk mengantar jemputnya hari ini.


Pagi tadi saat di kantor Papanya. Tiba-tiba ada email masuk dari perusahaan raksasa, dimana Revan adalah salah satu pemilik sahamnya. Dan email itu adalah pemberitahuan rapat dadakan beberapa menit lagi, sedangkan dalam 1 jam dia juga harus sampai kantor. Akhirnya rapat online itu dia ikuti sambil jalan ke kantor.


"Pak Ridwan suka sama cewek kayak gitu? Kalau suka ya sikat aja pak. Siapa tahu jodoh. Tapi jangan biarkan deket-deket saya. Bisa mabok nanti saya, hahaha..." ucap Revan mencandai pak Ridwan yang sampai seumuran Bang Reno masih jomblo.


Pak Ridwan turun dari mobil.


"Kenapa dek?" tanya Pak Ridwan.


Lho kok dia sih yang keluar. Si ganteng mana. Udah tampil all out gini masa malah dapet beginian. Batin Lucia.


"Em, saya sebenernya mau numpang sampai klinik Pak. Kaki saya terkilir." jawab Luci, berpura-pura meringis menahan sakit.


"Kalau cuma sampai klinik ayoklah dek, mas anter." kata Pak Ridwan.


Cepat-cepat Lucia hendak membuka pintu belakang.


"Eh, Dek. Jangan duduk di belakang. Di belakang ada bos saya. Kalau masih mau numpang duduknya depan dek!" ucap Pak Ridwan.


Sebenarnya Revan sudah curiga dengan perempuan ini hanya berpura-pura. Namun belum tau apa motifnya.


Lucia membuka pintu dan langsung melihat arah belakang, terlihat pria yang sejak tadi dia nantikan sedang duduk dengan tenang sambil memainkan tabnya.


Lucia tersenyum kecut, ternyata tidak mudah menggoda pria ini. Meski begitu Lucia tak pantang menyerah. Dia masih mencari celah bagaimana caranya agar bisa berkenalan.


"Terima kasih ya Mas, sudah diizinkan menumpang. Kenalkan saya Luci." kata Lucia sambil menyodorkan tangannya ke belakang.


Ternyata Revan lupa belum melepas ID card yang menggantung di sakunya.


Astaga, sombong banget sih. Diajak kenalan malah cuma dilihatin doang. Oh, namanya Revan. Ok, lihat saja nanti, akan kubuat kamu tergila-gila. Batin Luci.


Pak Ridwan segera menyerobot tangan Luci karena tahu, Revan tak menaggapi.


"Saya Ridwan dek, emang tadi kenapa kakinya bisa pincang gitu?" tanya Ridwan basa-basi.


"Eh, iya ini tadi keseleo Pak." jawabnya singkat.


Sementara Revan hanya tersemyim sinis.


Sepanjang perjalanan akhirnya mereka hanya saling diam.


"Turun di kafe depan aja Pak!" ucap Revan setelah dekat dengan kafe.


Tidak semua karyawan perusahaan tahu bahwa Revan adalah pemilik cafe yang populer di kalangan pegawai 3R Group dan tidak semua karyawan juga tahu bahwa Revan adalah anak dari pemilik perusahaan besar itu.


Eh, kok dia turun di sini sih! Batin Luci kecewa.


"Eh, Pak. Saya juga turun di sini aja deh, kayaknya kaki saya sudah mendingan kok. Maksih ya Pak." tanpa mendengar jawaban Pak Ridwan.


Lucia masuk dan mengedarkan pandangannya, namun tak ditemukan orang yang jadi perhatiannya.

__ADS_1


"Assalamu alaikum calon istri." ucap Revan saat masuk ruangannya dan mendapati Zahra sedang memainkan ponsel di sofa.


Senyum Kia mengembang. Berpisah dengan Revan belum ada sehari saja, rasa rindu di hatinya sudah menggunung.


Kia berhambur ke arah Revan dan memeluknya.


"Kengen ya? Abang juga. Tapi tadi belum dijawab lho salamnya." ucap Revan lembut sambil mengusap punggung Kia yang ada dalam pelukannya.


"hehe... Wa alaikum salam. Maaf, lupa." jawab Kia masih dalam posisi yang sama.


"Yakin, kita mau gini terus di sini?" tanya Revan lirih.


"Sebentar, Kia suka baunya Abang sepulang kerja." jawab Kia sambil mengendus badan dan ketiak Revan.


"Bau kringet Dek, Abang belum mandi. Pulang aja yuk, tar kangen-kangenannya lanjutin di rumah."ucap Revan dengan suara serak. Bukan menolak, hanya saja Revan sedang menahan hasratnya.


Kia segera mengendurkan pelukannya.


Revan meraih ponselnya.


" Iya Pak, gimana? Saya mau pulang sekarang." ternyata Revan menghubungi Pak Ridwan mwnanyak mobilnya.


"Ada di depan kafe Mas. Perempuan yang tadi ikut turun di kafe." jawab Pak Ridwan.


"Hah, ga jadi sakit emang? Sudah saya duga sih sebenarnya. Ya sudah, sebentar lagi saya keluar." ucap Revan lagi.


Kia mengerutkan kening ketika yg dibicarakan adalah wanita. Revan yang tahu Kia sedang penasaran pun menjelaskan.


"Tadi ada cewek numpang mobil, alasannya mau ke klinik. Tapi pas aku turun di sini, ternyata dia ikut turun. Mungkin cuma modus kali. Maklumlah calon suami kamu ini kan ganteng." ucap Revan jumawa.


Kia hanya mengerucutkan bibirnya, membuat Revan gemas.


"Abang tadi duduk berdua deket - deketan ya?" tanya Kia mulai menunjukkan aikap posesif.


Revan sangat menyukai keposesifan gadisnya ini. Berarti dia takut kehilangan.


Kia yang masih sebel mencubit perut Revan.


"Keras banget sih Bang. Pake apaan sih?" ucap Kia.


"Mau lihat ga? Sekarang apa nanti di apartemen?" goda Revan lagi.


"Udah ah, ayo pulang. Maskernya jangan lupa. Ga boleh tebar pesona." Kia semakin memperlihatkan keposesifannya.


Revan kian bersorak dalam hati, bangga karena dirinya benar-benar dijadikan laki-laki yang menjadi sandaran hati Kia.


Setelah semua penghuni kafe tau hubungan mereka, mereka tak canggung lagi memperlihatkan kedekatan mereka.


Kia menggandeng tangan Revan keluar dari ruangannya. Ternyata pengunjung kafe masih banyak.


Di sudut ruangan, Lucia tersedak saat melihat Revan bejalan bergandengan mesra dengan seorang gadis.


Hatinya panas, sudah seharian menjadi penguntit malah harus melihat pria incarannya digandeng cewek lain.


"Gila, seleranya pelayan kafe? Gegayan pake masker segala. Pasti karna jelek kan mukanya? Ck, sekarang aku makin yakin kalau aku bakalan dapetin kamu." ucap Lucia Lirih.


*****


Arya sengaja datang ke mansion Abimana untuk memberitahu berita yang sangat penting pada Abimana.


Ternyata di sana juga sedang berkumpul Papa Aditama dan juga Zian.


" Ada kabar apa?" tanya Abimana to the point.


"Ada berita bagus. Sepertinya perizinan yg diajukan Roy terindikasi gagal. Pihak terkait sedang menyelidiki dokumen penunjang. Pihak yang mereview dokumen kelengkapan perizinan, sepertinya adalah orang-oramg yang bersih. Mungkin kita bisa meminta bantuan orang-orang yang terlibat untuk mejadi saksi, jika besok kita mengangkat kasus Roy di kemudian hari." ucap Zian melaporkan.


"Mungkinkah mereka bersedia? Apa kita mengenal mereka? Atau mereka mengenal kita?" tanya Aditama.

__ADS_1


"Saya belum memastikan, tapi seharusnya mereka mengenal perusahaan kita. Mengingat kita sering mengurus surat perizinan pembangunan dan tender." Kata Abimana sambil mengingat-ingat.


Tok tok tok


"Assalamu alaikum, Om... Pa... Ini Arya." terdengar Arya mengetuk pintu dari luar.


Zian membukakan pintu.


"Maaf Om, Pa kalau Arya ganggu." ucap Arya sambil menyalami keduanya.


"Tak apa, duduklah! Ada apa?" Tanya Abimana.


"Emmm, sebelumnya boleh saya tanya dulu Kak Zi? Sudah sampai mana pencarian tante Laras?" tanya Arya.


Sesaat arah mata mereka tertuju pada Arya, karena tadi memang belum melaporkan tentang hasil penyisiran mereka.


"Ah, iya. Saya juga ingin melaporkan bahwa tadi pagi, orang kita memang menemukan fakta bahwa Nyonya selama kurang lebih 14 tahun ini tinggal di kampung halamannya. Dan tentang tanah yang Anda beli itu memang tanah Nyonya Laras peninggalan orang tuanya. Namun hasil penjualan tanah itu tidak sampai pada Nyonya tapi dinikmati sendiri oleh kakak Nyonya Laras, Tuan." lapor Zian.


Glek...


Abimana tercekat, jantungnya berdebar. Ludahnya sulit sekali tertelan.


"Jadi kalian menemukan Larasku kan?" suara Abimana terdengar bergetar.


"Maaf Tuan. Saat anak buah kita sampai, Nyonya katanya belum lama berangkat ke kota untuk bekerja. Di sana hanya ada seorang pemuda, yang mungkin seumuran Nona muda, Tuan."


Tubuh Abimana bergetar. Air matanya luruh. Bodoh! Itulah umpatan yang selalu ia berikan pada dirinya sendiri.


"Lalu bagaimana dengan anakku?" tanyanya kemudian.


"Nona sudah lebih dulu ke kota. Pemuda itu bilang bahwa Nona sudah bekerja terlebih dulu ke kota." kata Zian lagi.


"Cukup Kak Zi. Terima kasih. Om dan Papa harus lihat ini!" ucap Arya sambil menunjukkan video saat kejadian di mall itu berlangsung.


Kemarin malam sepulang dari apartemen Revan dia menemukan video itu, lalu mendownloadnya. Kemudian dia meminta Revan untuk menghapus video itu agar tidak semakin tersebar.


"Ini Laras? Ah bukan, apakah dia keponakanku? Dari mana video itu Ar?" tanya Aditama.


"Kemarin siang di mall xx." jawab Arya singkat.


"Mengapa baru bilang sekarang Ar?" tanya Aditama.


"Papa sabar dulu. Jika memang benar dia adalah adik Arya, maka Arya jamin saat ini keadaannya sangat baik. Dia aman bersama orang yang tepat. Kemarin setelah kejadian itu, Arya mengikutinya sampai kediamannya?" ucap Arya sejenak berhenti menghirup udara.


Terlihat wajah Abimana kembali terlihat antusias.


"Lalu di mana sekarang anakku? Antarkan Om bertemu, Ar!" ucap Abimana serius.


"Maaf om, tidak bisa begitu. Pertama, saat ini gerak gerik kita sedang diawasi, itu berbahaya untuk Zaskia, ke dua... Kita harus pikirkan perasaan Zaskia juga. Kita harus menyiapkan mentalnya untuk bertemu dengan Om. Karna sebenarnya, Zaskia baru saja mengalami hal yang tidak baik. Kedatangannya ke kota awalnya bukan untuk bekerja, tapi untuk bertemu dengan tunangannya. Namun ternyata Tuhan sedang mengujinya, saat sampai di sana, tunangannya sedang melangsungkan pernikahan dengan anak dari kakak tante Laras." tutur Arya terdengar sendu, membayangkan kisah pilu sepupunya itu.


"Ja... Jadi... Dia... Apakah dia masih bersedih? Astaga, aku memang bodoh. Mereka pantas membenciku! Tolong Abi Mas, apa yang harus Abi lakukan?" tangia Abi mulai pecah lagi.


"Tenang dulu Om, Arya belum selesai. Sekarang kondisi Kia baik bahkan terlihat bahagia. Om lihat foto-foto yang lain, ada video juga." ucap Arya.


Abimana menscroll ke bawah. Ya banyak sekali foto Kia yang terlihat bahagia bersama seorang pria muda yang nampaknya orang spesial bagi Zaskia, yang memperlakukannya dengan baik.


Abimana tampak lega, namun melihat foto itu, rindunya pada ustri dan anaknya semakin menggebu.


Ayah kangen Nak. Larasku, Mas kangen. Kembalilah sayang... Meskipun aku tidak pantas kalian maafkan, tapi setidaknya datanglah untuk menghukumku. Ucap Abimana dalam hati.


"Apa rencanamu Ar?" tanya Aditama.


TBC...


Jangan lupa tinggalkan komentar jika suka, biar othornya semangat nulia lagi.


Tekan juga 👍 dan❤️

__ADS_1


Makasih❤️❤️


__ADS_2