Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 40. KILAF


__ADS_3

Hari ini Zaskia bangun kesiangan. Kemarin setelah dari kafe Revan mengajak pulang ke rumah besar. Harusnya dia mendapatkan mood booster setelah bertukar kabar dengan Bundanya.


Namun semalam perutnya terasa nyeri, mungkin akan datang bulan pikirnya. Revan kelabakan melihat gadisnya kesakitan, tak puas bertanya pada istri abangnya, lewat tengah malam pun dia menelepon calon mertuanya yang ternyata sudah ada di Surabaya di rumah maminya.


Secara umum nyeri haid sudah biasa terjadi pada wanita. Zaskia pun juga sudah mengatakan pada Revan kalau itu sering terjadi padanya, namun karna hal ini adalah yang pertama bagi Revan, dia menjadi tidak tenang.


"Ah iya, maaf Nak Revan. Kia memang sering mengalami nyeri saat datang periodenya. Bahkan dulu pernah sampai pingsan. Biasanya dia memang lebih manja kalau pas seperti itu. Bunda biasanya bikinin teh hangat atau jahe. Terus bagian perut di seka pakai air panas yang ditaruh botol kaca. Sambil diusap-usap." begitu kata Bunda.


Siera juga tampil sebagai kakak siaga. Saat Revan bertanya, caranya ngilangin nyeri haid gimana, Siera langsung tanggap. Dia menyiapkan pembalut dan celana strit biar nyaman katanya.


"Ya ampun mbak, saya cuma datang bulan lho ga lahiran." ucap Kia tertawa sambil meringis menahan sakit.


"Aku dulu juga pernah pas di sini pas mulai datang bulan. Semua disiapin Mama. Karna Mama lagi ga ada ya gapapa kan aku yg gantiin. Santai aja Kia. Aku tuh seneng kayak gini. Punya sodara, bisa berbagi." ucap Siera tulus.


"Makasih ya mbak, kalian semua baik sama aku." ucap Kia terharu.


Tak lama datang Revan membawa apa yag disarankan bunda.


"Kamu ganti dulu pake itu, biar nyaman. Kamu kalo malam ga pake bra kan? Kamu ganti pakaian yag lebih longgar aja. Pake kaoe Revan kayanya dikamu jadi oversize deh." ucap Siera memberi saran.


Sejenak mata Revan dn Kia bertemu. Kia menunduk, karna dia belum pernah membahas ini di depan kaum adam. Pipi Kia bersemu sedikit salah tingkah.


Siera lupa kalau mereka masih canggung karna memang belum terbiasa. Akhirnya Siera pamit untuk istirahat.


"Ganti dulu yang... Abang ambilin kaos dulu ya." kata Revan sambil melangkah menuju walk in closet.


Kia bangkit dari posisi tidurannya melngkah menuju sofa. Dia menyeruput wedang jahe buatan mbok Mi.


Tak lama datanglah Revan membawa kaos yang akan dipakai Kia.


" Kia ganti dulu ya." ucap Kia sambil menerima kaos yang disodorkan Revan dan menyambar paperbag yang tadi dibawa Siera.


"Udah selesai?" tanya Revan saat melihat Kia keluar dari kamar mandi. Kaos longgar yang dipakai Kia bahkan Sampai sedikit di atas lutut. Namun itu terlihat sangat seksi di mata Revan. Apa lagi celana strit yang diberikan Siera ternyata pendek sekali. Sampai terlihat seolah-olah Kia tidak memakai bawahan.


Fix..


Revan harus bisa mengontrol otaknya agar tidak traveling kemana-mana.


Kia melangkah pelan sambil menarik ujung kaosnya.


Duh, kenapa tadi nurutin mbak Siera sih. Astaga, aku kaya wanita penggoda kalo kaya gini. Mana ga pake bra lagi. Jangan - jangan mbak Siera sengaja mau ngerjain aku. Ih... Malunya. Ucap Kia dalam hati.


"Sini dek, nanti tambah sakit berdiri terus di situ." ucap Revan menepuk sisi ranjang yg kosong.


Karna Kia tak kunjung bergerak Revan akhirnya menghampirinya.


"Kenapa?" tanya Revan lembut.


Kia menggeleng.


"Kia malu Bang." ucap Kia sambil menunduk.


"Buang dulu malunya. Sekarang minum dulu ini mumpung masih hangat. Biar lebih enakan perutnya."ucap Revan sambil menuntun dan mendudukkan Kia di sisi ranjang.


"Dek, ini gimana pakenya. Panas banget lho ini." tanya Revan sambil mencoba memegang botol kaca yang berisi air panas.

__ADS_1


"Itu harus dilapisi kain tipis Bang, lalu ditempel di perut. Ini pake serbet bersih yag disiapin mbok Mi." kata Kia menjelaskan.


"Oh... Oke. Sekarang kamu baring ya." ucap Revan.


"Eh, enggak usah. Kia sendiri bisa kok." tolak Kia halus karna merasa canggung.


"Ga ada penolakan." ucap Revan lagi tak ingin dibantah. Akhirnya Kia pun pasrah.


Ada sensasi lain saat pertama kali Kia menyingkap kaosnya ke atas, menampakkan kulit perutnya yang rata dan putih. Dia menarik slimut ke atas untu menutupi pahanya


Beberapa kali Revan terlihat menelan ludah kasar. Pemandangan yang indah di depannya, namun belum boleh dia nikmati.


Dengan tlaten Revan menyeka perut Kia.


Kia nampaknya merasa lebih baik, sampai akhirnya matanya merasakan kantuk. Setelah botol sudah tidak terasa panas lagi, Revan menaruhnya di atas nakas. Kemudian gantian tangannya yang dia gunakan untuk mengelus perut Kia.


Bagi pasangan halal malam jumat biasanya digunakan sunah rosul. Tapi bagi Revan ini adalah cobaan berat. Bahkan sejak Kia memejamkan matanya, arah pandang Revan tak lepas dari dada Kia yang nampak sedang mengejeknya.


"Dek, Abang boleh kilaf ya?" bisik Revan pelan. Kia yang tadi telentang dengan menggunakan lengan Revan sebagai bantal pun perlahan bergerak membelakangi Revan.


Revan membelalakkan matanya saat tangannya secara tidak sengaja benar-benar menyentuh aset kenyal Kia.


"Maaf dek, Abang ga sengaja lho ini. Astaga kamu benar-benar ingin menyiksaku sweetheart." mati - matian Revan menahan g**r*hnya saat Kia malah memeluk erat tangan Revan yang ada di dadanya.


"Bangunin ga ya? Ck, nanti pasti marah dia kalo bangun dalam posisi kek gini. Dek... Abang kilaf beneran ya? Tanggung ini." ucap Revan lagi sambil terkekeh.


Revan membuka telapak tangan yang tadinya mengepal. Kemudian perlahan dia menggenggam salah satu squisi Kia. Tidak kecil tidak juga terlalu besar, terasa pas dan lembut di tangan Revan. Sedikit meremasnya.


Dalam tidur Kia m*l*ng*h. Hal itu menyadarkan Revan dari hal gila yang dia lakukan. Dengan pelan dia menarik tangannya.


Dan pagi ini Kia merasa malu karna pertama menginap di rumah camer tapi malah bangun siang.


Setelah membersihkan diri Kia keluar dari kamar menuju dapur. Dia tak melihat Siera di sana. Revan pun entah ada di mana.


"Masak apa mbok? Ada yang bisa Kia bantu?" ucap Kia saat melihat mbok Sri, mbok Mi dan siska berkutat di dapur.


"Eh, Mbak Kia. Ini udah mau kelar kok Mbak. Ga usah ngapa-ngapain. Entar Mas Revan marah." jawab siska.


"Ih, mbak siska. Masak bantu di dapur aja dimarahi. Saya sudah biasa kok mbak kerja ginian, hehe..." ucap, Zaskia sambil nyengir.


"Tapi ini udah mau selesai Mbak. Masih sakit perutnya Mbak?" tanya mbok Mi.


"Udah mendingan mbok. Makasih ya, wedang jahenya mantap." ucap Kia sambil mengacungkan jempolnya.


"Ah, Mbak Kia ini melebih-lebihkan, siapapun juga bisa Mbak buat wedang jahe. Mbak Kia mau dibikinin minum apa?" tanya Mbok Mi.


"Ga usah Mbok, Kia banyakin minum air putih anget aja. Nanti ambil sendiri. Oya Mbok, pada kemana aih kok ga kelihatan. Si kembar belum bangun?" tanya Kia sambil clingak-clinguk.


"Mas Rey sama Mas Revan ada di belakang Non lagi nyari kringet. Kalo si kembar tadi minta ditemani mbak Cira lihat kura-kura Mbak di Kolam depan. Kemarin habis dapet kura-kura gede dari Mas Bimo katanya." ucap Mbok Sri.


"Kalo gitu Kia nyusul Abang aja ya Mbok. Lewat mana Mbok? Sini aja, apa muter lewat depan?" tanya Kia yang memang belum tahu seluk beluk rumah ini.


"Ayo Mbak saya anter. Sekalian saya tunjukin rangan-ruangan di belakang. Biar Mbak juga tahu pekerja di rumah besar.


" Iya deh Mbakm makasih ya." jawab Kia.

__ADS_1


Di halaman belakang, selain ada taman bunga, ada juga tanaman sayur-sayuran yang lumayan komplit, letaknya di paling ujung. Semantara ada taman dengan rumput yang tertata rapi mengelilingi kolam renang, Ada lapangan basket di dekat ruangan besar tanpa sekat yang ternyata adalah garasi, yang kalau Kia hitung jumlah mobilnya lebih dari 10. Sementara yang Kia tahu, kemarin Revan memarkirkan mobil di garasi depan. Ah, mungkin yang di sini semacam mobil koleksi, batin Kia.


Dia melihat Revan dan Reyhan sedang bermain barsket. Badan Revan yang sudah basah dengan kringat terlihat sangat manly. Kia hanya melihat mereka tanpa menginterupsi permainan mereka.


"Gimana semalam? Bisa tidur tidak?" tanya Reyhan sambil tersenyum mengejek.


"Laknat emang bini lo! Pasti sengaja kan bikin gue panas dingin?" jawab Revan kesal sambli mendribling bola lalu memasukkan bola ke ring.


"Panas dingin gimana? Panas ya panas... Dingin ya dingin. Emang lo demam sampe panas dingin?" jawab Reyhan masih dengan terkekeh.


"Padahal tuh semalem hujan lho. Kalau pengantin baru tuh, nikmat banget hujan-hujan kelonan sambil sunah rosul." Reyhan masih memprovokasi.


"Emang Abang ga ada akhlak lo ya. Gue hampir aja kilaf tau ga. Udah kilaf sih sedikit." ucap Revan jujur membuat tawa Reyhan pecah.


"Hahahaha... Astaga lo apiain emang? Jangan - jangan lo uda..." belum sampai Reyhan melanjutkan ucapannya Revan sudah memotongnya.


"Diem ga Lo!" Revan mendekat menghalau Reyhan yang sedang mendribling bola. "Ssssttttt.... Jangan ember! Calon bini gue ada di belakang lihatin kita. Awas mulut lo bocor!" ucap Revan sembari berbisik dan merebut bola dari Reyhan.


"Ah, sial Lo sengaja kan hilangin konsentrasi gue?" ucap Reyhan menuduh Revan.


"Mana ada? Lo itu memang masih selalu di bawah gue.... Kapan sih lo mau ngaku. Udah ah gue duluan, bidadari gue udah jemput. Latihan yang bener biar bisa ngalahin gue, hahaha..." ucap Revan sambil berlalu. Dia mengambil handuk kecil lalu mengusap kringetnya.


"Udah baikan yang?" tanya Revan saat menghampiri Kia.


Kia mengambil alih handuk Revan dan mengelap kringat yang masih tersisa.


"Abang tadi keren banget lho. Abang kelihatan seksi kalau kringetan kek gitu." alih-alih menjawab pertanyaan Revan, Kia malah memuji pujaan hatinya itu. Kia lalu menunjukkan hasil jepretan candidnya itu pada Revan.


"Selain keren ganteng juga kan calon suamimu ini?" tanya Revan memuji dirinya sendiri.


Kia hanya mengangguk malu. Karna tadi ketahuan melihat Revan dengan tatapan memuja.


"Abang ga kerja, ini sudah siang lho? Ke dalem yuk!" Kia menggandeng tangan Revan lalu masuk ke dalam.


"Nanti langsung ke lokasi Yang, makanya agak siang berangkatnya. Kamu di rumah dulu aja ya, ga usah kerja." pinta Revan pada Kia.


"Tapi Kia udah ga papa kok Bang. Itu udah biasa buat Kia." jawab Kia. Mereka berjalan melewati lorong sambi ngobrol. Tangan Kia bahkan sudah bergelayut manja pada lengan Revan. Interaksi mereka tak luput dari perhatian semua pekerja yang ada di sana. Tapi sepertinya ada seorang pekerja yang masih tergolong muda dibanding pekerja yang lain, yang tidak suka melihat keromantisan mereka.


Kia mengambil air hangat lalu diberikan pada Revan.


"Habis olah raga minumnya jangan dari kulkas, ga baik. Air anget aja." ucap Kia sambil menyodorkan gelas berisi air hangat itu pada Revan.


Mereka masuk kembali ke kamarnya.


"Abang mandi dulu ya... Pokoknya kamu di rumah aja, titik. Ga ada bantahan!" ucap Revan, kemudian mengecup kening Kia lalu ke kamar mandi.


Kia hanya menggelengkan kepalanya kemudian masuk ke dalam walk in closet untuk menyiapkan pakaian Revan.


TBC...


Tolong tinggalkan komen ya bestie...


Jangan lupa tekan 👍 dan ❤️


Maakasih❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2