Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 57. MELEPAS RINDU


__ADS_3

"Bicaralah dengan ayah Bun, Zaskia keluar dulu. Apapun yang bunda rasakan jangan di pendam. Kalau marah ya marah saja. Tapi setelah itu bunda juga harus baikan sama ayah. Ya Bun?" ucap Zaskia mengungkapkan keinginannya sekaligus menyemangati bundanya.


Laras hanya tersenyum meskipun air matanya belum berhenti menetes, dia mengangguk kemudian mengusap kepala anaknya. Setelah Zaskia keluar, laras memberanikan diri menatap Abimana. Dalam hati dia terus merapalkan mantra agar bisa mengontrol ucapan dan tubuhnya.


"Ingat laras, kalian sudah lama berpisah... Status kalian masih dipertanyakan, jangan berharap lebih agar tidak kecewa nantinya. Kalian berbeda kasta..." seperti itulah yang ada dalam pikiran Laras saat ini.


Laras masih bertahan di posisinya. Ingin bergerak, rasanya kakinya seperti terikat. Dia hanya menunduk dengan kedua tangan yang saling meremas. Meskipun belum menatap Abimana, namun ia tahu kalau dari tadi Abimana memperhatikannya. Laras masih belum tahu harus bagaimana bersikap.


Sedangkan Abimana yang melihat Laras hanya terdiam mengartikan lain. Abimana merasa takut kalau ternyata Laras masih membencinya dan belum memaafkannya.


"Laras... Apakah kamu akan di sana terus? Duduklah, nanti kakimu bisa kram." ucap Abimana memecah keheningan.


"Eh, i... iya Tuan." sahut Laras yang nampak masih gugup.


Deg...


Dada Abimana rasanya bergemuruh saat mendengar Laras memanggilnya Tuan. Air matanya kembali meleleh, namun Abimana masih memperhatikan Laras yang menuju sofa dan mendudukkan dirinya di sana dengan kepala terus menunduk. Abimana menggerakkan kursi rodanya menuju wanita yang sampai saat ini masih menguasai hatinya.


Abimana kini duduk berhadapan dengan Laras, sangat dekat. Bahkan lutut mereka saling bersentuhan. Mereka sama-sama merasakan kerinduan namun masih belum tahu bagaimana mengungkapkannya.


Laras sedikit menelisik tubuh Abimana. Dulu dia gagah dan berotot, namun saat ini dia terlihat lebih kurus daripada saat terakhir kali mereka bersama. Pasti Abimana tersiksa sekali kemana-mana harus memakai kursi roda.


"Apakah kau sangat membenciku istriku? Ya, aku tahu kamu pasti masih kecewa padaku. Karena kebodohanku, aku bisa menjadi suami yang sangat kejam dan tega mengusir istri dan anaknya sendiri. Membiarkan kalian terlunta-lunta di jalanan. Membiarkanmu berjuang sendiri membesarkan anak kita. Pasti sangat berat bagimu menjadi ibu sekaligus ayah dari putri kita. Aku bahkan berlaku kejam pada Zaskia karna pernah tidak mengakuinya. Kamu memang pantas marah sayang. Aku memang suami yang tidak berguna." ucap Abimana panjang lebar sambil terus meneyeskan air mata.


Sedangkan Laras sendiri juga tak kalah histeris, dadanya sampai naik turun karna menahan isak tangis.


"Aku tau, aku tidak pantas untuk meninta maaf. Namun aku mohon Laras, maafkanlah aku. Aku rela menerima hukuman apapun yang kamu berikan asal kamu mau memaafkan aku sayang. Maafkan aku, kembalilah padaku. Aku mohon Laras." ucap Abimana lagi sambil meraih tangan Laras. Tangan yang terasa kasar, karna itu bukti perjuangannya dalam menghidupi putri satu-satunya. Lagi-lagi Abimana merasa tertampar dengan kenyataan itu.


"Sa... Sa... Saya ti... Tidak tahu. Saya masih bingung Tuan." ucap Laras jujur. Dia masih bingung dengan semua ini. Benarkah statusnya masih istri sah Abimana? Dia sudah biasa menjadi babu, jadi saat ini dia merasa kecil sekali di hadapan Abimana.


Abimana menjatuhkan dirinya di lantai, dia langsung bersimpuh di hadapan Laras sambil memeluk lutut wanita yang masih menjadi istrinya itu. "Mengapa memanggilku seperti Itu Laras? Apakah aku sudah tidak layak lagi menjadi suamimu? Apakah ini hukuman untukku? Aku mohon, ampuni aku Laras." Abimana memohon dengan kesungguhan hati.


Laras jadi panik dengan apa yang dilakukan Abimana, dia takut keadaannya akan memburuk.


"Jangan begini... Tu..." belum selesai Laras berbicara Abimana sudah memotongnya.


"Tolong, jangan panggil aku seperti itu. Aku merasa semakin bersalah sayang. Aku suamimu, sejak dulu aku masih suamimu. Tidak ada yang berubah. Jangan panggil tuan lagi, tolong!" ucap Abimana lagi.


Mendengar penjelasan Abimana, Laras pun mencoba untuk mengurai kecanggunannya.


"Mmm... Mas Abi jangan seperti ini, nanti kakinya tambah sakit. Ayo Laras bantu duduk di atas." ucap Laras mencoba berdiri namun ditahan oleh Abimana yang masih bersimpuh memeluk lututnya.


"Kesakitanku tak ada artinya dibanding sakit di hatimu sayang. Tolong... Maafkan aku... Kembalilah padaku, aku mencintaimu, sejak dulu sampai sekarang aku akan selalu mencintaimu. Ampuni kebodohanku yang sudah membuatmu dan putri kita menderita." ucap Abimana masih memohon maaf.


"Laras ga mau..." ucap laras terjeda.


Abimana sudah panik dan menggelengkan kepala.


"Laras ga mau maafin kalau Mas masih kayak gini. Ayo Laras bantu duduk si atas dulu." ucap Laras lembut. Masih seperti dulu, jantungnya selalu saja bereaksi berlebihan setiap berada di dekat Abimana. Apalagi setelah sekian lama, kerinduan yang menumpuk membuat Laras tambah tersipu, bak anak remaja yang baru saja jatuh cinta, Laras kini yang berada di posisi sedekat ini semakin salah tingkah.


Akhirnya Abimana melonggakan dekapannya di lutut Laras. Dia mendongak dan mencoba tersenyum meski air matanya masih sedikit mengalir. Namun hatinya merasa lega. Setidaknya Laras mau berbicara dengan bahasa normal dan dengan nada lembut.


Tangan Laras bergerak menghapus air mata Abimana dengan ibu jarinya dengan lembut. Kemudian dia membantu berdiri suaminya.

__ADS_1


"Sebentar sayang... Biar aku berusaha sendiri. Nanti kalau tidak bisa baru kamu bantu." ucqp Abimana. Sesungguhnya saat menapakkan kakinya di lantai sebelum bersimpuh tadi, Abimana hanya merasa sedikit nyeri saja tapi setelah itu tiba-tiba dia seperti tidak merasakan sakit apa-apa.


"Iya, baiklah. Mas pegangan tangan Laras aja." ucap Laras menyodorkan tangannya. Agar Abimana berdiri dengan berpegang pada tangannya sebagai tumpuan.


Abimana bahagia melihat wajah khawatir sekaligus perhatian dari Laras. Dia segera berpegangan tangan dan mulai berdiri.


Telapak kakinya mulai menumpu di lantai, tidak sakit hanya terasa linu. Perlahan dia mulai menegakkan tubuhnya.


"Bisa yang... Mas bisa berdiri!" teriaknya girang saat bisa berdiri sendiri dengan sempurna. Sedikit oleng, tapi Abimana bisa bisa menyeimbangkan tubuhnya lagi. Laras refleks berdiri, dia terharu melihat semangat suaminya.


"Jangan dipaksa Mas, ayo duduk. Mau di sofa apa di kursi roda lagi." ucap Laras yang tanpa canggung merangkul pinggang Abimana agar bisa membantunya duduk. Namun bukannya segera beranjak, Abimana malah memanfaatkan keadaan dengan memeluk erat istrinya.


Laras kaget, bukan tidak mau. Namun mereka bisa saja jatuh bersama karna perlakuan Abimana yang tiba-tiba tadi.


"Mas... Bahaya. Bisa jatuh nanti. Mas baru mau sembuh." ucap Laras sedikit tinggi, Abimana malah tersenyum lebar mendengar istrinya mengkhawatirkannya. Ah, sungguh dia merindukan saat-saat istrinya bawel karna dia suka ngeyel dulu. Dan untuk ke depannya, Abimana sudah berjanji, apapun akan dia lakukan untuk kebahagian istri dan anaknya.


"Sebentar sayang, Mas kangen... Kangen banget." ungkap Abimana sambil mengecupi pucuk kepala istrinya.


Hati Laras berdesir, perlakuan yang tidak pernah dia dapatkan dari laki-laki lain selain suaminya ini membuatnya seperti terbang ke awang-awang. Laras tak pernah bermimpi jika dia bisa memeluk laki-laki ini lagi. Bisa menyalurkan semua rasa yang dia punya. Dia sudah menyerahkan jiwa dan raganya hanya untuk Abimana seorang. Bahkan sebelum menikah pun dia sudah berjanji pada almarhum orangtua Abimana dan kepada dirinya sendiri. Jika dia harus menyerahkan hati dan tubuhnya maka itu hanya untuk Abimana saja, jika bukan Abimana maka dia rela hidup dalam kesendirian seumur hidupnya.


Dan itu sudah dia buktikan, sejak berpisah dengan Abi, banyak sekali laki-laki yang mendekatinya. Mereka datang menawarkan cinta dan kebahagiaan untuk Laras dan anaknya. Namun hati Laras sama sekali tak tergerak. Dia memilih bejuang sendiri membesarkan putrinya. Bukan hanya sekedar memenuhi janji saja, namun hatinya memang tidak menginginkan pria lain.


"Udah Mas, ayo duduk. Nanti oleng lagi terus jatuh gimana? Mas udah pernah belajar jalan?"


"baru tahap berdiri, itu pun ga kuat lama. Tapi saat ini kaki Mas seperti sangat ringan. Sebentar sayang, Mas mau coba mengangkat kaki."


"Jangan dipaksa Mas. Coba dulu berdiri yang agak lama, kalau kuat baru coba yang lain."


Abimana melepaskan pelukannya dan mencoba berdiri tegak.


Satu detik


Lima detik


Lima belas detik dan... senyum Abimana mengembang sempurna saat melewati menit pertama, bahkan tanpa keluhan.


Laras ikut bahagia melihatnya. Laras reflek memegangi lengan Abi saat melihatnya mulai mencoba mengangkat kakinya.


"Bismillah..." Abi bisa mengangkat kaki kanannya dengan sempurna lalu meletakkan di lantai lagi.


Kaki kirinya pun demikian.


"Aku sembuh yang... Coba lepaskan Mas dulu." ucap Abimana antusias, namun Laras malah merasa khawatir.


Dengan hati-hati dia melepaskan Abimana meski masih merasa cemas. Dengan hati-hati abimana mulai melangkah.


Selangkah, dua langkah, tiga langkah... Dan Abiamana langsung membalikkan badan dan menubruk tubuh Laras.


"Mas bisa jalan sayang, Mas bisa jalan... Kamu lihat kan. Ini semua karena kamu sayang." ucap Abimana dengan suara bergetar sambil masih memeluk istrinya. "Sekarang mulailah memikirkan hukuman apa yang harus Mas dapatkan. Apa yang harus Mas lakukan untuk menebus semua yang telah Mas lakukan yang sudah membuatmu menderita."


Laras pun tak kalah bahagia, asalkan mereka bisa hidup bersama dengan bahagia itu sudah cukup bagi Laras. Laras melepaskan diri dari pelukan Abimana dan mengarahkan Abimana agar duduk di sofa. Abimana tak menolak, hanya saja dia tak mau jauh-jauh dari istrinya. Bahkan ketika posisi duduk mereka masih berjarak, Abimana segera bersingsut sampai menempel pada Laras.


"Jangan jauh-jauh, Mas masih rindu sayang." ucap Abimana manja.

__ADS_1


Salah satu sikap Abimana yang sangat dirindukannya. Meskipun di luaran Abimana adalah sosok yang keras, tegas dan dingin namun dia selalu bersikap manja pada istrinya. Dia tidak mudah jatuh cinta, namun saat dia sudah mulai mencintai seseorang maka dia kan mencintainya dengan sepenuh hatinya.


Laras menatap dalam mata Abimana, dia melihat ketulusan di sana. Laras meraih kedua tangan Abimana, bahkan saat ini dia sudah tidak mengingat lagi mantera - mantera yang sejak awal dia rapalkan. Laras membawa tangan yang digenggamnya ke bibirnya. Cup...


"Beneran Mas mau melakukan apa saja?" tanya Laras memancing reaksi Abimana.


"Iya sayang, katakanlah!" ucap Abimana lembut. Tangan Abimana yang terbebas pun membelai pipi Laras yang walupun sudah mulai menua serta tekena paparan sinar matahari masih terlihat cantik, apa lagi setelah hampir 20 tahun tidak pernah memakai make up. "Katakan, asal kau mau memaafkan Mas dan mau kembali dengan Mas seperti dulu lagi."


"Emmm... Ah, nanti saja. Karna hukuman Mas itu harus berat dan Laras belum memikirkannya. Sekarang yang terpenting, Mas harus membahagiakan putri kita. Sejak kecil dia sudah dipaksa dewasa, dan sekarang dia sudah menemukan belahan jiwanya. Laras tahu, mungkin terlalu dini untuk menikahkannya dengan Revan. Tapi Laras yakin, Revan adalah sosok yang bisa melindungi dan membimbing Zaskia. Laras takut, karena seringnya bersama tanpa ikatan yang halal mereka bisa saja khilaf kan?" ucap Laras panjang, namun di akhir kalimat dia nampak menunduk malu. Meskipun mereka suami istri dan dulu pun mereka pasti sudah biasa melakukan hal-hal yang berbau intim, namun entah mengapa berbicara masalah ini dengan Abimana malam membuatnya jadi panas sendiri.


Abimana tak tahan lagi melihat istrinya yang malu-malu saat membahas hubungan putrinya dengan calon suaminya pun segera mendekapnya erat. Bak pasangan muda yang sedang jatuh cinta, mereka malah larut dalam perasaan mereka sendiri. "Mas boleh cium kamu sayang?"


Laras menggeleng dalam pelukan Abimana. Sejenak Abimana melepaskan pelukannya lalu menatap Laras.


"Kamu masih belum memaafkan Mas ya? Apakah kamu membenci Mas?" tanya Abimana dengan suara sendu, menyiratkan kekecewaan sekaligus penyesalan.


Laras tersenyum lalu menggeleng. "Mas ga inget kita lagi di mana sekarang? Kalau ada yang tiba-tiba masuk gimana, masa udah tua mau mesum ga tahu tempat."


Abimana menepuk keningnya. Benar kata orang, cinta bisa membuat kita lupa segalanya. Lupa tempat, lupa umur, lupa waktu dan lupa yang lain - lain.


"Ah iya... Tapi, untuk yang kamu bilang tua tadi Mas ga ngrasa ya. Kamu tau sayang... Bahkan sekarang, Mas ngrasa 20 tahun lebih muda." goda Abimana pada istrinya.


"Ck, siapa bilang? Tua ya tua aja. Tuh badan Mas sekarang udah hilang ototnya. Mas emang jarang makan ya sampe kurus kek gini?" ucap Laras yang memang belum tahu kondisi Abimana sebelum sekarang. Bahkan saat ini tubuh yang dibilang kurus itu, sejak dua bulan terakhir sudah naik 7kg. Pasti Laras tak pernah membayangkan sekurus apa tubuh Abimana di saat-saat terpuruknya.


"Apa perlu kita check in dulu untuk membuktikannya?"


Plak... Lengan Abimana menjadi sasaran tangan Laras.


"Mas Abi ih... Kok jadi kemana-mana sih. Kita tadi membahas Zaskia lho Mas." ucap Laras sambil cemberut.


"Hahahaha... Habis kamu ga percaya sih kalo Mas ini belum tua." sahut Abimana sambil mencolek dagu Laras.


"Jadi gimana?" tanya Laras lagi


"Mas tidak masalah sayang, kita akan bicarakan lebih lanjut dengan keluarga besar Revan ya." jawab Abimana lembut diakhiri kecupan singkat di keningnya.


TBC...


"Thor... Ini kapan nikahnya sih? Lama amat?"


"Ya sabar ini walinya baru ketemu? Emang mau nyumbang berapa sih, ga sabaran banget?"


"Ya elah thor kelamaan nunggunya."


"Emang apa yang ditungguin? Mau ngintipin orang belah duren? Puasa woy puasa!"


"Bukan adegan belah duren aja udah traveling kemana-mana thor."


"Nah itu tahu, udah bisa ngebayangin sendiri - sendiri, berarti nanti kan?"


"Ya dituntun dong thor biar seru?


" Segala minta di tuntun, biasanya juga nylonong aja! Tar deh dipertimbangkan 😂😂. Like dan komenya dulu kencengin! "

__ADS_1


__ADS_2