Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 20. TEROR dan Kecelakaan


__ADS_3

Sejak saat itu Abimana mengerahkan semua orangnya untuk mencari istri dan anaknya. Penyesalan selalu di akhir. Membayangkan nasib anak dan istrinya yang terlunta-lunta di jalan pun dia tidak sanggup.


"Maafkan ayah sayang. Larasku... Mas minta maaf, mas salah sudah menuduhmu. Aku suami dan ayah yang tidak berguna. Kalian di mana sayang... Kembalilah, maafkan Ayah...."


Aaarrggghg....


Pyarr...


Abimana meninju kaca di kamarnya, tak peduli dengan sakit yang dia rasakan, dia sering menghukum diri sendiri karna tangannya itu pernah menyakiti wanitanya.


******


" Roy kamu urus wanita ular itu, aku tak ingin melihatnya lagi. Aku ingin dia mendapat hukuman yang seberat-beratnya." ucap Abimana pada asistennya


"Baik Tuan, segera saya urus." Jawab Roy


Tak lama Roy sudah sampai di kantor polisi, dia meminta untuk bertemu empat mata dengan Diana.


"Aku tau kamu pasti datang Roy, cepat keluarkan aku. Bagaimana Lucia? Apa dia menanyakanku?"


"Ck... Kamu kenapa ceroboh sih? Bahkan kamu tertangkap sebelum mendapatkan tanda tangan Abimana sialan itu."


"Jangan cuma bisa nyalahin dong, kamu sendiri juga lelet kok."


"Pakai otak kamu! Aku sudah memberi kesempatan emas untuk hidup enak malah kamu sia-siakan. Percuma aku menghadirkan kamu di tengah-tengah rumah tangganya, dan membuang pewaris utamanya kalau kamu tidak bisa menjalankan peranmu! Ck, dasar tidak berguna."


"Berhenti menyalahkanku! Sekarang cari cara agar aku bisa keluar dari sini. Aku harus lebih dulu menemukan Laras sebelum Abimana menemukannya. Kita harus menerornya agar dia tak berani mendekati Abimana lagi dan pergi sejauh-jauhnya. Setelah itu kita pikirkan lagi bagaimana cara menyingkirkan Abimana. "


"Baiklah, itu hal yang mudah bagiku. Tapi jangan pernah menampakkan diri di sekitar Abimana, karna aku akan bilang kamu dipenjara sangat lama. Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, itu bukan urusanku."


"Baiklah, yang penting tetap cari cara agar kita bisa terus menikmati uangnya."


"Ya sudah, aku urus dulu!"


*****


Sejak Laras membantu di warteg Bu Amir, warung itu semakin ramai pembeli. Pembawaan Laras yang ramah, sopan ditunjang dengan wajah ayunya, membuat pelanggan bertambah banyak. Apalagi Laras yang memang pandai memasak sering menabahkan menu baru dan bervariasi yang rasanya pun enak membuat pelanggan merambah ke kalangan menengah.


"Mbak Laras... Ada yang mau membeli ini, suruh anter ke depan, mobil putih." ucap mbak Sisil anak Bu Amir yang rumahnya bersebelahan hanya terhalang tembok.


"Oh iya mbak, saya siapkan dulu."


Setelah siap, Laras mengantarkan ke depan sesuai permintaan.


Tok tok tok...

__ADS_1


Laras mengetuk pintu mobil warna putih.


Pintu mobil tidak terbuka, tapi tiba-tiba muncul wanita yang setahun lalu telah mengambil suaminya. Wanita itu berdiri dibelakang Laras sambil menodongkan pisau ke perutnya.


"Jadi di sini kamu bersembunyi? Kamu tahu, Abimana masih mengejarmu. Dia tidak terima selama ini kamu main belakang dengan laki-laki lain sampai melahirkan anak haram."


"Jaga omongan kamu mbak! Anakku adalah anak kandung Abimana."


"Tapi Abimana taunya dia anak haram. Tapi tenang saja, aku masih memberimu kesempatan. Aku tak akan memberi tahu Abimana asalkan kamu pergi jauh dari kota ini. Tapi jika kamu masih bersikeras maka anakmu yang akan jadi korban."


"Jangan pernah menyentuh putriku. Aku tidak takut padamu. Kalau sampai kamu menyentuhnya, aku yang akan membunuhmu!"


Diana menekan pisaunya, "Bahkan saat ini kamu tidak berdaya, masih sok mengancam. Aku tidak mengancammu, pikirkanlah."


Diana masuk ke mobil dan pergi.


Sejak saat itu Diana sering meneror Laras, terakhir bahkan Kia sampai masuk rumah sakit karna terserempet motor. Sejak saat itu Laras memutuskan untuk pergi dari kota itu, kebetulan ada orang baik yang membawanya kerja di Surabaya di keluarga Zainal Abidin. Mereka juga keluarga yang kaya dan terpandang. Tapi mereka memperlakukan art seperti keluarganya. Namun karna suatu hal dua tahun kemudian Laras memutuskan kembali ke desanya.


Namun lagi-lagi kesialan menimpa hidupnya. Tanah warisan dari orang tuanya sudah dijual oleh kakak perempuannya yang hanya menyisakan rumah sederhana di atas sepetak tanah.


******


Sudah 3 tahun Laras meninggalkan kediaman Abimana, anak buahnya sudah dia kerahkan untuk mencari keberadaan istri dan anaknya, namun sampai saat ini sama sekali tidak menemukan titik terang.


"Ya Allah.. Ampuniah segala dosa dan kesalahanku. Lindungilah anak dan istriku. Berilah petunjuk kemana lagi saya harus mencari mereka..."


Saat itu, dia memutuskan untuk mencari ke tempat asal istrinya, di suatu desa pinggiran di kota gaplek daerah Jogja.


Yang dia tahu, dia sudah yatim sejak masih sekolah, yang masih tersisa hanyalah kakaknya, tapi katanya dia tak begitu akur dengan sang kakak. Tapi dia tetap akan mencarinya kesana.


Setelah sampai ke tempat yang dituju ternyata Laras memang tidak ada di sana, dia hanya berpesan kepada kakaknya untuk menjualkan tanahnya, tanpa pikir panjang Abimana membeli tanah milik Laras, pasti saat itu Laras sedang hidup kekurangan sampai harus menjual tanahnya.


Abimana bahkan tanpa menawar dan langsung membayarnya.


"Bagaimana nanti Bu Laras nanti mengambil uangnya?"


Wanita yang mengaku kakak Laras itu tapak gelagapan, entah apa yang sedang disembunyikan, Abimana saat itu hanya ingin mengetahui sedetail mungkin mencari celah dalam pencariannya.


"Kemarin hanya telpon menggunakan wartel katanya pak. Dan uang ini akan saya transfer kalau dia menghubungi kembali dan memberikan no rekening."


"Ibu tau kode nomor telpon yang digunakan?"


"Eh eh... I... Itu... Kalau ga salah 022xx.. Ah... Maaf saya ga hafal. Historinya juga sudah dihapus, maaf masih hp jadul." jawab Retno bohong, bahkan dia tak tahu kode kode itu.


"Yakin 022?"

__ADS_1


"I... Iya kayakny itu pak..."


Pindah haluan, itu yang terpikir oleh Abimana. Dia ingin memfokuskan pencarian di kota kembang, Bandung.


"Roy, atur pencarian Nyonyamu di Bandung. Saya yakin mereka ada di sana." ucap Abimana melalui sambungan telepon.


"Baik Tuan, segera saya kerahkan anak buas saya." jawab Roy di seberang sana sambil tersenyum smirk.


*****


"Bagaimana menurutmu? " tanya Roy pada wanita yang bergelayut manja di pangkuannya.


"Apakah kira-kira perempuan itu benar-benar ada di Bandung? Tapi aku yakin tidak. Orangku tahu persis Laras pindah ke Surabaya. Dan kota itu tidak akan terpikirkan oleh Abimana." jawabnya sambil membuka kancing baju Roy.


"Ah... Kamu menggodaku Di..?"


"Hhmmm... Dan seperti biasa, kamu tak bisa menolakku."


"Maka lakukanlah, sebentar lagi dana untuk misi pencarian perempuan kampung itu akan cair, kita akan berpesta... Aahhh.... Kamu semakin liar..."


Pemandangan menjijikkan itu sudah sering terjadi di ruangan sang asisten, tak ada yang mengenali Diana saat datang, karna dia menyamar menjadi wanita culun bertompel.


*****


Sudah hampir setahun tapi tetap tak ada kabar. Pencarian sama sekali tidak mendapatkan petunjuk.


Karna frustasi dan penyesalan yang tak berujung, Abimana mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, bahkan dia tidak menyadari bahwa mobil yang dipakainya remnya blong dan akhirnya dia kecelakaan. Keadaannya sangat parah, patah tulang di kaki dan tangan serta kesadarannya menurun selama 6 bulan alias koma.


Saat itu kakak satu-satunya memaksa untuk membawanya tinggal bersama di singapora sekalian menjalani pengibatan di sana.


"Sial, kenapa ga mati-mati sih tuh orang."


"Sudahlah, kita masih bisa menghambur-haburkan uang perusahaan. Kita manfaatkan saja selagi koma. Meskipun akhirnya sadar, aku yakin dia akan mempercayakan perusahaan sama kamu. Bisa apa orang lumpuh, hahahaha."


Setelah sadar dari koma dan masa kritisnya berlalu, Abimana seperti mayat hidup, tanpa arah dan tujuan. Cintanya seperti hilang ditelan bumi dan tak akan kembali. Jiwanya menjadi kosong, namun Atmaja tak henti memberikan dukungan mental sampai akhirnya Abimana bisa diajak berkomunikasi lagi. Tapi Atmaja masih harus berjuang keras lagi untuk membujuk sang adik untuk mau melakukan terapi agar bisa berjalan lagi, apalagi Abimana bersikukuh untuk kembali ke jakarta agar tahu perkembangan pencarian istri dan anaknya.


Laporan keuangan perusahaan selalu dikirim oleh Roy ke email Abimana dan yang selalu membukanya adalah Atmaja. Perkembangan cukup stabil, hanya saja di sini uang pengeluaran yang cukup besar adalah untuk misi pencarian Laras. Yang artinya selama ini anak buah Abimana tak pernah berhenti mencarinya. Tapi mengapa sampai saat ini tak ada titik terang. Apa ada yang salah? Dari situ Atmaja mulai curiga. Ia sangat tahu perjuangan adiknya untuk bisa sesukses ini, bahkan dia menolak untuk memimpin perusahaan yang diberikan orang tua Abimana, semua yang dimilikinya adalah murni hasil kerja kerasnya.


Baiklah Mungkin saatnya mencari tikus-tikus diperusahaan Abimana. Dia menurunkan orang-orang terbaiknya yang juga anak buah papanya.


TBC...


Episode selanjutnya kita akan kembali ke masa kini gaes, jadi jangan lupa tekan tombol👍 dan❤️ untuk mendapatkan notifikasi episode selanjutnya


Gimana, ada yang kangen sama Kia dan Revan?

__ADS_1


Makasih all❤️❤️


__ADS_2