Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 58. USAHA ROY


__ADS_3

Sesuai rencana, hari Ini terpaksa Revan menerima permintaan Roy untuk bertemu. Roy ingin bertemu dan membahas masalah perizinan dengan Revan dan atasannya.


Revan membuat janji temu dengan Roy jam 10 pagi.


Revan harus terlihat meyakinkan agar Roy tidak curiga. Revan sudah menghubungi pihak terkait untuk berjaga-jaga jika Roy melakukan kecurangan atau berniat menjebak Revan. Tak tanggung - tanggung Revan bahkan didukung oleh sahabat Papa yang berada di KPK dan juga kepolisian. Meskipun masih dalam tahap pencarian bukti setidaknya Revan bisa tenang ke depannya. Orang-orang seperti Roy Arkatama memang harus dibasmi, jika pun dia bisa membangun perusahaannya, Revan yakin ke depannya dia akan banyak menjegal pengusaha lain dengan cara yang tidak manusiawi.


Saat memasuki restoran tempat mereka bertemu sudah ada beberapa orang yang memberi kode bahwa mereka sudah sampai dan siap berjaga. Ah, bodyguard papanya ternyata ikut turun tangan. Berlebihan sekali menurut Revan memang.


Roy Arkatama berdiri ketika melihat Revan berjalan ke arahnya. Baru kali ini mereka bertemu langsung. Meskipun hanya seorang ASN namun Roy juga bisa menilai Revan mempunyai jiwa pemimpin yang kuat. Tatapan matanya tajam menyiratkan ketegasan. Langkahmya tegap, badannya tinggi proporsional. Meski menggunakan masker Roy juga mengakui wajah rupawan Revan. Tak heran kalau Lucia tergola-gila padanya.


"Selamat pagi menjelang siang Pak Roy. Maaf jika harus menunggu." ucap Revan berusaha bersikap sesopan mungkin. Tadi dia memang agak terlambat lima menit.


"Tidak masalah. Silakan duduk Pak Revan!" ucap Roy menanggapi.


"Jadi apa yang bisa saya bantu?" tanya Revan to the point.


"Pesan makan atau minum dulu lah Pak." ucap Roy basa-basi mengulur waktu.


"Gampang Pak, nanti saja. Saya masih ada janji temu lagi setelah ini."


Sok sibuk banget sih, paling juga staf belum punya jabatan. Gayanya sudah selangit. Batin Roy mencemooh.


"Baiklah sepertinya Anda memang tidak suka basa basi. Kalau begitu langsung saja, jadi saya rasa Anda sudah tahu kan kalau saya ini adalah seorang pengusaha. Saya ini orang kaya. Dan saya sedang mengurus perizinan di mana Andalah salah satu yang menangani. " ucapan Roy terjeda.


Meski tahu arah pembicaraan Roy, Revan belum beraksi. Dia masih memandang datar lawan bicaranya.


"Mengapa sampai sekarang surat perizinannya belum juga keluar? Sebenarnya sudah sampai mana? Apakah ada yang kurang?" tanya Roy basa-basi.


Revan menarik nafas dalam, tidak menyangka Roy benar-benar raja drama.


"Sebenarnya tidak ada yang kurang. Seperti yang sudah kami sampaikan pada orang suruhan anda, bahwa saat itu tim investigasi masih menyelidiki keabsahan dokumen-dokumen anda. Saya rasa anda juga tahu, kalau prosesnya memang seperti itu." ucap Revan sambil menarik ujung bibirnya ke atas.


"Ah, saya rasa semua bisa di atur. Itu sebenarnya bukan masalah serius. Dan saya yakin semua dokumennya asli." ucap Roy.

__ADS_1


"Kalau begitu Pak Roy tunggu saja, insya allah hari ini semua akan menyelesaikan. Pak Roy tunggu kabar selanjutnya saja. Jika memang semua dokumen sudah sah, prosesnya tidak akan lama kok Pak." jawab Revan masih pura - pura belum mengerti.


"Ok, jadi begini Pak Revan. Saya ingin menawarkan kerja sama. Saya ingin Pak Revan memastikan, perizinan itu segera turun bagaimana pun caranya. Anda orang dalam, saya yakin bisalah anda mengatasi ini. Jika Anda bersedia, saya bisa memberikan apapun yang anda minta. Uang, saham, atau bahkan wanita. Ah, saya mengerti diusia seperti anda sekarang ini biasanya suka sekali menjelajah mencari pengalaman. Kalau anda mau bekerja sama, anda bahkan tak perlu lagi menjadi ASN dan bekerja di kantor saya dengan jabatan yang tinggi jika berkenan. Maaf lho ini, saya tidak bermaksud merendahkan pekerjaan anda. Namun, ya... Semua orang juga tahu kalau seorang ASN itu gajinya segitu gitu aja." ucap Roy percaya diri.


Sedangkan dalam hati, Revan bersorak. Setidaknya, bukti Roy berusaha melakukan suap sudah dikantongi. Bahkan Roy sejak tadi tidak tahu jika percakapannya ini sedang di direkam melalu camera mikro yang berbentuk bolpoint yang sejak tadi berada di saku baju Revan.


"Wah, sepertinya tawaran Anda sangat menarik Pak, tapi sayangnya, saya belum tertarik untuk menjadi eksekutif muda. Biarlah saya mengabdikan diri dulu untuk negara." ucap Revan menanggapi.


"Tidak masalah, saya akan tetap memberikan kompensasi yang layak untuk anda jika mau bekerja sama." bujuk Roy lagi.


"Bapak tenang saja, asal semua sesuai dengan prosedur, saya pastikan izin anda akan segera turun." ucap Revan lagi yang membuat Roy sedikit geram.


"Baiklah Pak, hubungi saya kalau anda perlu bantuan saya atau anda berubah pikiran." ucap Roy sambil menyerahkan kartu namanya.


"Baiklah Pak, kalau begitu saya permisi duluan." ucap Revan sambil berpamitan. Setelah itu dia melajukan mobilnya ke arah 3R GROUP. Semalam memang mereka sepakat akan mengalihkan perhatian Roy, dengan menyetujui pertemuan pagi itu, sehingga Abimana bisa pergi ke 3R tanpa dicurigai Roy.


Sampai di sana sepertinya Bunda dan Zaskia juga baru datang diantar Pak Nano.


"Nak Revan sudah lama?" tanya bunda saat Revan menyambutnya di loby, tak lupa Revan menyalami dan mencium tangannya.


Zaskia yang tadinya bergelayut manja dil lengan bundanya, sekarang beralih meraih tangan Revan dan menciumnya. Sedangkan Revan mengacak sedikit pucuk kepala Zaskia. Bunda tersenyum bahagia melihat interaksi keduanya. Padahal kalau tidak di tempat terbuka Revan pasti sudah memeluk Zaskia.


"Belum. Katanya mau makan siang di luar sama-sama. Mama dari butik sama mb Siera langsung mau ke sini katanya." jawab


"Oh, berarti kita nunggu di sini aja, dari pada kita nyamperin ke atas habis itu turun lagi." ucap Revan.


Baru saja selesai berbicara, Papa dan Reyhan terlihat keluar dari lift. Tak lama berbicara basa-basi mereka makan siang bersama setelah mendapat telpon dari mama kalau mereka langsung ke restoran tak jauh dari kantor 3R Group.


Papa dan Reyhan bersama pak Nano sedangkan laras dan Zaskia bersama Revan.


Sebenarnya setelah makan siang dia ingin kembali ke 3R GROUP namun tiba-tiba dia mendapat panggilan dari atasannya untuk mendampingi rapat di daerah tak jauh dari tempatnya makan sekarang.


*******

__ADS_1


"Jadi gimana?" tanya Laras lagi


"Mas tidak masalah sayang, kita akan bicarakan lebih lanjut dengan keluarga besar Revan ya." jawab Abimana lembut diakhiri kecupan singkat di keningnya.


Laras tersipu, pipinya memerah medapat serangan dadakan dari suaminya.


"Maaass.... Jangan kayak gitu." ucap Laras


"Kenapa?" tanya Abiama menggoda.


"Malu, nanti kalau ada yang tiba-tiba masuk gimana?" Jawab Laras malu-malu sambil menunduk.


Sejujurnya Abimana ingin sekali Mengajaknya pulang sekarang dan melepas keeinduannya. Namun di mansionnya pun sepertinya ada penyusup. Aditama sudah menepatkan mata-mata, namun sepertinya orang itu sangat waspada hingga sampai sekarang belum terlihat.


"Mas ingin sekali mengajakmu pulang sekarang sayang. Tapi Mas takut kalau Roy sampai tahu keberadaanmu, dia akan mencelakaimua. Bahkan di rumahku Roy mempunyai mata-mata, dan aku belum tahu siapa dia. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah menjadi kuat. Kamu adalah istriku, jangan pernah mau tunduk pada siapapun yang ingin menyakitimu. Aku tahu selama ini jiwamu sangat kuat, tapi kamu terlalu baik, dan sekarang mulailah belajar sedikit kejam pada orang-orang yang berusaha menindasmu dan ingin menghancurkan keluarga kita. Kamu mau kan?" Abimana mulai sedikit mengungkapkan kecemasannya.


"Iya Mas, ajari Laras. Laras belum tahu situasinya. Dan Laras belum tahu apa yang harus lakukan. Jika kita kembali bersama lagi, apakah Mas abi akan mempercayaiku sepenuhnya? Bagaimana kalau akan ada lagi yang berusaha memisahkan kita? Laras sejujurnya takut Mas." ucap Laras tak menutupi perasaannya.


" Maaf, jika di masa lalu Mas sudah memberimu luka karna percaya hasutan orang lain. Dan Mas tidak akan mengulanginya. Apapun ke depannya masalah kita, akan lebih baik jika kita menanyakannya terlebih dulu dan tidak mengambil kesimpulan sepihak. Mas janji untuk itu. Kamu mau kan sayang kembali sama Mas? " ucap Abimana meyakinkan istrinya.


Laras hanya tersenyum dan mengangguk lalu memeluk suaminya. Abimana dengan senang hati menyambut dan membalas pelukan istrinya.


"Mas, hubungi Mas Tomo dulu ya. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan dengannya, mengingat ruang gerak Mas yang terbatas dan masih main petak umpat dengan Roy. Mungkin saat ini kita bahas pernihakan anak kita sekalian. Mas yakin, di tengah keluarga mereka Zaskia akan aman."


Laras hanya tersemyum dan mengangguk. Abimana segera meraih Ponselnya dan menghubungi Papa Tomo. Papa memamg sengaja meluangkan waktunya hari ini untuk membantu Abimana.


Beberapa saat kemudian, muncullah Papa Tomo dan yang lainnya, ditambah Revan yang datang setelah usai mendamoingi atasannya.


TBC...


Maaf ya semua, othornya lagi kurang fit jadi agak sedikit nulisnya.


Semoga kalian tidak bosan mengikuti kelanjutan kisahnya.

__ADS_1


Makasih untuk aemua dukungannya❤️❤️


__ADS_2