Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 93. SALAH SANGKA


__ADS_3

21+


Yang masih bocah harap diskip ya😄


*****


"Dingin yang..." ucap Revan sambil memeluk erat tubuh istrinya.


Tadi mereka sampai di kampung tempat bundanya dilahirkan sudah pukul 10an malam. Setelah ngobrol dan berbasa basi mereka memutuskan untuk tidur, karena Zaskia besok harus bangun pagi-pagi untuk dirias.


"Makanya pake selimutnya By." sahut Zaskia berusaha menarik slimut yang ada di kaki Revan. Namun dengan cepat tangan Revan mencegahnya.


"Katanya dingin... Nanti Abang masuk angin. Pake jaket mau?" tanya Zaskia sambil mengusap lembut kepala Revan yang masih mendusel di dadanya.


"Ga usah. Abang maunya slimut alami aja yang... Kalau dingin gini, enak deh kayaknya main. Boleh ya, bentar aja kok." ucap Revan sambil memandang istrinya seperti mengiba.


"Sebentar apaan, emang pernah kurang dari sejam?" jawab Zaskia basa-basi hanya di mulut saja. Nyatanya dia membiarkan saja saat tangan Revan mulai memainkan dua benda kesukaannya di balik kaos yang dia pakai.


Revan sudah tak mendengarkan apa yang diucapkan istrinya, dia mulai menyerang bibir istrinya yang masih mengomel manja. Sepertinya tubuh Zaskia memang sudah berkhianat. Dia bukan hanya menerima sentuhan suaminya, namun juga membalas tak kalah bersemangat.


Entah bagaimana caranya sampai keduanya kini sudah tak memakai atasan apapun. Zaskia memang sejak tadi hanya menggunakan kain segitiga dan kaos Revan saja. Sedangkan Revan tadi hanya memakai boxer dan kaos.


Sejenak mereka saling berpelukan, mereka sudah beberapa kali melakukan ritual suami istri, namun jantung mereka selalu bereaksi berlebihan saat kulit mereka bersentuhan tanpa penghalang.


"By...." ucap Zaskia sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Revan yang masih menindihnya. Tangan kanannya perlahan mulai meraba pinggang suaminya dan diam-diam menyusup ke dalam boxer Revan.


"Adek mau? Boleh pegang kok, itu punya kamu sayang." ucap Revan sambil mendes*h.


Tanpa aba-aba, Zaskia tiba-tiba mendorong dada Revan hingga dia telentang. Kemudian dia mengambil selimut dengan cepat, lalu membentangkannya agar bisa menyelimuti mereka berdua.


Muka Revan terlihat sedikit kecewa. Dia pikir istrinya sedang menolaknya. Zaskia tak langung berbaring. Sejenak dia memandang suaminya masih dengan tatapan memuja. Dadanya sudah naik turun menahan deguban jantung yang kian menggila.


Perlahan Zaskia masuk ke dalam selimut namun agak ke bawah. Revan terlonjak kaget saat tangan Zaskia masuk ke dalam boxernya mencari sesuatu yang belakangan ini membuatnya selalu meracau tidak jelas.


"Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanya Revan dengan nafas tertahan. Rasa di dadanya seakan ingin meledak saat istrinya memainkan pusakanya dan kemudian **********.


"Dek... Ahhh... Sayang..... Eemmmmgggghhh...." kali ini Zaskia benar-benar membuat suaminya frustasi.


Zaskia menulikan pendengarannya, dia terus bermain di bawah sana. Sampai akhirnya Revan pun tak kuat lagi untuk segera melakukan serangan. Dia membalikkan posisi dan kembali menindih istrinya.


Dengan tak sabaran, dia melakukan serangan balik. Kali ini Zaskia yang dibuat tak berdaya.

__ADS_1


"By... Kia ga kuat!" ucap zaskia di sela-sela rintihannya.


Revan mengangkat kepalanya dan tersenyum pada istrinya. Revan segera melakukan tugasnya, menyelesaikan apa yang telah mereka mulai. Sampai akhirnya mereka mencapai puncak bersama dengan deru nafas yang saling bersahutan.


"Adek tuh bahaya tau! Belajar dari mana hemmm?" tanya Revan yang sudah memposisikan lengannya untuk bantal istrinya.


Zaskia masih terengah-engah, dia menyusupkan kepalanya ke leher suaminya tanpa menjawab pertanyaan Revan. Revan tahu, istrinya itu pasti sedang merasa malu.


"Makasih ya sayang. Kamu udah bikin Abang tidak berdaya. Kamu tahu, tadi itu rasanya Abang ingin meledak. Ga nyangka istri Abang bisa sepandai itu nyenengin suami." ucap Revan lagi sambil membelai rambut istrinya.


Tetap tidak ada sahutan dari istrinya, tapi lama kelamaan Revan merasakan nafas istrinya yang mulai teratur.


"Gemesin banget sih Dek kamu. Udah tidur ternyata." lirih Revan yang kemudian menghadiahi kecupan bertubi-tubi di wajah istrinya.


Setelah memastikan Zaskia tidur nyenyak, dia beranjak turun dari ranjangnya. Dia mencari kaosnya dan memakai kembali boxernya kemudian menggunakan training. Revan membenarkan selimut agar menutupi tubuh istrinya sampai di leher. Tak lama dia mengambil laptop kemudian menuju ruang tengah.


Di sana nampak sepi, namun dia mendengar suara dari arah dapur. Samar-samar dia mendengar suara sedang bercakap-cakap.


"Bunda makin ganas ya sekarang, hahaha...." ucap seorang pria.


Revan yakin itu suara ayah mertuanya. Ucapannya terdengar ambigu.


"Suka dong, suka banget malah. Lebih dari tadi juga Mas ga masalah kok."


Kalimat itu di telinga Revan seperti sedang menggoda.


"Beneran? Ya udah, sebelum Laras serang besok aku iket dulu, biar frustasi ga bisa gerak."


"Ah, Mas jadi tidak sabar melihatnya."


Percakapan mereka terdengar absurd. Baru saja dia menyalakan laptopnya, namun pikirannya kembali pada kelakuan istrinya tadi.


Revan masih menajamkan pendengarannya. Astaga, bukankah menguping itu tidak baik? Sepertinya setan sudah berhasil membujuk Revan.


"Lagian emang Mas Abi deket banget sampai dia berani mengklaim kalau Mas Abi adalah miliknya. Sebel aku tuh Mas." ucap Laras lagi, yang kelihatan dari nada suaranya terdengar seperti sedang kesal.


"Ya ampun Bun, tanya Zian deh kalau ga percaya. Mas tuh ga pernah ngrespon dia. Mas juga ga tahu kenapa tadi tiba-tiba dia bicara seperti itu. Jangan marah dong sayang! Cinta Mas cuma buat Laras. Mas malah seneng tadi kamu bilang sama dia kalau Mas ini hanya milik kamu. Mas tuh rasanya udah kayak menang undian, tahu ga?" ucap Abimana merayu istrinya.


"Pokoknya kalau suster ngesot itu masih berlagak seperti simpenan Mas, Laras bakalan jambak rambutnya yang udah kayak pelangi itu. Ga sadar umur." ucap Laras lagi.


"Iya terserah bunda mau apain aja, yang penting marahnya jangan ke Mas dong. Sini peluk dulu."

__ADS_1


Revan mendesah kasar, ternyata dia salah sangka. Dia kira mertuanya sedang mesra-mesraan di dapur, ternyata bundanya sedang dalam mode cemburu. Revan segera fokus lagi ke laptopnya agar pikirannya tetap waras dan sejenak menghilangkan pikiran mesumnya.


"Loh, kamu belum tidur Van?" tanya Abimana seraya meletakkan air putih di meja.


"Iya yah, biasa panggilan kerja. Ayah kenapa belum tidur juga? Mau begadang?" tanya Revan yang sedikit mengalihkan pandangannya dari laptopnya.


Abimana memperhatikan grafik di layar laptop menantunya itu. Dia paham betul apa yang dikerjakan menantunya. Hanya saja, Abimana sendiri kurang menguasai perihal jual beli saham.


"Sudah lama jadi broker Van? Itu WALMART bukannya perusahaan terbesar di Amerika ya Van?" tanya Abimana yang nampak terpana melihat nama perusahaan yang mendunia itu. WALMART bukan hanya perusahaan nomor 1 di Amerika tapi juga di dunia. Keuntungan bersihnya mencapai 1,3 trilyun setiap harinya. Maka tak heran, jika deviden yang didapat pemegang sahamnya pun besar.


"Lumayan Yah, sejak kuliah S2 di Jogja. Revan hanya sesekali mengecek hotel dan resto setelah itu ga ada kerjaan. Kuliah juga dibawa santai waktu itu. Dari pada malam begadang yang ga jelas, ya Revan terima tawaran untuk jadi broker online. Tadinya coba-coba, kok Revan bisa gitu. Dan hasilnya juga gede. Ya udah, jadi Revan keterusan." ucap Revan menceritakan pengalamannya.


Abimana semakin bangga pada menantunya itu. Bisa dimaklumi, perbedaan waktu antara Amerika dan Indonesia yang hampir 12 jam membuat Revan lebih fleksibel mengatur waktu kerjanya.


"Ayah bangga sama kamu. Ayah menitipkan putri ayah sama kamu. Ayah yakin kamu bisa ayah andalkan untuk membahagiakannya."


"Insya Allah, doanya saja Yah... Semoga kita semua selalu dalam lindunganNya. Aamiin." jawab Revan.


"Eh, kalian mau begadang? Mau bunda bikinin kopi Van?" tanya Laras yang baru saja dari dapur menuju ruang tengah.


"Enggak usah Bun, tadi udah ngopi. Takut kebanyakan. Nanti Revan ambil sendiri aja kalau haus. Bunda kenapa belum tidur? Diajakin ayah begadang? Atau digangguin ayah?" tanya Revan sembari melirik Abimana.


"Sembarangan! Bunda kamu itu kalau ga deket ayah ga bisa tidur. Makanya nempelin terus. Iya kan Bun?" ucao Abimana menggoda istrinya.


"Bohong tuh Van. Tadi dia ga bisa tidur, lapar katanya. Minta dibikinin mi rebus." bantah Laras.


"Yaaa... Bunda ga bisa diajak kerja sama nih. Ya udah Kita tidur yuk Bun." ucap Abimana kemudian menarik tangan Laras dan menuntunnya ke kamar.


"Bunda duluan ya. Kalau laper atau haus cari sendiri ya." Laras ikut pamit ke kamar.


"Iya Bunda, tenang saja. Revan sudah biasa mandiri kok." jawab Revan.


Revan kemabali pada pekerjaannya. Pekerjaannya memang tidak terikat waktu. Dia bekerja hanya sampai mengantuk saja. Kalau badannya sedang tidak bisa dipakai bekerja, ya dia tidak akan menyentuh pekerjaannya. Seperti sekarang, setelah dua jam berkutat pada dengan laptopnya, dia menyusul tidur istrinya saat waktu sudah menunjuk pukul 02.30 pagi.


TBC...


Jangan lupa tekan vote dan like


Juga tinggalkan komentar ya gaea...


Makasih❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2