Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 36. MEMINTA IZIN BUNDA


__ADS_3

"Sepertinya mereka tidak mudah untuk menerima suap. Kita harus pikirkan, bagaimana caranya agar warga mau menandatangai surat pembebasan lahan itu. Sebelum Surat yang kita rekayasa itu ketahuan tidak sah." ucap Roy.


"Gini aja, kita harus membayar orang untuk memprovokasi warga. Kita harus bergerak cepat. Jangan sampai penyidik lebih dulu dari kita." ucap Diana menanggapi.


"Sebaiknya kita juga mencari keberadaan Laras dan anaknya. Mereka bisa jadi ancaman buat kita jika Abimana berhasil menemukannya." ujar Roy lagi.


"Baiklah, mungkin sudah saatnya perempuan bodoh itu keluar dari persembunyiannya." jawab Diana menanggapi.


Mereka sedang ngobrol santai di apartemen Diana. Tempat ini sudah seperti base camp untuk mereka berunding.


"Ma, lihat deh video ini..." Lucia menyodorkan ponselnya.


"Laras? Ini kayak Laras kan? Tapi kok dia, ga berubah?" Diana merasa aneh, usia Laras yang seharusnya 40an tahunan.


"Apa mungkin dia anaknya? Kapan kejadiannya?" sahut Roy.


"Ini baru tadi siang kayaknya. Dan perempuan yang berambut pendek itu sepertinya ada dendam pribadi, sampai mengamuk kek gitu?" Lucia memberikan pendapat.


"Artinya kemungkinan Laras ada di kota ini kan?" tanya Roy meminta pendapat.


"Kita harus bergerak cepat Roy? Di mana lokasinya? Sayang sekali videonya terpotong." ucap Diana gregetan.


"Kalau dari percakapan mereka, kayaknya mereka rebutan cowok Ma." ucap Lucia ikut menanggapi.


Tak lama Roy menghubungi anak buahnya untuk menyisir keberadaan gadis yang mirip Laras itu.


"Ma, tadi sore aku ketemu cowok yang pernah kita lihat pas kita makan di resto itu. Inget ga?" ucap Clara berbinar.


"Yang kamu bilang ganteng itu. Yang pake seragam PNS itu? Emang ga bisa apa nyari cowok lebih keren? Mau dikasih belanja berapa kalo dia cuma seorang PNS? Bahkan gajinya paling cuma setara uang jajan kamu seminggu kan? Itu juga masih banyakan kamu." Diana menanggapi.


"Pokoknya aku mau dia Ma. Titik. Aku bakal kejar dia. Aku udah tahu tempat kerjanya. Aku bakalan deketin dia." ucap Lucia penuh semangat.


"Hah... Terserah. Kalau cuma buat have fun aja bolehlah sesukanu. Tapi kalau buat jadi suami, besok Mama yang akan carikan." sahut Diana tanpa mau dibantah.


"Mama ga asyik!" sahut Lucia, lalu beranjak meninggalkan dua orang dewasa ini.


Setelah Lucia masuk kamar, Diana segera menarik Roy ke kamarnya.


Dengan malas Roy mengikutinya. Entahlah sudah beberapa bulan belakangan ini, dia seperti tak bern*fs* lagi pada Diana.


"Kamu kenapa sih?" tanya Diana saat Roy tak nampak bereaksi, padahal Diana sudah lumayan lama memberikan rangsangan pada laki-laki itu.


"Aku sedang banyak pikiran. Sepertinya aku sedang tidak ingin melakukannya." ucap Roy beralasan.


Diana bersungut lalu memakai kembali pakaiannya, begitu juga dengan Roy.


"Sebaiknya aku pulang dulu. Aku masih ingin menyelesaikan beberapa urusan." ucap Roy sambil keluar dari kamar.


Diana tak menjawab, masih kecewa menahan hasratnya yang tak tersalurkan.


******


"Dek, sementara kalau keluar pake masker ya!" ucap Revan.


Saat ini mereka sedang siap-siap berangkat kerja.


"Nanti Adek pake ruangan Abang aja ya. Ponsel dibawa terus. Ternyata video adek kemarin sempat tersebar. Nanti biar aku coba hapus. Yang penting adek jangan terima tawaran keluar kafe tanpa sepengetahuan Abang, ok!" ucap Revan lagi.


"Iya Abang sayang. Insya Allah Kia Inget kok. Kenapa ga pake sragam?" tanya Kia heran, perasaan tadi udah nyiapin sragam Revan.


"Ada di tas. Nanti aja pakenya. Abang mau ke perusahaan dulu ketemu Bang Rey dulu. Adek udah siap?" tanya Revan saat melihat Kia sudah rapi dengan sragan kafe.


Kia kemarin memang jarang pegang ponsel semenjak brangkat ke mall dari rumah mbak Rita. Hanya beberapa kali saja saat mengangkat telepon dari Revan saja.


"Jauh ya Bang kantornya?" tanya Kia polos.


"Adek beneran ga tau? Mau ikut? " Revan balik bertanya yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Kia.


"Nggak usah, memangnya ke mall Kia bisa ngintilin Abang. Lagian nanti Abang jadi bolak-balik." jawab Kia.


Revan malah tertawa lebar.


"Kamu pernah ga, baca nama gedung yang berada di depan kafe?" tanya Revan.


"Yang halamannya seluas lapangan sepak bola? Yang gedungnya tinggi banget itu kan? Yang karyawannya raya-rata pelanggan kafe? Mereka keren-keren ya?" tanya Kia beruntun yng dianggukiboleh Revan. "Kalau ga salah namanya 3R GROUP kan?" lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Pinter. Kamu mau kerj a di sana?"


"Emang bisa? Katanya susah lho masuk sana Bang. Apalagi cuma lulusan SMA kaya Kia."


"Bisa kalau Kia mau." Revan meyakinkan


"Beneran?Abang kenal orang dalem? Ga ah, Kia bantuin Abang kelola kafe aja. Lihat mereka yang dengan bangga duduk si kursi kafe aja Kia udah seneng kok." kata Kia sambil tersenyum.


Revan yang sejak tadi gemas pun menarik Kia dan terjatuh si pangkuannya. Posisi yang selalu bikin Kia panas dingin.


"Abang ih, ayo brangkat. Jangan kek gini." ucap Kia salah tingkah.


"Kenapa kalo kek gini?" ucao Revan sengaja menggoda Kia.


Kia memalingkan mukanya, menyembunyikan rona merah di wajahnya yang sekarang makin terlihat bersinar.


"Kia malu. Jangan lihatin terus." ucap Kia lirih sambil menutup mata Revan dengan tangannya.


Revan meraih tangan Kia yang menutupi matanya lalu menciumnya.


"Kenapa malu? Perasaan, adek makin cantik deh. Jadi gak rela biarin adek ke kafe. Nanti banyak yang lihat!" ucap Revan sambil membelai pipi Kia.


"Abang jangan godain Kia deh, mana ada orang jelek bisa berubah cantik dalam waktu singkat." jawab Kia sambil memukul pelan dada Revan.


"Emang ada yang bilang Adek jelek? Bilang sama Abang siapa? Pasti matanya katarak." ucap Revan tidak terima gadisnya dikatai jelek.


"Ya ada, mbak Vera sejak dulu bilang kalau Kia jelek." adu Kia pada Revan.


Revan tersenyum menanggapinya.


"Kalau orang iri pasti menjelekkan, mana ada orang iri memuji." Revan menaggapi.


Pandangan Revan beralih ke bibir ranum Kia yang sudah sangat lama menggodanya. Dia mengusapnya dengan ibu jarinya.


"Dek, pengen ini. Boleh ya?" pinta Revan dengan wajah memelas.


"Boleh. Tapi temuin Bunda dulu, terus halalin Adek." ucap Kia malu-malu.


Revan tersenyum bangga. Meski telah menggodanya namun Kia tetap teguh.


Dengan malu-malu Kia hanya mengangguk.


Bukan begini rencananya. Revan pun tahu. Tidak baik tinggal seatap tanpa ikatan. Tadinya Revan berencana hanya akan menemani Kia sampai dia bisa beradaptasi tinggal di apartemennya. Namun sepertinya akan sangat beresiko ke depannya setelah tahu kenyataan, bahwa gadisnya itu bukan dari orang biasa. Meskipun masih belum dipastikan 100%, namun dari keterangan Kia dan Arya, Revan pun yakin Zaskia adalah anak dari pengusaha sukses Abimana Rahardian.


Dan lagi, semalam saat Ara mengunggah foto kebersamaan Revan dan Kia saat menyuapinya makan, sukses menghebohkan grup keluarga Abidin.


Bukan hanya 1 foto bahkan video saat pertemuan kemarin pun disambut dengan antusias oleh keluarga.


"Menantu baru keluarga Abidin otewe ya suhu..." begitu captionnya pada foto yang dia unggah.


Momy Mely: @Revan Alhamdulillaah... Anak mami akhirnya sold out😊


Abang Rey: @Revan tahan dulu bro... Belum halal


Momy Mely: @Kiara namanya siapa sayang... Kayak ga asing deh


Kiara: @Momy Mely namanya Zaskia Mom... Cantik kan


Bang Ren: Alhamdulillah si bontot ga jadi jomblo abadi


Revan: Kenapa ini? Rame banget, gosipin artis ganteng ya?


Momy Mely: @Revan eh nongol yang diomongin, btw calonmu orang mana Van kok Mami kayak pernah kenal


Kiara: @ Momy Mely Ara juga pas pertama kali ketemu juga kaya pernah liat, cuma Ara inget2 tetep ga inget😅


Mama Rena: Mohon doanya ya semua... Besok pagi rencana mau silaturrahmi ke tempat Kia, semoga bundanya menyetujui lamaran kami.


Dan mereka serentak mengucapkan Aamiin...


"Hey... Abang kok malah nglamun? Jadi berangkat ga nih?" tanya Kia sambil menggoyangkan telapak tangannya di depan muka Revan. Seketika Revan terrsadar dari lamunannya.


"Ah, iya... Ayok." jawab Revan singkat.


Mama dan Papa bilang kalau hari ini akan ke tempat Kia pagi-pagi banget. Kemarin Papa telah mengkondisikan keadaan Bunda Laras melalui anak buahnya. Semalam Papa mendapat laporan bahwa ada beberapa orang yang juga mencari kebaradaan Bunda Laras. Jadilah saat ini Bunda diamankan ke kediaman pak RT dengan beberapa orang yang sedang berjaga.

__ADS_1


*******


Setelah menerima pesan singkat dari Revan, Denis segera meluncur ke rumah Kia. Ada rasa haru saat mengetahui keseriusan Revan menjadikan Kia istrinya.


Untunglah Bunda saat itu ada di rumah.


"Assalamu alaiku Bu..."


"Eh, Denis. Wa alaikum salam. Tumben pagi-pagi ke sini." tanya Bunda Laras yang heran karna kedatangan Denis pagi-pagi.


Dengan cepat Denis mengetik pesan pada Revan.


(Bang... Denis dah di rumah bundanya Kia)


Tak lama sebuah panggilan video masuk.


"Gini Bun... Ada temen deketnya Zaskia mau kenalan sama Bunda." ucap Denis menyodorkan ponselnya.


Meskipun bingung, namun Bunda tetap memerimanya.


Terpampanglah wajah rupawan Revan di layar ponsel yang menggunakan sragam khas ASN hari senin.


"Assalamu 'alaikum Bunda. Ini Revan, temen deket Zaskia. Maaf, mungkin Kia belum sempet cerita karna kami baru semingguan ini ketemu lagi." Rwvan memperkenalkan diri dan mmenceritakan tentang dirinya dan Kia.


"Wa alaikum salam Nak Revan. Kia baru 2 mingguan ini berada di kota. Dan sekarang sudah punya teman dekat? Apakah anak saya berbuat sesuatu yang buruk atau tidak pantas Nak, sampai Nak Revan secara khusus menghubungi Bunda?" Bunda bertanya dengan nada was-was.


"Oh bukan begitu Bun, sebenarnya Zaskia pernah menolong saya. Namun di pertamuan awal kami, Revan sudah menaruh hati pada anak Bunda. Dan Alhamdulillaah kami dipertemukan lagi secara tidak sengaja. Jadi... Sebenarnya saya menghubungi Bunda pagi ini bermaksud meminta izin untuk menjaga Kia dan menjadikan Kia istri Revan. Maaf, Revan belum bisa menemui Bunda secara langsung." ucap Revan menjelaskan agar tak ada salah paham.


Pria ini sepertinya pria yang baik dan bertanggung jawab. Jika tidak, dia tidak akan pusing-pusing sampai harus meminta izin segala. Batin Bunda Laras.


"Bagaimana dengan Kia? Apakah dia mau menerima Nak Revan. Apakah Nak Revan tau kalau Zaskia baru saja gagal menikah?" tanya Bunda dengan wajah sendu saat mengingat nasib anaknya. Bunda takut Revan akan mundur saat tahu kenyataan bahwa Zaskia pernah gagal menikah.


"Iya, Bun. Revan sudah tahu. Revan justru merasa bahwa Tuhan sedang berbaik hati pada Revan, karena mencarikan jodoh lain untuk calon suaminya Kia. Maaf Bun, Bukan berarti Revan senang melihat Kia bersedih. Namun Revan bersyukur karna Tuhan telah memberi kesempatan Revan untuk membahagiakan Kia. Dan jika tidak ada halangan, orang tua Revan besok akan datang berkunjung ke tempat Bunda?" ucao Revan lagi.


"Apa? Besok pagi? Apa tidak terlalu cepat? Dan Bunda ga persiapan apa-apa. Nak Revan juga sudah tahu keadaan kami di kampung kan? Kia sudah cerita kan?" Bunda nampak terkejut dwngam per lmyataan Revan.


"Bunda tenang aja, ga usah mempersiapkan apa-apa. Yang penting restu Bunda, itu juga udah cukup." ucap Revan.


Bunda terharu dengan ketulusan calon menantunya ini.


"O oya Bun, Zaskia sementara belum tau tentang ini. Rencananya biar jadi kejutan, nanti tau - tau Revan menikahi Kia aja. Ibu mau bantu kan, untuk merahasiakan ini dulu dari Kia?" tanya Revan penuh harap.


"Baiklah, apa pun jika itu untuk kebaikan Kia, Bunda setuju."


Setelah basa basi cukup lama, akhirnya obrolan via video call itu pun berakhir.


Tok tok tok...


Baru saja Denis akan pamit, tiba-tiba ada yang bertamu. Denia mengintip dari balik jedela.


Beberapa orang berpakaian hitam-hitam menunggu pintu dibuka dari dalam.


"Bu, sepertinya ada yang mencari Ibu. Sebaiknya ibu ke rumah Pak RT dulu lewat pintu belakang. Di sana lebih aman. Biar saya saja yang ke luar mencari tahu, siapa mereka dan mau apa mereka ke sini." ucap Denis berbisik.


"Baiklah..." jawab Bunda Laras lalu oergi ke arah belakang.


"Ada apa Pak?" Tanya Denis setelah membukakan pintu.


Mereka mengamati Denis dari ujung kepala samoai ujung kaki.


"Benar di sini rumah Ibu Laras?" tanya salah satu dari mereka.


"Maaf Bapak ini siapa ya? Dan ada apa mencari Bu Laras? Karena beberapa hari yang lalu Bu Laras pergi ke kota mencari pekerjaan." Jawab Denia sekenanya.


Mereka saling bersitatap...


TBC...


Terima kasih dukungannya


Insya Allah novel ini akan update setiap hari, mungkin kadang hanya ada keterlambatan terbit saja.


Jangan lupa tekan👍 dan❤️


Makasih❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2