Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 61. SAHABAT


__ADS_3

"Sori bro, udah lama nunggunya?" ucap Revan saat sampai di kafe dan langsung duduk di meja yang sudah berkumpul teman-temannya.


Terlihat seseorang yang sudah lama tidak bergabung bersama mereka tampak mendongak. Begitu tahu Revan yang datang, dia langsung berdiri dan tos ala cowok. Meski sebelumnya ada masalah di antara mereka, nampaknya mereka bersikap lebih dewasa dan mencoba menghilangkan kecanggungan di antara mereka.


"Sori ya bro! Gue pasrah mau lo apain. Gue tahu gue salah, dan kesalahan itu memang gue sengaja. Dan maaf kalau baru ada kesempatan buat datang ke elo langsung hari ini." ucap Dody. Revan bisa melihat ketulusan dari sorot matanya yang menyiratkan penyesalan padanya.


Sedangkan Dody sendiri menilai Revan, setelah tak bertemu beberapa tahun, nampaknya Revan sekarang lebih dewasa, lebih bahagia, lebih berwibawa, entahlah... Apakah itu efek dari manusia berduit ataukah auranya memang seperti itu.


"It's ok, santai saja. Itu sudah berlalu bro. Meski kejadian itu menimbulkan efek yang dahsyat tapi gue juga bersyukur. Pada akhirnya Tuhan hanya ingin menunjukkanku jodoh yang tepat. Dalam waktu dekat gue akan nikah. Jadi, mungkin gue malah harus berterima kasih sama elo." ucap Revan penuh semangat.


"Oh iya, tadi gue ga salah lihat kan? Tadi gue lihat Kia, calon istri lo ada di kantor bokap lo. Mau nyapa takut salah orang. Beda bro, tambah unyu sekarang, hahaha...!" kelakar Ardi disertai tawa.


"Jaga mata lo! Emang tadi kita ke sana. Gue nyusul udah agak sore sih. Yang pake kursi roda itu bokapnya Kia. Lo tahu kan Abimana Rahardian? Ah iya selama ini hanya asistennya ding, yang sering terlihat gue lupa kalau waktu dia kecelakaan kita masih bocah." ucap Revan.


"Yang bener? Kok bisa Kia anaknya Abimana? Pantesan auranya beda ternyata keturunan sultan juga? Masya Allah!" Fandi ikut menimpali.


Dody yang mendengar sahabatnya bercerita pun hanya bisa tersenyum, ternyata benar Revan sudah bahagia sekarang. Dody bersyukur dalam hati dengan kesuksesan teman-temannya.


"Istri lo ga diajak? Kayak lagi hamil ya? Berapa bulan?" tanya Roni pada Dody.


"Udah hamil tua, 8 mau jalan 9 bulan ini. Doakan ya bro biar lancar." jawab Dody.


"Ok, jadi katanya ada yang mau lo sampein ke Revan? Butuh privasi mungkin?" tanya Roni pada Dody, mengingat yang akan disampaikan mungkin adalah hal yang sensitif dan itu adalah masalah mereka berdua, jadi Roni pikir mereka perlu berbicara berdua saja.


Melihat Dody yang masih diam menimbang, akhirnya Revan lah yang mengajak Dody untuk ngobrol di ruangannya.


"Jadi ini cafe punya lo Van? Syukurlah, ikut bangga gue. Tadinya gue pikir ini punya Roni." ucap Dody takjub.


"Alhamdulillah, tadinya iseng aja sih ngikutin trend anak muda, eh makin ke sini makin diminati. Ya alhamdulillaah makin berkembang, lumayan lah buat jajan hahahaha..." jawab Revan sambil tertawa. Sebenarnya memang selama ini, uang dari kafe memang jarang dipake. Selama 7 tahun berdiri keuntungan bersihnya bisa mencapai total puluhan milyar. Dan selama itu juga, pertama belanja dalam jumlah banyak juga untuk beli perhiasan dan belajain Zaskia.


"Gue turut senang lo sukses dan bahagia. Jadi bener lo udah mau nikah? Tadinya gue takut lo nikah cuma buat pelampiasan. Tapi saat lo bicarain calon lo... Siapa namanya? Kia ya? Gue lihat lo bahagia banget. Di situ gue baru yakin kalau lo sudah benar-benar melupakan masa lalu." ucap Dody.


"Ya... Seperti yang lo lihat. Jadi apa yang sebenarnya ingin lo sampaikan? Terus terang kalau masalah yang lalu lo sama Felysa, gue udah ga mau megingat sebenernya." ucap Revan yag langsung mencegat Dody.


"Ok gue paham. Sekali lagi gue minta maaf untuk yang dulu. Sebenarnya dulu itu, gue cuma ga tahu gimana cara ngomongnya biar lo jauhin si Felysa. Sedangkan gue juga tahu, dia satu-satunya cewek yang deket sama lo karna waktu itu, lo susah banget kan bisa deket sama cewek." Dody menjeda ucapannya dan melihat raut muka Revan. Nampak Revan biasa saja, Dody pun melanjutkan ucapannya, "Sebenarnya waktu dulu dia masih sama kamu, dia adalah simpanan bokap gue. Bahkan bokap gue membawanya ke rumah saat nyokap gue sedang sekarat. Mereka bahkan tanpa malu bercinta di depan nyokap gue. Ya, gue sakit hati banget, apalagi cewek itu ternyata cewek yang sama yang sedang deket sama lo.

__ADS_1


Waktu dia tahu kalau gue sahabat lo, dia nyuruh gue bilang kalau gue sama dia sepupuan. Dia bahkan udah menguasai rumah dan mengancam mau bunuh nyokap gue. Waktu itu gue fruatasi Van, bahkan gue sendiri bingung gimana caranya cerita ke elo atau temen-temen. Dan akhirnya saat gue denger dia mau ngejebak lo, gue punya ide untuk jebak dia duluan." ucap Dody lagi melanjutkan ucapannya.


Revan kaget dengan ucapan Dody, namun dia tetap mencoba tenang.


"Jadi, waktu itu elo yang kirim pesan sama gue, untuk datang ke rumah orang tua lo?" tanya Revan


"Iya, lo ada rencana sama dia buat ke apartemen Fely kan waktu itu? Namun sebelum itu terjadi, gue kasih dia perangsang dan gue hubungin lo. Gue suruh lo langsung ke kamar gue kan?" tanya Dody uang diangguki Revan.


"Itu cara satu-satunya yang ada di otak gue saat itu, buat bebasin lo dari rubah betina itu. Sori kalau harus bikin lo spot jantung saat itu. Dan lo tau, setelah lo pergi, bokap gue juga datang dan akhirnya semua meledak disaat itu juga. Bokap kalap, dia ngamuk. Gue diusir bersama nyokap, ya udah habis itu gue berusaha hidup berdua sama nyokab, waktu itu juga gue masih kuliah. Gue kerja sambilan agar nyokap gue tetep bisa berobat, namun sayang baru satu bulan gue ngarawat beliau, Tuhan sudah memanggilnya. Tak berapa lama gue denger kalau perusahaan bokap gue bangkrut dan Felysa hamil. Karena mungkin bokap gue terlanjur marah, dia tidak mau mengakuinya. Lagi pula dokter sudah memvonisnya tidak bisa memiliki keturunan lagi."


"Yakin janin itu bukan benih lo?" tanya Revan meyakinkan.


"Ya gak lah, gue ngelakuin itu juga ga sampe tuntas, cuma biar lo lihat aja saat itu. Anjir! Lo harus berterima kasih sama gue. Sumpah kalau sampe lo nikah sama dia. Gue yakin lo pasti udah ceraiin dia di malam pertama." ucap Dody sambil menirukan gaya mau muntah.


Revan malah ikut terkekeh saat Dody membayangkan pernah menyentuh Felysa, terkesan seperti bergidik jijik.


"Kenapa emang? Udah ga enak ya di pakenya? Hahaha...?"


"Gila sumpah, dia itu masih 20 tahun tapi udah kaya emak-emak 40an kali, dadanya kemana-mana dan itu... Geli gue sebenermya mengingat. Mungkin karna udah banyak yang gilir kali. Itu anak juga mungkin ga tahu siapa bapaknya. Ngomong - ngomong lo ga pernah diajakin begituan emang? Dia itu sampe penasaran banget pengen ngrasain punya lo, anjir memang. Dia ngomong blak-blakan lho Waktu itu." ucap Dody.


Mereka lebih mirip orang bergosip dari pada mengungkapkan penyesalan. Ya, sepertinya mereka memang sudah tak menganggap bagian kisahnya dengan Fely itu sesuatu yang bagus yang harus dikenang.


"Sori... Gue bener-bener ga bisa mikir apa-apa waktu itu. Sekarang gimana? Lo udah sembuh dong, kan udah mau nikah lo bilang tadi?" tanya Dody penasaran.


"Sembuh sih belum. Gue juga ga tahu, tubuh gue ga bisa bohong. Cuma dari awal ketemu sama calon istri gue, gue tuh emang udah kaya ada feeling gitu. Dia cewek pertama yang bisa gue sentuh tanpa merasakan efek apa-apa. Ya gitu deh, gue ngrasa nyaman lahir batin aja deket sama dia. Makanya gue mau cepet-cepet halalin dia." ucap Revan yang tak berhenti tersenyum saat menceritakan gadis pujaannya itu.


Dody ikut tersenyum melihat ekspresi sahabatnya yang tampak benar-benar sudah bahagia itu.


"Syukurlah kalau lo benar-benar udah bahagia. Sebenarnya gue ke sini karena bini gue juga yang saranin. Katanya gue akan terus dibayang-bayangi rasa bersalah kalau ga minta maaf. Makanya gue beraniin datang ke elo buat minta maaf." ucap Dody tulus.


"It's oke. Kita sahabat kan dari dulu. O iya, lo kerja di mana? Selama ini lo kemana aja emang ga pernah kelihatan?" tanya Revan.


"Waktu itu gue pindah kuliah di bandung kerja juga di sana. Dan beberapa bula ini, bokap hubungin gue, dia minta maaf dan mau nyerahin rumah yang saat ini masih dia tempatin. Cuma gue masih mikir juga buat tinggal di sana. Bukan karena gue enggan ngrawat dia yang udah sakit-sakitan ya. Gue cuma masih mikirin istri gue aja. Bentar lagi mau lahiran, dan gue belum tahu juga bokap gue itu udah beneran insaf apa belum. Kalau pas gue tinggal kerja malah terjadi apa-apa malah jadi kepikiran kan gue. Lagian gue masih nglamar kerja juga juga. Masih nunggu panggilan." ucap Dody.


"Lo nglamar kerja? Kok ga bilang dari tadi. Gimana kalo lo bantuin Roni aja. Rencananya gue mau memperluas kafe sampai ke belakang sana, sampai ujung jalan, jadi nanti pintu masuk dari dua arah. Gue mau nambah beberapa ruang VIP dan juga area bermain ditengah sana nanti. Lo bisa desain juga kan? Tar gue bikin konsepnya, lo yang design. Lo masih ngikutin trend anak muda kan? Tahulah sekarang anak muda tongkrongannya yang penting tempat bagus, instagramable, menunya recomended, pasti dimanapun bakal dicari." ucap Revan. Saat ini Revan memang membutuhkan seseorang yang membanti merealisasikan impiannya tersebut.

__ADS_1


"Beneran lo mau terima gue kerja sama lo? Alhamdulillaah... Gue bakal bikinin design yang terbaik buat lo. Thanks banget bro, gue butuh banget pekerjaan ini." ucap Dody sambil merangkul pundak Revan.


"Santai aja bro, selama gue bisa, gue bakal selalu ada buat sahabat-sahabat gue. Gabung dengan yang lain ke depan yuk!" ajak Revan kemudian, karna memang sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas berdua.


Baru saja keluar ruangan, di meja sebrang terlihat seorang wanita yang tanpa sengaja melihat Revan dan Dody keluar dari ruang kerja. Mata wanita itu tak melepaskan pandangannya pada sosok Revan yang saat itu terlihat sangat menawan. Sedangkan Revan yang tadi sempat melihat wanita itu sedikit terkejut, namun dia segera menormalkan kembali ekspresinya dan pura-pura tidak melihat.


"Lama amat sih, kalian ngapain di dalam berduaan? Kangen-kangenan?" tanya Ardi


"Sebarangan! Lo pikir gue belok?" jawab Revan sambil menoyor kepala Ardi.


"Ya siapa tahu kan? Hahaha... By the way lo tinggal di mana sih sekarang?" tanya Ardi pada Dody.


Revan mulai sibuk membuka ponselnya. Ternyata ada chat dari Bunda juga. Ah, Revan sampai lupa beritahukan pada calon mertuanya kalau kemungkinan mereka tidak pulang.


Tak menunggu waktu lebih lama Revan segera melalukakan panggilan kepada bunda mertua.


"Maaf bun, tadi Revan lupa ngabarin. Mungkin nanti saya sama adek nginep di apartemen deket kafe. Sekarang saya masih di kafe. Kalau adek udah di apartemen." ucap Revan setelah menjawab salam dari Laras di sebrang sana.


"Ya udah ga papa, Bunda cuma kepikiran saja tadi kenapa udah malem banget belum pada pulang." ucap Laras, bukan karena apa-apa, pasalnya tadi sore mereka mengatakan kalau hanya akan mampir sebentar ke kafe.


"Iya bun maaf, jadi bikin bunda kepikiran." ucap Revan lagi.


"Ga papa Van, ya udah lanjutin aja acaranya. Bunda tutup ya. Assalamu alaikum." ucap Laras.


"Wa alaikum salam." sahut Revan sambil tersenyum


Semua gerak-geriknya tak lepas dari wanita yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan mendamba. Apapun gerak tubuh dan ekspresi wajahnya membuat wanita itu terpesona.


"Kenapa aku baru tahu kalau ada makhluh seganteng itu di kafe ini? Apa dia manager di sini?" batinnya...


TBC...


Jangan lupa tinggalkan komentar ya bestie...


Othornya lagi butuh semangat nih...

__ADS_1


Jangan lupa likenya juga.


Makasih❤️❤️


__ADS_2