Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB. 17. CALON ISTRI


__ADS_3

Di dapur kafe, semua karyawan tengah membicarakan Kia yang beruntung ditunjuk melayani bos besar.


"Kira-kira Kia dapat kesempatan melihat wajah bos besar ga ya?"


"Beruntung banget sih tuh bocah. Jadi pengen."


"Berdoa dulu yang bener, kalo perlu sholat hajat dulu, wkwkwk..."


Rita yang baru selesai dari kamar mandi belum tau kehebohan yang sedang terjadi.


"Ada apa sih? Tadi siapa yang gantiin aku?"


"Tadinya Kia, tagi ga jadi. Digantiin Alex."


"Kenapa? Ga pede lagi?"


"Bukan, tadi juga udah disemangati kok. Sekarang malah dapet tugas besar sama bos Roni."


"Hah, tugas apaan?"


"Pak Roni ga aneh-aneh kan? Masih polos banget soalnya tuh bocah."


"Disuruh melayani pak Revan tadi."


"Melayani yang bagaimana sih, kalian jangan bikin panik lho."


"Emang kamu mikir apa sih? Mesum otak lo!"


"Tadi di suruh bikin kopi dan mengantar ke ruangan pak Revan." sahut yang lain.


"Oh... Cuma bikin kopi." sesaat dia baru menyadari situasi.


"Apa tadi, bikinin kopi pak Revan? Ga salah ini, apa dunia udah terbalik? Kia bakalan baik-baik saja kan? Udah lama belum?"


"Iya ya... Ini sudah lama banget lho, kok Kia belum balik ya, duh... Mudah-mudahan Kia tidak melakukan kesalahan. Kita doakan saja ya gaes.!"


"Ok, aku balik ke depan dulu deh sambil memantau situasi."


Khusus malam minggu Rembulan cafe menambahknan penyanyi-penyanyi baru untuk meramaikan panggung kafe. Band yang biasa manggung tetap akan tampil. Yang mau menyumbang lagu juga dipersilahkan. Rembulan cafe sering juga di booking untuk acara keluarga atau pertemuan bisnis, reunian, dll. Jika sedang tidak ada even pun kafe tetap seramai ini apa lagi hari sabtu minggu.


*****


Roni masih belum paham dengan maksud sahabatnya itu, menyuruh Zaskia membuatkannnya kopi bahkan menyuruhnya mengantar ke ruangannya. Bukankah selama ini dia selalu menghindari makhluk yang bernama perempuan, lalu mengapa hari ini dia malah membiarkan seorang perempuan mendekatinya.


"Ah bodo lah, tapi kok lama ya Kia di sana. Jangan-jangan Kia ga sengaja bikin masalah. Aku cek saja." ucap Roni kemudian berjalan ke ruangan Revan sambil membawa laporan penjualan kafe.


Tanpa mengetuk pintu Roni membuka pintu, namun belum sampai dia melangkahkan kakinya lebih ke dalam dia melihat pemandangan yang tak biasa. Mereka duduk berdekatan, bukan hanya dekat tapi menempel bahkan bisa dibilang mesra, posisi tangan Revan pun tak lepas dari perhatian mata Roni. Revan nampak mengelus puncak kepala Kia dengan sayang. Kia yang terkejut jadi gelagapan, dia terlihat pasrah sambil menunduk sembari meremas ujung kaos yang dipakai Revan.


"Kamu apain Kia, Van?"


"Kamu kenapa sih, datang-datang teriak-teriak." ucap Revan masih terlihat santai. Bahkan sekarang tangannya yang tadi di atas kepala sekarang turun menggenggam tangan Kia yang dari tadi meremas kaosnya.


Melihat gelagatnya, ini jelas tidak mungkin Kia yang menggoda Revan. Apa mungkin Revan mengenalnya?


"Kamu kenal sama Kia, Van?"


"Ron, bisa tidak matamu itu biasa saja tidak usah melotot? Kamu menakuti calon istri aku tau ga?"


"Calon istri?" sahut Roni dan Kia bersamaan. Kia langsung mendongak menatap Revan, Revan pun reflek melihat ke arah Kia. Kini posisi wajah mereka malah semakin dekat. Mereka seketika terdiam, detak jantung mereka semakin terdengar bersautan, sesaat kemudian...

__ADS_1


Cup


Kecupan Revan mendarat di kening kia, hal itu reflek membuat Kia salah tingkah dan malu, piipinya sudah sangat panas dan memerah.


"Abang... Jangan gini Kia malu." Kia mendorong dada Revan pelan dan mulai duduk dengan sempurna.


Roni masih cengo melihat pemandangan ini, Revan memesrai seorang wanita? Sungguh tidak bisa dipercaya. Dan apa tadi, Kia memanggilnya Abang? Apa otak Revan sudah bergeser. Kenapa dia jadi seperti tidak mengenal sahabatnya ini sih, pikirnya.


"Kia, beneran kamu kenal sama bos dingin ini?"


Kia hanya nyegir lalu memgangguk.


"Udah dek, ga usah dengerin dia. Katanya mau kembali ke belakang, ya udah sana. Kalau dia marahin kamu bilang sama abang. Jangan lupa nanti selesai kerja abang tunggu di sini ya."


"Iya abang.... Kia kerja dulu ya?" pamitnya pada Revan.


"Kia duluan ya Pak?" pamitnya lagi pada Roni.


Sementara Roni masih terbengong, belum mempercayai apa yang dilihatnya.


"kenapa sih lo, bengong aja. Kesambet baru tau rasa." ucap Revan menyadarkan Roni.


"Kamu ga bohong kan, Kia beneran calon istri kamu?"


Revan tersenyum sambil berkata, "Doain aja bro, lagi usaha ini."


"Kamu kenal di mana, bukannya dia belum lama di kota ini? Dan apa tadi itu, abang adek... Hahahaha... Kayak bukan kamu banget sih!"


"Orang aku aja bingung kenapa bisa selebay itu hahaha..."


Obrolan pun berlanjut sambil memeriksa laporan dan akhirnya menjadi metting dadakan.


Tek terasa satu jam berlalu, Roni memberi kabar teman-temannya untuk hangout di cafe tempat biasa.


Ardi datang bersama fandy langsung duduk di meja depan ruangan Revan meja yang dibilang Revan adalah tempat mesum dan ternyata dalam sekejap bangkunya disulap menjadi sofa panjang. Roni dan Revan yang melihat sahabatnya sudah duduk manis di depan ruangannya segera keluar.


"Wuih... Udah sehat bro?" tanya fandy yang baru tau tadi tentang kejadian yang memimpa Revan. "Sori baru tau tadi."


"It's ok, cuma lebam doang. Biasakan untuk cowok."


"Ngomong-ngomong, kayaknya auranya beda deh?" tanya Ardi menyelidik ke arah Revan. Namun yang dilirik hanya cuek.


"Kalo itu sih gue tau. Noh hanis ketemu sama calon bini katanya." kali ini Roni yang menyahut.


"Serius Van, udah ketemu Kia? Di mana? Lo ga mau ngenalin ke gue. Rese banget sih, tahu gitu ga pusing-pusing mikir gue." Arsi sudah ngegas dengan cepat.


Revan malah tertawa terbahak-bahak. Sementara Fandy yang belum tau apa-apabterlihat bingung, sedang Roni yang tadi sudah mendengar cerita lengkapnya hanya ikut tersemyum.


" Ada yang gue lewatin ya? Serius Revan sudah punya calon bini? Ah, syukurlah kalau begitu, gue pikir beneran bakal menjomblo seumur hidup."ucap fandy menanggapi.


" Lagi pendekatan sih, doakan saja bro." ucap Revan santai. Di antara mereka sudah biasa berbagi cerita suka dan duka.


" Nanti biar dia ke sini kalau kalian mau lihat. "


" Seriusan dia di sini? Ngapain, kerja? "


Tanpa bicara apapun Roni segera ke belakang untuk memesankan kesukaan teman-temannya.


*****

__ADS_1


Di rumah besar


"Pak No tadi nganter Revan kemana aja kok sampai malam?" tanya Mama mengintrogasi.


Di ruang makan saat itu formasi lengkap ada Mama dan papa, Reyhan bersama istrinya dan si kembar yang didampingi mbak pengasuh.


"Tadi mampir ke Mall dulu Bu, naru ke kafe."jawab pak No jujur karena merasa ga ada yang perlu disembunyikan.


" Ke mall? Ngapain dia tumben-tumbenan jalan ke mall sendiri? " tanya Reyhan heran.


" Anu Mas Rey, tadi beli perhiasan terus muter-muter beli pakaiam wanita. "


" Uhuk uhuk uhuk...!"


Reyhan dan papa tersesak hampir bersamaaan, namun setelah reda berganti dengan tawa mereka.


" Pa, anak itu tampaknya sedang serius pendekatan dengan gadis itu. Apakah harus kita selidiki dulu latar belakanhnya? "


" Kamu urus saja, papa percaya dengan orang-orang kamu, kalau butuh bantuan kamu kuga bisa pake anak buah papa."


"Aku kok jadi penasaran sih pengen ketemu anaknya. Kemarin cuma lihat divideo itu jadi kurang jelas." kata mama


"Baru saja Ardi kirim kabar, katanya gadis itu kebetulan kerja di kafe." sahut Reyhan.


"Mungkin itu yang dibilang, kalau jodoh ga akan kemana. Meskipun dia ga mau kasih tau alamatnya, nyatanya malah masuk kamar pemburu kan?" Sierra ikut menimpali.


"Besok kita ke sana yuk ma. Sore aja, biar Cira jemput mama di butik."


"Ok, baiklah. Terus Revan beli apa lagi pak?" Mama Rena mengiyakan dengan antusias lalu menanyai lagi pak Nano.


"Anu bu... Pakaian dalam wanita." jawab pak No lirih sambil garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.


Kali ini bukan tersedak, tapi Reyhan menyemburkan makanannya.


"Iiihhh... Papi jolok. Mamam nya kemana-mana." si kembar protes dengan kelakuan papinya.


"Maaf, sayang papi ga sengaja. Ya ampun itu si Revan apa sih sebenernya yang dipikirin. Bahkan aku yakin ini, ****** ***** punya dia sendiri aja ga tau ukurannya, hahaha..."


"Udah udah... Dia itu mau beli seserahan mungkin Rey, jangan diledekin anak mama kalau ketemu."


"Iya iya... Yang anak mama, hahaha..."


"Ini Bimo kemana sih kok ga ikutan makan? Kalu dia tau pasti Revan habis ini." ujar papa.


"Minggu lalu bawa peralatan dapur dari gudang, mungkin masak sendiri. Katanya kalau pas bangun malam-malam bingung mau makan apa, makanya dia masak sendiri."


"Kenapa mesti masak, kan bisa bawa dari sini. Tapi ya ga papa, biar besok bibi yang ngisi kulkasnya. Bilang sama bibi ya pak No."


"Iya bu, kalau sudah selesai saya ke belakang ya bu, pak..."


"Oh iya pak, sudah kok. Makasih ya pak."


Tak lama ponsel Reyhan mendapat notifikasi, sepertinya kiriman video.


TBC...


Terima kasih sudah mampir ke karyaku


Maaf masih banyak typo

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya pemirsah... Karna dukungan kalian sangat penting, caranya klik vote dan like di setiap episode juga komentarnya ditunggu.


Makasih ❤️❤️


__ADS_2