Putri Yang Terbuang

Putri Yang Terbuang
BAB 62. VERA KEPEDEAN


__ADS_3

Hubungan Andre dan Vera semakin hari semakin renggang. Apalagi sejak Andre mengetahui Vera berhubungan dengan laki-laki lain di belakangnya. Andre mengetahuinya saat tidak sengaja melihat ponsel Vera yang ada di meja dekat TV dalam keadaan terbuka. Mungkin Vera buru-buru ke kamar mandi dan lupa keluar dari aplikasi hijaunya.


Saat itu membaca chat yang dikirim seorang pria, yang dalam kontak Vera diberi nama Mario. Andre membaca pesan yang terakhir dikirim. Melihat gaya bahasa percakapan mereka yang terkesan intim, Andre pun menscrol pesan itu ke bawah. Biasanya orang yang selingkuh pun takut ketahuan, pasti akan menghapus jejak agar tidak tercium. Tapi Vera seakan malah tidak ingin menutupinya dari Andre. Semua pesan dari Mario masih utuh bahkan sejak awal mereka berhubungan.


"****! Jadi, selama ini aku hanya diperdaya? Brengsek!" umpat Andre saat mengetahui kecurangan Vera. Sekarang yang harus dilakukan Andre adalah terlepas dari wanita ular itu. Meski Andre jadi tidak yakin anak yang dikandung Vera adalah anaknya, setidaknya itu bisa dipikirkan nanti, mungkin dengan tes DNA agar nantinya dia bisa memikirkan langkah selanjutnya.


"Ok, aku ga boleh gegabah. Kita lihat, sampai di mana permainanmu. Mario... Kalau tidak salah dia juga karyawan pabrik kan? Ya... Aku harus temui dia. Aku harus cari tahu tentang yang sebenarnya, aku yakin dia pasti tahu sesuatu." gumam Andre.


Andre marah dan geram bukan lantaran Vera yang bermain di belakangnya, entahlah sebenarnya Andre pun malah bersyukur, itu artinya dia punya alasan untuk meninggalkan Vera. Namun di sini Andre malah seperti sakit hati karena perbuatan Vera, Andre jadi kehilangan Zaskia. Tak dipungkiri oleh Andre, hati kecilnya belum rela melepaskan Zaskia.


Andre mulai menyusun rencana untuk membongkar kebusukan Vera. Pertama, dia harus mengikuti Vera setiap ada kesempatan. Biarlah dia melakukannya perlahan, Andre yakin serapat apapun menyimpan bangkai pasti akan tercium.


Vera belum menyadari ponselnya telah dibuka oleh Andre. Saat Andre berangkat kerja sore, dia memutuskan untuk nongkrong di kafe yang sering dia kunjungi bersama teman-teman kerjanya malam harinya. Melihat barang-barang branded di Mall yang tidak mampu dia beli membuatnya memiliki ide konyol. Menjadi simpanan orang kaya mungkin, batinnya.


Melihat teman-temannya waktu SMA sudah banyak yang sukses, bisa beli ini beli itu, bisa jalan-jalan ke luar negri, mempunyai suami kaya, bisa kulineran setiap saat, dia pun sebenarnya ingin seperti mereka. Andre yang diharapkannya akan mengangkat derajatnya dan memanjakannya agar bisa pamer pada teman-temannya malah sekarang semakin jauh, tidak bisa diharapkan.


Kehamilannya yang baru berusia 3 bulan belum begitu terlihat. Perutnya masih rata, tak masalah jika sedikit bersenang-senang. Tak ada yang tahu juga kalau dia sudah menikah dan sedang hamil.


Meski bukan hari sabtu, namun kafe yang menjadi tongkrongannya ini sangat ramai dan tak pernah sepi pengunjung. Di pojokan nampak ada tiga pria tampan yang sedang mengobrol. Matanya terus menelisik isi kafe. Rata-rata mereka punya gandengan. Tak lama, dia memilih tempat duduk di meja dekat 3 orang pria yang tadi dia lihat.


Tak lama datang seorang waitress membawakan makanan dan minumam untuk kumpulan pria tersebut.


"Minuman datang... Spesial untuk abang-abang ganteng, kecuali bos Roni. Dia udah ga ganteng lagi, hehe..." ucap Rita sembari meletakkan minuman dan makanan dinatas meja.


"Karyawan lo lama-lama gue lihatin kok makin cantik aja sih Ron!" celetuk Fandy sambil terkekeh.


"Kok bisa saya jadi ga genteng gimana ceritanya Ta?" ucap Roni mengabaikan pertanyaan Fandy.


"Kalau yang udah punya bini itu, meskipun gantengnya maksimal tetep aja udah ga bisa diharapkan, makanya Bos Roni itu gantengnya udah kadaluarsa." jawab Rita yang disambut gelak tawa ardi dan Fandy. Sedangkan Roni hanya mendengus.


"Bener itu... Jadi gimana, Roni ga bisa diharapkan kan? Kalau gitu kamu berharapnya sama siapa? Sama gue gimana? Ganteng lho saya, hahaha..." ucap Ardi sambil bercanda.


Seringnya mereka berkumpul di tempat ini, membuat mereka jadi akrab dengan karyawan kafe juga. Terutama waitress dan waiternya.


Rita hanya bisa nyengir, meski Rita mengenal mereka, Rita juga tahu batasannya. Dia memang ceplas ceplos tapi hanya sebatas bercanda saja.


"Kalau Mas Ardi ga berani saya, saingan saya terlalu berat, kesenggol aja jatuh pasti, hahaha..." jawab Rita santai.


"Loh, ini minuman yang 2 di taruh sini juga atau gimana Pak Bos?" tanya Rita pada Roni.


"Taruh sini aja, mereka cuma ngobrol bentar di dalem, tar juga ke sini." jawab Roni santai.


Rita segera berlalu setelah semua pesanan sahabat-sahabat bosnya itu tersusun rapi di meja.


"Ya, aku inget. Itukan wanita yang bersama Zaskia kan? Jadi dia kerja di sini? Jangan-jangan Zaskia juga kerja di sini. Aku ga rela pokoknya kalau sampai terjadi. Ini tuh kafe besar. Tidak, aku tidak akan biarkan dia behagia apalagi sampai sukses. Aku harus sering ke sini untuk memastikannya." gumam Vera masih menerka-nerka keberadaan Zaskia.


"Apa, jangan-jangan sugar dady Zaskia juga dapetnya dari sini. Beruntung banget tuh bocah." ucap Vera lirih masih sambil mengata-ngatai Zaskia.


Tak lama pintu ruangan di sebrang mejanya terbuka. Keluarlah Revan dan Dody yang tadi sedang berbincang di dalam. Vera terpana melihat Revan yang di matanya sangat manly, keren, gagah, entah apalagi kata-kata yang pantas untuk menggambarkan sosok Revan.

__ADS_1


"Kenapa aku baru tahu kalau ada makhluk seganteng itu di kafe ini? Apa dia manager di sini?" batinnya.


Sejenak dia menilik penampilannya sendiri. "Untung tadi dandannya udah maksimal. Jadi ga malu-maluin kalau mau ngajakin kenalan," ucaonya lirih.


Revan sendiri yang sedikit terkejut saat menyadari keberadaan Vera segera menetralkan ekspresinya agar terlihat biasa-biasa saja.


"Ngapain perempuan ini di sini? Jangan-jangan dia udah tahu keberadaan Kia. Ck, perempuan ini sepertinya tidak akan berhenti meneror Kia." Revan menggerutu di dalam hati. Saat tadi sempat melakukan panggilan dengan bunda, Revan tak sengaja melihat Vera yang terlihat sedang memperhatikan dirinya. Kalau Revan tidak salah duga, perempuan itu sedang menatap Revan seolah sedang mengaguminya. Sesaat Revan tersenyum sinis.


"Ck, sebenarnya dia itu manusia bukan sih. Sesama perempuan kok sama sekali ga ada hati!" ucap Revan lirih.


"Ngomong apa Van? Ga dengar gue." ucap Fandy yang mendengar ucapan Revan meski ga jelas.


"Gue ada kerjaaan, kalian bantuin gue!" ucap Revan terdengar seperti memberi perintah.


Keempat sahabatnya itu melihat Revan dengan muka serius. Revan sedikit menunduk dan berbisik pada sahabatnya.


"Perhatikan baik-baik perempuan yang duduk di samping meja kita. Biasa aja ngeliatnya, jangan sampe ketahuan!"


"Siapa dia? Jangan aneh-aneh deh Van? Lo kangen sama Fely apa gimana sih, suka modelan kayak begitu?" Celetuk Dody yang langsung mendapat toyoran dari Revan.


"Sembarangan kalo ngomong. Udah kalian inget-inget kan mukanya? Dia itu sepupu Zaskia yang udah menikah dengan tunangan Kia."


"Apa???" teriak mereka kompak, terkejut mendengar ucapan Revan.


"Astaga, kuping gue budek woy!" Revan menutupi telinganya karna terasa panas. "Intinya, dia itu sama nyokabnya sejak dulu berusaha membuat Zaskiaku menderita, gue curiga... Dia ada di sini karena lagi nguntit Kia. Makanya gue minta sama lo semua. Kalau kapan aja kalian lihat cewek itu di sini dan berbuat onar, langsung lo seret dia ke kantor polisi. Geram gue lama-lama." ucap Revan.


"Kia itu gimana sih, tipenya? Cemburuan, posesif atau biasa aja sama lo? Kalau dia tau sepupunya bakalan deketin calon suaminya gimana reaksinya ya?" ucao Roni.


Revan tersenyum sejenak mengingat sikap Zaskia saat tahu Lina menginginkan dirinya waktu itu.


Sedangkan Vera yang sejak tadi melihat gerak gerik Revan merasa tambah takjub melihat senyumnya. Sejak tadi dia sudah kepedean berpikir bahwa dia jadi pusat perhatian 5 cowok keren yang ada di dekat mejanya ini, karena sejak tadi mereka bisik-bisik sambil sesekali melirik pada Vera. Vera memberikan senyuman yang dibuat semanis mungkin.


"Yang pasti apapun yang dia lakukan ke gue, gue suka. Gue suka dicemburuin, gue suka diposesivin, sebenernya dikelonin juga suka, cuma belum mau dianya, hehehe..." ucap Revan sambil terkekeh.


Vera sudah sangat percaya diri saat melihat Revan sedikit meliriknya tadi, dia pikir Revan sedang memperhatikannya. Perlahan dia bejalan menghampiri meja Revan cs.


"Hai... Boleh gabung ga?" tanya Vera tiba-tiba yang sudah ada di samping Ardi. Mereka berlima masih saling tatap.


"Aku tahu, sejak tadi kalian ngomongin aku kan? Boleh kenalan kan, aku Vera, kalau kalian?" ucap Vera dengan pedenya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.


Pede tingkat dewa nih cewek. Pikir Fandy.


Kasihan banget suaminya, dia tahu ga kelakuan istrinya yang sudah seperti wanita malam gini? Tanya Roni dalam hati.


Terpaksa mereke pura-pura menyambut uluran tangan Vera sambil berkenalan meski tidak menggunakan nama asli.


"Jery..." ucap Ardi.


"Indro..." ucap Roni.

__ADS_1


Fandy dan Dody nampak gelagapan karna mau pake nama apa. Yang tetap acuh hanya Revan. Dia muak melihat wajah sok polos Vera.


"Gu... Gue Bambang..." ucap Dody, sebenarnya mereka sudah ingin tertawa namun tetap mereka tahan.


"Eh, gue siapa?" bisik Fandi pada Ardi sebelum menyebutkan namanya.


"Wiliam aja biar keren!" sahut Ardi sambil berbisik juga.


"Hhmmmm... Gue Willy." sahut Fandy kemudian.


Setelah menyodorkan tangannya namun tak di sambut oleh Revan, akhirnya Vera dengan muka menahan malu segera menarik tangannya dan segera duduk.


Sial. Sombong banget sih, mentang-mentang genteng. Perlu aku bikin dia melayang dulu kali ya. Gerutu Vera dalam hati.


"Namanya Beny..." akhirnya Roni yang menjawab.


Revan menatap tajam Roni yang kemudian disambut tawa oleh Roni.


Sial masa gue disamain sama nama kucingnya Danesh yang hitam sih. Gerutu Revan dalam hati.


"Ah iya, senang bisa ketemu kalian? Kalau Mas Beny ini salah satu manager di sini ya, tadi saya lihat keluar dari sana. Saya pikir itu ruangan meneger." tanya Vera sok tahu.


Revan masih malas menanggapi.


"Oh kami tadi habis ketemu sama manager kafe ini, orangnya masih di dalam." sahut Dody.


Merasa ada yang tidak beres dengan dirinya, Revan pun akhirnya pamit duluan. Vera nampak kecewa sekali, padahal dia masih ingin memandang Revan.


"Kalian sering ke sini? Kalau aku baru beberapa kali sih!" tanya Vera setelah Revan keluar dari kafe.


"Kenapa emang? Gue cuma mau bilang ya, Kalau Beny itu tidak mudah didekati. Jadi sebelum kecewa, lebih baik berhenti berharap." ucap Dody memperingati.


"Kok kalian bisa tahu aku suka sama dia?" tanya Vera malu-malu.


Astaga ini model cewek apaan sih. Bukannya menyangkal malah memberi kode. Ucap Ardi dalam hati sambil menarik nafas panjang.


Mereka tidak menjawab dan hanya mengendikkan bahu. Vera tidak peduli, bagaimana pun dia harus bisa mendekati Revan.


Setidaknya, jika Andre meninggalkannya dia sudah punya pengganti.


TBC...


Karma Vera sudah mulai terlihat. Semoga THR juga segera OTW ya semua😍


Selamat menjalankan ibadah puasa...


Jangan lupa tinggalkan komentar, like dan vote


Makasih❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2